My love belongs to you

My love belongs to you
VIII



Sungguh melelahkan bagi Zoya keadaan seperti ini, bagaimana tidak posisinya sekarang serba salah. Zoya hendak mengatakan yang sejujurnya bahwa dia tidak bisa membalas perasaan Anggara, dia ingin menolaknya tetapi seakan-akan alam semesta juga tak berpihak kepadanya. Sulit untuk mengatakannya, momen untuk membicarakan juga tidak pernah tepat.


Zoya menjadi curiga apakah Anggara tahu apa yang ingin dikatakannya karena Anggara selalu mencuri-curi ucapan yang hendak Zoya katakan kepadanya. Zoya sedikit pun tak pernah diberi kesempatan untuk berbicara selalu disela oleh Anggara.


Zoya bingung harus memulai percakapan dari mana dan apa juga yang harus dikatakannya. Dia sangat geregetan, pasti tentunya merasa asing, sedangkan Anggara yang berada disampingnya hanya diam aja. Huh? Sesantai itukah dia?


Apakah dia tidak tahu bagi Zoya ini adalah hal pertama baginya? Dulu Zoya sewaktu di SMA banyak yang suka dan secara terang-terangan ada yang menunjukan rasa sukanya kepada Zoya, tetapi Zoya tidak menanggapi, Zoya hanya belum dapat menerima apapun dari siapapun. Zoya juga tidak berhak marah kepada mereka. Hal tersebut pasti dari hati mereka. Perasaan datang dengan tiba-tiba.


"Kamu suka melamun, ya," katanya yang memecahkan keheningan.


Zoya tersentak kaget dan langsung menoleh, sesaat mereka saling tatap. Zoya dengan mata bulat cokelatnya yang semakin terlihat imut ketika melebarkan mata dan sosok Anggara dengan mata pekat warna hitam, rambut hitam, alis tebal dan rahang yang kokoh.


Apakah jantung mereka baik-baik saja? Dan Zoya tak sadar akan kelemahannya jika menyukai seseorang, dia akan sangat sulit untuk menatap mata seseorang tersebut. Baginya seperti muncul kilatan cahaya dari mata tersebut.


"Bapak bertanya atau itu sebuah pernyataan?" tanya Zoya ketika langsung mengalihkan pandangannya dari tatapan Anggara.


Dia tak tahan.


Anggara seketika tertawa mendengar pertanyaan konyol Zoya dengan suaranya yang terdengar begitu renyah, lesung pipinya terlihat jelas dan dia terlihat begitu manis. Anggara memiliki kulit yang tidak juga dibilang putih, cokelat juga tidak. Zoya seakan suka dengan senyum itu.


"Kamu sudah suka sama saya, ya?" Alihnya langsung setelah menetralkan suaranya.


Zoya langsung menggelengkan kepala untuk mengembalikan fokusnya. Zoya mengambil botol air minum di tasnya dan meneguk habis langsung.


"Bapak lagi bertanya atau kasih pertanyaan, sih." Zoya mencebikkan bibirnya tanda kesal.


Bagaimana tidak kesal, dia bingung perihal pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan Anggara.


"Pernyataan dan pertanyaan."


"Kamu hanya perlu menjawab bagian ini, "Kamu sudah suka sama saya?" ujarnya melirik ke Zoya sekilas.


Zoya diam, dia bingung harus mengatakan apa.


"Saya suka saat bapak tertawa dan menampilkan lesung pipi," jawabnya standar, itu yang dirasanya sekarang.


"Terima kasih, berarti saya sudah ada kemajuan," katanya tersenyum manis.


Zoya hanyak mengangguk.


"Apakah dia selalu tersenyum begitu? Tetapi sepertinya tidak," ucapnya dalam hati.


"Aku pikir dia sedang menjalankan misinya," lanjutnya.


Mereka akhirnya sampai disebuah restaurant, Zoya melihat tempat yang mereka datangi seperti restaurant makanan khas Indonesia. Zoya tersenyum gembira.


