
Tasya menyambut kedatangan mereka dengan Sinta.
"Sinta, Bawakan tas anak saya ya!" Perintah Tasya sambil mendekat ke arah putrinya yang sedang tertawa dengan Kenzo.
"Wah Kenzo! Anakku ternyata bisa tertawa bebas denganmu. Kalian sudah akrab?" Tanya Tasya.
"Tentu saja." Balas Kenzo sambil merangkul bahu Tasya. "Dimana Pak Dylan?"
"Kamu sudah di tunggu di ruang kerja." Balas Tasya.
"Mari Nyonya muda. Saya bawakan tas anda." Sinta mengambil alih tas yang bertengger di kedua bahu Vanes. Kemudian Sinta melangkah masuk.
"Putrimu ini memang sangat menggemaskan, Nyonya Dylan. Oke Princes Vanessa aku harus bertemu dengan Papamu dulu baru aku akan mengajakmu jalan." Kata Kenzo.
Mata Vanes berbinar. "Benarkah?"
"Tentu saja, Vanessa."
Tasya tertawa. "Jangan lakukan Vanessa seperti anak kecil, Kenzo. Vanessa ini sudah bersar. Sudah mau SMA."
"Tapi Vanessa sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, Nyonya. Jadi saya berkewajiban untuk memanjakannya." Kata Kenzo.
"Benar-benar kamu ini. Sudah sana masuk."
"Hehehe. Saya permisi."
Setelah Kenzo masuk, Vanes dan Tasya juga ikut masuk. Diikuti dengan Sinta yang membawa tas Vanes di belakang. Vanes dan Tasya langsung duduk di meja makan.
"Hari ini, Bi Gina udah masuk. Jadi Bi Gina lah yang masak." Kata Tasya sambil membalikkan piring.
Vanes juga melakukan hal yang sama dengan Tasya. "Oh iya? Pantas saja jarang terlihat."
Tasya terkekeh. "Kamu mau makan apa, sayang?"
"Ayam kecap aja deh."
Ting!
Tanda pesan masuk dari Handphone Vanes terdengar. Vanes mengecek isi pesan tersebut. Matanya melotot ketika tahu siapa pengirim pesan tersebut.
Jn : Siapa yang tadi bersamamu?
DEG!
Jadi? Juna tadi melihatnya pulang dengan Kenzo? Berarti Juna menjemputnya?. Mendadak nafsu makannya tidak enak. Ayam kecap makanan kesukaannya yang terlihat menggiurkan kini biasa saja di mata Vanes.
Vanes tak tahu harus menjawab apa. Tasya yang menyadari perubahan raut wajah Vanes yang murung langsung bingung.
"Vanessa? Kenapa?"
Vanes mencoba tersenyum seraya menggeleng. "Tidak apa, Ma. Banyak PR."
"Kan nanti Mama bisa bantu kamu mengerjakannya, Sayang!" Kata Tasya lembut. Tapi Tasya tak bodoh. Dia tahu kemurungan anak semata wayangnya itu bukan karena PR tersebut. Pasti ada hal yang lain. Tapi Tasya harus menghargai privasi putrinya itu.
"Iya Ma."
***
"Kita ganti saja Pak bahan untuk yang lantai bawah. Karena bagaimanapun itu lantai bawah adalah penyangga lantai atas." Saran Kenzo.
"Kita juga harus mengganti posisi tiang-tiang ini."
Tok! Tok! Tok!.
"Masuk saja!" Ucap Dylan.
Tasya masuk ke dalam ruangan Dylan. Kenzo menatap istri rekan kerjanya itu yang masih terlihat awet muda. Kenzo tersenyum ketika Tasya menyapanya dengan senyuman.
Dylan berdiri kemudian menghampiri sang istri. "Ada apa?"
"Kalian berdua sudah selesai?"
Dylan menjawab. "Hampir."
"Oh bagus. Putrimu itu sedang murung, Pa. Aku rasa dia butuh Kenzo untuk bisa tertawa lepas." Ucap Tasya berterus terang.
Kenzo berdiri sambil merapikan jas hitamnya. "Ada apa dengan Vanessa?"
"Vanessa sepertinya sedang sedih. Aku tidak tahu dia sedih kenapa. Aku rasa kamu bisa membuatnya tertawa." Jawab Tasya.
Dylan beralih ke Kenzo. "Wah Kenzo. Rupanya putriku bahagianya sudah tergantung padamu.".
Kenzo tertawa. "Tidak juga."
Tasya mengangguk kemudian keluar dari ruangan kerja Dylan..
***
Vanes sedang duduk di Taman rumahnya. Ditemani dengan dua novel dan segelas jus jeruk. Sinta dengan setia berdiri di depan pintu yang menghubungkan Taman dengan dalam rumah. Disana, Sinta mengawasi majikan kecilnya.
