My love belongs to you

My love belongs to you
XI



Jam sudah menunjukkan pukul 02:00 dan Zoya terbangun, menoleh ke kiri, melihat Zaza si mulut mercon tertidur lelap dengan bantal guling menjadi penutup matanya. Zoya menghela napas, Zoya menginjakkan kaki ke lantai yang dingin menuju dapur.


Menjadi kebiasaan Zoya kalau terbangun pasti akan membuat segelas susu cokelat panas itu pun bisa menambah menjadi dua gelas. O, iya, Zoya tinggal di rumah tante Zaza, Lena namanya. Tante Lena tinggal sendiri karena suami dan anaknya telah meninggal akibat kecelakaan yang menimpa mereka. Lena seorang designer, dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantornya, maka dari itu Lena sangat welcome kepada Zoya karena pikirnya akan sangat ramai di rumah, ada yang bisa diajaknya untuk mengobrol. Zoya harap tante Lena segera menemukan pasangan hidupnya kembali.


Zoya menghidupkan saklar lampu dapur, lantas Zoya mengambil kotak susu, gelas dan segera membuat susu hangat kesukaannya. Zoya beralih ke meja makan, terdengar decitan kursi bergesekan dengan lantai, Zoya daratkan pantatnya di kursi langsung diteguknya susu hangat buatan Zoya. Sungguh lezat!


Suasana hening seperti ini menjadi favorit Zoya, apalagi sambil mengkhayal. Ya, mengkhayal apapun yang ingin dikhayalkan tak terkecuali.


Kalau begini Zoya sering memikirkan kehidupan kedepannya, seperti apa dan bagaimana Zoya dalam menghadapinya. Zoya yakin selama masa hidup yang ia jalani sekarang belum ada apa-apanya dibanding kehidupan orang lain. Zoya harus lebih banyak bersyukur. Zoya juga sering terlintas di kepalanya mengapa Zoya belum berjumpa dengan Pangerannya.


Mengenai tentang pikiran Zoya, Zoya menepuk jidatnya kasar, kalian tahu Zoya teringat akan seseorang. Zoya habiskan sisa susu hangatnya sekali teguk, berlari menuju kamar tak lupa untuk matikan saklar lampunya. Zoya lupa membalas chat dari Dosennya yaitu Anggara.


Zoya membuka pintu dengan sedikit kasar, Zoya terlonjak kaget, bagaimana tidak Zaza yang sewaktu Zoya pergi ke dapur masih tertidur pulas, sedangkan ini sudah nangkring di sofa berukuran besar dengan laptop dihadapannya.


"Ck! dasar, pasti drakor!" batinnya.


"Kuselesaikan tugas ini, dulu. Baru kususul kau Za," pikir Zoya.


Zoya mengabaikan panggilan dari Zaza yang setengah menjerit, apa tidak takut dia nanti kedengaran oleh tetangga yang akan mengusik jam tidur mereka, apalagi kalau didatangi kemari sambil membawa panci dan sudip. Zoya bergidik ngeri memikirkan itu.


Zoya mengobrak-abrik isi tasnya. Zoya merasa dia menaruhnya didalam tas tetapi mengapa tidak ada. Zoya mencari lagi dengan perlahan karena kata Reina kalau mencari dengan tergesa-gesa malah tidak akan dapat karena disembunyikan karena hantu.


Zoya menghela napas gusar, ini sudah ketiga kalinya Zoya menyabotase tasnya sendiri dan hasilnya nihil. Zoya tidak menemukan ponselnya.


Zoya melirik Zaza yang sangat fokus ke laptopnya. Zoya mendekatinya dan berbisik pelan, "Za, kau liat ponselku?" tanyanya pelan yang malah membuat Zoya terdorong ke samping.


"Ck! merinding woi, sudah ini horror genre nya," desis Zaza sambil menggosok tengkuk lehernya.


Zoya menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Maaf, deh. Lihat ponselku?" tanya Zoya lagi mengenai ponsel.


Zoya menunggu Zaza untuk menjawab tetapi dia tak mengindahkan ucapan Zoya sama sekali, susah sekali pikirnya kalau sudah fokus terhadap sesuatu, tinggal menjawab saja susahnya minta ampun.


Zoya mengatupkan bibir rapat-rapat lalu tersenyum dengan manis, Zoya mengayunkan pelan lengan Zaza. "Zaza, lihat ponsel Zoya enggak?" kata Zoya dengan nada suara yang dibuat imut dan manis.


Oke. Zoya berhasil, Zaza menoleh ke arahnya. Lihatlah reaksi Zaza yang membuat ekspresi jijik ingin muntah.


"Sabar Zoya, orang sabar disayang suami."


"Dicarik pakek mata jangan pakek mulut," katanya pedas seperti memakan mie level sepuluh.


"Dih, aku kan nanyak, kau langsung nyolot?" balas Zoya yang membuat Zaza mendelik.