"Terima kasih, Pak." Saat mereka turun dan satu hal Anggara membukakan pintu mobilnya untuk Zoya.


Anggara menaikkan sebelah alisnya mendengar tuturan Zoya.


"Telah membawa saya kesini. Saya lagi ingin makan masakan khas Indo, loh," ucapnya dengan semangat tersenyum manis ke Anggara.


DEG!


"Sangat manis," ucapnya dalam hati dan membawa tangan Zoya untuk digenggamnya.


"Saya izin untuk menggenggam tangan kamu biar terlihat seperti pasangan."


"Hah?" Zoya terngangga atas perkataan Anggara.


"Maksud saya adalah kamu pasti menjadi pasangan saya."


"Duduk Zoya," katanya mempersilahkan Zoya duduk.


Zoya saja tak sadar sudah berada di dalam. Zoya sangat tidak fokus untuk hari ini.


Zoya mendaratkan bokongnya ke kursi dan melihat kesana kemari. Ternyata dia sudah sampai.


"Kamu jangan suka melamun, Zoya. Saya takut melihatnya," kata Anggara mengekspresikan kengerian melihat Zoya yang celingak-celinguk.


"Ini gara-gara kau Anggara sialan," umpat Zoya geram dalam hati.


"Mulutmu Zoya," tambahnya.


"Emang saya hantu, Pak? Ya, kali hantu saya manis begini orangnya, hantunya saja takut sama Bapak," ujarnya geram.


"Jadi, kamu takut sama saya?" tanyanya songong.


"Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa?" tanya Zoya balik.


"DIH! Dia ngatain aku hantu," gumam Zoya pelan karena geram.


"Kamu lagi kesal, ya?" tanyanya sambil terkekeh geli melihat ekspresi Zoya yang seakan mau memakan orang hidup-hidup.


"Saya tidak mau menjawab, itu hanyalah pernyataan," ujarnya kesal sambil mencebikkan bibirnya tanda jengkel dengan Anggara.


"Maaf ya, Zy," kata Anggara meminta maaf.


"Zi?"


"No! But Z and Y, panggilan saya ke kamu."


Mendengar perkataan Anggara, pipi Zoya bersemu merah merona, padahal Zy juga dari namanya hanya disingkat saja.


"Terserah, itu juga bagian dari nama saya yang hanya Bapak singkat," kata Zoya nyelekit.


"O, ya. Kamu mau pesan apa?" tanyanya sambil melihat-lihat menu.


"Tumis kangkung, ayam goreng pop, rebusan, sambal belacan dan pastinya nasi, ya," ucapnya ke pelayan.


"Minum kamu?"


"Es jeruk, ya, Mas."


"Pesanan Bapak apa?"


"Samakan saja."


"Oke. Yaudah mas samain aja, ya. Berarti 2 porsi," katanya tersenyum ramah ke pelayannya. Disini pelayannya juga orang Indonesia.


"Baik. Silahkan ditunggu, ya," katanya kepada kami.


"Kamu selalu senyum ke semua orang?" tanyanya dengan nada datar.


"Senyum itu ibadah loh, Pak. Berpahala bagi saya dan bermanfaat bagi orang lain," jelasnya terkikik geli melihat ekspresi Anggara yang cemberut.


"Bapak kenapa sih? Senyum dong," katanya dengan mempraktikan tangan Zoya ke bibirnya membentuk smile.


"Pasti," ujar Zoya tetapi langsung tersadar apa yang hendak mau dikatakannya.


"Ganteng," ujarnya sombong menampilkan smirknya.


"Iyain," ucap Zoya memutar bola mata jengah.


"Selain datar, suka nyindir, sombongnya juga enggak ketulungan," tambah Zoya dalam hati.


"Pak," panggil Zoya ke Anggara.


"Iya?" Anggara melihat Zoya sekilas lalu kembali melihat ponselnya.


"Enggak ada pengulangan, ya, Pak. Dengarkan baik-baik," sindirnya ke Anggara karena asyik melihat ponsel.


