
Kehidupan akan terus berputar, mau tidak mau, siap tidak siap harus dilalui. Sang Pencipta telah menggariskan sesuatu yang terbaik bagi umatnya. Zoya, dia selalu yakin akan sesuatu yang sudah ditetapkan, berusaha dan berdoa.
Hari telah berganti begitu cepat. Ketika Zoya mendengar alarm azan pertanda subuh di ponselnya dan Zoya segera bergegas bersiap-siap, melanjutkan hidup dan memikirkan masa depannya, lebih tepatnya menghadapi dosennya yang tak lain adalah Anggara.
"Sudah pagi saja, nih," ucap Zoya melihat jam di dinding dan merenggangkan otot-otot karena terasa pegal.
"Berarti ini hari bertemu pak Anggara, dong," ucap Zoya teringat pesan yang dikirimkan kemarin malam.
"Baiklah, Zoya. Ini harus dihadapi. Katakan seperti apa yang ada di dalam hatimu Zoya kepada pak Anggara. Pasti pak Anggara memakluminya. Semangka," kata Zoya menyemangati dirinya sendiri.
Zoya turun dari tempat tidur bergegas ke kamar mandi untuk melaksanakan salat, lalu mandi serta sarapan ala kadarnya yang dibuat oleh Zoya. Setelah itu, Zoya berangkat ke kampus dengan perasaan yang gelisah dan takut.
"Sarapan roti pakai susu dulu. Bismillah," ucap Zoya menyuap roti kedalam mulutnya. Sekira sudah kenyang, Zoya langsung menuju kampus yang akan masuk kelas pukul delapan pagi.
°°°
Zoya sampai dikampus 20 menit sebelum kelas di mulai. Dia tak bisa tidur tadi malam lantas membuat dia tidak terlambat dan merupakan salah satu ancaman Mr. Anggara agar Zoya tidak terlambat.
"Hai! Zoya," sapa Sean. Sean seorang pemuda yang menurut Zoya selalu ramah kepada siapapun dan disini Zoya sangat suka akan pertemanannya yaitu saling membantu sama lain.
"Hai! Sean. Are you good today?" jawab sapaan Sean.
"As you see girl," balas Sean.
"You look very beautiful as always, Zoya," puji Sean kepada Zoya.
"You over Sean. I'm as usual. But, thanks," jawab Zoya.
"Hahaha. No Zoya. I am honest. You remind me of my little younger. I missed her so much," ucap Sean jujur yang ternyata merindukan adik perempuan kecilnya.
"I think your sister so beautiful. I also look from you, that very loved her," kata Zoya yang melihat Sean dan Zoya pun merindukan Zahra, adik kecilnya.
"Yes, you're right, Zoya."
Ketika mereka sibuk dalam perbincangan, Anggara masuk kelas tepat pukul delapan, tidak kurang tidak lebih. Hal yang membuat Zoya langsung menciut, hatinya bergemuruh tetapi dia tak tahu maksud dari gejolak hatinya ini.
"Morning, class," sapa Anggara di awal kelas dan melirik ke Zoya. Anggara memiliki pesona yang sangat dikagumi oleh kalangan semua mahasiswi di sini. Apalagi rata-rata untuk perempuan disini adalah orang luar negeri semua, tetapi begitulah Anggara terlihat seperti acuh tak acuh.
"Morning, Mr," jawab seluruh isi kelas terkecuali Zoya karena Zoya termenung melihat Anggara.
"I hope all of you always fine." Harapan Anggara.
"Thank you, Mr," jawab seluruh isi kelas.
"Anyone not present, today?" kata Anggara yang menyapa pandangannya ke seluruh penjuru kelas dan secara sengaja bertatapan dengan Zoya.
"All of me are present, Mr," kata salah satu perangkat kelas.
"Okey. Thank you."
"Today, the material of our learning is make a letter which fill the letter is about feeling. Oke. It's clear class?" jelas Anggara tentang pembelajaran hari ini.
"How the due date, Mr?" tanya salah seorang mahasiswa.
"Of course, today. I keep waiting at 1:00 p.m in library. Submit by yours. So give me directly. I will wait. Thanks," tutur Anggara memperjelas mengenai tugas.
"Ok, Mr," jawab seluruh isi kelas tanda mereka paham akan tugas yang mereka dapatkan.
"Thank you, Mr."
"Yes, Mr." Zoya ikut menjawab.
Zoya langsung mengerjakan apa yang ditugaskan oleh Anggara dan Zoya hanya teringat akan sesuatu untuk membuat suratnya. Zoya mengeluarkan seluruh peralatan yang diperlukanya untuk menulis.
Anggara memantau seluruh aktifitas yang harus dilakukan oleh mahasiswanya dengan berjalan ke setiap mahasiswa untuk sekedar bertanya apakah ada kesulitan dalam mengerjakannya.
°°°
Dear you
Hi. I just want to see you. Long time no see. Are you look like the first we meet? I hope you're fine. I'm confused about what I want to talk to you. Is sound funny, huh? because I think we are rarely to just say "hi" with each other. Oke. That's enough from me. Hehehe. Bye.
