My Little Wife

My Little Wife
11. Naik Tahta



Vanessa Angelica.


Cewek ini biasa di panggil Vanes. Memiliki wajah berparas cantik nan putih. Sifatnya tidak terlalu keras. Jangan sesekali bermasalah dengan seorang Vanessa. Karena jika dia terluka tak segan-segan seorang Vanessa ini akan membalasnya dengan hal yang setimpal atau bahkan lebih.


OSIS memilih Vanessa Angelica sebagai Putri sekolah yang bermasa hingga dia lulus. Sebagai Putri sekolah, Vanessa akan memberikan motivasi saat pensi sekolah yang akan di laksanakan minggu depan.


Motto Putri Sekolah : "Jangan sembarangan berucap. Karena ucapan itu yang akan membawamu ke sebuah masalah."


Tertanda.


Regina Grata Bahana.


Ketua OSIS SMP Perdabar.


Vanes membaca artikel singkat tentang dirinya di mading besar yang terletak di lobby. Senyum jahatnya dapat tercetak di sana. Dengan begini, dia lebih mudah untuk mengakses segala kelakuan yang di lakukan oleh Jihan.


Bicara soal Jihan, Vanes masih belum bisa memaafkannya. Dendamnya masih berkobar. Vanes telah di butakan oleh dendam. Bahkan sifatnya sangat bertolak belakang jika berada di rumah. Jika di rumah dia sangat manja. Maka di sekolah dia akan menjadi dirinya yang sebenarnya.


"Bagaimana? Aku pintar kan?" Nesya yang berdiri di sebelahnya mengeluarkan senyum smriknya.


"Cerdas!"


Vanes tersenyum lagi. Kemudian Nesya mengajaknya untuk ke kelas. Vanes menurut. Dia berjalan beriiringan dengan Nesya. Di koridor sekolah, banyak siswa-siswi yang menatap mereka berdua. Nesya merasa bangga jika sahabatnya ini namanya naik level.


Sampai di kelas, Jihan tengah menangis. Ada Dani yang di sebelah Jihan. Teman satu kelasnya semuanya tak melewatkan momen tersebut. Banyak yang merekam aksi Dani.


"ADA APA INI?" Teriak Vanes saat masuk ke kelas.


Nesya menggengam tangan Vanes. "Sudahlah. Kamu tak lihat Jihan sedang menangis? Lihat! Ada kesenangan sendiri rasanya."


Kemudian terdengar suara riuh tepuk tangan ketika Dani turun dari meja Jihan, berjalan ke arah Vanes.


"Putri sekolah! Congrats untuk itu, Vanes. Sebagai kadonya, lihat musuhmu itu tengah menangis!" Kata Dani.


Suara tepuk tangan dan suit-suitan kembali terdengar. Vanes menyungging senyum jahat. Di pojok sana, Jihan tengah menangis. Entah apa yang tekah di lakukan Dani terhadap Jihan. Vanes tidak mengurus hal itu. Yang terpenting adalah dapat melihat musuhnya itu menangis.


Vanes berjalan ke sudut kelas. Tepat dimana Jihan sedang menangis. Di belakangnya ada Nesya, Utari, Calen dan Andini. Hanya karena sebuah dendam Vanes dapat berubah sejahat ini. Merubah sikapnya yang lembut menjadi kasar.


Di sela isakan tangisnya, Jihan mendongakan kepalanya ke atas. Menatap sahabatnya itu dengan tatapan memohon dan nanar. Berbeda dengan Vanes, tatapannya seakan mengatakan 'masa bodo'. Tatapannya juga lebih ke arah bahagia dari pada kasihan.


"Jihan? Apa kabar?" Nada bicara Vanes tampak mengejek. Seisi kelas kemudian tertawa terbahak-bahak. Mendengar Putri Sekolah mereka membalas dendam adalah suatu hal yang langkah. Kebanyakan Putri Sekolah adalah siswi yang baik dan teladan. Vanes memang baik, pintar dan cantik. Tapi jika sudah tersakiti dia akan membalas dendam. Seperti saat ini. Kejadian yang sangat langkah untuk siswi yang menjabat sebagai Putri Sekolah.


"Perlu bantuan, Van?" Tawar Calen.


Vanes tersenyum sinis. "Tidak perlu. Aku tidak perlu bantuanmu. Cukup jadi dayangku sudah cukup."


Mendengar itu, Utari seperti di beri setumpuk uang. Betapa bahagianya dia dapat menjadi bagian dari Putri Sekolah. Walaupun itu hanya seperti pengawal. Tapi itu cukup untuk menaikan popularitasnya.


