My Little Wife

My Little Wife
10. Juna yang sebenarnya?



Kenzo tersenyum dengan ucapan Dylan. Dia duduk di hadapan sepasang suami istri itu. Teh hangat yang masih mengeluarkan asap itu menyambut kedatangannya.


"Kau benar. Aku ingin bicara, Tuan." Ucap Kenzo setelah meminum teh favoritnya. Teh buatan Tasya.


Dylan tertawa. "Aku sangat senang saat kau memanggilku Tuan, Kenzo! Rasanya aku seperti muda saja."


Kenzo dan Tasya tertawa. "Anda memang masih muda, Tuan!"


"Apa yang ingin kau bicara kan?" Tanya Dylan yang mulai serius.


Kenzo tersenyum tenang. "Vanessa. Ada apa dengan Vanessa hingga Vanessa seperti itu."


"Seperti itu bagaimana maksudmu, Kenzo?" Tanya Tasya.


Kenzo menghela nafas. "Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh Vanessa. Aku bisa merasakannya."


"Kau benar. Aku juga merasakan hal yang sama. Sifatnya yang periang itu kadang langsung hilang saat melihat pesan dari Handphonenya. Entah itu pesan apa." Terang Tasya.


"Kenapa kamu tak bilang sayang?" Protes Dylan.


Tasya meraih tangan Dylan. "Aku sengaja menyembunyikan darimu karena aku masih belum ada bukti yang bisa aku buktikan kepadamu."


"Tenang saja, sayang. Kita ada Kenzo. Kenzo akan segera mengetahuinya. Rupanya anakku itu sudah bergantung padamu, Kenzo." Ucap Dylan.


Tasya menganggukan kepalanya. "Iya. Anakku itu sudah bergantung padamu. Aku melihatmu membujuk anakku untuk keluar dari kamarnya. Dan kau berhasil kan? Kau sudah ku anggap seperti anakku sendiri, Kenzo."


Kenzo tertawa. "Aku akan memanggilmu Mama dan Papa jika begitu."


Dylan tertawa lagi. "Akhirnya kita memiliki anak lelaki, sayang!"


***


Juna dan Selena merapikan pakaiannya masing-masing setelah percintaan yang mereka lakukan.


"Juna?"


Juna menoleh ke arah Selena yang duduk di pinggir kasur. "Apa?"


"Aku lapar." Ucap Selena.


"Makanlah."


Selena mengerucutkan bibirnya manja. "Aku ingin makan denganmu."


Juna menghampiri Selena. Mengecup bibirnya singkat. Perempuan yang menjabat sebagai sekretaris khusus sekaligus pemuasnya itu adalah perempuan yang bermulut seperti ular. Jika sudah termakan oleh perkataannya, tak akan bisa lagi untuk berhenti melalukan suatu hal.


Seperti Juna. Dia sudah termakan oleh perkataan demi perkataan Selena. Dia menjadikan sekretaris dengan tugas menjadi pemuas dan selalu menemaninya jika ada urusan ke luar negeri.


"Aku ada kerjaan, Selena. Makanlah di resto saja."


"Tapi aku ingin kamu menemaniku." Pinta Selena.


"Kamu bukan anak kecil yang harus aku temani."


"Kamu mau kemana?"


"Menemui seseorang." Jawab Juna kemudian pergi.


***


Jn : Aku ingin bertemu denganmu. Bisa kan? Kalau kamu nggak bisa, aku akan nekat ke rumahmu.


Pesan dari Juna membuat Vanes menghela nafas. Untuk saat ini, dia sedang tidak mau menemui Juna. Dia masih teringat kejadian malam itu. Namun, dia juga takut jika Juna benar-benar ke rumahnya.


Vanessangel : Dimana?


Jn : Cafe di tempat kita bertemu, sayang!


Vanes kembali menghela nafas. Dia takut. Harapannya jika bertemu dengan Juna nanti, dia tidak di apa-apa kan oleh Juna. Semoga. Dan semoga suasan cafe ramai. Dan masih banyak semoga yang di semogakan oleh Vanes.


"Sinta! Sinta!" Panggil Vanes.


Sinta datang terburu-buru. "Iya Nyonya Muda? Ada apa?"


"Tolong siapkan dress warna pastelku sama perlengkapan yang mendukung ya? Aku mau mandi terlebih dahulu." Pinta Vanes.


"Iya Nyonya."


Setelah itu, Vanes masuk ke dalam kamar mandi. Berendam di air hangat selama 15 menit mampu membuat pikiran serta badannya terasa rileks. Ini adalah salah satu cara untuk meringankan beban.


"Nyonya mau pergi?" Tanya Sinta.


Vanes mengangguk. "Iya."


Sinta tersenyum. "Saya sangat suka jika Nyonya sedang sendiri atau berdua dengan saya."


Vanes menaikan satu alisnya. "Kenapa? Ada apa?"


