My efforts to you

My efforts to you
Medusa



..."Setiap ucapan yang keluar dari mulutmu harus kau pertangung jawabkan entah itu benar atau tidak karena ucapan mu menentukan harga dirimu"....


Dua bulan telah berlalu. Hari-hari ia lalu seperti biasa bedanya hari yang dilalui tanpa kehadiran nininya.


Disaat dia sedang fokus dengan laptop nya tiba-tiba pintu ruangan diketuk lalu masuk lah sang asisten pribadinya.


"Permisi pak, saya ingin menyampaikan hal penting". Lapor sang asisten padaku. Terlihat wajahnya sangat sayu seperti sedang bingung.


"Apa?". Tanyaku tanpa melihatnya.


"Nama anda menjadi topik hangat saat ini. Namun sepertinya beritanya akan kurang anda sukai". Ucap Rion hati-hati takut ia kena semprot sang boss.


"Memangnya apa?". Tanyaku lalu melihat ke arahnya.


"Ini tentang skandal anda dengan putri dari pemilik perusahaan Galaksi pak, ini anda bisa lihat sendiri". Ucap Rion lalu menyerahkan tab yang ada di tangannya padaku.


"Apa paan ini, kurang ajar dasar medusa. Bagaimana bisa dia memutar balikkan fakta seperti ini. Dia bilang dia sedang mengandung anakku. hah menyentuhnya saja aku tak sudi bahkan di bilang aku akan menikahinya ". Geramku terakhir aku bertemu dengannya adalah saat kematian nini. Saat itu Danil mengajakku ikut dengannya di sebuah club di sana aku bertemu dengannya.


"Iya pak, bahkan tersebar foto anda yang berada dalam satu kamar dengan Melinda". Ucap sang asisten. Ketika aku melihat foto tersebut ternyata saat aku mengikuti Danil yang ingin mengantar pacarnya di hotel tempat pacarnya menginap bodohnya diriku ngapain ngikut-ikut Danil kalau gini jadinya lebih baik aku tidur di apartemen.


Padahal di kamar itu ada Danil, Tara, dan pacar si Danil aku tidak hanya berdua dengan si medusa itu. Aku yakin si medusa itu yang menyebarkannya. Aku harus telepon si kudanil sial gara-gara dia aku terjebak dalam situasi menyebalkan seperti ini.


"Hallo kudanil brengsek gara-gara lo nama gua tercemar sekarang". Kataku dengan nada marah.


"Woi woi main marah aja". Kata si kudanil.


"Ya kan memang gara-gara lo". Ucapku.


"Ya sorry, gua dah tau beritanya. Niat gua nggak seperti itu kok bener deh suwer, gua nggak tau kalo temen pacar gua kaya uler keket". Ucap Danil dengan nada bersalahnya.


"Sialan lo emang". Ucapku menutup panggilan.


Tiba-tiba teleponnya berbunyi kembali dan menemukan nama sang ayah yang memanggilnya.


"Hallo". Ucapku.


"Keruangan Ayah sekarang!". Perintah sang ayah kemudian menutup panggilan.


Segera aku menuju ke ruangan ayah. Apa pria itu udah tahu ya haduh. Saat aku sampai di ruangan ayah sudah ku lihat si medusa dengan sang ayah.


Mereka sedang tertawa bersama.


"Tidak kita duga ya pak sebentar lagi akan jadi besan". Kudengar ayah si medusa itu bicara dengan sang ayah.


"Ohh itu dia anaknya sudah datang". Ucap sang ayah. Kulihat Melinda tersenyum menghadap ku, cih menjijikkan.


"Tidak akan ada pernikahan". Ucapku lalu melihat wajah Melinda dan ayahnya yang memerah.


"Apa maksudmu? Kau ingin membuat keluarga kami lebih malu lagi". Ucap Ayah Melinda, sedangkan perempuan itu hanya terdiam menunduk.


"Ayah beri waktu Melinda untuk bicara dengan Ar dulu ya". Pinta Melinda pada ayahnya.


