
"Vanessa? Ada apa?" Tanya Kenzo yang menyadari perubahan sikap dari Vanes.
Vanes menggeleng. "Aku harus ke toilet."
"Mau aku temani?" Tawar Kenzo.
"Tidak usah." Jawab Vanes sambil berlalu pergi dari hadapan Kenzo.
Juna yang sedari tadi menatap adegan itu juga izin pamit untuk pergi ke toilet. Dia ingin menemui kekasih kecilnya itu. Menanyakan kenapa akhir-akhir ini dia dijauhi.
Vanes yang sadar jika langkahnya merasa ada yang mengikuti, dia semakin mempercepat langkahnya. Hingga tangan kanannya ada yang menyekalnya. Vanes disudutkan di sudut toilet.
"Lepaskan Juna!" Bentak Vanes.
"Wow sayang, kamu sudah berani membentakku? Ada apa denganmu, sayang?" Tanya Juna dengan nada serak.
Vanes tampak ketakutan. "Juna. Lepaskan aku. Aku mohon." Pinta Vanes.
"Tidak! Kamu tahu sayang? Aku begitu merindukanmu. Apalagi dengan bibir mungilmu ini!" Kata Juna dengan sensasi nakal.
Bibir Juna kini menyentuh bibir Vanes yang mungil itu. Vanes ingin mengakhirinya, Namun Juna semakin memperdalam ciumannya. Tangan Juna kini bergerak nakal. Dia merobek gaun yang di genakan Vanes di bagian dada.
Juna memberi kissmrak di antara buah dada yang masih tertutup bra berwarna hitam itu. Kemudian bibirnya kembali melumat bibir Vanes.
Vanes mendesah di sela-sela ciuman ketika Juna meremas kedua buah dadanya sekaligus. Juna merasakan sensasi panas ketika mendengar desahan kekasih kecilnya itu. Tangannya semakin lincah meremas kedua gundukan kenyal itu. Ciumannya semakin di perdalam.
"Ahhh shh Junss aahh." Racau Vanes ketika Juna melepaskan tautan mulut mereka.
Vanes dapat merasakan bagian bawah terasa basah. Apakah Vanes ***? Entah. Vanes begitu menikmati sentuhan Juna. Dia kecewa ketika Juna berhenti.
"Itu hukuman bagimu karena telah membentakku dan tak pernah memberiku kabar, Nona Angelica."
***
Kenzo terkejut ketika melihat Vanes menangis di salah satu bilik kamar mandi. Penampilan Vanes berantakan. Apalagi gaunnya. Kenzo dapat melihat bercak biru keungu-unguan. Hal itu tidak asing bagi Kenzo. Dia sangat tahu itu tanda apa.
Tanpa berfikir panjang, Kenzo melepas jas abu-abunya kemudian menggenakannya kepada Vanes. Vanes masih setia menangis. Air matanya terus berlinang. Kenzo begitu tak tega dengan Vanes.
Kenzo berjongkok di hadapan Vanes. "Vanessa? Siapa yang telah membuatmu seperti ini?" Tanya Kenzo.
Vanes memeluk Kenzo. "Kak Kenzo....Lindungi Vanes dari orang-orang yang jahat, Kak."
Kenzo menggendong Vanes ala brydal style. "Aku akan melindungi, Vanessa. Mari kita pulang. Rumah lebih aman dari pada disini. Aku berjanji padamu, Aku akan menghajar orang yang telah membuatmu seperti ini."
Vanes hanya bisa menangis di depan dafa bidang Kenzo. Dia merasa terlindungi di dekat Kenzo. Rasa nyaman mulai menjalar dan itu meredakan isak tangis Vanes.
Kenzo keluar melewati pintu belakang. Sebelumnya, dia sudah berpesan kepada seorang pelayan untuk memberi tahu Dylan jika dia dan Vanes pulang duluan. Kenzo benar-benar paham dan yakin dengan yang terjadi pada Vanes. Tapi dia memilih diam. Biarkan ini jadi rahasia antara Vanes dan dirinya.
***
"Aku ada dimana, Kak?" Tanya Vanes ketika terbangun dari tidurnya.
"Tentu saja di kamarmu. Lihat, Sinta dari tadi menunggumu bangun sambil membawakan makanan." Kata Kenzo sambil tersenyum.
"Dimana Mama dan Papa?" Tanya Vanes yang tak menggubris perintah Sinta. Dia melirik jam. Sudah hampir pukul 12 malam.
