My love belongs to you

My love belongs to you
VI



Keesokan harinya, Zoya sangat malas untuk berangkat kuliah karena pasti akan bertemu dengan Mr. Anggara dan itu adalah hal yang belum Zoya persiapkan. Ketika Zoya memikirkan hal tersebut, ponsel Zoya bergetar dan nama Zeze memenuhi layar utamanya.


Zeze is calling ...


"Apa ze?" tanya langsung Zoya kepada Zeze.


"Aku hanya meng.ing.at.kan, jangan lupa hadiri, ya, acara wedding aku. Kamu libur kan empat hari ke depan karena ada acara untuk fakultas kamu, terus hari ini kamu masuk kampus kan? jangan menghindar, ya, Zoya. Aku tahu, loh, pasti kamu malas masuk kelas Anggara hari ini. Dah, ya, Zoy, lelah aku bicara saja. Aku hanya mengatakan itu saja. Assalamualaikum," ucap Zeze dengan cepat.


"Waalaikumsalam, ya, ya, Zeze," balas Zoya enggan menanggapi.


"Masuk, enggak, masuk, enggak, ya?" tanya Zoya pusing memikirkan hal ini. Dia hanya malas untuk bertemu dengan Mr. Anggara. Lebih tepatnya belum cukup mental.


"Ah, enggak masuk, deh, hari ini. Maafkan, Zoya, ya, Bun, Yah dan Zeze. Hehehe," ucap Zoya sendiri meminta maaf kepada orang kesayangannya.


"Kembali ke alam mimpi dan matikan ponsel," kata Zoya menghempaskan tubuhnya ke kasur dan melempar asal ponselnya.


°°°


Jam sudah menunjukan bahwa hari sudah siang dan Zoya masih terlelap di dunia mimpinya, tetapi dia tersentak karena Zoya sudah berjanji untuk menghubungi Zaza sahabatnya SMA.


"Astaga! marah ini pasti, sih, Za." Sambil menepuk jidatnya kasar.


Kemudian, Zoya mengaktifkan ponsel dan lihatlah sudah ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Zaza ketika Zoya ingin menghubungi kembali Zaza, seketika nama Mr. Anggara terpampang di layar ponsel Zoya. Zoya diam seketika dan bingung harus melakukan apa dan bagaimana. Akhirnya Zoya memutuskan untuk mengangkat panggilan dari Mr. Anggara.


"Halo. Assalamualaikum, Zoya," sapa Mr. Anggara kepada Zoya.


"Wa ... waalaikumsalam, Pak," jawab Zoya gugup sambil menetralkan suara kegugupannya.


"Zoya, kamu sedang tidak menghindari saya kan?" tukas Mr. Anggara yang tahu maksud dari ketidakhadiran Zoya dikelasnya pagi tadi.


"Tentu saja ..." jawab Zoya terpotong.


"Tentu saja, iya?" sela Mr. Anggara cepat memotong perkataan Zoya.


"Tentu saja, tidak, Pak," jawab Zoya bohong.


"Tentu saja, ya, Pak," jawab Zoya dalam hati.


"Lalu, apa yang membuat kamu tidak mengikuti kelas saya, Zoya?" tanya Mr. Anggara, terdengar tegas dari nada suaranya.


"Em ... saya ada sedikit masalah, Pak," kata Zoya yang tak tahu harus berkata apa lagi karena takut jika berasalan yang tidak masuk akal.


"Masalah apa dan kamu dimana sekarang? kalau memungkinkan saya akan kesana sekarang," tanya Mr. Anggara cemas terdengar dari nada bicaranya.


Zoy terbelalak, yang benar saja Mr. Anggara akan datang kemari. Zoya dengan cepat menggeleng kepala dan berkilah.


"Eh ... eh ... tidak perlu repot, Pak. Saya sekarang berada di hostel kampus dan masalahnya adalah dengan perut saya, Pak," jelas Zoya yang terdengar helaan nafas dari Mr. Anggara.


"Saya bisa menanganinya, Pak," lanjut Zoya lagi.


"Bohong lagi, deh," ucap Zoya dalam hati.


"Saya kira kamu sedang menghindar dari saya Zoya. Saya sangat tidak suka jika hal itu menjadi penyebabnya," tutur Mr. Anggara jelas yang membuat Zoya meneguk salivanya karena betul akan hal yang dikatakan Mr. Anggara.


"Baiklah. Saya harap kamu terus baik-baik saja. Saya harus masuk kelas berikutnya. Ingat satu hal Zoya. Perasaan saya ini nyata dan saya harap kamu tahu akan hal itu," lanjut Mr. Anggara yang membuat Zoya sedikit kebingungan harus bagaimana.


"Assalamualaikum," salam Mr. Anggara mengakhiri.


"Waalaikumsalam," jawab Zoya terkulai lemas.


"Duh, ini hati kenapa, ya, kayak tersengat lebah ... eh, tersetrum listrik. Terakhir kali ini terjadi ketika waktu aku bisa berada di sekitar dia," kata Zoya berbicara sendiri sambil mengingat seseorang.


