Melodious

Melodious
M - 21



Akhirnya makanan tiba, sate kelinci keinginan Melodi datang. Dio tampak ragu memandangi makanan dihadapannya. Walau Melodi sudah melarang, tapi pemuda keras kepala itu tetap bersikukuh.


"Tuh kan, Kak Dio sih, mau makan apa gak?"


"I..iya ini makan" jawab Dio ragu. Ia mengambil satu tusuk dan menggigitnya perlahan. Belum saja ia makan, Dio menaruh kembali makanannya.


Melodi membuang napasnya kesal, ia memanggil waiters dan memesankan steik untuk Dio.


"Makanya kalau gak suka jangan coba-coba deh, Kak Dio tuh selalu aja..."


"Kamu marah Mel?"


"Eng..enggak kok. Cuma... cuma kan ini anu..."


"Ya marah lah Dio, kamu dibilang gak nurut. Udah makan aja Mel, Dio memang keras kepala" sela Pasha.


Gadis itu mengangguk dan melanjutkan makannya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kesal itu. Walau sudah berusaha, tapi wajah Melodi tak bisa berbohong. Dio hanya diam memandangi Melodi yang sibuk makan.


"Pasha, wah, kau menculik anakku?" Goda Adam yang baru saja tiba.


"Hahaha, duduklah, sepertinya tuan putri mu yang tergila-gila dengan pangeran ku"


Candaan kedua Bapak-bapak itu terdengar sangat kuno. Melodi bahkan sampai tersedak mendengar nya. Dio memberikan Melodi minum dan menepuk perlahan punggungnya.


"Kak Dio, aku malu tau, bercandanya gak bingits" bisik Melodi.


Dio tersenyum, ia mengelus rambut Melodi sambil mengangguk-angguk. Ia juga tak suka berada disana, bersama Pasha membuat Dio merasa tak nyaman. Karena kepopulerannya, Dio sering dibandingkan dengan sang Papa.


"Pasha, lihatlah putriku, padahal pagi tadi ia beralasan sakit tak ingin sekolah"


"Memangnya kenapa? Jika putrimu sakit, obatnya anakku bukan? Benarkan Mel"


Ah, candaan garing lagi, tapi itu memang benar. Melodi mengangguk setuju dengan perkataan Pasha. Tidak ada obat yang lebih ampuh di dunia ini selain kehadiran Dio disamping Melodi.


"Tunggu apalagi? Mereka memang jodoh Adam. Kita berniat menjodohkan mereka, tapi Melodi dan Dio membangun sendiri kisahnya"


"Hahaha, aku berkali-kali bilang padamu, Melodi tak mau dijodohkan. Ia terus menolak dan merengek, bahkan bertemu dengan pria brengsek"


"Bukankah itu tujuanmu mencarikan putrimu jodoh?"


"Kau benar, aku tidak mau dia bertemu dengan pria brengsek lagi. Hati seorang Papa mana yang tak terluka, jika putri kesayangannya dipermainkan"


Dio hanya diam menatap kedua orang tua dihadapannya. Sedangkan Melodi, ia masih sibuk dengan sate kelinci yang ingin ia makan.


Adam melirik ke arah Dio sejenak, kemudian beralih pada Pasha. Ia memuji betapa miripnya Dio dengan Pasha. Pemuda yang mengagumkan dan sangat berbakat.


"Jadi, kau akan memberikan putrimu pada putraku atau putra Anton?"


"Terserah dia saja, lagipula lihatlah putriku, dia bahkan tidak tertarik dengan pembicaraan kita" jawab Adam seraya menggerakkan kepalanya kearah Melodi.


Gadis itu masih sibuk makan sambil memainkan ponselnya.


"Mel, kau akan dijodohkan dengan putra Om Anton" celetuk Dio sembari menarik kepala Melodi agar menghadapnya.


"Om Anton? Putranya? Ha? Raga?"


"Hm..."


"Hm? Apa Kak Dio gila? Mana mungkin aku dijodohkan dengan nya. Papa, no, kami berteman dekat, nikahkan saja aku dengan Kak Dio. Iya kan?"


"Gak"


"Aaaahhh Kak Dio ih" rengek Melodi kesal. Ia menatap Dio dengan raut wajah cemberut dan memukul-mukul tangan Dio.


Adam menatap Pasha sambil tersenyum, putrinya sudah menentukan pilihan. Adam tak ingin ikut campur kisah cinta Melodi, ia hanya bisa memastikan jika putrinya itu tak dekat dengan cowok sembarangan.


Drrrtttt....


Ponsel Melodi berdering, ada panggilan masuk dari Kania.


