My husband is my teacher

My husband is my teacher
Episode 9



"Yah, beneran gak bisa ikut pesta aku nih?" Untuk keseribu kalinya Candy bertanya pada sang kakak.


"Iya, bawel banget sih kamu." Sahut Raizel, "lagi pula kakak kesana ada urusan yang penting sama mama dan papa." Sambungnya. Candy mendengus.


"Terserah kakak aja deh." Rajuk Candy lalu keluar dari kamar Raizel.


Raizel menghela napas berat karena sikap Candy yang berlebihan. Bukannya ia bermaksud tidak ikut berhardir di pesta sang adik yang berumur 17 tahun, tapi ia sungguh tidak bisa karena orang tuanya saat ini membutuhkan nya dan hari ini ia akan pergi ke Amerika.


Drt...drt...drt...


Raizel mengambil handphone di saku celana nya saat ia rasakan sebuah getaran handphone.


"Iya... Hmn... Hmn..." Sahut Raizel singkat kepada sang penelpon.


***


Candy pada akhirnya merayakan sweet seventeen nya tanpa orang tua maupun kakaknya.


"So... Siapa orang yang bakal buat gue sama Liine kaget, hmn?" Tanya Lily. Saat ini Raizel sudah pergi ke Amerika 4 jam lalu. Sedih? Pasti, tapi ia bersyukur masih ada Lily dan Liine.


"Tuh orang gak bisa ke pesta gue." Sahut Candy ketus.


"Santai aja kalik nyautnya." Ucap Liine.


"Gue sebel! Gue sebel! Gue sebel sama tuh orang!!!" Racau Candy kesal.


"Emang siapa sih orang yang lo maksud?" Tanya Lily.


"Kakak gue." Sahut Candy.


"Gue baru tau kalo lo punya kakak." Ucap Liine.


"Sorry, gue gak pernah cerita ya?" Tanya Candy sambil nyengir.


"Gak!" Sahut Lily dan Liine bersamaan.


"Bentar lagi acara puncak nih." Ucap Lily.


"Sayang banget sih, di acara spesial gue. Bonyok sama kakak gue gak ada di Indonesia." Keluh Candy.


"Lebay banget sih lo. Kan ada gue sama Liine." Sahut Lily. Candy langsung tersenyum dan mengangguk lalu memeluk kedua temannya itu.


"Ya udah. Yuk saat nya potong kue!" Seru Liine


Lili dan Liine membawa Candy ke meja dimana kue ulang tahun yang mewah sudah terletak dengan cantiknya disana.


"Happy Birthday Candy!" Seru mereka semua.


Dan bertepatan dengan Candy meniup lilin, lampu yang ada di rumah Candy langsung padam.


Para tamu langsung ricuh karena bingung mengapa lampu bisa padam.


"Happy Birthday My Little Girl."


"Happy Birthday My Little Girl."


Nyanyian lagu itu terdengar ke penjuru ruangan, tak lama kemudian lampu kembali menyala. Menampakan sepasang suami istri dan pria dewasa yang membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin yang berangka 17. Siapa lagi kalau bukan orang tua dan kakak Candy.


"Mama! Papa!" Pekik Candy lalu berlari kearah orang tuanya dan menghambur pelukan.


"Miss you and happy birthday, little girl." Ucap orang tua Candy bersamaan.


"Miss you too, mom, dad." Sahut Candy lalu melepaskan pelukannya.


Candy lalu melangkahkan kakinya kearah kakaknya, siapa lagi kalau bukan Raizel.


"Your lie!" Raizel terkekeh mendengar ucapan sang adik yang ditujukan kepadanya.


"Sorry my princess." Ucap Raizel.


"Ly, Mr. Raizel pacaran ya sama Candy?" Tanya Liine kepada Lily dengan suara yang berbisik.


"Tanya aja sendiri noh ke orangnya." Sahut Lily judes entah mengapa.


"Lo kenapa sih?" Tanya Liine heran.


"Tau ah, gelap!" Sahut Lily lalu melangkah pergi kearah taman belakang.


"Kenapa sama tuh anak?" Gumam Liine.


"Liin, Lily mana?" Tanya Candy setelah ia pamit dengan keluarganya dan pergi menuju ke tempat Liine.


"Tau tuh anak, tadi gue lihat sih dia pergi kearah taman belakang rumah lo."


"Owh, ya udah gue nyusul si Lily dulu. Gue mau kenalin lo berdua sama keluarga gue."Liine menganggukkan kepalanya setelah itu Candy pergi ke taman belakanga yang ada di rumahnya.


Sedangkan di suatu tempat atau lebih tepatnya di sebuah toilet, Lily baru saja menyelesaikan buang air kecil di sebuah kamar, entah kamar siapa itu yang ada di rumah Candy. Awalnya ia ingin pergi ke taman belakang yang ada di rumah Candy karena entah mengapa saat melihat Candy yang begitu akrab dengan Raizel rasanya ada sesuatu yang terasa aneh di hatinya dan rasa aneh itu bercampur rasa nyeri di hati.


"Huft..." Lily mengehela napas berat lalu ia membaringkan tubuhnya di atas kasur king size yang berwarna coklat itu. Rasanya ia mengantuk sekali, hanyut dengan suasana yang sunyi di kamar itu secara perlahan Lily menutup matanya karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang.