My Little Wife

My Little Wife
9. Bingung



Juna menatap kekasihnya itu dengan lelaki yang sama saat bertemu di acara pesta kemarin. Kekasihnya itu sedang turun dari mobil.


Juna langsung menghampiri Vanes ketika mobil itu melesat pergi. "Vanessa!"


Vanes menoleh. "Juna?"


"Vanes, kasih aku kesempatan buat ngomong sama kamu." Pinta Juna memohon.


Vanes melihat sekililingnya. "Ngomong lah!"


"Vanes, aku rindu kamu. Maafkan kejadian malam itu. Vanes..kenapa kamu menjauh dari aku? Aku sangat merindukanmu. Apa karena lelaki itu?" Tembak Juna sambil menggenggam tangan Vanes.


Vanes balas menggenggam tangan Juna. "Aku juga rindu kamu, Jun. Aku merasa ini tidak adil buat kamu, Juna. Aku ini masih SMP, kamu berhak dapat yang lebih baik dari aku."


Juna menarik Vanes ke dalam pelukannya. "Jangan seperti ini, Vanes. Aku tidak suka. Aku ingin kita seperti dulu."


Vanes melepas pelukannya. "Aku akan berusaha untukmu, Juna."


***


"Terus kamu gimana?" Tanya Nesya sambil menyantap bakso yang telah di potong kecil.


Vanes meminum jus alpukat yang di pesannya. "Aku nggak tahu harus gimana, Nes. Kamu tahu kan kalau aku itu cinta dan sayang sama Juna?"


"Iya sih. Tapi ya gimana ya, Van? Kalau dipikir-pikir lagi, emang nggak wajar sih hubungan kamu sama Juna." Kata Nesya. "Beda lagi kalau sama Kenzo. Dia itu kan anggap kamu sebagai adik."


"Terus aku harus gimana, Nesya?"


"Putusin aja Juna. Terus jadian aja sama Edgar si Mostwanted itu." Jawab Nesya.


"Mostwanted? Kayak anak SMA aja kamu." Cibir Vanes kesal.


Nesya nyengir. "Juna itu emang ganteng, Van. Wajar lah jika Juna banyak yang suka. Ya kayak si Edgar ituloh. Tapi kamu kan bisa berfikir yang seharusnya Juna dapatkan adalah perempuan yang setara dengannya."


Vanes diam.


"Aku tahu kalian pasti tidak macam-macam kan? Walaupun kalian tidak pernah macam-macam, tapi tetap saja hal itu tidak wajar, Van. Ingat Om Dylan sama Tante Tasya! Kamu itu anak tunggal!"


Vanes menghela nafas berat. "Aku tidak bisa putus secara sepihak dengan Juna, Nes. Juna itu terlalu keras. Kurasa dia tidak akan setuju dengan keputusan sepihak ini."


"Paksa dia Vanes. Keluarkan semua emosi dan kekuatanmu."


***


Jn : Aku akan selu mengawasimu, sweethearth!. I Love you.


Vanes langsung memasukkan Handphonenya ke dalam saku. Dia takut Juna akan bertindak macam-macam. Walaupun Vanes saat ini sedang di kelilingi oleh 4 bodyguard berbadan besar dengan pakaian serba hitam, namun hatinya masih saja was-was.


"Nona Vanes? Anda tidak apa-apa kan?" Tanya Yarga, Salah satu bodyguard Vanes.


"Dimana Kak Kenzo?" Tanya Vanes.


"Tuan Kenzo masih ada meeting penting dengan client yang berasal dari luar negeri." Jawab Yarga.


"Aku mau pulang sama Kak Kenzo!" Tegas Vanes.


"Tapi Nona..Tuan besar sudah menunggu anda di rumah. Tuan besar dan Tuan Muda juga berpesan untuk langsung mengantarkanmu pulang." Balas Yarga.


Ting!


Jn : Aku lihat wajahmu begitu khawatir. Ada apa, sayang? Pulang saja. Apa perlu aku yang mengantarkanmu sekarang?


Dada Vanes bergemuruh. Dia khawatir 4 orang di sekitarnya ini akan menculiknya. Dia khawatir jika 4 orang ini adalah suruhan Juna. Bukan suruhan Kenzo.


"Buka kacamata kalian!" Perintah Vanes.


"Ada ap--"


"BUKA!" Bentak Vanes memotong ucapan Yarga.


Keempat orang itu membuka kacamata mereka. Terlihat jelas wajah dari mereka bagaimana. Yang pasti mereka semua berwajah garang. Vanes tidak peduli dengan tatapan teman-temannya. Ada yang memandangnya takjub. Ada juga yang memandangnya iri.


Jn : Kenapa? Kenapa kamu membentak mereka? Dari sini aku dapat melihatmu gelisah. Tenang! Mereka tidak akan mencelakanmu. Tenang sayang! Ikutlah dengan mereka. Tenang! Mereka juga tak mengenalku.


Pesan dari Juna lagi. Vanes berteriak ketakutan! Dia bahkan menjambak rambutnya sendiri.


"Ada apa, Nona?" Tanya Yarga yang mulai khawatir sambil memakai kembali kacamata hitamnya.


Vanes menyahut kunci mobil yang dibawa oleh Yarga. Sang kepala bodyguard. Kemudian Vanes langsung membuka mobil dan menggendarakannya.


"Sialan! Nona Muda rupanya ketakutan! Cepat kejar Nona Muda!" Teriak Yarga sambil masuk ke dalam mobil yang satunya lagi.


Sebuah pesan masuk lagi.


