My husband is my teacher

My husband is my teacher
Part 1 “Tanpa Sadar”



Semua hanya tentang waktu, di mana waktu bertemu, waktu mengenal dan waktu saling pendekatan hingga mencintai, tidak bisa lepas dari yang namanya jodoh, meski berawal dari sebuah perasaan saling membutuhkan satu sama lain, perasaan berkolaborasi... Membentuk suatu hubungan dengan hanya bermodal komitmen. Akhirnya keduanya saling jatuh ke dalam perasaan cinta.


Perasaan yang hanya bisa sedetik saja merasa ke dalam hati seorang manusia dan mungkin butuh waktu santai seumur hidup untuk melupakannya. (Bagi salah seorang. Termasuk tokoh dalam kisah ini.)


Pengenalan tokoh tokoh dalam cerita


ANINDIRA PUTRI


Seorang wanita biasa dengan paras secantik natural dan perhiasan tebal seperti gadis pada umumnya.


Pembawaan yang kalem, lembut dan pengertian menjadi pelengkap paras nya. Mahasiswa semester akhir yang hanya bekerja serabutan di sebuah kedai dekat kampusnya.


RENDI WIJAYA


Seorang usahawan muda tampan cool yang merangkap menjadi dosen di salah satu universitas ternama, iya juga menjadi pemegang saham terbesar di sana. Pembawaan Rendi yang dingin dan terkesan cuek lebih mendominasi baginya.


Single sampai pada titik di mana ia menjalin komitmen dengan seseorang, ia menjaga hatinya.


NINDI WIJAYA


Perpaduan dari nama Anin dan Rendi, Anak dari pasangan yang terpaksa menikah.


Pembawaan judes, nyolot, nyablak, asal ngomong dan blak blakan, namun mempunyai hati yang tidak tegaan, suka menolong, dan rajin menabung.


ARGA SANJAYA


Tampan, unyu, humoris, hingga berjuluk playboy akut.


Mendapatkan gelar pengusaha termuda di usianya yang ke-22 tahun.


Seorang jenius dengan iQ di atas rata-rata. Ia seorang pengusaha di banyak bidang. Terdapat kabar tersembunyi... bahwa ia seorang putra angkat Pemimpin Mafia.


ADITYA WIBAWA


Tersiar kabar permusuhan antara keduanya aditya dengan arga, namun... Ternyata hanya sebuah kedok untuk saling mendukung satu sama lain dari para orang-orang yang menjatuhkan. Keduanya adalah saudara tiri dari kedua orang tua yang berbeda. Dia tuh oleh satu orang ayah angkat. Bergelar pemimpin mafia.


SATRIA


Peran pendukung yang sangat mencintai Nindi dari masih sekolah.


HANIFAH NADIFA


Atau nama panggilan ifa, peran pendukung yang membuat luluh hati aditya.


YURA


Pemimpin perusahaan kecil, yang mampu membuat luluh satria.


Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang saat ponsel rendi bergetar lalu berbunyi, dilihatnya pada layar ponselnya.


“Aslan yang sedang menghubungi,” Gumam Rendi, dan seketika itu pula ia menerima panggilannya.


“Hallo”


Sahut Rendi dengan raut wajah datar tanpa ekspresi,


“Rend...cepat lah kesini...aku di kedai depan fakultas A.”


Kata Aslan dari seberang telepon.


“Oke...oke... sebentar lagi sampai,” Ucap Rendi sambil menginjak gas mobilnya, Rendi menuju... tempat dimana Aslan sebutkan tadi.


Lima belas menit kemudian Rendi sampai di depan kedai yang di sebutkan Aslan tadi, lalu Rendi terlihat celingukan mencari-cari dimana keberadaan Aslan,


“Rend...sini...”


Tiba-tiba lambaian Aslan terlihat dari dalam kedai,


Rendi pun tahu itu adalah orang yang sedang ia cari si Aslan...dan dia berjalan mendekat ke arahnya.


“Rend...kopi...”


Kata Aslan...saat Rendi sudah sampai di dekatnya, sambil menyodorkan kopi hitam pahit tanpa gula, kesukaan Rendi,


“Ini...”


Tanya Rendi... sebelum Rendi menyelesaikan ucapannya yang langsung sahut Aslan,


“Ini kopi hitam murni pahit kesukaanmu rend...”


Kata Aslan yang lalu disambut senyum kecil di bibir Rendi.


“Nin...Anin...”


Panggil Aslan pada sosok gadis mungil yang mengisyaratkan agar yang punya nama anin mendekat.


“Iya pak...“ Sahut Anin yang baru tiba di dekat tempat duduk Aslan dan Rendi.


“ Bungkuskan satu nasi ya nin... mau ku bawa pulang” Kata Aslan pada Anin.


“Siapa lan kok panggil kamu pak??” Tanya Rendi tiba-tiba dan dengan kebingungan.


“ Mahasiswi di sini Rend... pagi kerja di sini... sorenya dia kuliah, kasian sih Rend... udah tidak punya orang tua dia.” Jawab Aslan singkat, karena Anin siswi yang teladan dan meski nggak pintar.


Aslan lumayan kenal, karena hampir setiap hari Aslan ngopi di tempat Anin bekerja ini.