Vanes berjongkok di hadapan Jihan yang terduduk dengan beberapa helai rambut yang keluar dari jilbab coklatnya. Sedangkan rok bagian depan terlihat sobek. Entah apa yang telah dilakukan Dani terhadap Jihan. Dia tidak mau tahu.


Tangannya yang putih memegang dagu Jihan agar mendongak sempurna. "Apa kabar? Apa kamu tidak dengar aku bertanya seperti itu?"


Suara Garka sang ketua kelas terdengar. "Jangan lupa cuci tangan!"


"Putri Sekolah akan tahu apa yang akan dia lakukan setelah memegang perempuan yang munafik." Ucap Nesya sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Seluruh kelas kemudian tertawa.


Vanes mengangkat tangannya agar senuanya diam. "Jihan..Bagaimana nasib mu dengan om-om itu? Apakah kamu sudah semakin kaya?"


Lagi. Seluruh kelas kembali tertawa. Jihan hanya bisa memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit di hati. Bagaimana pun juga, yang di hadapannya ini adalah sahabatnya. Dia tidak boleh marah. Sahabatnya ini mungkin hanya terhasut dengan omongan saja sehingga salah jalan.


"Van. Kita bawa aja dia ke lapangan basket. Biarkan mereka semua tahu bagaimana kelakuannya!" Tegas Nesya.


Vanes berdiri. Kemudian berjalan ke bangkunya untuk menaruh tasnya. Setelahnya dia duduk di meja. Para teman kelas langsung menghampirinya. Menunggu jawaban.


"Sepertinya Dani setuju dengan yang kamu ucapkan, Nes!" Hanya itu jawaban Vanes.


Dani menyeret Tirta untuk mencekal tangan Jihan. Vanes hanya menatap keduanya dengan datar ketika mereka berdua memaksa Jihan keluar dari kelas. Dia sadar jika dia terlalu berlebihan. Tapi dia tidak peduli. Harga diri harus di balas dengan harga diri. Dendam harus di tuntaskan hingga bibitnya.


Garka menawarkan tangannya untuk membantu Vanes turun dari meja. Vanes menunjukkan smriknya kemudian menerima tangan Garka dan segera turun dari atas meja. Untuk Putri Sekolah yang ini benar-benar berbeda. Memiliki dua muka baginya itu penting. Siasat-siasatnya selalu saja berhasil.


Vanes duduk di atas tribun kecil sendiri sambil memantau para dayangnya mempermalukan Seorang Jihan Carfadra Puspa. Banyak adik kelas yang melihat itu. Namun, mereka juga tak berani untuk naik ke tribun kecil ini. Mereka memilih menerobos untuk tahu dari pada naik ke atas tribun ini.


Namun seorang lelaki dengan santainya duduk di sebelahnya. "Vanessa Angelica. Memiliki paras yang cantik. Di balik parasnya yang cantik, ternyata dia juga memiliki sisi gelap yang lumayan. Hai. Perkenalkan Aku Edgar Ganka Hardyan."


"Beraninya kamu duduk di sebelahku!" Geram Vanes.


"Santai. Aku bisa turun. Senang bisa berkenalan denganmu."


Edgar kemudian turun dari tribun. Berjalan meninggalkan lapangan basket yang semakin ramai. Vanes masih tak menyangka jika mostwanted idaman para perempuan di SMP Perdabar berkenalan dengannya. Menjabat sebagai Putri Sekolah, Vanes merasa seperti menjadi ratu di sebuah istana. Bagi Vanes, menjadi Putri Sekolah hanya untuk menjalankan siasatnya saja. Dia juga harus memberi contoh yang baik. Tapi, ada saatnya menyelewengkan jabatannya ini.


***


Juna tengah memantau sitausi di depa gerbang SMP Perdabar. Ada 4 orang berjas hitam yang akhir-akhir ini selalu stay disana.


Namun, ada seorang perempuan yang mengetuk mobilnya ketika mobil Vanes sudah pergi dari hadapan SMP Perdabar.


Juna tidak membukakan pintu. Dia hanya membuka kaca. Perempuan itu menunjukkan senyum manisnya. Bagi Juna, Senyum yang paling manis hanya di miliki Vanes. Tidak ada lagi.


"Hai om!"


"Kenapa?"


"Kangen ya sama pacarnya? Aku bisa kok gantikan posisi pacarnya om." Katanya.


"Kamu masih kecil. Jangan sok dewasa." Tukas Juna kesal.


"Ayo deh om. Yakin nih gamau? Hayo." Goda perempuan tersebut.


Juna membukakan pintu untuk perempuan tersebut. "Jika kamu rela memberikannya kepada saya, saya akan membayar mahal. Dan jika sampai ada apa-apa saya tak mau tanggung jawab. Karena kamu yang menggoda saya. Bukan saya yang meminta. Ingat!"


