
..."Dilema hati bagai persimpangan jalan tanpa tanda arah, ketidaktahuan akan kedepannya membuat ragu untuk memilih"....
...****************...
Sarendra Pamungkas adalah nama ayahku ia adalah idolaku dulu ya itu dulu sebelum ia menorehkan luka pada aku dan ibuku, ia sosok yang dingin namun memiliki semangat juang tanpa kata lelah, aku tahu di balik sifat dinginnya itu ia menyayangi ku. Ia tak pernah memang menunjukan kasih sayangnya padaku secara langsung tapi dibalik diamnya aku tahu ia memperhatikanku setiap tindakanku dan setiap keinginanku.
"Maaf pak bapak tunggu di luar saja biar kami yang menangani". Kata salah satu perawat yang akan menutup pintu kamar UGD.
"Lakukan yang terbaik, selamatkan istriku". Kata Sarendra
Dalam hilir mudik orang di lorong itu ia terduduk lemas di lantai. Perasaan cemas, penyesalan, takut kehilangan melebur menjadi satu.
Sedangkan di tempat lain seorang anak kecil tengah menangis di dalam pelukan hangat seorang wanita paruh baya yang sudah merawatnya dari ia bayi. Bi Imah mencoba menenangkan anak itu.
"Aden jangan nangis terus, nanti kan ayah aden kesini lagi menjemput aden untuk menemui ibu aden, jangan nangis terus ya, mau makan bolu tadi bibi buat bolu coklat kesukaan aden, mau?" . Kata bi Imah yang mencoba menenangkan ku.
"Ar tidak mau bolu bibi, Ar mau ibu Ar. Ibu akan sembuh kan bibi, nanti kalo ibu sakit lagi tidak ada yang membacakan dongeng Ar, Ar takut bibi Ar gak mau ibu pergi seperti ibunya Danil bibi, Ar gak mau ditinggal ibu". Tanya ku pada bibi.
"Aden harus percaya bahwa ibu anden akan sehat lagi, sekarang lebih baik aden berdoa agar ibu aden bisa sembuh lagi bisa sama-sama lagi sama aden". Jawab bibi sambil mengusap pipiku yang dipenuhi air mata.
Waktu berjalan begitu sangat lama. Aku menunggu, menunggu dan menunggu ayah datang atau paling tidak menyuruh sang supir untuk menjemputnya. Kukira harapan ku akan tiba tapi di balik kaca jendela rumah kulihat mobil ambulan disusul mobil ayah memasuki pekarangan rumah dalam hatiku bertanya apa ibu sudah sembuh ya kok diantar ambulan kenapa tidak di mobil ayah saja. Tanpa berpikir panjang aku berlari ke pintu utama.
"Ayah ibu sudah sembuh ya?". Tanyaku saat ayah keluar dari mobil hitam itu.
Lalu ayah berjongkok menyetarakan dengan tinggi ku.
"Ar, ibu Ar memang sudah sembuh dari sakitnya, ia tidak akan pernah merasakan sakit lagi, tapi mungkin Allah lebih menyayangi ibu jadi ia mengajak ibu Ar tinggal bersamanya". Kata ayahku dengan halus setiap kata yang keluar dari mulut ayah ku cerna dengan baik aku tidak lah bodoh aku tahu maksudnya, aku tahu kata itu seperti yang di ucapkan temanya Danil bahwa ibunya telah bersama pula dengan tuhan dan tak kan pernah bisa kembali.
"Ayah bohong, ibu Ar masih hidup, ibu Ar masih hidup, Ayah pembohong". Kataku dengan keras lalu segera menghampiri ambulan yang ternyata didalam mobil itu terdapat peti kayu yang di tempati oleh ibunya.
Flashback off.
Ibu aku merindukan dia seandainya kecanggihan teknologi saat ini dapat mengobati rasa rinduku seakan-akan tengah video call dengannya, ya seandainya tapi itu sangatlah mustahil terjadi kami sudah hidup pada alam yang berbeda. Yang hanya bisa ku lakukan hanya mengunjungi makamnya. Hidupku dan Danil sama-sama ditinggalkan oleh ibunya namun ia jauh lebih beruntung karena ia mendapatkan sosok pengganti yang begitu menyayanginya.
