My Boyfriend Is A Vampire

My Boyfriend Is A Vampire
MBV 55



Sam menatap Annabele yang terbaring tak sadarkan diri. Ia sengaja membawa gadis itu ke apartemennya, karena tak mungkin membawanya pulang atau ke rumah sakit. Tentu saja kondisi luka Annabele yang tak biasa, akan menjadi pertanyaan bagi para tenaga medis.


Sam menatap jepit rambut yang pernah dikenakan Bella, masih bisa merasakan darah hangat Bella yang pernah membasahi tangan. Ia ingat tiap embusan napas serta senyum gadis itu semasa hidupnya.


Annabele sudah tak sadarkan diri lebih dari semalam. Sam sendiri sudah mengobati luka Annabele, karena tentunya dia memiliki obat yang lebih ampuh dari pengobatan para medis.


Sam bangkit dari duduk ketika melihat pergerakan jemari Annabele, langsung meraih telapak tangan dan menggenggam erat.


"An, bagaimana perasaanmu?" tanya Sam ketika melihat kelopak mata Annabele mulai bergerak.


Annabele mencoba membuka kelopak mata, hingga melihat Sam yang tersenyum padanya. Seketika Annabele panik, terutama saat ingat jika Sam adalah vampir.


"Jangan mendekat!" Annabele menjadi takut melihat Sam. Karena vampir yang tak membuatnya takut dan waspada hanyalah Cristian.


"Kamu takut padaku?" tanya Sam cemas ketika melihat reaksi Annabele.


Annabele berusaha bangun dengan cepat, tapi sayangnya luka yang belum kering, membuatnya merasakan sakit lagi.


"Agh, agh!" Annabele kembali merasakan nyeri di dada.


"Jangan banyak bergerak, lukamu masih basah," kata Sam mencoba menghentikan Annabele yang bangun secara mendadak.


Annabele tak bisa menghindar, akhirnya memilih membiarkan Sam membantunya duduk. Ia duduk bersandar headboard, sebelum kembali terkejut ketika sadar di mana dia berada.


"Aku di mana?" tanya Annabele dengan penuh kewaspadaan.


"Kamarku," jawab Sam santai.


"Ke-kenapa di kamarmu? Kenapa tidak bawa aku ke rumah sakit?" tanya Annabele tergagap.


"Jika aku membawamu ke rumah sakit, dokter pasti akan menanyakan banyak hal tentang lukamu. Juga, lukamu itu mengandung racun, karena Julie menggunakan racun di kukunya," terang Sam menjelaskan.


Annabele terdiam mendengar penjelasan Sam, hingga kemudian sadar akan sesuatu.


"Tunggu! Siapa yang mengobatiku?" tanya Annabele sedikit panik.


"Aku," jawab Sam.


"Lalu, siapa yang mengganti pakaianku?" tanya Annabele dengan tatapan penuh harap, jika bukan Sam yang mengganti.


"Aku yang mengganti," jawab Sam tanpa dosa.


Annabele terkejut dengan mulut menganga, dada bagian kirinya terbalut perban dengan rapi, pakaiannya sudah berganti menjadi hanya kemeja. Dia syok ketika mengetahui jika yang melakukan semua itu adalah pria yang duduk di hadapannya, pria yang selama bertahun-tahun ini menjadi temannya.


"Kalau bukan aku, lalu siapa? Tidak ada yang bisa mengobati lukamu selain aku, karena tentu saja racun itu bukan racun biasa. Memangnya aku akan berdiam diri melihatmu terluka dan perlahan mati," ujar Sam menjelaskan. "Lagi pula, aku mengganti pakaianmu dengan cepat. Aku tidak melihat apa pun, meski melihat, dulu juga sudah pernah lihat," imbuh Sam dengan suara lirih di akhir kalimat.


Annabele semakin membulatkan bola mata lebar, tak mengerti dengan maksud 'dulu sudah pernah melihat'. Wajah Annabele memerah menahan malu, bagaimana bisa Sam mengakuinya begitu mudah.


"Sam! Apa kamu ini tidak punya urat malu!" bentak Annabele yang kesal.


Sam terkejut mendengar Annabele berteriak, sepertinya tidak sadar jika Annabele tentu menganggap Sam pria dewasa. Sedangkan dalam pikiran Sam, menganggap Annabele adik kecilnya. Keduanya memiliki cara pandang berbeda.


Annabele bicara dengan dada naik turun menahan amarah. Hingga ingat siapa Sam, dan otaknya berpikir polos.


"Apa vampir punya rasa malu?" tanya Annabele tiba-tiba.


"Tentu punya," jawab Sam yang merasa kalau pertanyaan Annabele begitu aneh.


"Lalu, kenapa kamu sembarangan mengganti pakaianku? Maksudku, apa kamu tidak merasa malu jika melihat--, umm ...." Annabele menjeda ucapannya, merasa susah mengatakan apa yang sudah ada di pikiran.


"Untuk apa malu, aku juga tidak bermaksud lain. Ada beberapa hal yang tidak mungkin akan kamu mengerti jika diceritakan, jadi lebih baik tidak tahu alasannya," kata Sam menatap Annabele yang masih dalam mode waspada.


Annabele memegang dada yang terluka, hingga penasaran dengan cara Sam mengobati, karena pria itu berkata jika dokter tidak bisa mengobati luka Annabele yang terkena racun


"Lalu, bagaimana caramu mengobati? Bukankah kamu bilang dokter tidak punya obatnya?" tanya Annabele lirih. Meski dirinya malu karena Sam melakukan semuanya sendiri, tapi tetap berterima kasih karena pria itu menolongnya.


"Mengeluarkan racunnya dari aliran darahmu terlebih dahulu," jawab Sam santai.


"Mengeluarkan racunnya?" Annabele mengernyitkan dahi.


"Ya, dengan cara mengisap darah yang terkontaminasi, baru memberinya obat." Sam menjelaskan prosesnya.


Annabele membulatkan bola mata lebar, pikirannya melayang ketika mendengar kata 'mengisap'.


"Mengisap, di dada?" Annabele merasa butuh lubang burung unta untuk menyembunyikan kepala dan wajah.


Annabele langsung berbaring dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh sampai kepala.


"An, ada apa?" tanya Sam bingung dengan sikap Annabele.


"Sam! Kenapa kamu begitu tega?" Annabele berteriak kencang dari balik selimut.


Sam kebingungan mendengar Annabele berteriak. Ia sampai menggaruk kepala tidak gatal.