"Ekhmmm."


Zoya yang malang tak jadi mengatakan apa yang ingin dibicarakan karena selalu saja ada yang menghalanginya dan sekarang adalah pelayan dengan membawa makanan pesanan kami.


"Silahkan dinikmati hidangannya," kata Mbak Pelayan tersebut ramah.


Kenapa yang mengantar jadi perempuan, bukannya mas-mas, ya, tadi? dan mata Zoya membelalak kaget bagaimana tidak kaget si Dosen tengilnya ini tersenyum.


"Iya, terima kasih," ujar Anggara yang senyum dan Zoya suka senyum itu.


"Tadi enggak senyum, sekarang sok-sokan senyum kalau sama yang cewek," katanya ketus.


"Cemburu tanda cinta. Cinta tanda sayang, "


"Saya cinta dan sayang sama kamu, Zy," tambahnya lagi. Zoya tak sadar Anggara sudah menggenggam erat tangan Zoya.


"Berusahalah Zy, buatlah hati kamu memiliki saya," kata Anggara menatap dalam di manik mata Zoya.


Zoya seakan terhipnotis, hati dan pikirannya kini selaras. Zoy spontan menjawab, "Saya tidak berjanji Pak, saya juga tidak akan mengiyakan ucapan Bapak, tetapi saya akan berusaha demi hati saya dan Bapak," ucap Zoya ke Anggara.


"Pak, saya sudah lapar," ujar Zoya cengengesan.


Anggara meraup seluruh wajah Zoya dengan satu tangannya sambil tertawa.


"Baiklah. Makan yang banyak," kata Anggara gemas melihat tingkah Zoya.


Zoya mengangguk dan mencuci tangan dengan air yang telah disediakan di wadah. Anggara mengatakan sesuatu. "Zy, panggil Gara jika diluar kampus. Ini sebuah permintaan," kata Anggara dengan entengnya sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


Zoya hanya mengangguk paham, jika pun dia protes, tetap Zoya yang akan di protesi oleh Anggara. Selama mereka menyantap hidangan tidak ada lagi pembicaraan.


°°°


"Pak, eh, Gara. Kok aneh gini, ya rasa manggilnya." Monolognya sendiri. Anggara hanya terkekeh geli dengan tingkah kekasihnya.


"Kalau perlu kamu panggil saya dengan sebutan sayang," goda Anggara.


"Enggak baik nge—gombal," ucap Zoya sengit.


"Saya mau nanyak, nih?" Anggara hanya menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Kalau saya tidak bisa membalas perasaan kamu gimana?" tanya Zoya sambil menundukkan kepalanya.


Tangan Anggara mengelus kepala Zoya dan mengatakan. "Saya akan melepas kamu Zoya karena itu yang terbaik dan saya tidak dapat memaksakannya," ujar Anggara yang membuat Zoya mendongak melihat ke arah lelaki itu. Saat ini sedang lampu merah jadi Anggara dapat menatap Zoya.


"Kok aku enggak suka, ya, dia ngomong gitu. Entahlah," ucap Zoya dalam hati.


"Saya tahu kamu masih mempertanyakan perasaan kamu kepada seseorang yang pernah hadir di hati kamu yang membuat kamu menjadi tahu apa itu rasa cinta," tambahnya lagi dengan nada lirih.


"Maaf," ujar Zoya meneteskan air mata. Anggara bergerak menghapus air mata Zoya dengan tangannya.


"Berarti dia sudah baca mengenai tugas surat itu," lirih Zoya dalam hati.


"Percayalah Zy. Sesuatu yang indah telah dipersiapkan," katanya dan Zoya hanya bisa mengangguk dan berujar, "Terima kasih, Gara." Tersenyum manis kepada Anggara.


"Semoga yang indah tersebut segera datang," ucap Zoya dalam hati.


"Semoga kamu sosok yang indah tersebut, Zy," ucap Anggara dalam hati.