°°°


Ketika Zoya berada dalam pemikirannya. Zaza menghubungi kembali Zoya.


Zaza is calling ...


"Zoya masih hidup kau kan?" semprot Zaza langsung dengan berbagai pertanyaan.


"Lama kali, sih, mengangkatnya!" seru Zaza emosi.


"Jujur kau Zoya?"


"Kubilang kau, ya, sama Bunda sama Ayah."


"Zoya, kau dengar enggak cakap aku ini?"


Sedangkan Zoya reflek menjauhkan ponsel dari telinganya. Terdengar jelas logat medannya. Zaza bisa menempati diri dalam penggunaaan bahasa yang ia miliki.


"Sudah siap memberikan pertanyaannya Nyonya babu tukang foto?" tanya Zoya dengan nada mengejek.


"Woi, makin maju mulut kau, ya, aku adalah seorang fotografer profesional. Nanti kalau kau menikah, aku enggak mau, ya, kau suruh aku menjadi ba.bu tukang fotoin kau," jerit Zaza seakan dia tidak berbicara lewat ponsel, melainkan Zoya berada dihadapannya sekarang dan segera akan menerkam Zoya dan Zaza menekankan kata babu agar menyindir Zoya.


"Baiklah. Nyonya, Za. Aku tidak akan memintamu untuk menjadi fotografer andalanku saat menikah," ujar Zoya dengan nada santainya saat menghadapi Zaza.


"Za, aku mau lihat muka jelek kau dari video call, ya," kata Zoya beralih ke video call.


"Zoy, masih lama?"


"Apanya?" tanya Zoya heran tidak mengerti maksud dari pertanyaan Zaza.


"Kau balik ke Indo, loh," kata Za yang gemas.


"Doakan saja, Za. Semoga dipermudah 2 bulan ke depan. O, ya, sekitar tiga hari yang akan datang, aku akan balik ke Indo."


"Untuk?" tanya Zaza mengernyit heran.


"Mau hadiri acara pernikahan Zeze, aku sudah pernah ceritakan ke kau. Ingat?" tanya Zoya mengingatkan mengenai Zeze.


"Ya, ya, aku mengingatnya, kok. Dimana acaranya?" tanya Za lagi.


"Jakarta."


"Pas, dong. Aku lagi di Jakarta ini, nanti kalau sudah sampai, hubungi aku, ya," ucap Zaza kegirangan akan bertemu dengan Zoya.


"Ya, aman," jawab Zoya singkat.


"Ditto dimana, Za?" tanya Zoya karena dia tahu mengenai masalah Zaza dan Ditto.


"Kerja dia biasa," balas Zaza dengan raut wajah yang telah berbeda karena mendengar nama kekasihnya.


"Sudah ada rencana kalian untuk meneruskan ke jenjang pernikahan?"


"Aku belum siap, Zoy."


"Za, siap enggak siap. Kau akan melewati tahap keseriusan. Kau akan berada di tahap mempunyai keluarga dan cara kau menjaga keharmonisan keluarga kau, Za. Jangan disepelekan, loh, Za. Ditto sudah siap, tapi kau nya belum. Aku sangat yakin Ditto serius akan hal ini. Yakinkan diri kau, Za. Buang hal yang membuat kau menjadi ragu untuk hal apapun itu. Yakin dan percaya," jelas Zoya seakan ahli dalam hal begini.


"Lagak kau, Zoya, nasihati aku. Kayak udah punya anak empat. Hahaha," goda Zaza yang memekakkan telinga Zoya.


"Hehehe. Memperbaiki diri untuk hal yang sudah dipersiapkan," tutur Zoya sambil mengedipkan mata ke Zaza.


"Lah, berarti sudah ada, dong? wah, parah kau, Zoy, enggak bilang-bilang kau, ya, kau masih menganggap aku sahabat enggak, sih?" tanya Zaza berlebihan seolah dia tertinggal berita besar oleh sahabatnya.


"Lebay, deh, kau. Ya, aku mempersiapkan sambil menunggu Allah menjumpai kami. Hahaha," kata Zoya yang nampak Zaza melipat dahi mendengar perkataan Zoya.


"Baiklah, Nyonya Zoya Resa Humaira," ucap Zaza malas.


"Zoy, sudah dulu, ya. Aku mau masak ini. Semangat," salam Zaza langsung memutuskan panggilan video call.


"Untung sahabat, kalau enggak, ya, bukan sahabat," ucap Zoya mendumel saat Zaza memutuskan secara sepihak.


°°°


DRT DRT DRT


Pak Anggara Dosen


Zoya, mulai besok saya memutuskan untuk mulai dekat dengan kamu. Besok saya akan menemui kamu dan saya harap kamu datang ke kampus serta tidak mencoba untuk menghindari saya. Biarkan saya yang berjuang Zoya. Setelah itu kamu yang memutuskannya.


Selamat Malam.