
..."Kepercayaan yang diingkari membuat hati tak bisa memilihnya untuk kedua kali"....
...****************...
Arsenio tumbuh menjadi lelaki hebat melebihi kecerdasan sang ayah. Walau bertingkah seperti pemberontak ia tetap menjadi orang yang dapat diandalkan. Kecerdasannya mengambil peluang membuatnya lebih unggul dari yang lain. Menjadi seorang wakil CEO di usianya yang tergolong muda ini bukanlah hal yang mudah apalagi banyak rong-rongan dari pihak keluarganya sendiri yang ingin melengserkan dirinya dari jabatan yang ia emban. Jika bukan karena nininya, ia mungkin tidak ingin bekerja di perusahaan keluarga besar sang ayah. Namun karena sang nini yang memohon pada dirinya agar membantu sang ayah mengurus perusahan keluarganya itu akhirnya ia mengiyakan.
Arsenio sebenarnya enggan berhubungan dengan sang ayah namun tuntutan pekerjaannya yang harus berhubungan dengan sang ayahnya itu mau tidak mau harus bertemu.
Siang ini ia berada di ruangan kerja sang ayah melaporkan mengenai progres proyek pembangunan di Kalimantan. Seperti biasa ayahnya hanya terus memperhatikan dia tanpa berucap panjang lebar. Ayahnya itu hanya bicara hal-hal yang penting saja.Setelah selesai dengan laporannya ia hendak undur diri.
" Tunggu Ar, nanti malam ada acara makan malam di rumah dengan keluarga besar, ayah harap kamu datang untuk malam ini". Ucap ayahnya.
"Mohon maaf pak, untuk malam ini saya sudah mempunyai acara sebelumnya, jadi saya tidak bisa hadir". Jawabku lalu berbalik menghampiri pintu keluar.
"Sampai kapan kamu selalu menghindar seperti ini?". Tanya ayah lalu aku kembali menghadapnya.
"Saya tidak pernah menghindar tapi memang tidak ada hal yang mengharuskan diri saya berada di antara keluarga kalian, permisi pak saya undur diri". Tanpa menunggu sang ayah berucap ia segera pergi keluar ruangan dan tak memperdulikan panggilan sang ayah.
Akan jauh lebih baik bila ia tidak hadir di acara tersebut. Selama ini ia selalu menghindar dari berbagai acara keluarga. Ia lebih ingin melindungi telinganya dari kata-kata buruk yang akan membuat ia jadi lebih terpuruk. Nininya pun selalu membujuknya untuk ikut namun ia sendiri yang selalu menghindar.
Sedangkan di ruangan sang ayah. Pria paruh baya itu terlihat muram. Selalu seperti ini yang terjadi. Ia merasa telah kehilangan sang anak pertamanya itu. Walau raganya ada di dekatnya namun terasa jauh seperti ada jarak yang membentang lebar antara ia dan sang anak. Dibuka laci paling bawa dan ia melihat foto yang sudah lama ia simpan di laci. foto itu diambil saat diriny, Arsenio beserta almarhum istrinya sedang liburan di sebuah taman wisata. Di sana terlihat foto ayah dan anak yang berada dalam gendongan sang ayah yang tersenyum lebar. Ia merindukan manjanya sang anak seperti saat anaknya itu masih kecil dulu .
"Jika kau lihat sekarang entah kau akan menertawakan ku atau memandang kasihan padaku Lin. Sekarang anakmu itu sudah tumbuh menjadi pemuda yang tampan, ia cerdas namun sangat dingin seperti ku. Kau tahu aku semakin kehilangan anakmu itu, ia terus berusaha menjauh dari jangkauanku. Aku merindukan dia yang dulu, saat pertama kali kata yang di ucapkan adalah yah yang berati ayah, saat ia pertama kali berguling dan belajar melangkah. Aku merasa telah kehilangan anak itu semakin hari semakin remuk hati ini karena dia tidak pernah memanggilku ayah lagi bahkan saat berdua di perusahaan ia memanggilku pak seperti karyawan lainya. Aku rindu dipanggil ayah olehnya". Ucap Sarendra dengan air mata yang mengalir di kulitnya yang mulai terlihat kerutan di wajahnya itu.
"Apa yang harus aku lakukan Lin, agar ia seperti little boy ku yang dulu, yang bertingkah manja ingin ini dan itu. Bahkan sejak ia ditinggal olehmu tak pernah ku dengar dari mulutnya memintaku membelikan sesuatu untuknya. Kadang aku merasa cemburu dengan ibu yang selalu bisa dekat dengannya. Waktu dimana ia membuat banyak masalah hingga aku pusing di buatnya saat itu ibu meminta Ar untuk tinggal bersamanya. Ibu merasa aku telah gagal mendidiknya jadi ibu yang ingin mengambil alih anakmu itu. Aku tidak rela dan sempat bertengkar dengan ibu. Aku ingin Ar tetap tinggal bersamaku aku ingin tetap tau perkembangannya. Namun anakmu itu seperti terlihat bahagia mendengar permintaan ibu itu dan saat itu aku melihat senyum dan binar matanya kembali setelah sekian lamanya tidak melihat senyumnya itu". Ucap pria paruh baya itu dengan lirih. Namun suara dering telepon di sisi kirinya membuat ia menoleh dan mengangkat panggilan itu.
"Halo". Ucap Sarendra
"Halo, tuan ini bik Lilis tuan asisten di rumah nyonya besar". Jawab bi Lilis
"Ya bi, ada apa?". Tanya Sarendra kembali
"Ini tuan Nyonya besar masuk rumah sakit, saya sudah menelfon tuan muda Ar namun hpnya tidak aktif tuan". Lapor bibi Lis.
Mendengar laporan dari asisten rumah tangga di rumah ibunya itu membuat pria itu panik.
"Di rumah sakit mana bi?". Tanya Sarendra kembali.
"Di rumah sakit sejahtera tuan". Jawab sang bibi
"Baik saya akan segera ke sana". Jawab Sarendra. Kemudian ia segera pergi dari ruang kerja lalu menuju ruangan anaknya itu. Tanpa mengetuk pintu ia membuka pintu ruang kerja sang anak.
"Segera ikut ayah, nini mu tiba-tiba drop dan sekarang sudah berada di rumah sakit". Ucap Sarendra yang tiba-tiba masuk.
"Mau kemana kamu". Tanya ayahnya.
"Ke parkiran". Jawabku
"Satu mobil saja dengan ayah". Ucap ayahnya.
"Aku bawa mobil sendiri saja". Jawabku lagi. Aku tidak ingin menjadi canggung bila semobil dengannya.
"Semobil saja, kamu dalam keadaan panik tidak baik berkendara sendiri". Kata ayah.
"Aku bisa mengendalikan diriku". Ucapku lagi dengan kekeh.
"Dalam keadaan seperti ini kamu masih saja keras kepala". Ucap ayah dengan geram.
"Satu mobil dengan ayah atau jangan berharap ketemu dengan ninimu". Kata ayah dengan nada mengancam.
"Tidak bisa begitu itu nini saya, saya bebas bertemu dengannya kapan saja anda tidak berhak larang-larang". Kataku dengan jengkel.
"Dengarkan saya, saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya". Kata sang ayah. Arsenio tahu bahwa ayahnya memang tak pernah main-main dengan ucapannya bisa saja ia membawa nininya itu ke luar negeri tanpa memberitahukan pada Arsenio.
Tanpa menunggu sang ayah ia berjalan memasuki mobil sang ayah. Selama perjalanan kecanggungan mendera bahkan sang supir pun merasakan mobilnya lebih dingin dari biasanya.
Sampai di rumah sakit ayah dan anak tersebut segera menuju ruangan yang biasa dipanggil nini oleh Arsenio. Sampai di ruangan, Arsenio melihat sang nini sudah di pasang selang bantu pernafasan di tubuhnya. Tadi saat ia berangkat kerja nininya itu masih dalam keadaan yang sehat-sehat saja. Tapi kenapa sekarang seperti ini. Sedangkan sang ayah menemui dokter yang menangani sang nini. Lalu tak berselang lama anak-anak dari nini berdatangan disusul kedatangan sang ibu tiri dan anaknya. Kemudian ia mundur menjauhi kerumunan orang-orang itu.
Tak berselang lama sang ayah memasuki ruangan dengan mengusap wajah seperti orang lelah dan putus asa. Aku ingin bertanya apa kata dokter namun ku urungkan karena sang ibu tiri sudah mendekat pada ayahnya. Merasa di abaikan orang-orang. Aku memilih keluar dari ruangan tersebut dan duduk di bangku depan ruangan.
"Aden sudah datang". Tanya orang yang tiba-tiba bertanya padanya.
"Bi Lilis dari mana?". Tanyaku.
"Ah bibi tadi dari kantin rumah sakit beli makan, bibi belum sempat makan tadi. Aden mau makan? ini kan sudah masuk jam makan siang". Tawar bi Lilis pada ku.
"Nggak usah bik". Jawabku, bahkan untuk merasa lapar pun sudah tak terasa yang kurasakan hanya perasaan takut dan cemas. Saat-saat ini menjadi hal yang membuatku teringat hal yang pernah lalu yaitu saat ibu berada di rumah sakit.
Hingga malam tiba tidak ada tanda nini akan sadar. Hembusan nafas kasar ku lepas. Masih dengan pakaian kantor yang melekat pada tubuhku aku bersandar di tembok. Namun tiba-tiba aku dikagetkan oleh Tante Hana yang panik keluar ruangan memangil suster dan dokter. Aku masuk ke dalam ruangan dan melihat nini dalam keadaan drop. Namun saat kecemasan melanda diriku dokter dan suster menyuruh kami untuk keluar ruangan. Kami menunggu cemas di luar ruangan.
Kami menunggu dokter menangani nini berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Dan saat yang ditunggu pun datang dokter keluar dari ruangan tersebut namun terlihat wajahnya putus asa.
"Bagaimana keadaan ibu kami dokter". Tanya Tante Hana harap-harap cemas.
"Maafkan kami pak bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun nyawanya sudah tidak tertolong lagi". Jawab sang dokter membuat diriku tertegun dan bersandar ke tembok. Mataku menatap nanar ke arah ruangan nininya itu.