My love belongs to you

My love belongs to you
X



Hari demi hari


Bulan demi bulan


Tahun demi tahun


Tapi waktu ini tak bisa menutup perasaanku padamu


Wajahmu terus terngiang di pikiranku


Mungkin ada harapan bagiku untukmu


1 tahun,2 tahun, ataupun 5 tahun kedepan


Kau datang menjemputku


Untuk membalas perasaan diam yang selama ini kujaga untukmu


°°°


Tiga orang perempuan cantik, manis, imut terlihat sangat menikmati kopi di kafe tengah ibukota Jakarta. Sungguh sangat bisa ditebak dari obrolan mereka yang mengundang pandangan risih secara terang-terangan dari mulut pelanggan yang lain karena kehebohan gelak yang mereka perbuat tetapi mereka tak mengindahkan hal itu malah asyik melanjutkan obrolan seru mereka dan juga tak kalah penting ada yang menatap kagum mereka akan kebersamaan persahabatan mereka.


"Please, ya, kasitahu aku sekarang kenapa kalian berdua bisa saling kenal?" tanya Zoya sambil menunjuk mereka bergantian.


"Bisa saja, sih. Secara kan dunia sudah canggih. Masa gitu saja kau enggak tau, sih, Zoya," ucap satu perempuan bermata belok. "Ya, enggak, Ze?"


"Iya, emang Zoy, apalagi kamu pernah kasih kontak Za ke aku. So what needs to be questioned again?" ujar perempuan imut rambut sebahu.


Zoya Resa Humaira bersama kedua sahabatnya, Zahinka Tiramanda sudah berteman sejak di bangku SMA, Zaza si lucu suka ngomong apa adanya, dan cerewet.  Zeze Asyahara Yuuna berteman sejak bangku kuliah di Singapura, Zeze si lembut, cerewet dan dewasa.


Zoya sangat senang dapat memiliki mereka, mereka selalu ada disaat suka maupun duka, tidak disaat suka saja, ya, begitu juga sebaliknya dan yah, apakah Zoya sedang lagi beruntung atau tidak, mereka berdua sudah saling mengenal dan akrab dan entah dewi keberuntungan dari mana mereka dapat berkumpul lengkap, yang malah dulu Zoya waswas jika Zoya memperkenalkan Zeze ke Zaza karena Zoya tahu watak Zaza yang tak ingin Zoya berpaling darinya. Maksudnya disini ialah Zaza ingin selalu menjaga Zoya dengan siapa Zoya berteman selama di Singapura.


"Aku akan selalu menjaga kalian," batin Zoya.


Mereka bertiga sangat asyik bercengkerama satu sama lain, berceloteh tentang apapun yang menjadikan bahan cerita mereka. Tak tanggung-tanggung dengan membuat giliran untuk menceritakan kisah kehidupan yang dialami mereka selama ini dan Zoya teringat akan sesuatu.


"Ze, calon suami kamu namanya siapa?" tanya Zoya sambil menyengir tak berdosa karena dia tak membaca kartu undangan wedding yang diberikan, dia hanya mendengar langsung dari Zeze sebagai permintaan untuk datang.


Zoya pernah diberitahu oleh Zeze bahwa dia sedang dekat dengan seseorang sewaktu Zeze sedang ke Jakarta melaksanakan magang dan yah, siapa yang mengingat jangka waktu yang sudah lama dan betapa terkejutnya Zoya ketika dengan tiba-tibanya Zeze memberitahukan akan segera melangsungkan pernikahan.


Zoya menumpu dagunya untuk menunggu Zeze menjawab pertanyaan yang diajukannya, sedangkan Zeze seperti menghitung mundur urutan angka, terlihat dari mulutnya yang komat-kamit.


Suara ketukan langkah sepatu yang menghantam lantai kafe terdengar jelas mengarah ke meja mereka. Zoya masih terus menatap Zeze meminta jawabannya dan merasa kesal karena terabaikan ia pun mulai menoleh ke belakang dan disaat bersamaan hitungan Zeze yang ketiga terdengar.


"Tiga," ucapnya girang sambil menunjuk ke belakang dan Zoya langsung menoleh kearah jari telunjuk yang diarahkan Zeze.


Zoya pun memutar kepalanya spontan ke belakang mengikuti arah jari Zeze dan ia speechless. "Jein?"


Yang disebut namanya malah tersenyum. "Iya, Zoya. Still remember me?" tanya Jein sambil mengulurkan tangannya untuk Zoya jabat.


"Mmm ... ya, kenal dong. Masa lupa. Ya, kali," ujar Zoya menetralkan keterkejutan akan perjumpaannya dengan Jein. Dia sungguh tak berpikir akan jumpa dengan Jein dan harapannya Zoya sekarang semoga Jein sudah tak ada lagi perasaan dengan Zoya.


Jein Putra Ruel adalah sosok temannya sewaktu di bangku SMA. Dia laki-laki tampan yang banyak digemari siswi-siswi di sekolah dan satu hal Jein salah seorang yang menyukai Zoya.


Zoya pun spontan melepaskan jabat tangannya dan langsung melirik tajam ke arah Zaza yang malah terlihat seperti menyibukkan diri dengan makanannya.


"Ayo, duduk. Kenapa jadi berdiri gini," ucap Zaza yang mencoba memecahkan kecanggungan diantara kami.


"Eh, eh, ayo duduk," kata Zoya juga mengikuti ucapan Zaza. Kami semua pun terduduk, Zoya mengubah tempat dengan menggeser menjadi sebelah Zaza, sedangkan Jein mengambil tepat di sebelah Zeze di depan Zoya.


"Jawaban dari pertanyaan kamu ada di depan kamu, Zoy," ucap perempuan imut berambut hitam sebahu yang tak lain adalah Zeze. Zoya pun mangut-mangut paham karena seperti dugaannya Jein adalah calon suami dari Zeze.


"Maaf, ini salah aku juga tidak memberitahu kamu, lebih tepatnya aku selalu lupa," lanjutnya lagi terkekeh pelan yang membuat Zoya menganggukkan kepala cepat. "Santai saja kali Zeze kayak sama siapa saja," kata Zoya melihat mereka berdua.


"Semoga pernikahannya lancar, ya," lanjut Zoya kemudian menyikut lengan Zaza meminta bantuan agar juga berbicara. Tampak dari tadi Zaza hanya diam tak bersuara yang terus melihat adegan kami.


Zaza mencebik kesal karena Zoya menyikut lengannya. "Iya, semoga lancar, ya," kata Zaza juga mengikuti ucapan Zoya.


Jein terkekeh pelan melihat kami.


"Tentu. Mohon dukungan dan doanya," ucapnya tersenyum sambil mengecup tangan Zeze. "Aku sangat mencintai Zeze," lanjutnya lagi menatap intens Zeze.


Zoya sadari mereka saling jatuh cinta. Lihatlah tatapan Jein ke Zeze begitu dalam menatap manik mata Zeze.


Semburat merah terpancar di pipi Zeze yang merona menambah kesan imutnya. Setidaknya Zoya bisa bernapas lega karena masih ada harapan agar pikiran buruk tidak terjadi.


Zoya menggeleng-gelengkan kepala, bukan atas dasar apa ketakutanku ini. Zoya hanya tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu terhadap persahabatan kami seperti novel yang sering Zoyacbaca, ketika masa lalu berperan penting untuk kehidupan masa depannya.


"Jangan membayangkan yang tidak akan terjadi, Zoy," bisik Zaza tepat di telinga Zoya seakan Zaza tahu isi pikiran Zoya.


Zoya pun melihat sekilas ke Zaza langsung mengangguk paham.


"Ck! lah elu Jein. Mohon tempatnya dong, enggak lihat apa didepan lu masih ada manusia yang butuh kasih sayang," kata Zoya mencebik kesal melihat dua sejoli di depannya ini yang tak tahu tempat.


Jein hanya mengendik bahu acuh. "Kami harus pergi untuk mengurus beberapa persiapan yang hampir sempurna," katanya berdiri menggenggam tangan Zeze.


Zeze sedikit merasa bersalah pasalnya mereka baru bertemu dan langsung akan pergi, apalagi Zoya belum memulai menceritakan kisahnya tadi.


"Biasa aja wajah kamu, Ze. Tenang, kalem saja. Urus yang harus diselesaikan. Pastikan untuk hidangannya tidak ada yang kurang karena aku mau coba satu per satu."


"Its okay. Kalian persiapakan sebaik-baiknya, ya," ucap Zoya tersenyum hangat kepada mereka.


Mereka menggangguk singkat dan berlalu pergi.


Zoya mendesah lega. Zoya tak biasa berada di situasi seperti ini. Sungguh awkward.


"Kenapa kau?" tanya Zaza mengerutkan keningnya.


Zoya tak menjawab malah kembali memakan  kembali yang tadi sempat tertunda. Sungguh perut Zoya perlu asupan yang lebih banyak setelah menghadapi situasi seperti tadi.


Zoya mencomot makanan Zaza sambil meminum cokelat panas kesukaannya.


Zoya melirik Zaza yang sedang memasang wajah jijik terhadap Zoya. "Apa?" Zoya bertanya kepada Zeze.


"Apanya yang apa?" sunggutnya.


"Enggak ada yang mau kau perjelas?"


"Semuanya sudah jelas," katanya datar.


Zoya ingin sekali menjitak kepalanya kalau perlu dibuang jauh-jauh dari Bumi ini. Zoya sangat kesal dengannya, bagaimana tidak, dia sudah tahu mengenai Jein dan sama sekali tak memberitahu mengenai itu. Zoya enggan menatapnya.


Terdengar Zaza menghembuskan napas dan menghadap ke arah Zoya, "kau dengar ini betol-betol, ya, aku tahu juga baru kemarin saat aku jumpa sama Ze disitu juga ada si Jein, jelas dong aku kaget sekaget-kagetnya, bayangin saja coba dan satu hal penting kau tenang saja, ya, Zoya, sudah aku pastikan tidak akan pernah terjadi seperti yang kau pikirkan itu. Jein sangat mencintai Ze," jelasnya dengan satu tarikan dalam berbicara.


"Hmm, ya, aku sudah dapatkan jawabannya," kata Zoya yang mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju juga.


"Yah, baiklah," ucapnya begitu singkat. Zeze mengangkat telepon dan tersenyum. Sudah Zoya duga pasti dari Ditto siapa lagi coba yang dapat membuat seorang perempuan senyam-senyum sendiri.


"Sepertinya aku akan ditinggalkan, juga," gumam Zoya yang terdengar oleh Zaza.


Zaza melirik ke Zoya. "Sayangnya tidak Zoya."


"Aku iklas lahir batin, loh," ejek Zoya sambil menyeruput cokelat panas yang ia pesan lagi.


"Sudah, ayo." Sambil menarik tangan Zoya.


"Kemana?" tanya Zoya.


"Mencari pangeran berkuda putih kau," katanya sambil terkekeh.


"Pangeran your head," sungut Zoya.


"Pulang. Kau pasti capek, kan?"


"Hmm." Zoya langsung menarik tangan Zeze.


"Bah, pelan woi. Bayar dulu," kata Zaza menghempaskan tangan Zoya kasar.


"Za kasar, lah. Ditto enggak suka," ujar Zoya yang membuat Zaza memutar bola mata jengah.


Zoya malah langsung keluar, lebih baik menunggu di parkiran.


Terdengar suara pintu pengemudi terbuka dan terlihat wajah kesal Zaza lalu seketika mimik wajahnya berubah tersenyum ke arah Zoya.


"Dasar Gila," Batin Zoya.


"Saatnya pulang," pekik Zoya senang.


Zoya sudah lelah, badannya terasa lengket dan ingin segera mandi membersihkan diri.


Flashback


Sepertinya situasi ini berpihak kepada Zaza, Zaza melihat Zeze sedang membahas beberapa dekor yang harus diperbaiki mengenai konsep pernikahan mereka. Zaza tak menyia-nyiakan waktu, segera dihampirinya Jein yang sedang sibuk mengangkat telepon. Zaza pikir mengenai pekerjaannya.


"Enggak menyangka, ya, Jein ternyata kau calon suami Ze dan juga perlu kau tahu Ze adalah sahabat Zoy di kampusnya Singapura. Tentu kau enggak lupa siapa itu Zoya Resa Humaira kan?" tanya Zaza ke Jein yang telah tampak telah selesai berteleponan.


"Tentu tidak akan pernah lupa. Dulu dan sampai seterusnya," katanya mantap.


Zaza membelalakkan matanya tanda tak percaya apa yang barusan dikatakan oleh Jein, apa-apaan ini pikirnya, Zeze mulai tersulut emosi." Jangan bilang kau masih ada perasaan sama, Zoy?" tanya Zaza cepat menatap tajam Jein.


"Kau akan segera menikah, Jein. Lupakan Zoy, kau juga akan bertemu dengannya segera. Jadi jangan bermain-main. Fokus saja ke pernikahanmu," titah Zaza tajam menghunus Jein.


Jein hanya terkekeh pelan. "Wah, aku sangat ingin bertemu dengannya."


Zaza menunjuk wajahnya. "Kau bertingkah seperti ini terlihat sangat menjijikkan, Jein."


"Bagaimana aktingku, Za?" ujarnya sambil merapikan rambutnya, "looks cool?"


Zaza mengernyit bingung tanda tak paham. Seakan paham melihat guratan bingung wajah Zaza, Jein meneruskan ucapannya.


"Calm down, Za. Zoy adalah perempuan yang berhasil membuat aku tahu apa itu cinta tetapi cinta aku saat ini dan selamanya adalah untuk Ze," ucapnya tersenyum kepada Zaza terdengar nada tegas dan percaya diri.


Zaza pun dapat melihat dari tatapannya terlihat dia sedang tidak berbohong. Zaza pun menganggukkan kepala dan berkata, "Aku pegang kata-kata kau." Zaza menjeda kalimat selanjutnya karena Zeze terlihat menghampiri mereka.


"Dan semoga lancar pernikahan kalian," kata Zaza tersenyum kearah Jein dan Zeze.