From Zy
°°°
Zoya sangat fokus menulis isi suratnya sampai dia tidak menyadari akan kehadiran Anggara yang berada disampingnya, tetapi Anggara tidak bertanya seperti dia bertanya ke mahasiswa lainnya karena Zoya terlihat sangat paham dan santai saat mengerjakan, terlihat dari raut mukanya yang serius.
"Ok. Time's up. I will wait yours," kata Anggara keluar kelas.
"Ok, Mr," jawab Zoya yang masih memikirkan perkataan Anggara di menit terakhir.
"Lupakan, Zoya," kata Zoya pada dirinya sendiri.
"Apakah Pak Anggara melihat isi suratku? Oh, astaga, Zoya, bagaimana ini?" ujar Zoya waswas takut halnya jika Anggara melihat isi pesan yang ia buat.
°°°
"Zoya! want to collect it together?" tanya Sean menghampiri Zoya, sedangkan Zoya masih konsentrasi menghiasi suratnya.
"Zoya! You are too focused," tegur Sean kepada Zoya sambil menepuk bahu Zoya.
"Eh, Sean. Sorry. You first. I'll collect soon," kata Zoya merasa bersalah tak mendengar ucapan Sean.
"Ok! bye," pamit Sean.
"Bye," jawab Zoya.
"Tadi Pak Anggara yang bilang jangan terlalu fokus, nah, sekarang giliran, Sean," kata Zoya yang mengingat-ingat kejadian tadi.
"Sudah siap, nih. Kumpul sekarang atau nanti, ya?" tanya Zoya pada dirinya sendiri sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Salat zuhur dulu aja, deh," kata Zoya sambil membereskan peralatan yang digunakannya saat menulis dan segera berlalu ke musala dekat perpustakaan.
Sekitar setengah jam berlalu, Zoya selesai dan segera pergi menuju perpustakaan.
"Pasti bisa, Zoya," ucap Zoya sambil berbicara menyemangati dirinya.
"Dimana, ya, pak Anggara?" Sambil celingak-celinguk melihat isi perpustakaan.
"Saya disini, Zoya," kata Anggara tiba-tiba dari arah belakang.
"Bapak!! Kagetin saya saja," pekik Zoya tertahan yang hampir menepuk Anggara karena keterkejutannya.
"Kamu lucu, Zoy. Saya suka. Saya habis salat lalu melihat kamu dari arah belakang," jelas Anggara yang membuat Zoya terkejut akan ucapan Pak Anggara.
"Kamu ada perlu apa, Zoya? duduk," tanya Anggara menuju kursi sambil menyuruh Zoya untuk duduk.
"Kok malah nanyak sih dia. Jelas-jelas mau ngumpul tugas, lah," ucap Zoya asal dalam hati.
"Saya mau mengumpulkan tugas, Pak," ucap Zoya sambil memberikan tugas ke arah pak Anggara.
"Baiklah, Zoya," kata Anggara menerima tugas Zoya.
"Pak, saya ingin mengatakan sesuatu. Kalau saya ..." ucapan Zoya terhenti karena pak Anggara menyelanya.
"Apasih, nih, Dosen, main nyerempet-nyerempet omongan orang, saja," dumel Zoya tetapi di dalam hati.
"Ayo, ikut saya. Saya mau mengajak kamu makan siang. Saya yakin kamu belum makan, Zoya," kata Anggara bangkit dari tempat duduk, sedangkan Zoya tercengang dengan tindakan Pak Anggara yang tiba-tiba begini.
"Zoya, Ayo. Ini adalah awal misi saya untuk dekat dengan kamu," ujar Anggara menyentuh bahu Zoya yang masih bergelut dalam pemikirannya.
"Ini aku harus apa, sih? ngikutin dia atau nolak? atau kabur cari alasan, gimana, nih? Kudu apa aku tuh?" drama Zoya yang dibuat-buat dalam hati.
Ketika Zoya asik bergelut dengan pemikirannya, dia tak sadar sudah mengikuti Anggara dari belakang menuju parkiran.
"Zoy, jangan pikirkan yang membuat kamu bingung. Jalani saja," kata Anggara sambil menggandeng tangan Zoya untuk berada disebelahnya karena sedari tadi dia seperti penjaga Anggara dari para fansnya walaupun hanya sekedar menyapa Anggara.
Zoya terlonjak kaget akan tangannya yang bersatu dengan Anggara, sontak Zoya menoleh ke Anggara. "Eh, Pak kok tangan saya digandeng, saya tahu kok jalan arah ke parkiran," ujar Zoya yang polos.
"Yang bilang kamu tidak tahu siapa?" tanya Anggara yang terdengar seperti menyindir.
"Kamu tahu arah parkiran tapi tidak tahu mobil saya dan emang kenapa kalau saya menggandeng tangan kamu?" tambahnya lagi.
"Kamu marah? saya akan minta maaf tetapi nanti."
"Pak ..." ujar Zoya ingin mengatakan sesuatu.
"Cukup! dengarkan hati kamu dan rasakan ketulusan saya Zoya Resa Humaira," ucap Anggara yang membuka pintu mobil dan menghalangi kepala Zoya agar tidak terantuk pintu.
"Like a princess," kata Anggara dalam hati.
"In my heart, Zoya," lanjutnya.