“Oh...” Sahut Rendi begitu saja. Aslan dan Rendi melanjutkan bincang-bincang mereka mengenai kepindahan Rendi yang akan mengajar di fakultas A. Tiba-tiba berdiri Nenek-nenek di luar kedai yang terlihat meminta minta, pakaiannya lusuh... Wajah keriput dengan mata cekung dan tubuh sedikit gemetar,


Rendi yang melihat pun refleks merogoh kantong dan hendak memberi Nenek tersebut, namun Anin lebih dulu memberikan bungkusan nasi untuk nenek tersebut,


“Nek...maaf saya tidak bisa memberi uang... Nenek terima nasi ini saja ya...”


Sambil senyum dan menyalami Anin, Nenek tersebut berterimakasih lalu berpamitan pergi, tidak lupa doa tulus dari bibir Nenek itu ucapkan untuk Anin.


Tanpa sadar dari tadi Rendi mengawasi Anin sampai Rendi tersadar saat suara bentakan itu begitu nyaring di dengar Rendi. Bahkan tergolong keras.


“Anin... lagi-lagi kamu memberikan nasi untuk pengemis... besok-besok pasti pengemis itu datang ke sini lagi!! makanan itu aku potong dari gaji kamu.” Ucap seseorang dengan nada marahnya yang ditunjukkan pada Anin.


Terlihat hanin hanya menundukkan kepala dan tidak bisa berkata-kata.


Hanya kata “Maaf buk...” yang terucap dari bibir Anin, dan sesekali tangannya menyeka air mata dan peluh di keningnya bergantian.


“Kasian,”


Gumam Rendi seketika terucap dari mulutnya yang mungkin merasa iba pada pandangan pertama.


“Pasti ini hanya simpati, kenapa hatiku sakit,” Ucap dalam hati Rendi.


“Okee Rend... sekarang sampai disini dulu, istriku bisa ngomel kalau pulang telat,”


“Okee”


Sahut Rendi sambil melambaikan tangannya pada Aslan yang berlalu pergi berjalan menjauh dan menghilang dari pandangan Rendi.


Sesekali Rendi melirik gadis yang lumayan kurus dan berkulit kuning pucat yang sedang duduk di pojokan dengan sesekali masih menyeka air mata, namun jika sekilas orang lain lihat, ia sedang menyeka keringatnya. Lalu ia pun pergi begitu saja, karena kopi itu sudah di traktir oleh Aslan.


Esok harinya Rendi mengehentikan mobilnya tepat di depan kedai tempat Anin bekerja,


“Satu kopi hitam tanpa gula," Katanya pada wanita yang menunggu kedai.


“Tunggu sebentar pak.” Sahut Anin yang langsung membuatkan apa yang dipesan pelanggan.


“Apa aku se tua itu?”


Gumam Rendi dengan alis dan kening mengkerutnya.


Beberapa menit kemudian,


“Ini Pak kopi hitam anda...”


Sambil menyerahkan kopi cup di tangannya kepada Rendi, dan Rendi menyerahkan uang lima puluh ribuan untuk Anin lalu beranjak pergi begitu saja.


“Tunggu tuan... kembalian anda...”


Sambil sedikit berteriak Anin memberikan uang kembalian, tapi Rendi langsung pergi,


“Untukmu saja kembaliannya...” Sahut Rendi seketika.


Namum Anin pun berlari mengejar Rendi sebelum Rendi menaiki mobilnya dan benar-benar pergi.


“Tuan...maaf...saya tidak bisa menerima uang anda... terimakasih...” Sambil tangannya menyerahkan uang kembalian untuk Rendi,


“Oh...oke oke” Sahut Rendi.


Hingga sore itu Rendi melintasi taman, tanpa sadar pandangannya tertuju pada sosok yang sedang duduk di tepi kolam ikan di tengah taman, taman itu terlihat sepi... karena bentuknya yang pas-pasan, melingkari dengan tanpa pagar pembatas, dan hanya ada satu pohon besar di tengahnya yang bawahnya yang terdapat kolam ikan bundar kecil.


“Sepertinya itu Anin...”


Gumam Rendi seketika mengenali sosok tersebut.


“...Kenapa aku ingat nama gadis itu sih...” Kata Rendi sambil terus melajukan mobilnya menuju jalan utama.


Dan esok harinya... entah itu sengaja atau tidak.


Rendi tanpa sengaja melihat kerumunan orang, Rendi hanya memperhatikannya dari dalam mobil yang tidak jauh dari kerumunan.


Terlihat Anin mencoba memapah Nenek-nenek, seketika Rendi tercengang...dan terus menatapnya yang Anin sadari.


“Ada apa lagi sih anak itu?” Gumam Rendi,


Saat ada seseorang yang melintas yang akan melewati mobilnya, seketika Rendi membuka kaca mobilnya sembari bertanya, “Maaf...ada apa ya di sana itu??”


“Ada Nenek-nenek kena tabrak lari Pak” Sahut orang tersebut lalu pergi begitu saja.


“Benar-benar ya anak itu, dirinya sendiri sudah susah sok baik pula, suka nolong...tidak melihat diri sendiri dasar!” Gumam Rendi sembari mengamati Anin yang membonceng nenek tersebut dengan sepeda ontel nya,


“Ah... sudahlah...” Ucap Rendi dengan tanpa perasaan dan menancap gas mobilnya berlalu pergi meninggalkan tempat itu.