My husband is my teacher

My husband is my teacher
Episode 8



"Ugh! Kampret, emang tuh guru somplak! Jantung gue tadi berasa mau copot, gara-gara tatapan tuh guru. Sial! Ada apa sih sama jantung gue?"


"Lily." Panggil seseorang, Lily yang merasa namanya di panggil langsung membalikkan badannya.


"Hai, selamat siang princess." Sapa orang itu, yang tak lain adalah Piter.


Mau apa lagi sih nih anak?! Batin Lily.


"Apa?!" Tanya Lily ketus.


"Ketus banget sih, princess nya aku." Sahut Piter lalu mengacak pucuk rambut Lily, membuat rambut Lily sedikit berantakan. "Apaan sih?!" Lily menepis tangan Piter dengan kasar. Piter menghela nafas gusar lalu merubahnya dengan senyuman manisnya.


"Kencan yuk." Ajak Piter, "sepulang sekolah." Sambungnya.


"Sorry, tapi gue gak bisa." Tolak Lily lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Piter yang masih diam di tempat.


"Gue gak bakalan menyerah sampai lo udah jadi milik orang lain." Ucap Piter sembari menatap punggung Lily yang semakin lama samakan menjauh.


Lily berjalan kearah kantin, dimana Liine dan Candy sedang makan disana.


"Pesanin gue puding dong, Liine." Lily baru saja duduk, tapi langsung saja menyuruh-nyuruh Liine dengan enteng nya.


"Males gue, kenapa gak lo aja. Gue lagi mager nih." Tolak Liine.


"Iys, lo harus!" Lily mengacungkan jari telunjuk nya kearah Liine, sedangkan Candy yang hanya melihat kedua temannya itu hanya bisa menghela napas.


"Astaga Ly! Tangan lo kenapa memar kekk gini sih?" Tanya Liine khawatir sambil menatap ke arah tangan kanan Lily yang memar.


Lily yang baru sadar kalau tangan kanannya memar langsung beranjak dari duduknya.


"Guru somplak sialan! Gara-gara dia tangan gue jadi memar." Ucap Lily yang ingat kalau tangan nya tadi di genggam erat oleh Raizel.


"Eh guru somplak!" Panggil Lily kepada Raizel.


Raizel mengabaikan panggilan Lily dan langsung duduk lalu meletakan semangkuk es balok itu di atas meja.


Lily yang merasa jengkel karena diabaikan Raizel sedangkan Liine dan Candy menatap bingung kepada Raizel karena tiba-tiba saja datang dan bergabung di meja mereka.


Tanpa banyak bicara dan tidak perduli dengan keadaan sekitar, Raizel menarik paksa tangan kanan Lily, membuat Lily terduduk kembali.


Lily menatap tajam Raizel, yang ditatap hanya mengabaikan nya saja.


Raizel mengambil potongan-potongan es balok yang sudah di bungkus dengan handuk kecil lalu mengarahkan ke tangan Lily yang memar dan meletakan nya disana sebentar.


Raizel sungguh tidak perduli dengan keadaan di sekitar yang tiba-tiba sunyi, sedangkan Lily diam membeku dan menatap Raizel yang sedang mengompres nya?


"E-ehmn." Candy berdeham kencang, sontak membuat Lily menepis tangan Raizel.


"Ngapain lo?!" Ya, hanya Lily saja yang dengan tidak sopannya bertanya sinis kepada seorang guru.


"Mengompres." Jawab Raizel datar.


"Gak perlu! Ini semua gara-gara lo tau!"


"Maka dari itu aku tanggung jawab." Sahut Raizel.


"Uhuk-uhuk." Candy dan Liine tersedak mendengarnya, entah mengapa kalimat tanggung jawab itu terasa ambigu di telinga kedua gadis itu.


Raizel yang paham dengan kesalahan ucapannya itu hanya bisa menghela napas frustasi.


Suka sama cerita ini? Jangan lupa untuk like, comment, and jadikan favorite! Terima kasih sudah baca. Apabila ada kesalahan seperti typo tolong dikasih tau ya😁