
"Apa kamu tidak ingin menjadikan Bella sama seperti kita? Aku mencemaskan keselamatannya," kata Sam pada ayahnya.
"Bella memang memiliki setengah jiwaku, tapi selama ini dia hidup sebagai manusia. Ada darah yang mengalir di urat nadi, serta ada napas yang berembus hangat. Aku tak berniat merubahnya, karena hidup menjadi seorang vampir bukanlah hal baik dan patut dipilih."
Sam terlihat berpikir ketika mendengar ucapan ayahnya. Ia hanya ingin Bella memiliki kemampuan, tak ingin jika suatu saat ada yang berniat mencelakai.
Ini sudah berhari-hari semenjak Sam melarang Bella keluar dari kastil. Sejak itu pula Bella tak pergi kemanapun, terus di bangunan tua itu, memasak, melukis, bahkan membersihkan apa yang sudah dibersihkan sebelumnya.
Sam berjalan menuju kamar Bella, hendak melihat keadaan adik yang sangat disayanginya itu.
"Bella, apa kamu ingin makan sesuatu?" Sam membuka pintu kamar gadis itu, tapi sayangnya tak mendapati Bella di sana.
"Bella!" teriak Sam memanggil.
Sam menduga jika Bella pasti menemui Cristian. Ia pun segera pergi untuk mencari keberadaan adiknya itu. Ketika Sam sampai di tempat Bella dan Cristian pernah bertemu, ia harus menyaksikan sang adik tercinta sudah berlumuran darah dalam pelukan Cristian.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" Sam yang murka langsung menarik Cristian, melayangkan pukulan hingga Cristian terdorong mundur ke belakang.
Sam berjongkok, memeluk dan mencoba membangunkan Bella yang sudah tak bernyawa.
"Kamu membunuhnya!" teriak Sam dengan kedua tangan gemetar memeluk tubuh Bella yang sudah dingin.
Cristian menangis. Ia menjatuhkan lutut dengan kepala menunduk.
"Aku bersalah, tidak pernah berpikir jika akan membuatnya kehilangan nyawa." Cristian bicara dengan suara isakkan, sangat menyesal dengan hal yang menimpa Bella.
"Aku pantas mendapatkannya." Cristian sudah pasrah, bahkan jika harus mati pun dia rela.
Sam sudah mengeluarkan cakar, hendak mencabik-cabik tubuh pria penyebab adiknya meninggal. Namun, ada sesuatu yang membuat Sam menghentikan aksinya, ia melepas cengkeraman dengan sedikit mendorong tubuh Cristian.
"Kematian hanya akan membawamu tidur abadi. Kamu tidak akan pernah merasakan penderitaan atau kesedihan Bella, karena itu hiduplah dengan penyesalan. Penyesalan karena telah membuatnya mati!"
Sam meninggalkan Cristian yang terduduk dengan kepala menunduk. Ia memilih membawa tubuh Bella, berharap masih ada harapan untuknya menghidupkan lagi gadis itu, meski dengan identitas yang berbeda.
Namun, sayangnya semua harapan dan keinginan Sam harus pupus. Arwah Bella sudah menyeberang ke alam baka, gadis itu sudah ikhlas untuk mati, karena itu dia tidak memiliki beban dan bisa langsung pergi. Sam tak bisa menerima itu, tetap berusaha membuat Bella hidup karena dirinya merasa sangat menyayangi gadis itu.
"Dia sudah menyeberang, bahkan sudah rela untuk mati. Lalu, apa yang kamu inginkan?!" tanya penjaga alam baka ketika Sam nekat menyerobot ke alam itu.
"Aku hanya ingin melihatnya sekali lagi, aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya. Bagaimana bisa dia tidak memiliki beban? Bagaimana bisa dia tidak memikirkan 'ku?" Sam berlutut di depan penjaga alam baka, berharap masih diberi kesempatan untuk melihat dan menjaga Bella.
"Meskipun dia berenkarnasi, tapi dia tidak akan menjadi adikmu. Dia akan menjadi orang lain, melupakan masa lalunya, menjadi manusia dengan jiwa baru."
Sam mencengkeram kedua lutut, rasanya masih terasa begitu menyiksa ketika melihat adiknya itu meninggal.
"Tidak masalah, asal bisa melihatnya tersenyum, bernapas, serta merasakan hangat tubuhnya. Aku tidak mempermasalahkan meski dia menjadi orang lain dan tak mengenalku, aku hanya butuh berada di sampingnya," ujar Sam meyakinkan.
"Baiklah, tapi semua tidak ada yang cuma-cuma, satu nyawa harus ditebus dengan hal yang paling berharga dalam hidupmu. Apa kamu sanggup?"
Sam mengangguk, hingga pada akhirnya menyerahkan separuh umur yang sudah digariskan untuknya, juga dia mengikat satu perjanjian lagi, Sam tidak diperbolehkan membunuh bangsanya sendiri, atau dia akan langsung diseret ke neraka.