
“Eh ada Candy, masuk dulu Can.” Ajak Lily lalu
menarik temannya itu masuk ke dalam kamar Raizel lalu menutup pintu tersebut
dengan rapat.
“Elo kok bisa ada di kamar kk gue?” Tanya
Candy menyelidik.
“Tunggu, jadi tuh guru samplak kk lo?”
“Iya, sejak lahir.” Sahut Candy. “Jadi ngapain
elo ada di kamar ka Raizel?”
“Itu... gue... lagi... anu, apa yah, itu...”
“Oh gue tau, elo lagi berbuat mesum ya sama kk
gue? Gila! Ternyata lo diem-diem sama kk gue... Ck, ckc ck.” Candy berdecak.
“Sembarangan lo ya kalau ngomong! Ogah gue
sama kk lo, udah tua gitu, om-om lagi!” Sahut Lily tidak terima.
“Terus lo ngapain disini? And kk gue kemana?”
Tanya Candy
“Dia lagi ambilin gue air minum.” Jawab Lily.
“Terus elo? Dari malam tadi gue sama Liine
cari elo dan ternyata elo malah asik-asikkan sama kk gue. Di kamarnya lagi.”
“Gue ketiduran di kamar kk lo, itu intinya.
Udah, pembahasan selesai.” Ucap Lily mengakhiri.
Ceklek
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampakkan
sosok Raizel masuk dengan membawa segelas air putih di tangan kiri nya.
“Candy? Ngapain kamu disini?” Tanya Raizel
lalu melirik Lily dan Candy bergantian.
“Seharusnya aku yang tanya. Ka Raizel sama
Lily ngapain aja malam tadi ha? Pantesan waktu aku mau pinjem laptop, pintu
kamarnya ditutup. Ternyata kk simpen cewek dikamar. Teman aku pula.”
Raizel melirik Lily
“Aku udah jelasin ya, udah capek jelasin ke
Candy.” Ucap Lily lalu mengambil gelas yang ada di tangan Raizel.
“Udah tau kan, bagaimana ceritanya? Silahkan
keluar.” Usir Raizel kepada sang adik.
“Ih! Kok jahat sih usir-usir aku segala?!
“Uhuk.” Lily tersedak air putih yang dibawakan
Raizel tadi ketika mendengar ucapan Candy, sedangkan Raizel sudah bersiap untuk
mencubit sang adik. Tapi sayang Candy sudah terlanjur lari dan keluar dari
kamar Raizel dengan pintu kamar yang terbuka lebar dan untungnya di luar kamar
Raizel tidak ada siapa-siapa. Jika ada seseorang, sungguh ia akan menjelaskan
dengan panjang lebar.
“Minumnya santai aja, nggak ada yang ambil
minuman kamu kok.” Ucap Raizel, Lily mendelikkan mata nya.
“Eh guru somplak, kapan nih gue bisa keluar
dari kamar lo yang membosankan ini?” Tanya Lily dengan tidak sopannya kepada
Raizel yang berstatus sebagai guru nya di sekolah.
“Lily, sebenarnya kamu punya masalah apa sama
saya, sehingga kamu selalu memanggil saya seperti itu?” bukannya menjawab
pertanyaan Lili, Raizel malah bertanya balik kepada Lily karena sungguh Lily
sangat tidak sopan memanggilnya seperti itu.
“Salah lo? Ya karena lo.” Jawab Lily seenaknya.
Raizel menghela nafas lelah. Masa bodo lah dengan muridnya yang satu ini,
asalakan jangan ada Lily ke-2 atau ke-3. Pikir Raizel.
“Yuhu, ka Rai. Adek kk yang imut ini kembali
lagi.” Sapa Candy yang tiba-tiba datang lagi.
“Kenapa?” Tanya Raizel datar, malas dengan
adiknya itu.
“Aku cuman mau ajak Lily keluar kok, datar
banget sih kak.”
“Eh tapi bukannya ada orang tua lo ya? Kalo
mereka liat kan bisa gawat, nanti dikira aneh-aneh lagi.” Ucap Lily.
“Udah gampang, bilang aja tadi malam lo nginep
di kamar gue. Oke nggak?” Saran Candy membuat Lily tersenyum. Good Idea, pikir
Lily.
“Bener banget, yaudah kuy kita.”
“Kuy.” Sahut Candy, sedangkan Raizel acuh tak
acuh lalu masuk kedalam kamar mandi yang ada diruangannya.
Masalah selesai, pikir Lily dan Raizel