
Hari berganti...
Melodi tengah bersiap untuk kencan dengan Dio. Ia begitu lama memilih pakaian di kamar, padahal Dio sudah menunggu sedari tadi.
"Kak Dio, aku kelihatan cantik gak?" Tanya Melodi menunjukkan pakaian yang ia kenakan pada Dio dan Kania.
Kania mengangguk dan mengatakan jika Melodi terlihat sangat cantik. Dio menatapnya sebentar dan berkata, "Tidak, itu terlalu pendek. Ganti bajumu"
Melodi kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Kania sejenak menatap Dio, ia pikir pemuda itu akan senang jika Melodi mengenakan pakaian yang terlalu terbuka. Tapi sekali lagi pikiran negatif Kania tentang Dio terpatahkan. Harusnya Kania memahami, ia hanya bisa menilai Dio dengan apa yang ia lihat secara langsung, bukan mendengarkan dari orang lain.
"Maaf Tan, aku tidak bermaksud menyakiti Melodi. Hanya saja, aku tidak nyaman jika pakaian nya terlalu terbuka"
"Ah, jika kau tidak menyukainya, kau harus mengatakannya Dio. Sebab Melodi akan berharap jika jawabanmu tidak pasti"
"Baik Tan, aku mengerti"
Tak butuh waktu lama, Melodi turun dengan dress selutut. Ini lebih baik daripada rok super pendek yang dikenakannya tadi. Tapi wajah gadis itu malah cemberut kesal.
"Hm... Gak kelihatan seksi dong kalau gini" oceh Melodi kesal.
"Boleh pakai yang tadi, tapi kita tidak keluar rumah. Bagaimana?"
"Ih, mana bisa gitu, Kak Dio curang"
Kania menjewer telinga putrinya, ia mencoba menjelaskan pada Melodi jika Dio sangat menyayangi nya. Dio tak ingin ada pria lain yang menatap Melodi, hal itu akan membuat Dio cemburu dan merusak hubungan mereka. Seperti itulah cara Kania mencoba membuat anak gadisnya mengerti. Melodi kembali tergila-gila dengan sosok Dio.
Hari ini, Dio mengajak sang kekasih untuk menghadiri acara ulang tahun temannya. Tidak hanya Dio, tapi Daffin yang memang satu sekolah dengan Dio saat SMP turut hadir. Sebenarnya LP diundang untuk perform, namun sayangnya anggota LP yang lain ada acara mendesak. Sebab itulah mereka tak bisa menerima undangan tersebut. Melodi ingin tampil secantik mungkin, ia tak ingin kalah saing dengan teman-teman Dio lainnya.
Acara ulang tahun itu diadakan pada sore hari, ketika matahari masih menyinari. Tempat acara terlihat indah dan menyenangkan, ditambah kolam renang yang dihias dengan cantik dan ceria. Melodi sempat tertegun sejenak kala melihat pemandangan yang sedikit membuatnya tak nyaman.
Benar, temanya adalah kolam renang, ada banyak yang datang dan menggunakan pakaian renang. Melodi sudah tahu tentang temanya, tapi ia tak mengira akan seterbuka ini.
"Kak Dio"
"Hm.. Apa sayang?"
"Hm, apa sebaiknya aku pulang aja ya? Soalnya..." ujar Melodi tampak ragu seraya memandangi sekitarnya.
"Karena itulah aku mengajakmu, aku tak ingin kamu salah paham. Tidak apa, jangan pedulikan mereka, akan aku kenalkan pada teman-teman ku"
Dio merangkul pundak Melodi dan mengajaknya berkeliling. Mencari dimana teman-teman Dio berkumpul saat ini. Setelah cukup lama mencari, akhirnya Dio bertemu gerombolan temannya. Disana juga sudah ada Daffin, mereka tampak mengenakan pakaian santai.
"Oi Dio, wah, siapa tuh" seru salah seorang teman Dio.
"Hai Mel, cantik banget hari ini" puji Daffin.
"Makasih Kak, hehe"
Dio memperkenalkan Melodi pada temannya, mereka terlihat begitu antusias, membuat Dio semakin was-was. Pujian demi pujian Melodi dapatkan, teman-teman Dio memang tahu cara merayu seorang perempuan.
"Dio, hai, makin ganteng aja loe" celetuk salah seorang wanita yang mengenakan pakaian renang. Ia bersama dua wanita lainnya, pakaian mereka terlihat begitu seksi dan menggoda. Tapi sayangnya, Dio tak tertarik sama sekali. Pemuda itu hanya berdehem, dan kembali memeluk erat Melodi.
