
Dentingan nada merdu mengalun dengan sangat indah membuat Rega penasaran siapa yang menciptakan irama yang sangat menyayat hati ini."Someone only we know' salah satu lagu yang sangat disukai Rega.Elang masih belum kembali Ia-pun memberanikan diri mencari tahu dari mana nada ini berasal. Ia perlahan beranjak mrncari sumber suara ini dan meninggalkan anak-anak yang sedang sibuk bermain.
Setelah sekian lama berjalan akhirnya Rega menemukan sumber suara tersebut, dan nampaklah seorang gadis berambut pirang panjang sedang memainkan piano, Rega masih menatap dari kejauhan dan belum sempat Ia mendekat gadis itu malah menghentikan permainan pianonya dan menatap Rega dengan sangat mengerikan.
Mereka masih saling menatap tanpa bicara satu sama lain, Tiba tiba Elang muncul mendekati gadis itu terlebih dahulu bukan malah Rega. Rega mencoba berfikir dewasa mungkin saja gadis itu adalah anak panti yang sangat disayangi Elang.
Gadis itu sumringah melihat Elang dan memeluk Elang dengan sangat erat dan Elang justru membalas pelukanya, melihat pemandangan seperti itu Rega sedikit geram tapi dia berusaha keras menahan ego dan cemburunya.
"Abang kok ga bilang mau dateng sih?" ucap gadis itu
"Surprise dong, oh iya Ga kenalin ini Gladis dan dis ini Kak Rega" Ujar Elang yang berusaha memperkenalkan mereka.
" Oh... hi kak aku Gladis Rieta selamat datang di panti kami" Ucap Gladis sembari mengulurkan tangan.
"Oh iya salam kenal juga Saya Rega Reswati Bharada" jawab Rega dengan menjabat tangan Gladis.
Setelah berjabat tangan dengan Rega, Gladis kembali memeluk Elang dengan manja dan mesra sontak itu membuat Rega makin tidak nyaman dan Rega sudah tidak tahan lagi melihat mereka, Elang pun seperti menikmati perlakuan Gladis tanpa berpikir bagaimana perasaan Rega.Rega semakin muak tapi dia sadar sedang berada di tempat yang tidak memungkinkan untuk beradu argumen dengan Elang.Kegilaanpun semakin menjadi ketika Gladis diam-diam mencium pipi Elang.
Rega yang notabene adalah pacar Elang saja tidak berani bertindak hal gegabah di depan orang lain, perasaan Rega semakin meradang, dengan dipenuhi amarah dan kecemburuan dia pergi dari tempat itu dan mencoba pulang.
Elang yang melihat Rega menangis langsung terkejut dan mencoba menghentikan Rega yang berlari pergi.Timbul kecemasan di hati Elang Ia pun segera menyusul Rega dan meninggalkan Gladis yang nampak puas memprovokasi mereka.
"Ga... Tunggu!!!" Teriak Elang sembari berlari mengejar Rega
Rega tetap berlari tapi laju langkahnya terlampau jauh dibandingkah kecepatan Elang hingga Ia tersusul Elang yang menariknya.
"Tunggu Ga..." ucap Elang dengan cemas
"Gue mau balik lanjut aja permisi" jawab Rega dengan ketus.
Melihat Rega yang sangat marah Elang memeluk Rega dengan kehangatanya, Ia mencoba menenangkan Rega.
"Tunggu sayang, kasih abang kesempatan buat jelasin"
"Apalagi yang mau dijelasin, gausah gue mau balik, buang-buang waktu liat orang pacaran depan gue"
"Stop Ga! ngomong apaan sih jangan keterlauan deh!"
"Siapa yang keterlaluan sih Bang!!!!!!! cukup gue mau balik".
"Ok kita pulang"
Rega patuh dengan ucapan Elang mereka bergegas pulang, Elang menggandeng tangan Rega dengan lembut mencoba menenangkan Rega yang sedang cemburu berat.
Belum sampai pintu depan tiba tiba Ibu Panti berteriak sangat keras sontak saja Elang dan Rega kaget dan mengejar Ibu panti.
Nampaklah Gladis yang terkapar di lantai dengan darah yang mengalir deras di pergelangan tanganya, Rupanya Gladis nekat melakukan hal bodoh dengan merobek tanganya sendiri dengan pisau.