"Kau pikir, lah, nah, kukasih clue, kau ingat-ingat dari ketika kita sampai ke rumah," balas Zaza sewot.


"Tapi Za-"


"Coba kau ingat-ingat saja, kau pintar tapi pelupa, makanya belik kapasitas otak itu yang besaran dikit," omelnya lagi.


Zaza melanjutkan menonton dramanya, sekilas memandangi Zoya yang mendengus kesal. "Kasitahu saja kenapa, sih, kalau aku ingat enggak akan kutanyak sama kau," cecar Zoya memberengut kesal.


Zaza mengusap wajahnya kasar, menutup mata sebentar. "Di kamar sebelah," ujarnya datar.


Zoya cengengesan, "Ya, iya, lupa." Langsung beranjak dan Zoya mencium pipi Zaza sekilas. "Sorry."


Zoya masih mendengar umpatan Zaza terhadapnya karena mencium Zaza hingga Zoya tak terdengar lagi karena sudah berada di kamar sebelah.


°°°


Kamar Sebelah


Zoya memang seorang yang pelupa, mungkin karena faktor umur. Zoya baru teringat bahwa setelah sampai dirumah dari kafe, Zoya langsung mengisi daya ponselnya ke kamar yang ditujukan oleh Zaza.


Zoya mencabut ponselnya, untung tidak meledak karena lumayan lama ditinggal tidur. Zoya menyalakan ponselnya dan apa yang Zoya lihat adalah dua puluh lima panggilan dan dua puluh lima pesan masuk.


Pak Anggara Dosen


Zy, km sdh smpai?


Zy


Zoya


Saya khawatir.


ZOYA RESA HUMAIRA


Apa Zoya harus meneleponnya?


Zoya menjadi merasa bersalah diliriknya jam yang sudah menunjukkan pukul 03.35. Zoya mengubah posisinya menjadi berbaring, tak ada salahnya mencoba kan? lagian ini sudah dapat dikatakan pagi. Zoya hanya ingin meminta maaf.


Zoya berdeham sebentar menghela nafas.


TUT TUT TUT


"Masih tidur kali, ya," ucap Zoya, ketika hendak mematikan panggilannya tetapi urung ketika suara serak seseorang terdengar.


"Halo, jika tidak terlalu penting, besok hubungi saya segera." Suaranya serak, pasti masih tertidur tadinya.


Zoya tak sadar menggigit bawah bibirnya gugup, "Maaf, ya, aku menganggu," cicit Zoya pelan karena merasa bersalah.


Zoya tak begitu mendengar, tetapi seperti suara helaan nafas.


"Zy, syukurlah kamu tidak apa-apa," kata Anggara menghela nafas. Mungkin Anggara hafal suara ini atau setelah mendengar suara Zoya, dia langsung melihat nama kontak yang tertera di ponselnya.


Zoya menyengir padahal Anggara tak dapat melihat. "Hehehe. Batere ponsel aku habis jadi setiba dirumah langsung aku isi dayanya," jelas Zoya panjang kali lebar.


"Oh."


Zoya mencebik kesal karena Anggara hanya menjawab seadanya saja.


"Saya tahu kamu lagi mendumeli saya," ujarnya sinis.


"Sok tahu banget, Pak," balas Zoya sengit.


"Gara," katanya membenarkan ucapan Zoya.


"Iya," ucap Zoya singkat.


"Sudah dulu, ya, aku mau olahraga," kata Zoya ingin menutup panggilan.


Beberapa detik, Zoya tidak mendengar suara Anggara lalu berucap, "Olahraga? malam-malam?" tanyanya. Zoya menduga pasti dahinya mengkerut memikirkan ucapan Zoya.


Zoya juga heran, Zoya asal mengucap saja. Mengapa Zoya mengatakan seperti gitu? pasti dia memikirkan hal yang aneh, olahraga tengah malam, emang kenapa? pasti ada kan? seperti Yoga. Ini juga sudah dapat dikatakan menjelang pagi.


"Iya, olahraga. Tentunya bersama teman," kata Zoya serta kekehan pelan sambil mematikan ponselnya.


Zoya mengetik beberapa kalimat lalu mengirim kepada Anggara.


Saya : Aku tahu kamu pasti memikirkan ucapan aku.


 


Gara : Selamat, kamu berhasil membuat saya memikirkan kamu.


Jgn terlalu lama membuka hatimu, Zy.


Saya : Knpa?


 


Gara : Saya takut terlalu jauh dan sulit untuk menggapaimu.


Saya : Sudah 25 persen hati aku tergerak.


 


Gara : Baiklah, ada kemajuan, saya pastikan 75 persen akan saya dapatkan sebentar lagi.


Saya : Percaya diri sekali Anda, Tuan!!!


 


Gara : Saya ganteng dan saya percaya diri.


Saya : Aku manis tapi tidak shombong :)


 


Saya : G usah dibls, lebih manis jika saya cium :)