
Melodi terus saja tersenyum memandangi Dio, padahal mereka sudah sampai didepan rumah Melodi. Gadis itu tak mau turun, ia masih ingin menghabiskan waktunya bersama Dio.
"Kak Dio, jalan yuk"
"Kan udah"
"Lagi dong, bentar banget jalannya"
Dio turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Melodi. Jika ia tak melakukan itu, pasti Melodi tak akan turun dari mobilnya. Dengan kesal gadis itu turun dari mobil, walau ada sedikit rasa tak rela.
"Makasih, Kak Dio hati-hati ya pulangnya"
Pemuda itu mengangguk lalu pergi melajukan mobilnya meninggalkan rumah Melodi.
Dengan langkah ringan dan riang gembira, Melodi berlari memasuki rumahnya. Memanggil-manggil sang Mama dan Bibinya. Ia sangat senang hari ini, dengan senyuman lebar ia menceritakan semua yang terjadi pada Mama dan Bibinya.
"Wah, ajak pacarnya kemari Non, Bibi mau lihat langsung" ujar Titin.
"Iya Bi, saya juga mau lihat. Massa Papanya doang yang bisa lihat calon menantu" goda Kania.
Melodi berteriak kegirangan, ia tak pernah menyangka jika semua ini akan terjadi. Sudah lebih dari satu tahun lamanya Melodi berusaha untuk mendapatkan tempat di hati Dio. Apapun ia lakukan demi terlihat istimewa Dimata pemuda cuek itu.
Gadis itu sudah tak sabar menunggu esok hari, ingin sekali Melodi menghabiskan waktu bersama Dio lagi. Sembari menunggu hari berganti, Melodi membaca buku pelajaran hari ngga tertidur.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Sayang, bangun yuk, udah pagi" teriak Kania seraya mengetuk pintu kamar Melodi.
"Iya Ma" sahut Melodi. Ia mengerjapkan matanya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
Setelah mandi dan mengenakan seragam, Melodi segera turun kebawah untuk sarapan. Adam dan Kania sudah menunggunya di meja makan.
Semalam Adam ingin sekali menemui putri tunggalnya, tetapi karena pulang larut malam, Melodi sudah tertidur. Jadilah Adam yang membereskan semua buka bacaan sang putri.
"Ehem, sekarang gak perlu dijemput Papa lagi nih" goda Adam.
"Kenapa? Emangnya Papa mau keluar kota?" Tanya Melodi. Mulutnya sudah penuh dengan nasi goreng kesukaannya.
Kania tertawa mendapati putrinya yang lupa jika dirinya dan Dio telah memiliki hubungan. Beliau yakin jika Melodi berpikir itu semua hanyalah mimpi.
Benar saja, sesaat setelah selesai makan, Melodi menceritakan mimpi yang membuatnya merona dipagi hari. Mimpi dimana dirinya dan sang idola berkencan. Gadis itu terlihat begitu antusias, hingga Kania, Adam dan Titin tak kuasa untuk menyelanya.
Seperti biasa, Melodi berangkat diantar Papa. Ia akan menunggu didepan gerbang masuk, hingga para anggota LP datang.
Saat melihat anggota LP datang, Melodi berpura-pura tak melihat mereka. Ia ingat harus menjauh dari para idolanya, hanya luka itu yang Melodi ingat.
"Pagi Mel" sapa Kenzi dan Daffin berbarengan.
"Pagi Kak" sahut Melodi sambil menatap lantai.
Ditengah ia menatap lantai, ada sebuah kaki yang berjalan mendekati. Melodi pikir itu pasti Kenzi, tetapi sepatu yang dikenakan adalah sepatu Dio. Ia pun memberanikan diri untuk menatap siapa yang mengenakan sepatu tersebut.
"Uwa, Ka..ka.k Di..o. A..ada ap..a?" Tanya Melodi gugup.
"Itu bukan mimpi Mel" jawab Dio sambil menunjukkan postingan disosial medianya. Ia tahu jika kekasihnya itu pasti berpikir jika semua yang terjadi kemarin adalah mimpi. Sebab pagi-pagi sekali, Melodi mengunggah sebuah story yang menyatakan dirinya memiliki mimpi indah.
Melodi sangat malu karena hal itu, sebab ia masih tak percaya bisa menjalin hubungan dengan Dio.
"Kalian beneran pacaran?" Sela Nathan yang sudah berdiri didekat mereka.
Melodi masih tersipu malu, ia cekikikan sambil menghentakkan kakinya karena gemas. Sedang Dio mengiyakan pertanyaan Nathan dengan dingin seperti biasanya.