Elang yang melihat hal itu langsung menggendong Gladis dan bergegas membawanya ke rumah sakit.Rega mencoba memahami keadaan tersebut berusaha menenangkan Elang yang sangat panik, Hiruk pikuk panti dengan segala keriuhan membuat suasana panti yang sebelumnya ceria mendadak penuh kegelisahan.
"Bang tenang bang kita bawa gladis bareng ke rumah sakit"
"DIAM!!!!" Teriak Elang dengan sangat keras.
Elang berlari menggendong Gladis tanpa memperdulikan Rega, Tak terasa air mata Rega menetes tak tertahankan lagi. Untuk pertama kalinya Elang membentak Rega.Perasaan sesak Rega tak tertahan lagi, Ia membiarkan Elang sendiri membawa Gladis. Dengan membisu Rega melangkah pergi dari panti.
Setibanya di Rumah sakit Gladis di tangani dengan sangat cepat, Tampaklah Elang yang terduduk cemas di bangku tunggu ruang ICU.
Pikiran Elang campur aduk tanpa ia sadari sudah melukai hati Rega.
Tiba-tiba Ibu Panti menghampirinya.
"Nak????" dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan
"Ya bu...." jawab Elang yang tertunduk lemas.
"Nak.... kamu boleh panik dan khawatir tapi jangan lupa kita juga harus berdo'a dan Nak dimana Nak Rega???"
Mendengar ucapan Ibu panti Elang baru sadar dari tadi Ia tak bersama Rega, Ia mengingat perlakuan buruknya kepada Rega.
"Astaga Bu.... bentar Elang coba telpon Rega"
Ibu panti menghela nafas dan memberikan waktu kepada Elang, Ibu panti sangat mengerti situasi yang terjadi, namun dia tetap tidak mau mencampuri urusan pribadi Elang.
Elang mencoba menghubungi Rega namun Rega sama sekali tidak mengangkat telepon maupun menjawab pesan Elang.
Elang semakin panik, disatu disi Gladis sedang kritis dan di sisi lain pacarnya sendiri entah kemana.Elang mencoba menghubungi semua sahabat Rega satu persatu Ia juga meminta jika menemukan atau mendapat kabar rega segera memberitahu Elang.
Di tempat lain, duduklah Rega bersandar di batu nisan Ibunya, dengan tangis Ia mencoba menghibur diri dengan berbicara di makam ibunya.
"Mom.... cinta rupanya sesulit ini yah??? apakah cinta Mommy ke Daddy juga sakit seperti ini??? Mom gimana mommy disana??? Rega harap mommy di diberikan tempat terindah, Mom... Rega kangen.. pengen peluk pengen curhat mom..Rega juga kangen masakan Mommy Rega pengen jalan-jalan lagi sama mommy, Mom... doain rega disini yah? Rega sayang mommy "
Tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundak Rega, sontak saja Rega kaget dan berbalik menatap siapa orang itu dan ternyata???.
"Ga?????"
"Daren????"
"Daren???? sumpah demi apa ini Lo beneran????"
"Iya ga ini gue! Lo kenapa ga disini??? dan ini makam siapa????" Tanya Daren yang tidak mengetahui kematian ibu Rega.
"Ren.... ini makam Mommy"
Daren yang baru tau itu adalah makam ibu Rega langsung terdiam dan ikut meneteskan air mata. Ia semakin erat memeluk Rega.
"Ga... maaf" ucap Daren
Tanpa kata Rega semakin menangis sejadi jadinya.
Daren berusaha menenangkan Rega, memapahnya masuk ke dalam mobil Daren.
Dialah Daren Linggaputra,seorang sahabat yang sangat berarti bagi Rega, dulu Daren, Rega dan Wijay selalu bersama sejak kecil namun ketika SMA Daren pergi ke Australia karena harus mengikuti Ibunya yang bercerai dengan Ayahnya. Sejak saat itu juga mereka tidak pernah lagi bertemu bahkan sama sekali tidak ada kabar dari seorang Daren.
Daren dan Rega duduk di kursi belakang, Daren saat ini sudah mapan dengan supir pribadinya yang merangkap asistenya yang selalu menemani kemanapun Daren pergi.
"Ga... Sekarang Lo tinggal dimana gue anter balik ya?"
"Gue sekarang tinggal di apartemen pribadi gue, tapi gue sekarang gamau balik dulu Ren"
"Ok Lo sekarang mau kemana gue anter???"
"Gatau Ren bingung gue, Gue pengen tenang dulu"
"Yaudah Lo mau ikut gue barangkali Lo pengen tenang Lo boleh nginep ke tempat gue???"
Rega mengangguk.
"Ga...??? Lo baik-baik aja kan???
Kok sekarang tinggal sendiri??? Bokap kemana??"
Dengan menangis Rega menceritakan keadaanya saat ini kepada Daren
"Ren Bokap sekarang udah merit lagi, gue udah lama tinggal sendiri tapi baru-baru ini gue pindah apartemen lagi. Ren Lo kemana aja??? bertahun-tahun gue nunggu kabar Lo tapi sama sekali ga ada niatan Lo buat ngabarin gue"
Daren kembali tercengang dengan ucapan Rega, Daren menggenggam tangan Rega.
"Maafin gue ga selama ini gue gatau keadaan Lo, dan bukan niat gue buat ninggalin kalian ga, bokap nyokap cerai dan adik gue udah lama meninggal jadi tadi gue ke makam buat ziarah ke kuburan Aran"
"Aran meninggal Ren????Kapan???
Kenapa hidup kita ditinggal orang-orang yang kita sayangi ya Ren???"
"Dua taun lalu Aren meninggal depresi Ga dia depresi dengan perceraian Bunda,
Ga tau ngga selama ini ternyata Nyokap cuma jadi istri kedua bokap dan pada akhirnya nyokap gue ditelantarin dan dibuang seenaknya, Hal ini buat psikis Aren terganggu dan perlahan mentalnya semakin gakuat ngejalanin hidup Ga.
Ga.... ini udah takdir, suka ga suka mau ga mau kita harus tetep jalanin, Oh ya Ga gue turut berduka yah atas meninggalnya Tante, Tante itu orang baik. Tuhan pasti kasih tempat terindah buat tante Ga."
" Hemmmm Gue ga ngerti mau ngomong apalagi Ren...Ren Lo jangan pergi lagi ya???? Gue butuh Lo Ren.. Ren Lo tau ga beberapa bulan setelah lo pergi Mommy sakit Leukemia dua bulan kemudian Daddy selingkuh. Gue yang sok kuat nyoba handle semua pekerjaan Mommy, bayangin umur 16 Tahun gue harus bisa ngatur semua keuangan Keluarga, Gue tinggal berdua sama Mommy, ngejalanin hal berat nemenin Mommy kemo, ngliat Mommy makin hari makin kurus, makin sering mimisan bagi gue itu penyiksaan terberat Ren.Dan Lo tau ga ren ga cuma lo yang ninggalin gue tapi Kak Wijay juga pergi, Gue berusaha tegar nyemangetin Mommy tapi Tuhan berkehendak lain, Tuhan lebih sayang Mommy dan disaat-saat terakhir Mommy kita cuma berdua Ren tanpa Bokap gue Ren.
Sekarang gue minta lo jangan pergi lagi dari gue ren, gue butuh sahabat kaya lo Ren tolong???".
Daren memeluk Rega dengan lembut "Gue ga akan pergi lagi Ga, Lo masih punya gue"
"Makasih Ren" jawab Rega.
"Eh Ga????? Lo kok mewek disini Lo kenapa??? Putus cinta??? Hahahahahahha" Tanya Daren dengan becanda.
"Apaan si Lo Ren bukanya nenangin Gue malah bikin gedek aja" Jawab Rega dengan kesal.
"Abisnya Lo sampe sesenggukan gitu udah muka Lo merah kek kepiting rebus wkwkwkwk" sambung Daren menggoda Rega.
"Hemmmmm gue baru ngrasain cinta eh tapi kok sakitnya kebangetan ya" Ucap Rega.
"Laaahhh???? seorang Rega bisa jatuh cinta??? wkwkwkwkkw". Ejek Daren
"Apaan sih ah, cabut yuk". Pinta Rega
"Yaudah yok cabut, Lo mau gue anter kemana???" Tanya Daren
"Apartemen gue yang baru" Jawab Rega
"Ok Tuan Putri" Jawab Daren
Hari semakin petang,Daren mengantar Rega pulang, disamping itu Elang masih mencari Rega dengan sejuta kekhawatiran dan rasa bersalahnya.
...****************...
...~Bersambung~...