Kania : "Sayang, kamu lagi apa?"


Melodi : "Makan Ma, diluar sama Papa"


Melodi : "Papa ngenalin Mama baru ke aku" (Sambil tersenyum menatap Adam)


Terdengar suara Kania yang marah-marah, Adam membelalakkan matanya dan langsung merebut ponsel Melodi. Anak nakal ini, candaannya sangat tak biasa.


Bukannya minta maaf, Melodi malah mengajak Dio pergi untuk memesan kue dan es krim. Ia ingin makanan penutup yang manis.


"Mel"


"Apa sayang?"


"Emang kamu mau kalau kita dijodohin?"


"Tergantung"


"Hm..."


"Kalau Kak Dio mau, aku gak nolak" jawab Melodi santai. Ia bergegas kembali setelah memesan beberapa kue.


Adam sudah terlihat dengan wajah garangnya. Melodi tertawa canggung sambil berjalan dibelakang Dio. Walau takut, ia tak bisa untuk tidak tertawa.


"Papa ganteng banget sih malam ini" puji Melodi.


"Massa? Yakin kamu? Kalau sama Pasha ganteng mana?"


"Sama-sama ganteng kok, tapi tetap..."


"Papa paling ganteng kan Mel?"


"Kak Dio lah, hahaha"


Adam menjitak kepala putrinya. Bisa-bisanya gadis itu memuji lalu menjatuhkan dirinya begitu saja.


Setelah makan malam, Melodi harus berpisah dengan Dio. Padahal ia masih ingin menghabiskan waktunya bersama sang kekasih.


Selama perjalanan pulang, Melodi terus berbicara sendiri. Menanyakan mengenai kebenaran perjodohan yang hendak Adam lakukan. Gadis itu sangat bersemangat, tapi Adam hanya berdehem membalas pertanyaan Melodi. Ia masih marah karena putrinya yang nakal.


"Papa masih marah ya? Maaf Pa"


"Awas aja kalau sampai Mama kamu mikir yang nggak-nggak. Jangan gitu Mel, Mama kamu kalau marah galak, kamu pakai acara bohong segala"


"Iya Papa ku sayang, nanti aku jelasin ke Mama lagi deh, sekalian minta maaf"


Adam hanya berdehem membalas pernyataan putrinya. Awalnya ia memang berniat menjodohkan Melodi, karena gadis itu adalah putri tunggalnya. Menjadi Ayah seorang gadis sangatlah sulit, terlebih saat putrinya harus bertemu dengan banyak pria.


Adam juga seorang pria, ia tahu benar sifat laki-laki. Saat mereka berkata hanya mencintaimu, kaulah satu-satunya, Adam sudah hafal dengan tipu muslihat seperti itu. Karena dulu, Adam tak ada bedanya dengan mereka.


Tapi, pandangannya sedikit berubah. Kala melihat Dio yang begitu berani mengajak putrinya berkencan dihadapannya. Meminta ijin lebih dulu pada Adam dan Kania.


"Mel, Dio itu kayak apa?"


"Kak Dio ya, hm..., dia emang kelihatan dingin sih Pa. Tapi sebenarnya, dia itu manis banget, Kak Dio itu baik, perhatian, my perfect husband"


"Nih anak ya, Papa turunin baru tahu rasa kamu, kayak Dio mau aja nikah sama kamu"


Melodi tertawa mendengar pernyataan menyakitkan itu. Ia kemudian terdiam dan kembali mengingat kenangan bersama Dio.


"Papa tahu gak, kenapa aku terus ngejar Kak Dio walau dia nolak berkali-kali?"


"Karena kamu tergila-gila sama sama Dio"


Gadis itu tertawa, mungkin memang benar. Tapi, Melodi lebih tertarik lagi dengan Dio sebab pemuda itu, sangat mengagumkan.


"Pa, aku pernah pulang naik bis sendirian. Yang aku cerita ke Papa itu, cowok yang nolongin aku dan jagain aku di bus itu Kak Dio, Pa"


"Oh ya? Massa sih? Kamu tahu darimana?"


"Aku kan penggemarnya Kak Dio, jangankan dia nyamar Pa, bau parfumnya aja aku tahu. Mau nyamar segimanapun, aku bisa tahu kalau itu Kak Dio"


"Dih, gaya kamu Mel. Iya deh yang cinta banget sama Dio. Sampai tega lupain Papa nya"


Jelas aku tahu Pa, gantungan yang ada ditasnya kan yang punya cuma anggota LP, ada nama Dio juga disana. Bego bet Kak Dio, batin Melodi.