"Dengan begitu, Nyonya menjadi dirinya sendiri. Nyonya memang manja, tapi manja itu di tujukan kepada orang-orang tertentu. Saya tahu jika nyonya itu adalah perempuan tegar, perempuan kuat dan perempuan yang memiliki sifat dewasa yang sudah muncul walaupun sedikit."


"Apakah aku begitu manja di mata Mama, Papa dan Kak Kenzo?" Tanya Vanes sambil menopang dagunya.


Sinta mengangguk. "Apalagi jika bersama Tuan Muda Kenzo. Sangat manja."


"Aku hanya senang saja di manja oleh mereka." Kemudian Vanes tertawa diikuti dengan Sinta.


***


"Tidak usah Yarga!" Tukas Vanes kesal.


Yarga tetap memaksa Vanes untuk di awasi karena Yarga takut jika Vanes terluka. Perintah dari Kenzo harus di laksanakannya.


"Saya akan menjaga Nona Vanes. Ini utusan Tuan Kenzo."


"Yarga! Jika aku bilang tidak ya tidak. Urusan Kak Kenzo biar aku yang urus. Kau tenang saja disini!"


Kemudian Vanes masuk ke dalam mobil dan mobil melesat di kendarai oleh supir. Dalam perjalan, Vanes sedikit was-was dan gelisah. Akhir-akhir ini, Vanes sudah jarang memikirkan Juna. Bukan akhir-akhir ini sih sebenarnya. Sejak ada Kenzo dia lupa dengan Juna.


Selang beberapa lama, Vanes sampai di depan cafe. Dari dalam mobil, Vanes dapat melihat Juna sedang duduk di salah satu meja sambil menundukkan kepalanya.


"Pak Man. Pak Man tunggu di parkiran sana ya. Saya hanya sebentar." Titah Vanes.


"Iya Nyonya."


Vanes turun dari mobil. Langkah perlahannya membawa ke meja yang di duduki oleh Juna. Pria itu menggunakan celana panjang hitamnya. Dengan atasan kaus putih. Jas hitamnya di letakkan di samping kursi yang dia duduki.


"Juna?" Panggil Vanes.


Juna langsung mendongak kemudian berdiri. "Vanes? Duduk!"


"Apa yang ingin kamu bicara kan, Jun?" Tanya Vanes sambil duduk di hadapan Juna.


Juna menghela nafas. "Aku minta maaf dengan kelakuanku malam itu. Aku juga ingin bertanya tentang hubungan kita. Kita masih menjadi sepasang kekasihkan?"


Vanes mengangguk. "Iya Jun. Untuk malam itu aku sudah memaafkanmu. Lupakan saja. Karena aku juga ingin melupakan kejadian itu."


Juna meraih tangan Vanes kemudian menciumnya. "Kenapa hubungan kita tidak sedekat dulu? Walaupun kita ini sepasang kekasih. Kita tidak sedekat dan seromantis dulu."


"Aku tidak tahu."


Tiba-tiba Juna melepaskan pegangan tangannya dari Vanes. Matanya menatap nyalang Vanes. Seperti hendak menerkamnya hidup-hidup. "Apa? Kamu tidak tahu? Kamu sadar tidak jika kerenggangan hubungan kita ini karena kamu. Kamu yang selalu sama lelaki lain. Siapa sih lelaki itu?"


Vanes diam sesaat. Mencerna segala ucapan yang di lontarkan oleh Juna. Juna tak pernah bersikap kasar seperti ini. Baru kali ini Juna membentak dirinya.


"Juna! Jangan seenaknya saja kamu menuduhku. Sebenarnya aku menjaga jarak denganmu karena sikapmu itu. Dan yang selalu bersamaku, kamu tidak perlu tahu. Percuma!" Bentak Vanes.


Juna menjambak rambutnya frustasi. "Kenapa Vanes? Aku tidak suka jika kamu lebih dekat dengan lelaki itu dari pada aku!"


Vanes masih tak mau kalah. "Lalu bagaiman dengan perempuan yang ada di pesta itu?"


"Itu hanya sekretarisku!"


"Tidak!" Bantah Vanes. "Tidak! Sekretaris tidak mungkin semesra itu dengan bosnya. Kecuali jika mereka ada hubungan."


Juna semakin tampak frustasi. "Terserah! Aku malas jika harus berdebat denganmu! Kamu selalu tidak mau mengalah."


"Apa kamu gila? Aku yang kecil ini harus mengalah denganmu? Sebenarnya siapa yang dewasa disini?" Tutur Vanes.


"Tentu saja aku. Aku itu sudah lelah jika harus mengerti kamu. Kenapa kamu tidak mau mengerti aku?" Juna memelankan suaranya.


"Jika menurutmu aku tidak bisa mengerti kamu, kita akhiri saja hubungan ini." Putus Vanes kemudian.


"Nggak. Aku nggak mau jika harus mengakhirinya!"


"Sudahlah. Aku harus pulang. Jauhi aku, Jun!"


Aku tidak akan pernah menjauhimu, Vanes. Aku akan terus mengawasimu. Dan aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya!