
..."Kesedihan dan kegembiraan akan silih berganti menghampiri tidak ada kesedihan abadi maupun kegembiraan abadi"....
...****************...
Pagi ini aku mengantarkan nini ke pembaringan terakhirnya. Tidak ada kalimat perpisahan apapun dari wanita itu. Mengapa orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya. Pernah terbesit di pikiran apa ia memang orang yang tidak pantas mendapatkan kasih sayang.
Selesai prosesi pemakaman satu per satu keluarga mulai meninggalkan area pemakaman hanya tersisa aku yang duduk di samping makam nininya.
"Nini, nini tau Ar marah pada nini kenapa pergi meninggalkan Ar sendirian di dunia ini. Kenapa tidak mengajak Ar pergi bersama nini. Bahkan nini pun lupa tidak mengucapkan salam perpisahan apapun pada Ar. Ar marah pada nini". Ucapku dengan menahan rasa sesak di dada, tanpa ku cegah air mata keluar begitu saja. Sambil memainkan tanah di pusaran sang nini ia menumpahkan perasaannya pada orang yang ia sayangi itu. Ia tidak tahu kemana ia akan bertumpu bila memiliki masalah.
Arsenio duduk di samping pusaran sang nini hingga siang hari. Panas tak membuat dirinya beranjak dari sana. Bahkan keluarganya tadi mungkin sudah lupa bila ia masih tertinggal di sini.
"Masnya tidak kepanasan mas. Kok masih disini?". Tanya seorang pria yang sepertinya mungkin penjaga makam disini.
"Em tidak paman, saya mau di samping nini saya nanti kalau saya tinggal ia sendiri disini". Jawabku dengan lemah.
"Tidak baik atuh mas sedih berlarut-larut. Kasihan nininya mas nanti ia tidak tenang di alam nya karena melihat mas seperti ini". Kata paman itu. Aku hanya terdiam saja tanpa berniat menjawabnya
"Lebih baik ngadem yuk mas, situ tuh disitu dingin dari pada panas-panasan gini". Bujuk paman itu. Aku hanya memandanginya namun sang paman menarik tanganku untuk berdiri dan mengikutinya.
"Nah disini kan dingin mas nggak panas-panasan lagi seperti tadi". Kata paman itu yang ku balas dengan sedikit senyuman.
"Mas rumahnya mana?".tanya pria itu
"Perumahan permata". Jawabku
"Oh.. perumahan elit itu ya mas?". Ucap pria itu.
"Hem itu rumah nini saya". Jawabku
"Ini minum mas takutnya dehidrasi dari tadi manas kaya ikan teri saja di jemur kan ya". Canda paman itu padaku.
"Makasih, em paman penjaga makam disini ya". Tanyaku.
"Aduh jangan manggil paman atuh panggil saja mang totok, iya mas saya penjaga makam disini, mau roti juga gak mas ?". Kata mang totok
"Nggak usah mang, terimakasih". Ucapku.
"Mas jangan terlalu berduka sangat-sangat. Manusia itu pada masanya pasti akan di panggil satu per satu oleh Allah. Kita mah sebagai manusia memang hanya bisa menjalani tapi mas harus tahu tidak ada yang namanya kesedihan abadi maupun kegembiraan abadi jadi mas jangan terus terkubang pada kesedihan mas harus sambut kegembiraan yang mungkin akan datang mengobati luka yang pernah ada. Kalo merasa sedih mulu mah jika kebahagiaan ingin datang pun takut menghampiri mas karena takut di tolak sama masnya, ya gak mas? ". Kata pria itu. Aku mendengar ucapan mang Totok memang ada benarnya mungkin tak seharusnya aku terkukung dalam kesedihan hingga aku merasa kurang merasa bahagia selama ini.
" Masnya udah punya istri apa belum?". Tanya Mang Totok.
"Belum mang". Belum mang.
"Nah ini ni kurang asupan vitamin ni mangkanya sedih mulu". Ucap mang Totok dan aku hanya terbengong.
"Kalo udah menikah dan punya anak pasti mas akan merasakan suka, duka namun bedanya jika singel ditanggung sediri tapi kalo dah punya keluarga kecil sendiri bisa berbagi jadi nggak berat-berat amat hidupnya. Tapi juga harus memilih dulu jangan sembarangan pilihnya karena jika salah membeli baju nyeselnya mungkin satu bulan tapi kalau salah memilih istri nyeselnya bisa seumur hidup mas". Ucap pria tersebut sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Mang bisa saja". Kataku denag sedikit mengulas senyum.
