My Little Wife

My Little Wife
7. Kenzo atau Juna?



Juna menjemput awal Vanes. Dia bahkan meninggalkan meeting pentingnya demi gadis yang berusia 15 tahun. Pedofil? Bukan. Juna tidak seperti itu. Dia suka Vanes yang menurutnya perfect walau dia tahu tidak ada manusia yang sempurna.


Mobil yang di lihat kemarin berhenti di ujung trotoar. Kemudian suara bel pulang sekolah terdengar.


Juna dapat melihat Vanes dan Nesya keluar dari sekolah. Juna tersenyum karena tak ada Jihan diantara mereka. Mungkin mengancam Jihan itu adalah hal yang sepele baginya, namun berefek bagi Jihan.


"Vanes!"


Vanes yang sedang berbincang ria dengan Nesya menoleh ke asal suara. Nesya yang tahu jika itu adalah suara Juna langsung pamit pergi. Sementara Vanes takut jika nanti di lihat oleh teman-temannya.


"Apa?"


"Ayo aku antar pulang."


"Nggak usah, Jun. Aku udah di jemput." Balas Vanes.


Hati Juna terasa sesak. "Dijemput sama lelaki yang kemarin?"


Dengan mantap, Vanes mengangguk.


"Kamu.."


Handphone Vanes berdering. Tertera nama Kenzo disana. "Udah ya aku harus pulang. Oh iya, jangan sering-sering temuin aku ya?"


"Nggak! Nggak bisa! Aku ini cinta kamu, Vanes!" Bantah Juna.


Namun, Vanes hanya menatap Juna sesaat. Kemudian pergi ke arah mobil Kenzo. Gadis itu lebih memilih Kenzo dari pada Juna. Oh Juna. Betapa kasihannya engkau.


***


Hati Jihan rasanya berdegup kencang. Di hadapannya sang ayah, Haris, ingin mengajaknya bicara 4 mata.


"Jihan? Ayah ingin bertanya padamu."


"I..Iya Ayah?"


"Kamu pasti tahu Arjuna kan?" Tanpa sadar Jihan mengangguk.


"Kenapa kamu menggoda dia, JIHAN?" Tegas Haris.


Jihan menciut. "Aku tidak menggodanya, Ayah."


Haris yang tersulut emosi melempar foto-foto ke depan wajah Jihan yang sedang menangis. Jihan tak menyangka. Saat Juna mengancamnya ternyata ada seseorang yang berani memotretnya. Tapi sayangnya dia tidak tahu siapa yang memotretnya.


Haris menyeret Jihan. Membawanya masuk ke dalam kamar kosong yang banyak debunya. Dan Jihan sangat menakuti tempat gelap. Kinan, ibu Jihan yang melihat hal itu hanya bisa bersedih sambil menahan isak tangisnya karena kecewa.


"Ayah. Jihan takut. Jangan kurung, Jihan ayah!" Rintih Jihan pilu.


Jihan tidak menyangka. Yang mengirim foto-foto ini pasti Vanes atau tidak Nesya. Kedua sahabatnya yang sangat disayangi. Persahabatannya menjadi hancur dengan perubahan sikap Vanes yang sedang kasmaran.


"Vanessa..Nesya..Kenapa kalian tega?"


***


Vanes dan Sinta sedang berada di meja rias. Vanes sedang di dandani oleh Sinta. Dylan mengajaknya ke acara penting malam ini.


"Nyonya muda terlihat sangat cantik sekali." Puji Sinta sambil tersenyum.


"Kamu selalu saja seperti itu, Sinta." Kata Vanes sambil tertawa.


"Ngomong-ngomong, Saya dengar dari Nyonya besar, Pesta ini untuk berpasangan. Siapa pasangan anda, Nya? Tuan pasti sama Nyonya besar." Kata Sinta.


"Kak Kenzo."


"Tuan Kenzo? Lelaki itu sangat tampan, bukan? Sangat pantas denganmu."


Vanes tertawa. "Aku dan Kak Kenzo hanya sebatas adik kakak saja."


"Maaf jika lancang, Nyonya. Tapi, jika saya melihat Tuan Kenzo, rasa sayang yang ditunjukkan rupanya berbeda, Tuan seperti mencintai Nyonya." Kata Sinta.


Vanes memegang tangan Sinta. "Mungkin kamu hanya salah paham, Sinta. Tidak mungkin jika Kak Kenzo itu suka ataupun cinta padaku. Mana ada seorang kakak mencintai adiknya?"


"Tapi Tuan Kenzo itu begitu perhatian kepada anda, Nyonya."


Vanes kembali tersenyum. "Kak Kenzo selalu seperti itu kepada semua orang."


Vanes berdiri dari duduknya. Gaun panjang berwarna merah marun itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Vanes terlihat seperti bukan seorang remaja. Dia selalu terlihat dewasa ketika menggunakan gaun.