Sekarang sang ayah sudah bahagia telah menikahi sang ibu tiri yang ku ketahui namanya adalah Ayudia dia dulunya adalah gadis desa yang bertemu tidak sengaja dengan sang ayah. Ayah adalah penolong bagi Ayudia saat ia dalam masalah yang pelik, karena pertemuan yang terjalin secara terus-menerus membuat kenyamanan itu muncul hingga membuat mereka melupakan batas yang ada. Ayah melupakan cinta yang pernah ada dan beralih ke cinta yang baru. Dari hasil hubungan itu ku ketahui mereka telah memiliki anak laki-laki yang selisih lima tahun dariku. Kecemburuanku pada anak itu pun tak terbendung segala curahan kasih sayang mengucur deras padanya, ayah yang dulu kukira bersifat dingin namun saat bersamanya menjadi sosok yang hangat bahkan para paman, bibi dan keluarga lainnya bisa menerima kehadiran mereka dengan baik.
Aku merasa tersisihkan aku merasa sangat jauh dari mereka. Karena itu pula dulu aku berubah dari anak yang penurut menjadi anak yang pemberontak aku hanya ingin mencari perhatian dari mereka bahkan beberapa pelanggaran telah ku perbuat hingga mungkin ayahku sendiri telah lelah mengurusi segala permasalahan yang telah ku perbuat. Kemudian pengasuhan atas diriku di ambil alih oleh ibu dari sang ayah yang ku panggil ia Nini, Nini adalah sosok wanita yang lembut ia tahu dimana yang menjadi kelemahan ku, ia yang menjadi pelindung ku disaat keluarga yang lain memperolok kenakalan ku. Nini tahu yang ku butuhkan adalah perhatian bukanlah pengasingan.
Mungkin pemberontakan diriku ini berawal pada disaat hari kelulusan SD. Pada saat itu bertepatan dengan ulang tahun adik tirinya.
Flashback on.
Saat itu adalah waktu makan malam. Di sana telah duduk sang ayah, ibu tiri dan adiknya yang tengah membicarakan persiapan ulang tahun sang adik di salah satu hotel sang ayah.
"Ehm... Kapan acaranya?". Tanya sang ayah.
"Siang jam sebelas". Jawabku
"Kenapa sangat pas dengan acara adik mu". Kata ayah dengan gusar.
"Jika tidak bisa ya sudah". Jawabku kemudian berdiri dan meninggalkan ruang makan.
Sampai di kamar aku menuju ke balkon duduk di atas kursi santai menghadap ke arah langit. Aku merindukan ibu pasti jika ada acara seperti ini ibunya pasti akan selalu datang.
Benar yang ku perkirakan. Siang ini aku menunggu di kursi gedung tempat pelaksanaan perpisahan sekolah. Semua wali murid telah hadir mendampingi sang anak kecuali orang tuaku, aku duduk sendiri di kursi itu.
"Ar, orang tuamu belum datang?". Tanya sang ibu guru dan ku jawab dengan gelengan kepala.
"Kalo gitu biar ibu temani ya hingga orang tua mu datang, ibu boleh duduk di sampingmu?". Tanya sang ibu guru dengan halus.
"Iya". Jawabku dan kembali menunduk memainkan kaki menggesek-gesek lantai.
Hingga waktu berlalu.
"Maaf aden bibi baru sampai". Kata seseorang lalu aku mendongakkan kepala dan ternyata yang datang adalah bi Imah.
"Ibu siapanya Arsenio?". Tanya sang ibu guru.
"Saya asisten di rumahnya ibu, saya di utus mendamping den Arseino. Ayah dan ibunya ada acara penting ibu jadi berhalangan hadir". Jawab bibi.
"Oh.. kalo gitu ibu tinggal nggak pa pa ya?". Tanya sang ibu guru padaku dan aku hanya mengangguk lemah.
Hingga acara selesai dan aku pulang ke rumah ku lalui dengan murung hari kelulusan yang harusnya disambut riang tapi menjadi hari yang buruk bagiku. Saat di ruang tamu sudah terdapat sang adik tiri yang membuka kado ulang tahunnya dengan gembira.
"Ar, kamu sudah pulang?". Tanya sang ibu tiri. Namun tak ku jawab aku lebih memilih berlalu pergi ke kamar. Aku kecewa bahkan sang ayah lebih mementingkan sang adik dari pada dirinya. Padahal sang adik sudah ada sang ibu sedangkan dirinya hanya punya sang ayah tetapi sang ayah nyatanya mengesampingkan dirinya lebih memilih mengutus sang bibi menghadiri acara kelulusannya. Aku kecewa sangat kecewa merasa tak lagi penting dalam hidup sang ayah.
Flashback off.
...
...
...~Alone....