"Dia cewek loe? Serius? Gak sebanding sama gue. Mending loe putusin dia, gue mau kok jadi cewek loe" ujar wanita itu lagi. Ia mulai menyentuh Dio dengan sikap manja menjijikkan itu.
"Dia emang gak sebanding sama loe. Dia sangat istimewa, karena itu dia jadi cewek gue" jawab Dio sinis.
"Artinya, loe gak istimewa. Jadi mending loe cari mangsa lain sana, jijik kita" sahut Daffin seraya mendorong ketiga wanita itu pergi.
Melodi merasa tak nyaman disana, ia hanya diam dan terus menggenggam tali tas yang dikenakan. Jelas sekali terlihat jika Melodi risih, situasi yang dibencinya. Dio memperhatikan gerak-gerik kekasihnya, Melodi memang tak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia terlalu terbuka akan mengekspos apa yang dirasakan.
Dio turun dari kursinya, ia berpamitan pada salah seorang temannya yang merupakan bintang utama di pesta itu.
"Yaelah kok cabut sih, baru juga sebentar. Main dulu lah" ucap bintang utama pesta tersebut.
"Sorry ya, gue gak nyaman disini"
"Ntar gue usir tuh cewek-cewek, asal loe jangan pergi. Serius nih gue panggil keamanan buat usir mereka"
"Jangan Kak. Aku gak apa-apa kok Kak, kita disini aja"
Dio menghela napasnya perlahan, selalu saja Melodi memikirkan perasaan orang lain. Dio memeluk erat kekasihnya itu, mencium pucuk kepala Melodi dan berbisik, "Aku mencintaimu, karena aku tahu seperti apa dirimu. Jangan dengarkan kata orang"
Melodi tertawa kecil mendengar bisikan itu, ia membalas pelukan Dio dengan erat. Mereka berdua sukses membuat teman-teman Dio merasa iri. Terlebih, mereka tak pernah melihat Dio seperti ini dengan seorang wanita. Dio sangat menyayangi Melodi, sangat, itu sikap yang bisa dilihat oleh semua orang.
Setelah beberapa waktu berlalu, pesta semakin seru. Beberapa penampilan disuguhkan untuk para tamu undangan. Berbagai macam makanan dan minuman juga dihidangkan. Melodi juga tampak asik menikmati pesta, ia duduk duduk bersama Dio yang lebih memilih tiduran di kursi santai.
Tepuk tangan semakin riuh kala Daffin menaiki panggung. Ia membawa stik drum ditangannya, dan dengan percaya diri, meminta Dio untuk naik kepanggung. Sebagai hadiah untuk teman mereka yang berulang tahun, Daffin ingin memberikan penampilan istimewa.
"Uwaaa, Kak Dio ayooo naik, ayoo Kak" rengek Melodi seraya menggoyangkan tubuh Dio.
Beberapakali Daffin memanggil nama pemuda itu, tapi Dio tak ingin naik kesana. Apalagi bila harus meninggalkan sang kekasih sendiri. Tidak, tidak akan pernah.
"Hm.. baiklah, Dio tidak akan pergi jika dirinya dipanggil seorang diri. Jadi Nona Melodi, bisakah anda menemani Dio diatas sini?" Pinta Daffin dengan nada yang sangat manis.
Melodi tertegun sejenak, ia tertunduk malu dan tak lagi mengusik Dio. Tapi sekarang, giliran Dio yang mengusik dirinya. Pemuda itu menarik tangan Melodi dan berjalan menuju panggung. Tepuk tangan dan sorakan semakin riuh terdengar.
Setelah berada diatas panggung, Daffin menyiapkan kursi untuk Melodi duduk disana. Sedangkan dirinya tentu berada di balik drum, dan Dio sudah siap dengan keyboard dan mic dihadapannya.
Sebelum memulai, Dio memberikan buket bunga mawar yang cantik untuk sang kekasih.
"Untuk kekasihku, ijinkan aku menjadi bagian dari kisahmu. Saat ini, nanti, dan masalalu yang akan datang" ucap Dio kemudian mencium kening Melodi.Ia mulai memainkan keyboard nya, diikuti oleh iringan drum dari Daffin.
Sebuah alunan lagu yang indah mulai terdengar, Melukis Senja - Budi Doremi.
Dengan suara merdu Dio, senyuman lebar diwajah Melodi tak pernah hilang dari pandangan. Sesekali Dio melirik kearah Melodi yang terus menatapnya dengan senyuman.
Adegan romantis ini, jelas tak akan dilewatkan oleh para penikmatnya. Beberapa tamu mulai mengabadikan momen dan memposting nya di sosial media.