"Bukan masalah jika itu, om."


***


"Mama?" Panggil Vanes. "Aku di nobatkan sebagai Putri Sekolah!" Lapor Vanes.


Tasya yang sedang menuangkan jus alpukan kesukaan putri semata wayangnya itu menatap sekilas. "Oh iya? Bagaimana pihak sekolah menobatkan anakku yang manja ini sebagai Putri Sekolah?"


"Jangan mengejek deh, Ma!" Protes Vanes.


Dylan yang sedari tadi mendengar ucapan diantara mereka mulai ikut nimbrung. "Anakku ini memang pantas di nobatkan sebagai Putri Sekolah. Dia akan memberikan contoh yang baik. Siapa tahu besarnya dia bisa memimpin perusahaan atau negara?"


"Aku setuju dengan Papa!" Vanes kemudian tertawa diikuti dengan Tasya yang juga ikut tertawa. "Dimana Kak Kenzo, Pa?"


"Kenzo masih di kantor, sayang. Nanti dia akan kesini. Pasti Kenzo akan rindu dengan gadis kesayangannya ini." Ucap Dylan.


Tasya menambah. "Benar. Kenzo tidak akan terlalu betah jika harus berjauhan dengan kesayangannya. Oh Vanes, kamu seperti bunga yang selalu diincar!"


Vanes hanya bisa terkikik.


"Entah kapan, Kenzo akan mengajar di sekolahmu."


Vanes berhenti tertawa. "Mengajar? Emangnya bisa ya?"


"Bisa. Entah kapan mengajarnya, papa tidak tahu." Balas Dylan kemudian meminum kopi buatan sang istri tercinta. "Kenzo nanti akan mengajak temannya untuk mengajar di sana. Temannya akan menggantikan guru fisika yang lengser disana. Begitu juga dengan Kenzo yang akan mengajar pelajaran Seni."


Entah bagi Vanes dia harus bahagia atau was-was. Seharusnya dia bahagia, dengan begitu dia akan selalu terlindungi jika di sisinya selalu ada Kenzo. Dia akan aman dari Juna. Tapi dia juga harus was-was, karena dengan begitu dia akan sulit untuk mengontrol teman-temannya agar bisa meluruskan rencananya yang telah disusunya. Karena Kenzo pasti akan mengawasi gerak-geriknya.


"Kamu akan aman jika Kenzo selalu berada di sampingmu, sayang! Bukankah ini juga keinginanmu? Untuk selalu di lindungi Kenzo?" Cecar Dylan.


Vanes mengangkat bahunya acuh. "Mungkin ini yang terbaik, Pa."


"Tentu saja hal yang terbaik karena ini keputusan Papa. Keputusan Papa selalu yang terbaik!"


***


Kenzo duduk berhadapan dengan temannya. Temannya itu hampir seumuran dengannya. Mata sipitnya masih sama saja. Wajah tampannya selalu saja bersih dan mulus.


"Apa kabar, Jun?" Sapa Kenzo.


"Kabar baik. Bagaimana denganmu, Kenzo?"


Ya! Lelaki itu adalah Juna. Arjuna Rakatya Pradita. Teman bisnis Kenzo. Sama-sama memiliki wajah tampan. Tak di ragukan lagi kedekatan mereka karena mereka selalu bekerja sama jika menjalankan sebuah bisnis besar.


"Selalu baik. Aku kesini mau mengajakmu untuk mengajar di salah satu SMP. SMP Perdabar namanya."


Mata Juna hampir saja lepas. Namun, dia langsung mengubah raut wajahnya setenang mungkin. "Pasti aku akan mengajar Fisika."


"Apa aku harus menyelewengkan Fisika menjadi guru olahraga atau guru IPS?" Canda Kenzo.


"Jika aku menjadi guru olahraga, pasti akan banyak yang meidolakan aku. Tapi untuk menjadi guru IPS, aku mundur saja. Kamu tahu kan, Ken, Jika aku benci dengan pelajaran itu?"


"Aku paham."


"Aku harap kamu bisa membagi waktumu untuk perusahaanmu, bisnis kita dan keluarga." Kata Juna.


"Aku bisa. Mengajar tidak terlalu lama. Karena aku mengambil dua kelas untuk sehari." Balas Kenzo.


"Berapa kelas yang akan kita ajar?" Tanya Juna.


"Kita berdua akan mengajar kelas 9. Disana ada 10 kelas untuk kelas 9 ini. 9A hingga 9J."


Juna tersenyum. "Jadi, Kapan kita akan mengajar, Ken?"


"Seminggu lagi. Kita hanya mengajar sampai kelas 9 itu lulus."