My efforts to you

My efforts to you
Memulai



..."Tiada kata berhenti berjuang sebelum tuhan mencabut nyawamu"....


Aku termenung di sofa apartemen merenungkan langkah apa yang kan aku ambil.


Flashback on.


"Ar,kamu mau ikut nini?" Tanya sang nini yang masuk dalam kamar cucu kecilnya"


"Kemana nini?". Tanya Arsenio kecil.


" Ke rumah kakek buyut kamu". Kata sang nini.


"Kakek buyut itu apa?". Tanya Ar kecil karena tidak pernah bertemu dengan sang kakek buyut.


"Kakek buyut itu ayahnya nini". Jawab sang nini.


"Ar mau iku nini, di sana banyak mainan kan?". Tanya Ar kecil.


"Banyak di sana juga banyak temannya ". Ucap nini yang langsung membuat Ar berbinar-binar.


" Oke Ar ikut nini". Ucap Ar.


Aku dan nini menempuh perjalanan yang jauh. Kami sampai di sebuah desa yang udara masih terasa segar banyak pepohonan dan sawah. Berbeda jika di kota orang-orang sibuk bekerja bila disini orangnya sangat ramah dan saling menyapa satu sama lain.


Flashback off.


Ar, teringat pernah di ajak nininya ke sebuah desa yang sangat indah punya potensi alam yang sangat besar.


"Apa lebih baik aku ke sana ya?". Renung ku dalam hati.


" Ya aku ke sana saja". Putus ku lalu mengemas pakaian ku untuk pergi ke rumah kakek buyutnya yang sudah meninggal namu nini pernah berkata bila ia meminta orang untuk mengurus rumah itu setelah sang kakek buyutnya meninggal.


Saat aku membuka pintu apartemen untuk pergi aku terkagetkan dengan keberadaan Rion di sini.


"Kamu ngapain di sini?". Tanyaku pada Rion.


"Ah itu pak emm".


"Jangan panggil begitu aku sudah bukan bos mu lagi. Panggil saja namaku". Kata ku.


"Saya tidak mau itu kurang sopan saya panggil mas saja ya?". Katanya.


"Terserahlah, yang penting jangan pak". Ucapku padanya.


"Eh ngapain kamu di sini".tanyaku kembali.


"Em saya dengar mas Ar mengundurkan diri jadi saya juga memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan. Saya merasa ingin mengabdikan hidup saya bekerja hanya untuk mas Ar. Mas Ar sudah berjasa pada hidup saya". Ucapnya. Apa dia ini bodoh lebih memilih ikut diriku padahal jelas-jelas dia sudah punya gaji tinggi di perusahaan.


"Kau ini bodoh atau gimana sudah enak di perusahaan malah ikut saya. Sudah pergi sana saya tidak bisa memberi gaji besar untuk mu". Ucapku.


"Tidak, saya tetap ingin bekerja ikut mas Ar. Saya hanya sebatang kara dan tidak ada orang yang meperdulikan saya dulu. Tapi mas Ar menolong saya dari lubang gelap itu. Saat itu tanpa pertolongan mas Ar saya tidak tau saya masih akan tetap hidup atau tidak". Ucapnya.


"Aku tidak membutuhkan balas budi mu. Lebih baik kamu kembali ke perusahaan saja di sana karirmu akan berkembang". Ucapku mencoba menasehatinya agar tidak ikut susah bersama diriku. Tapi ia masih ngotot ingin ikutĀ  ya sudahlah kubiarkan ia ikut.


Kami menaiki mobil yang ku beli sendiri hasil investasi saham ku di perusahaan lain tanpa sepengetahuan ayahnya.


Empat jam kita berkendara sampailah di pintu masuk desa. Kulihat pohon rimbun di kiri kanan jalan lalu mulai terlihat rumah-rumah penduduk. Rumahnya sederhana namun suasana orang-orang yang berkumpul di sore ini membuat suasana yang berbeda dari saat aku berada di kota.


"Berhenti di rumah berpagar putih itu yon". Perintah ku pada Rion.


"Itu rumahnya mas?". Tanya Rion.


"Iya". Jawab ku.


Terlihat pria paruh baya menghampiri mobil kami. Ya aku ingat pria itu adalah paman yang dulu merawat sang kakek buyut.


"Kalian di sini mau cari siapa". Pria itu bertanya.


"Saya cucunya ibu Ningsih pak". Kataku.