Kenzo tiba-tiba datang.
"Oh ada kau, Sinta. Dimana Vanessa?" Tanya Kenzo.
"Nyonya muda sedang membaca novel di bawah pohon." Jawab Sinta sambil menunjuk Vanes yang sedang bersandar di pohon besar yang rindang.
"Iya. Kau masuk saja. Tidak apa." Titah Kenzo. Sinta menurut.
Kenzo menghampiri Vanes yang sedang asik membaca novel hingga Vanes tak menyadari jika ada yang mendekat ke arahnya. Kenzo mengulurkan tangannya hingga membuat Vanes mendongak kemudian tersenyum.
Vanes memberi tanda pada halaman yang tadi dibacanya kemudian di tutup. Dia menyambut uluran tangan Kenzo seraya berdiri dari duduknya..
"Kata Mamamu kamu bersedih? Kenapa?" Tanya Kenzo sambil menuntun Vanes untuk duduk di bangku taman.
Vanes menurut. "Tidak apa. Aku hanya bingung."
"Bingung kenapa?"
Vanes bingung harus menjawab apa pertanyaan Kenzo. "Aku bingung dengan PR-PR yang banyak, Kak."
Kenzo mengelus puncak kepala Vanes. "Aku tahu kamu bukan bingung masalah seperti itu. Aku tahu kamu itu cerdas. Masalah PR yang menumpuk bukan hal yang sulit bagimu, Vanes."
Vanes tampak menghela nafas.
"Cerita lah." Sambung Kenzo.
Vanes menggeleng. "Aku belum mau cerita, Kak. Aku malu jika cerita. Aku tahu yang membuatku bingung ini adalah hal yang tidak wajar."
Kenzo mengangguk mengerti. "Aku menghargai privasimu. Ayo kita jalan-jalan. Aku akan mengajakmu ke cafe."
***
"Juna? Ayo temani aku?"
Juna mendongak. Selena, Sekretaris khususnya masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi. "Kemana?"
"Cafe mungkin? Aku sungguh bosan dan penat. Aku butuh udara yang lebih segar." Kata Selena.
Juna tampak berfikir. Yang di ucapkan Selena ini ada benarnya juga. Apa salahnya menghirup udara segar di atas kesibukkannya?. Juna mengangguk. Meng-iyakan ajakan Selena.
"Ayo!" Suara antusias Selena membuat Juna berdecak.
Mereka berdua berjalan beriiringan. Terlihat serasi sekali. Yang laki tampan yang perempuan juga cantik. Tatapan iri karyawan tak di hiraukan mereka berdua. Apalagi Juna. Karena dia merasa tidak ada hubungan apa-apa dengan Selena.
Juna saja masih kepikiran tentang Vanes yang pulang dengan siapa. Bahkan chat darinya saja tak di balas. Vanes hanya membuka chatnya saja.
"Kamu mau pesan apa, Jun?" Tanya Selena.
Tak terasa jika mereka sudah sampai di cafe dekat kantor mereka. Juna memilih menu cafe ini. "Pancake keju sama Jus Alpukat."
Juna diam sebentar. Jus alpukat adalah jus kegemaran Vanes. Dia benar-benar mencintai gadis kecil itu. Entah kemana jalan pikirnya.
"Samakan saja ya mbak pesanannya." Ucap Selena kepada pelayan.
Sekarang Selena beralih kepada Juna. "Kamu malam ini tidak membutuhkanku?"
Juna menggeleng. "Malam ini aku tidak butuh tubuhmu."
"Apa salahnya jika kita bermain saja? Come on. Playing with me." Ucap Selena manja.
Juna terkekeh. Tangannya menaikkan dagu Selena. "Jika kau yang mengajak aku akan bermain denganmu." kemudian Juna terkekeh.
Selena juga. Hingga Selena menatap seorang gadis yang di gandeng dengan seorang lelaki yang kiranya berumur sama dengan Juna. Mereka tampak akrab dan bahagia. Senyuman mereka saling tercetak.
"Juna. Lihat. Kecil-Kecil sudah menjadi penggoda."
"Mana?"
Kemudian Selena menunjuk gadis itu dengan dagunya. "Lihat! Dia berjalan dengan lelaki yang seumuran denganmu. Sangat tidak wajar."
Rahang Juna tampak mengeras. Tatapan mautnya dilayangkan kepada gadis itu dan Selena. Gadis itu adalah Vanes. Vanessa Angelica. Tatapan itu juga dilayangkan kepada Selena Arganaz. Karena terbakar api cemburu, Juna langsung pergi dari cafe tersebut.
Ada apa dengan Juna?