Jn : Kenapa kamu nampak ketakutan? Tenanglah. Aku takut kamu menabrak. Aku tahu kamu belum terlalu pintar menggendarai mobil ini, Sweetheart!


"AAAAA JUNA JANGAN MEMBUATKU GILA!"


***


Namun, saat Yarga menelfonya, perlahan senyum itu memudar. Perasaan khawatir menyelimutinya.


"Halo. Ada apa, Yarga?"


'Tuan! Nona membawa mobil kami!'


"Apa? Bagaimana bisa?"


'Nona tampak ketakutan. Ketakutan itu berasal dari Handphonenya. Dan rupanya, Nona juga sempat mengira kami ini orang jahat!'


"Suruh Gafa bagian IT merentas apa yang ada di handphone, Vanessa. Cari tahu apa yang telah terjadi!"


Kemudian Kenzo mematikan telefon secara sepihak. Dia langsung bergegas keluar dari kantornya. Tujuannya saat ini adalah kediaman keluarga Dylan.


***


Vanes memakirkan mobil berwarna hitam itu begitu saja. Dia berlari masuk ke dalam kamarnya. Yang ada di dalam rumah pun terkejut dan bertanya-tanya ada apa dengan Vanes.


Kenzo yang mengendarai kendaraanya dengan kecepatan tinggi sudah sampai di rumah Vanes. Tatkala Vanes masuk ke dalam rumahnya sambil berlari.


"Kenzo? Ada apa ini?" Tanya Tasya menghadangnya.


"Nyonya Dylan? Tidak ada apa-apa. Tapi aku harus bertemu sama Vanessa." Ucap Kenzo buru-buru.


"Masuklah. Dia ada di dalam kamar."


"Terima kasih."


Secepat kilat, Kenzo langsung menuju lantai atas. Tempat dimana Vanes sedang bersembunyi. Kamar Vanes. Disana, Sinta sedang membujuk Vanes untuk keluar kamar.


"Sinta? Vanes ada di dalam?" Tanya Kenzo.


"Iya Tuan. Nyonya muda ada di dalam."


Kenzo mengangguk. "Kau pergi saja. Aku yang akan mengurus ini."


"Baik Tuan."


Sepergian Sinta, Kenzo mencoba membuka kenop pintu kamar Vanes. Namun tak bisa. Pertanda jika memang Vanes mengunci kamarnya.


"Vanessa? Buka pintunya. Apa yang kamu takutkan disini? Bukannya disini kamu adalah ratu? Bukannya ratu yang seharusnya ditakuti?" Suara lembut Kenzo membuat Vanes luluh. Perlahan pintu terbuka. Kenzo tersenyum.


Tanpa sengaja, Tasya melihat Kenzo membujuk anaknya itu. Tasya hanya bisa menggelengkan kepala melihat anak satu-satunya itu begitu manja sejak hadirnya Kenzo. Bahkan Kenzo pun membujuknya untuk keluar dengan cara seperti membujuk anak kecil. Tasya kadang juga heran dengan anaknya yang manja kelewat itu. Dia memilih pergi dan menunggu di bawah.


"Kak Kenzo..." Lirih Vanes.


Kenzo menggendong Vanes kemudian mendudukannya di pinggir kasur. Kenzo berjongkok di hadapan Vanes sambil mengenggam erat tangan kanan Vanes.


"Lihat! Tangan ini yang akan selalu melindungimu. Tangan ini juga yang akan selalu menjagamu." Kata Kenzo.


Vanes menangis. "Kak Kenzo..Vanes takut. Pesan-pesan itu seperti menerorku."


"Katakan siapa yang meneror adikku ini!"


Vanes kini diam. Dia tidak mau bercerita tentang Juna. Biarkan Juna jadi rahasia tersendiri untuknya. Dan..Vanes hanya bisa menggelengkan kepala ketika Kenzo bertanya.


Kenzo sangat menghargai privasi orang. Dia tersenyum ketika Vanes menggeleng. Dia sadar jika Vanes belum mau cerita. Setidaknya, dia juga mampu dengan masalahnya sendiri.


"Lain kali, jangan mengendarai mobil sendiri. Kamu masih belum waktunya untuk berkendara sendiri." Tegas Kenzo.


"Aku hanya ingin Kak Kenzo yang mengawasiku." Cetus Vanes kemudian.


Kenzo tersenyum lembut. "Apa tidak cukup dengan 4 bodyguard?"


"Aku hanya mau Kak Kenzo.." Rengek Vanes.


Kenzo kembali tersenyum. "Dengar! 4 orang itu tidak akan pernah mecelakaimu. Mereka sudah ku beri sebuah cip yang ada pada tubuh mereka. Sehingga mereka tidak akan pernah macam-macam denganmu. Jika aku sempat dan ada waktu luang, aku lah yang akan menjemputmu."


"Promise?"


"Ya! I promise!"


Vanes tersenyum.


"Bersihkan dirimu kemudian makan setelah itu istirahatlah. Aku akan memanggilkan Sinta untukmu. Dan juga aku harus bicara dengan kedua orang tuamu."


"Oke."


Kenzo keluar dari kamar Vanes. Dia mencari keberadaan Sinta. Setelahnya dia pergi ke ruang tamu untuk bicara dengan Tasya. Rupanya Tasya dan Dylan yang masih menggunakan tuxedo juga ada disana. Kenzo sendiri juga menggunakan texedo. Hanya saja beda warna.


"Tuan Dylan?"


"Aku tahu kau akan bicara Kenzo. Kemari. Bicaralah."