"Loe gak pantas buat dia, awas aja kalau loe berani buat dia nangis" bisik Nathan lalu pergi berlalu setelah berpamitan pada Melodi. Sikapnya benar-benar berbeda dihadapan Melodi dan Dio.
Daffin yang sudah lelah menunggu, mendorong kedua pasangan baru itu untuk segera masuk kedalam sekolah. Dio dan Melodi berjalan beriringan seperti biasanya, tapi kini Melodi terlihat lebih pemalu dari biasanya.
Lisa kembali menggoda Melodi, bukannya memegang tangan Dio, gadis itu malah memegangi tas kekasihnya. Pasangan yang konyol.
Setelah mendengar ucapan Lisa, Melodi menatap tangan Dio. Ingin sekali rasanya ia menggenggam tangan itu, tapi rasanya ia masih tak pantas.
"Kak Dio, Melodi mau gandengan tuh" celetuk Lisa.
Sontak saja Melodi menghentikan jalannya dan memutar badannya tepat menghadap Lisa. Ah, wajahnya kembali merona merah.
Melodi merasakan seseorang sedang menarik kepalanya untuk berjalan mundur. Ia menatap Dio dan menggeleng cepat, menyangkal semua perkataan Lisa.
Dio memang tidak menggandengnya, tetapi pemuda itu malah merangkul pundak Melodi dan berjalan beriringan. Mata Melodi menatap tangan Dio yang ada dibahunya, lalu beralih memandang wajah sang kekasih.
"Kalau gak suka bilang ya" bisik Dio.
"Suka banget tau Kak"
"Mel, jangan berubah. Tetap jadi Melodi yang ceria kayak dulu. Gak cocok loe jadi cewek pemalu"
"Aaaahhh, kamu apa'an sih rese'" rengek Melodi manja.
Sontak saja anggota LP dan Lisa berdehem berbarengan. Sebab Melodi dan Dio nampak asik berbisik-bisik sendiri. Kenzi bahkan berusaha untuk berdiri diantara keduanya, sayangnya Daffin menahan pemuda itu agar tak bersikap konyol.
Setelah sampai didepan tangga, Dio melepaskan rangkulannya. Ia menyuruh Melodi untuk segera masuk kedalam kelas.
"Nanti makan bareng ya" pinta Melodi.
Dio mengangguk menyetujuinya. Gadis itu tersenyum semakin lebar, lalu mengajak Lisa untuk segera pergi ke kelas mereka.
Selama perjalanan menuju kelas, Melodi tak henti-hentinya berbicara. Menyampaikan pada Lisa betapa ia tak mempercayai semua ini. Padahal Dio selalu menghindar kala Melodi mencoba dekat, tetapi sekarang, Dio sendiri yang mengajaknya berkencan.
"Cewek sialan" celetuk Friska yang sudah berdiri didepan kelas Melodi bersama gengnya. Ia berjalan mendekati Melodi, menatap matanya tajam mengobarkan kebencian.
Sekarang apalagi salah Melodi? Ia tak dekat dengan Nathan ataupun Kenzi. Sebab ia sudah memiliki Dio sekarang. Tapi Friska dan gengnya masih saja membuat ulah.
"Loe apain si Dio sampai mau jadi cowok loe, pasti loe kasih semua milik loe kan? Cih cewek murahan"
"Mau loe apa sih Kak?"
"Gue mau loe pergi dari dunia ini bangs*t" sentak Friska mendorong Melodi dengan keras.
Semua murid menatap kejadian itu, tak ada yang berani menolong Melodi. Mereka enggan berurusan dengan Friska dan gengnya.
"Salah apa gue?"
"Karena loe berani ngerebut cowok yang Joy suka"
"Terus masalahnya dimana? Gue suka sama Melodi" sahut Dio sembari berjalan mendekat. Ia tahu Friska tak akan melepaskan Melodi begitu saja, setelah apa yang Dio lihat kemarin.
Dio membantu kekasihnya berdiri, ah gadisnya masih saja diam dan menerima semua perlakuan buruk Friska. Ia menatap Friska dengan tajam, dan dalam hitungan detik, cewek-cewek rusuh itu pergi meninggalkan kelas Melodi.
"Aku..."
"Ssstt, loe gak ngerebut gue dari siapapun. Gue dan Joy gak ada hubungan apa-apa"
"Tapi kan, mereka tahu aku dari dulu suka Kak Dio"
"Itu cuma alasan mereka buat nyakitin loe Mel"
Melodi mengangguk mengerti, mungkin memang Friska masih sangat marah kepada dirinya. Sebab itulah Friska mencari berbagai alasan agar bisa menyakiti Melodi.
"Kalau ada apa-apa kasih tahu gue ya" pinta Dio sambil merapikan rambut kekasihnya.