My Boyfriend Is A Vampire

My Boyfriend Is A Vampire
MBV 51



"Pacar vampirmu benar-benar tidak di sini bukan?" Julie bicara seraya melangkah maju.


Annabele yang tahu jika kini temannya itu sudah berubah menjadi vampir, memilih melangkah mundur ketika Julie maju.


"Bagaimana kamu bisa berubah seperti ini?" tanya Annabele yang penasaran dengan apa yang terjadi pada temannya itu.


"Anggap saja aku beruntung. Aku ingin bunuh diri, tapi ada yang menawariku sebuah kesempatan. Aku diberi kehidupan baru, tapi juga menyerahkan hidup lamaku. Dia hanya butuh kesetiaan, dan aku pun menyanggupinya," jawab Julie dengan senyum menyeramkan di wajah.


"Kamu tahu ini salah, Jul. Bahkan, apa kamu tahu kalau ibumu meninggal?" tanya Annabele.


"Tahu, tentu aku tahu karena akulah yang telah membunuhnya. Aku butuh darah segarnya." Julie menjawab begitu santai, seakan kini hanya ada iblis jahat yang berada dalam dirinya, tak ada lagi kata ampun atau kasih meski itu untung orangtuanya sendiri.


Annabele terperangah dengan pengakuan Julie, bagaimana bisa temannya itu membunuh orangtuanya sendiri hanya demi meminum darahnya.


"Kenapa kamu berubah menjadi iblis?" tanya Annabele yang tak mengerti, kenapa rasa benci Julie bisa membuat jadi seperti itu.


"Berhenti membahas diriku!" bentak Julie. "Aku datang ke sini karena ingin membalas dendam, bukan untuk menguak kenapa dan apa yang terjadi padaku."


"Aku senang melihatmu sendiri, bukankah kini pacarmu itu mencampakkanmu!" Julie berhenti melangkah, menatap serta melihat kegelisahan di wajah Annabele.


"Tidak ada yang mencampakkanku," ujar Annabele yang ikut berhenti melangkah mundur.


"Benarkah? Apa kamu tidak tahu, kalau kekasihmu itu sudah ditakdirkan dengan orang lain? Dia memiliki jalan hidup yang tidak bisa dilanggarnya, apa dia tidak memberitahumu?" Julie memberitahukan apa yang diketahui.


"Apa aku harus percaya dengan yang kamu ucapkan? Dari mana pula kamu bisa tahu akan hal itu?" tanya Annabele menyelidik.


"Anggap saja aku bertemu dengan seseorang yang terikat dengannya, kemudian seseorang ini memberitahuku segala hal, lantas memintaku meleyapkanmu dari hidup kekasihmu itu. Meski tanpa diminta pun, aku akan dengan suka rela melenyapkanmu dari dunia ini!" Julie menyeringai, matanya sudah memancarkan api kebencian, bahkan kini dua taring terlihat menyembul di antara permukaan bibir.


Annabele bersiap berlari, tapi tetap saja gerakannya takkan secepat Julie yang sudah menjadi vampir dan memiliki kemampuan lebih. Julie mencengkeram leher Annabele, lantas mendorong hingga punggung Annabele membentur dinding.


"Apa ini setim-pal?" tanya Annabele terbata.


"Tentu setimpal," jawab Julie dengan senyum penuh kemenangan. "Aku kini memiliki hidup abadi, bahkan senjata apa pun tidak akan bisa membunuhku. Bukankah ini mengesankan?"


Annabele memejamkan mata, merasakan lehernya yang tercekik hingga membuat aliran oksigen ke paru-parunya terhalang. Ia mulai kehabisan napas, apalagi Julie semakin menekan cengkeramam di leher.


"Menyenangkan sekali melihatmu mati kesakitan seperti ini."


Saat Annabele berpikir jika dia akan mati dan mungkin takkan pernah memiliki kesempatan melihat Cristian lagi, saat itu pula tiba-tiba dia terjatuh ke tanah. Julie melepas tangan dari leher Annabele, karena ada yang menyerangnya secara langsung.


"Beraninya--" Julie begitu murka ketika ada yang menyerangnya. Namun, seketika kalimat yang ingin keluar dari bibir itu tersekat di tenggorokan begitu melihat siapa yang mendorongnya.


Annabele yang terjatuh ke tanah, memegangi leher yang terasa begitu panas. Ia mendongak untuk melihat siapa yang berdiri di hadapan dan menghalau Julie menyerangnya lagi.