Kenzo mengelus rambut panjang hitam legam Vanes. "Mereka sedang dalam perjalan pulang. Bersikaplah seolah-olah tak terjadi apa-apa, Vanessa. Rahasia ini biar kita yang tahu walaupun aku belum tahu siapa lelaki yang lancang menyentuhmu. Sekarang, Makanlah! Aku akan menyuapimu." Kata Kenzo sambil mengambil alih piring yang di pegang oleh Sinta.
Jika sudah seperti ini, Vanes akan menurut. Vanes takut keluar rumah. Vanes takut di luar sana ada Juna. Vanes takut jika Juna akan menemuinya. Dan, Vanes takut Juna akan berbuat lebih nekat lagi.
"Sinta, dimana minumnya?" Tanya Kenzo.
Sinta mengambil segelas air putih yang terletak di atas meja rias Vanes kemudian memberikannya kepada Kenzo dan Kenzo memberikannya kepada Vanes untuk di minum.
"Kak? Aku boleh minta sesuatu?" Vanes menaruh gelas tersebut di dekatnya. Mata Vanes dan Kenzo saling beradu ketika Vanes beralih ke Kenzo.
Dengan tatapan teduh dan bersahabat, Kenzo mengangguk. "Katakan apa yang kamu minta, Vanessa."
"Aku ingin Kak Kenzo selalu berada di dekatku. Melindungiku dari orang-orang jahat." Vanes mengutarakan kemauannya.
"Itu bisa di atur, Vanessa. Aku juga akan menyuruh bodyguardku itu menjaga sekitar area rumah ini. Menjagamu saat di sekolah nanti. Aku akan bicara pada Pak Dylan dan juga kepala sekolahmu." Balas Kenzo yang mampu membuat hati Vanes sedikit tenang. "Sekarang tidurlah."
Vanes menurut. Dia kembali memejamkan matanya. Kenzo mengajak Sinta keluar dari kamar Vanes. Bertepatan dengan itu, Dylan dan Tasya sudah pulang. Tasya langsung menghadang Kenzo dengan semilyar pertanyaan.
"Kenzo? Kenapa kalian pulang lebih awal? Kenapa kalian tidak memberi tahu kami terlebih dahulu? Ada apa dengan putriku? Dia aman kan?"
"Oh Tasya! Jeda dulu bicaramu, Sayang. Mari kita ajak Kenzo ke ruang tamu. Sinta? Tolong buatkan teh italia untuk kami bertiga." Itu suara tegas Dylan.
Sinta mengangguk. Ketiganya kini berada di ruang tamu dengan posisi Tasya dan Dylan duduk berdua. Dan Kenzo duduk sendiri di hadapan mereka berdua. Sinta yang gesit dalam melaksanakan tugas kini sudah berada di ruang tamu sambil membagikan teh italia yang di buatnya tadi kepada ketiga orang itu. Setelahnya dia pergi ke dapur.
"Ayo Kenzo jawab pertanyaanku." Desak Tasya.
Kenzo tersenyum tenang. "Nyonya Tasya, Vanessa tidak kenapa-kenapa. Dia tadi hanya di ganggu dengan pelayan nakal saja. Untung aku ada disana." Jawab Kenzo.
Kini Kenzo bertatapan dengan Dylan. "Jangan bicara denganku jika kau masih memanggilku dengan embel pak Kenzo!"
Kenzo tertawa ringan. "Baiklah aku akan memanggilmu Tuan saja. Begini Tuan Dylan, Aku hanya menyarankan jika Vanessa penjagaanya di perketat. Kalau perlu Vanes selalu di dampingi bodyguard. Seperti saat sekolah atau berpergian tanpa anda, Tuan dan Nyonya."
"Rupanya kau tidak mau adik manjamu tersakiti, Kenzo." Imbuh Tasya sambil tersenyum. "Yang dikatakan oleh Kenzo itu ada benarnya, Pa. Apa salahnya kita menyewa bodyguard?"
"Sayang, jarang ada bodyguard yang tulus." Jawab Dylan.
Kenzo kembali tersenyum. Wajah tenangnya selalu terpancar. "Saya akan menyuruh bodyguard pilihan saya untuk tetap berada disini, Tuan Dylan.
"Kau sangat baik, Kenzo."
"Sudah kewajiban saya seperti itu, Nyonya Tasya. Saya sangat menyayangi Vanessa seperti adik saya sendiri bahkan lebih. Dan rasanya saya juga berkewajiban untuk melindungi dan memanjakannya."
-----
Hai! Maaf ya kalau banyak typonya:). Jangan lupa dukung cerita ini saya. Favoritin juga. Di komen biar aku senang. Di Vote juga dong!
Happy Reading!