My efforts to you

My efforts to you
Chapter 1



..."Hidup yang tak terduga-duga menjadi sebuah perkembangan jiwa menuju tujuan yang dinamakan kedewasaan diri"....


...****************...


Kekayaan yang diagungkan nyatanya tidak membawakan yang namanya kebahagiaan yang abadi. Cinta yang disuarakan hanya sebatas ucapan di mulut saja, kehilangan malaikat pelindung seperti berjalan di atas bara tanpa alas kaki.


Dua puluh tahun yang lalu menjadi awal dimana aku kehilangan malaikat pelindungku. Ibuku meninggalkan ku karena keserakahan seseorang. Seseorang yang harusnya menjadi pelindung untuk keluargaku malah tidak berfungsi pada semestinya. Cinta baru yang datang membuatnya melupakan cinta lalu yang pernah ada.


Flashback on.


"Maafkan aku Lina tapi hal ini tidak masuk dalam rencana ku sebelumnya, aku yakin kamu bisa berbagi dengannya". Suara laki-laki yang sayup-sayup kudengarkan.


"Kamu tidak pernahkah memikirkan perasaanku mas, bahkan saat kamu melakukannya dulu pernahkah kamu ingat aku ataupun anakmu, pernahkah kamu ingat kami?". Teriakan suara yang kukenal sebagai suara ibuku. Saat itu aku sedang berada di depan pintu kamar orang tuaku. Pintu yang sedikit terbuka membuat aku bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.


"Aku, a..ku maafkan aku Lina tapi aku juga mencintainya, dia yang ada saat aku gundah, lelah dengan semua hal yang terjadi. Aku juga butuh perhatian aku ini hanya manusia bisa Lina". Kata ayahku dengan suara lemah.


"Apa karena aku wanita yang penyakitan, aku wanita yang lemah yang menjadikan kamu berpaling dari ku mas". Kata ibuku


"Maaf". Kata itu yang berulang kali ku dengar dari ayah.


"Apa yang harus aku katakan pada Arsenio, apa aku harus bilang bahwa ia mempunyai saudara yang lain.apa aku harus bilang bahwa ayahnya telah membagi cintanya selain untuk ibu dan dirinya. Apa kamu ingin aku berkata seperti itu padanya. Jika memang itu yang kamu inginkan lebih baik kamu pergi dari hidup kami secara sukarela atau kamu mau aku dan Arsenio yang angkat kaki dari rumah ini hem bagaimana apa yang kamu pilih?". Terdengar suara ibuku yang sudah putus asa.


"Aku tidak ingin memilih, aku hanya ingin kamu tetap di rumah ini bersama dengan Arsenio aku tidak memaksamu tinggal bersama dia dan anakku yang lain, aku hanya ingin kamu izinkan aku menikahinya secara resmi baik di mata hukum dan agama. Aku ingin anakku yang lain mendapatkan statusnya sebagai anakku. Dan status ibunya yang jelas sebagai istri sahku. Aku juga akan menyiapkan rumah lain yang akan mereka huni jadi dia tidak akan menggangu mu sama sekali". Kata ayahku.


"Kamu lucu ya, kamu bilang dia tidak akan menggangguku iya, kamu harusnya tahu mas kehadiran dia di antara kita itu sudah sangat mengusik kehidupan ku. Dan jika kamu ingin tetap kekeh bersamanya lebih baik kita berpisah". Kata ibuku


"No, no Jangan seperti ini Lina". Kata ayahku


Ibuku menuju ke pintu kamar dan aku segera bersembunyi di balik vas besar yang berada di samping kamar. Namun mendekati arah anak tangga kulihat ibu memegang kepalanya seakan merasakan pusing dan tiba-tiba ibu ambruk dan jatuh ke anak tangga .


"Ibu". Teriakku


Aku dan ayah berlari menuju tangga dan ku lihat lantai marmer itu penuh dengan darah. Darah terus keluar dari pelipis ibu.


"Ibu Jangan tinggalkan Arsenio. Nio janji tidak akan nakal lagi. Bangun ibu". Kataku dengan tangis tiada hentinya.


"Lina, Lina bangun Lina". Kata ayahku sambil menggoyangkan lengan ibuku.


"Pak Yono, pak siapkan mobil pak". Teriak ayah kepada supir, ayah menggendong ibu menuju pintu keluar.


"Ar, kamu di rumah bersama bik Imah saja". Kata ayah setelah meletakkan ibu di kursi mobil.


"Tidak aku ingin ikut". Kataku dengan kekeh.


"Jangan keras kepala Ar kamu di rumah saja nanti kamu menyusul saja oke, bik jaga Ar ya". Kata ayah


"Baik tuan, ayo den". Kata bibi


"Nggak mau aku mau ikut ibu, nggak mau". Kataku sambil meronta namun sang bibi memeluknya erat.


"Nanti kita menyusul Aden, Aden tenang ya disini sama bibi". Bibi berkata agar aku tenang namun aku terus meronta aku ingin tahu keadaan ibuku aku tidak ingin kehilangan ibu.


Hingga mobil sang ayah berlalu meninggalkan pekarangan rumah.



Arsenio kecil.