Sinta dengan setia menuntun majikan utama keduanya agat tidak jatuh. Vanes mencoba melangkah dengan anggun seperti yang pernah diajarkan oleh Tasya. Kadang tatapannya juga harus diangkuhkan.


Dibawah, Kenzo ternyata sedang bersenda gurau dengan kedua orang tuanya. Kenzo benar-benar ramah. Lelaki dengan mata lebar itu kembali tersenyum tatkala sang ayah melontarkan lelulocon. Berbeda dengan Juna, lelaki yang memiliki mata sipit itu selalu saja serius dan lebih agresif. Kenzo dan Juna sangat berbeda!.


Kenzo begitu tampan dengan tuxedo berwarna abu-abu. Aura lembut nan bersahabat dari Kenzo dapat terpancar dan dirasakan. Malam ini, Kenzo benar-benar sangat berbeda. Sangat amat tampan.


Kak Kenzo..apa benar yang dikatakan oleh Sinta? Kenapa aku juga sekarang jarang bertemu dengan Juna.


"Ayo Nyonya kita turun."


"Sinta, Kak Kenzo benar-benar tampan. Kau lihat kan?" Tanya Vanes.


Sinta mengenggam erat tangan Vanes. "Memang. Jangan gugup. Hati-hati jika turun."


Vanes kembali menuruni tangga. Semua yang ada di ruang tamu langsung berdiri ketika Vanes sudah sampai di ruang tamu. Kenzo lah yang paling terkesan dengan kedatangan Vanes.


"Vanessa? Kamu kah itu? Kamu sangat berbeda." Kata Kenzo jujur.


Vanes tersenyum simpul. "Terima kasih."


"Wow Vanes! Kau mendandani putriku dengan sangat cantik." Cetus Dylan dengan arogan.


Sinta menjawabnya dengan senyuman malu-malu.


"Kamu berangkat dengan Kenzo ya? Kamu datang sebagai pasangan Kenzo. Mama dan Papa berpasangan." Kata Tasya sambil mengambil alih tangan Vanes dari Sinta.


"Iya."


Kenzo ikut mendekat. "Jika ada yang tanya siapanya Kenzo, jawab saja jika istriku."


***


Ruangan pesta di dominasi dengan warna pastel yang indah. Tamu-tamu undangan terlihat arogan dan berwibawa. Sajian makanan terlihat berjajaran rapi. Tak jarang Vanes melihat sepasang yang terlihat serasi.


"Sebenarnya ini acara apa, Kak?"


Kenzo yang mengapit tangan Vanes sedikit berbisik. "Ini ada acara perayaan sebuah perusahaan yang paling besar."


Vanes mengangguk tanda paham. Kemudian sepasang suami-istri mungkin, datang mendekat.


"Apa kabar Tuan Kenzo?"


Kenzo menyalami lelaki tersebut. "Baik. Bagaimana denganmu, Tuan Andrian?"


"Baik juga. Oh iya perkenalkan. Ini istriku, Olivia Overgran."


Istri dari Tuan Andrian itu tersenyum anggun kepada Kenzo.


"Senang bisa berkenalan denganmu, Nyonya Overgran. Perkenalkan, ini istriku. Vanessa Angelica." Ucap Kenzo dengan berwibawa.


"Hai Nyonya Kenzo. Saya Andrian Gtanam." Sapa Andrian.


Vanessa tersenyum. "Vanessa Angelica."


"Seleramu memang sangat bagus, Tuan Kenzo. Jika ku taksir istrimu ini masih sangat muda. Umurnya pasti tak jauh beda denganmu. 21 mungkin." Sambar Olivia Overgran


"Tentu saja. Aku ini begitu mencintai istri mudaku ini." Kenzo tertawa. "Baik Tuan Andrian. Kami ingin ke tengah ruangan. Tempat berdansa. Kami berdua ingin berdansa." Sambung Kenzo.


"Silahkan Tuan Kenzo."


Kenzo mengangguk kemudian dia berjalan melewati Tuan Andrian. Vanes cekikikan membuat Kenzo yang masih setia mengapit tangan Vanes menoleh.


"Ada apa?" Tanya Kenzo.


"Hahahaha. Tante Olivia itu sangat lucu. Susah payah aku menahan tawaku." Kata Vanes sambil memelankan suaranya.


Tanpa sengaja, Vanes mendapati seorang lelaki tengah menatapnya. Lelaki itu melayangkan tatapan mautnya. Vanes sangat mengenal lelaki itu. Disebelah lelaki itu ada seorang perempuan yang mengapit tangan lelaki itu dengan mesra.


Lelaki itu adalah Arjuna Rakatya Pradita. Dan perempuan yang mengapit mesra tangan Juna adalah Selena Arganaz.


Mengapa aku harus bertemu Juna disini?