My husband is my teacher

My husband is my teacher
Episode 11



Raizel menghela napas lega saat sang adik telah pergi dari hadapannya lalu ia menutuo kembali pintu kamarnya dan tak lupa juga ia menguncinya.


"Lily bangun." Raizel berusaha membangunkan Lily sembali menepuk lengan Lily pelan.


"Lima menit lagi, mom." Sahut Lily dengan mata yang masih menutup, Raizel mengangkat alis kanannya.


"Hey, bangun!" Kali ini Raizel menepuk lengan Lily lebuh bertenaga membuat Lily membuka kelopak mata nya secara perlahan.


Lily merubah posisi rebahannya menjadi duduk dan ia masih belum sadar sepenuhnya dimana aia sekarang. Raizel diam, membiarkan Lily sadar dengan sendirinya.


Lily mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan penerangan yang ada di dalam kamar itu. Beberapa saat kemudian barulah Lily mulai sadar dimana ia sekarang.


Lily membelelakan matanya dengan lebar, "dimana gue?" Lily membatin.


"Sepertinya kamu sudah sadar sepenuhnya." Lily menolehkan kepalanya ke sumber suara, betapa terkejutnya Lily saat melihat Raizel ada di samping kasur dan sedang berdiri disana.


"Lo!" Tunjuk Lily menggunakan tangan kirinya.


"Tak baik seperti itu kepada gurumu sendiri." Lily mendengus, lalu mentap Raizel curiga.


"Kenapa lo ada disini? Lo apain gue, hah?!" Tanya Lily dengan sedikit membentak.


"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu ke kamu. Apa yang kamu lakukan di kamar saya? Dan bagaimana bisa kamu sampai tertidur disini." Tanya Raizel balik dengan sinis.


Seakan baru menyadari sesuatu Lily lalu memandang seisi kamar yang mendominasi coklat tua. Ini buakn kamarnya, kamar yang ia miliki penuh denagn nuansa ungu. Sedangkan ini? Bukan kamarnya sekali.


"Lalu gue harus gimana?" Tanya Lily menatap lamgsung tepat di manik mata Raizel.


"Tunggu 2 atau 3 jam lagi." Sahut Raizel lalu memutuskan kontak matanya dari Lily. Lily menghela napas pasrah lalu melangkahkan kakinya ke kasur dan duduk di tepi kasur milik Raizel, tak lupa juga ia mengambil tasnya yang tergeletak di lantai tadi.


"Okey, gue bakal nunggu sampe 3 jam kemudian. BTW, gue haus nih, bisa lo ambilin aidr gak?" Sontak saja hal itu membuat Raizel ingin marah kepada Lily. Bukankah sungguh lancang kalau seorang murid memerintah seorang guru? Sungguh dimanapun Lily berada, sikapnya tidak berubah.


"Lo gak mungkin biarin gue ngambil air putih ke dapur secara langsung." Raizel mencoba memendam amarahnya dan pergi keluar untuk mengambil minuman yang Lily mau dengan perasaan yang dongkol. Sedangkan Lily tertawa pelan karena dapat memerintah guru yang menurutnya somplak itu.


Tak lama kemudian pintu terbuka,


"Taroh disana aja," ucap Lily tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone yang ada di tangannya itu.


"Lily! Lo kok, bisa di kamar kak Raizel?" Pekik orang itu kaget


Jederrrr


Lily langsung mendongakkan kepalanya saat ia dengar suara pekikkan seorang gadis.


"Candy?!" Ucap Lily kaget saat ia tau siapa yang membuka pintu kamar itu yang ternyata adalah Candy


"Mati gue!" Pekik Lily membatin.