"O..aden Arsenio, udah besar sekarang pak lek sampai pangling, ayo masuk den". Katanya lalu membuka pagar putih itu. Saat aku turun dari mobil, ku lihat banyak orang yang melihat ke arah kami seakan penasaran.


"Itu orang-orang pada ngapain?". Tanyaku


Kemudian kami masuk ke rumah berbentuk seperti rumah joglo tersebut. Rumah ini terawat sangat baik.


"Sini den tak bantu bawa barangnya". Pinta pak lek.


"Nggak usah pak lek saya bisa sendiri lagi pun hanya sedikit bawaan saya". Ucapku yang berjalan menuju ke kamar. Tapi kamar yang mana ini batinku dalam hati.


"Sini den kamarnya dan di sampingnya kamar mas ... Mas siapa namanya?" Ucap pak lek Sumitro.


"Renio pak lek". Ucap Renio memperkenalkan diri.


"O... Mas Renio, ya itu kamarnya masnya". Tunjuk pak lek.


" Makasih pak lek". Ucap Renio.


"Sama-sama, ya udah kalo butuh apa-apa panggil pak lek saja". Ucap pak lek lalu berlalu pergi meninggalkan kami.


Aku pun langsung memasuki kamar dan beristirahat.


Keesokan harinya aku terbangun saat azan subuh berkumandang. Badanku sangatlah lelah setelah perjalanan jauh jadi kemarin ku habiskan waktu untuk beristirahat.


Aku bersiap mandi, ku ambil handuk dan pakaian. Tapi yang menjadi pertanyaan di mana kamar mandinya kenapa di kamar ini tidak ada kamar mandinya. Aku pun beranjak keluar kamar untuk mencari di mana letak kamar mandinya.


"Aden cari apa?". Tanya seseorang yang mengagetkan ku.


"Ah pak lek, saya mau mandi pak lek". Uajar ku.


"Aden mau mandi? Itu di sana kamar mandinya, tadi pak lek juga sudah siapkan alat mandinya". Tunjuk pak lek ke arah tempat kamar mandi berada.


"O.. di sana, makasih pak lek saya mandi dulu". Ujarku.


"Nanti setelah mandi dan sholat langsung ke ruang makan sudah di siapkan makanan sama istri pak lek". Ucap pak lek.


"Iya pak lek". Ujar ku sebelum ke kamar mandi.


Sampai di kamar mandi aku di kaget kan dengan keberadaan bak mandi yang ukurannya lumayan lebar, ini bak mandi atau tambak ikan. Jangan lupakan keberadaan gayung plastik itu.


Sebelumnya memang aku pernah kesini namun tidak lama hanya setengah hari . Karena setelah itu aku langsung di bawa pulang nini kembali ke kota. Jadi hal seperti ini sesuatu hal yang baru untuk ku.


Setelah mandi aku mengigil kedinginan. Bayangkan saja pagi-pagi tanpa air hangat ia mandi. Air dalam bak mandi itu sangatlah dingin. Apa aku bisa bertahan lama dengan kebiasaan baru ini.


"Aden kedinginan?". Ucap pak lek yang melihatku keluar dari kamar mandi.


"I.. ya pak lek". Ujar ku dengan gigi saling bergemelutuk.


"Sebentar pak lek ambilin selimut". Ujar pak lek yang berlalu ke kamar untuk mengambil selimut.


"Aduh aden harusnya tadi pak lek rebuskan air panas dulu". Ujar pak lek yang kembali dengan membawakan selimut tebal.


"Nggak usah pak lek lama-lama pasti akan terbiasa". Ujar ku lalu duduk di kursi yang tepat berada di dekatku.


"Saya buatkan teh hangat mau den?". Tawar pak lek padaku.


"Boleh pak lek". Sahutku.


"Baik, tunggu dulu den". Ujar pak lek yang berlalu ke dapur untuk membuat teh.


"Mas Ar kenapa?". Tanya Renio yang sepertinya baru bangun.


"Kedi..gi..nan". Ujar ku yang masih menggigil.


"Mas Ren mau mandi juga?". Tanya pak lek yang menghampiri kami sambil membawa teh.


"Iya pak lek". Jawab Renio.


"Mau air hangat biar nggak kedinginan?". Ujar pak lek.


"Nggak usah pak lek saya udah biasa sama air dingin, lebih seger". Ucap Renio.


...*******...


Bersambung...