"Iya mas kaya mamang untung bisa milih istrinya bener bisa menerima mamang apa adanya dari pada ada teman mamang tu kalau ada uang di sayang tapi kalau tidak ada uang di tendang. Beruntung ni mamang". Ucap mang Totok.
"Maaf mang, Memang berapa mang gaji mamang jika bekerja di pemakaman ini". Tanyaku.
"Ah yang nggak begitu banyak mas tapi insyaallah berkah di hidup mamang dan keluarga mamang". Ucap mamang.
"Mas mau pulang atau tetap disini ini mamang mau bersihin makam yang lain dulu". Ucap mang Totok.
"Saya pulang saja deh mang, terima kasih mang". Ucapku.
"Sama-sama atuh mas ". Jawab Mang Totok.
Setelah itu aku berlalu menuju mobil hitam ku. Dan beranjak pergi dari pemakaman tersebut.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di rumah besar keluarga Sarendra berkumpul banyak keluarga di sana mereka terlihat masih berduka.
"Ada yang tau Arsenio dimana?".Tanya Sarendra sebagian hanya memandang tanpa menjawab.
"Tidak tahu, dia sudah besar mas ngapain dicari" Ucap adik ayah yang bernama Jalu.
"Kenapa kalian tidak bilang dari tadi". Jawab Sarendra.
"Lah untuk apa diurusin wong sudah besar juga". Ucap adik ipar Sarendra.
"Ck... Biar ku telfon saja lah". Ucap Sarendra. Kemudian menelfon sang anak.
"Halo, Kamu di mana Sekarang?". Tanyanya.
"Di Apartemen, kenapa?". Jawab Arsenio dengan malas.
"Pulang Sekarang!". Ucap sang ayah.
"Pulang kemana? Orang di sini rumah saya". Jawabnya yang sengaja memancing kemarahan sang ayah.
"Kau...". Tiba-tiba panggil sudah diputus oleh Arsenio.
"Anak kurang ajar". Ucap sang ayah dengan wajah memerah menahan kekesalannya.
Sedangkan di Apartemen pribadi Arsenio sedang berbaring di sofa dengan kesal menghembuskan nafas kasarnya.
"Cih... Biasanya juga nggak pernah nelfon. Ku kira penting". Ucap Arsenio.
"Kapan bisa terbebas dari keluarga itu. Jika boleh memilih aku tidak ingin darah pria itu mengalir dalam tubuhku". Gerutunya lalu membuka pesan-pesan dalam handphonenya. Rata-rata berisi ucapan belasungkawa. Lalu tiba-tiba ada telepon dari sahabat dekatnya Danil.
"Hallo".
"Hallo, lo di mana?". Tanya Danil
"Di Apartemen, kenapa?". Tanyanya
balik.
"Gue mau otw ke sana." Ucap Danil.
"Ngapain, gue lagi nggak terima tamu". Ucapku dengan ketus.
"Untuk. Menghibur dirimu lah". Jawab Danil.
"Nggak perlu hiburan gua". Jawabku dengan malas. Yang ada kalau dia kemari bukannya menghibur malah mengacau.
"Pokoknya gue ke sana, tunggu gue oke" jawab Danil lalu memutuskan panggilan.
"Ting tong, ting tong". Suara bel tiba -tiba berbunyi bukanya kata Danil dia baru otw. Lalu siapa yang datang. Kemudian Arsenio membuka pintunya.
"Tara gua bawa ayam goreng, ayam bakar, ayam semur, ayam cincang dan ayam-ayaman". Ucap Danil yang ternyata sudah berada di depan pintu apartemen.
"Kualat lo sama ayam, bawa ayam semua, oh oh jangan-jangan lo mau promosi ayam restoran lo ya". Ucapku.
"Biarin gua masuk dulu napa susah ni bawanya". Ucap Danil yang alngsung nyelonong masuk dalam apartemen ku.
"Katanya baru otw?" Kataku menyindirnya.
"Ya iya otw, otw naik lift". Ucapnya.
"Kalo dah tau di apartemen ngapain nanya?". Tanyaku dengan ketus.
"Lo nggak bisa basa-basi ya, kaku lo mangkanya nggak laku-laku". Ledek Danil.
"Cih, kaya lo nggak". Jawabku.
"Oh tentu saja tidak karena gua dah punya gebetan baru". Bangganya.
"Halah paling bentar lagi putus". Ucapku.
"Iri bilang boss". Ucapnya kepadku lalu kubalas dengan delikan mata.
...****************...