Perempuan itu meminta ku mengikutinya keluar ruangan.


"Ar maafkan aku, aku tahu kamu marah padaku. Tapi aku minta bantuan mu sekali saja ini ya tolong bantu aku". Ucap Melinda dengan menangkap tangannya memohon padaku.


"Aku buka seorang pahlawan jadi jangan meminta padaku, lagi pula jikalau pun kau memang hamil aku pastikan itu bukan anakku". Ucapku dengan datar karena aku bingung dengan sikap wanita ini.


"Ar aku terpaksa mengatakan itu pada ayah dan orang lain karena jika ayah tahu anak yang ku kandung adalah anak seorang pemilik cafe kecil pasti ayahku akan marah dan mengusirku. Aku mohon tolong lah aku, jika kita menikah aku akan memberimu saham ayah ku di perusahaan ini padamu dan jika kuasa mu di perusahaan ini ditambah dukungan ayahku ku pastikan kau akan menang. Aku tahu bahwa kau mempunyai ambisi menguasai perusahaan ini dan ingin menyingkirkan ibu tiri dan adikmu itu ". Ucapnya.


"Aku bisa sendiri tanpa sumbangan apapun darimu. Memang harusnya kau meminta tanggung jawab pada pria itu bukan padaku". Kata ku dengan sedikit geram.


POV Melinda.


Sial kalau begini caranya aku harus bagaimana. Aku tidak ingin namaku sebagai anak pengusaha hebat sekaligus artis papan atas tercemar karena memiliki anak dengan orang miskin aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup ku nantinya.


Jika aku mengaku pasti ayah akan mendepak ku tanpa satu peserpun uang dan lagi apa pria miskin itu bisa memenuhi kebutuhan ku saat karirku sebagai artis nantinya akan hancur. Bodoh kau Melinda kenapa bisa kau berhubungan dengan pria miskin itu. Tidak aku tidak akan membiarkan diriku merana seperti itu.


"Katakan pada ayahku dan ayahmu yang sebenar-benarnya kalau tidak jangan salahkan aku jika membongkar semua itu dan membuat mu dan keluarga mu tidak bisa mengangkat kepala kalian sedikitpun, aku harap kau masih punya harga diri". Ancam Ar padaku.


Kukira dia akan mau bekerjasama denganku dengan imbalan saham ayahku di perusahaan ini. Aku mendengar rumor bila ia adalah pria yang sangat ambisius untuk menguasai perusahaan ayahnya ini dan memiliki konflik dengan ibu dan adik tirinya.


Tanpa menunggu jawabanku ia berlalu pergi begitu saja.


POV Arsenio.


Dia kira aku bisa dikendalikan oleh harta milik ayahnya itu, jangan harap itu terjadi. Aku meninggalkannya dan kembali keruangan ku.


Saat aku sedang duduk bersandar di kursi sofa terdengar pintu di buka dengan kasar.


"Kau, kau apa yang kau lakukan setelah membuat kekacauan kau ingin ayah juga malu dan hancur karena ulah mu. Kau tau akibat karena sikap tidak tanggung jawab mu itu ayah Melinda akan mencabut semua sahamnya. Kau tahu bukan saham ayahnya di sini bukanlah kecil. Kau ingin perusahaan bangkrut karena ulah mu". Ucap ayah yang marah padaku.


"Aku melakukan hal yang harus aku lakukan. Dia tidak hamil anakku di bohong bahkan aku bertemu dengannya hanya sekali dan itupun bersama dengan Danil. Yang dikatakan olehnya itu semua bohong". Kataku membela diri.


"Pergi dari perusahaan ku sekarang dan jangan bawa apapun dari keluarga ku jika kau masih keras kepala seperti ini". Usir ayah padaku.


"Baik jika itu yang anda inginkan dan aku akan membuktikan bahwa aku bukanlah ayah dari anak yang di kandung oleh Melinda, permisi". Ucapku sebagai kalimat perpisahan dengannya.


...******...