Melodious

Melodious
M - 32



"Kak Dio, aku jelek ya" rengek Melodi seraya menunjuk luka didahinya. Ia takut jika luka itu akan meninggalkan bekas disana.


"Iya, kamu emang gak pernah cantik"


"Aaahhh, nakal banget sih, males ah"


Dio tertawa melihat kekasihnya yang marah, ia menarik Melodi dalam dekapannya. Mencium pucuk kepala gadis itu dengan helaan napas panjang. Melodi menatap Dio dengan seksama, ia mengelus pipi pemuda itu dan mencubitnya gemas.


"Tidur gih, besok aku jemput ya"


"Mauuuu, terus jalan-jalan ya. Bilangin ke Papa, mau libur les sehari aja, mau jalan sama Kak Dio. Pliiisss"


Dio membungkam mulut kekasihnya, lalu menidurkan gadis itu. Ia menyelimuti Melodi kemudian pergi setelah memastikan gadisnya baik-baik saja. Dio dan yang lainnya berpamitan pada Adam serta Kania. Mereka merasa lega karena Melodi sudah baik-baik saja.


Setelah semua teman Melodi pergi, Kania kembali masuk ke kamar putrinya. Ia duduk di ranjang samping Melodi, mengelus rambut panjang putri tunggalnya dengan penuh kasih sayang. Sejenak ia lupa jika kini putrinya telah tumbuh dewasa. Tak semua hal bisa Melodi ceritakan pada orangtuanya, terlebih saat sang putri merasa tak nyaman.


"Mel, Mama sayang sekali sama kamu. Saat kamu menikah nanti, Mama mau kamu tinggal bersama dengan Mama. Kau tidak perlu merawat Mama, Mama hanya ingin melihatmu di sisa umur Mama"


Kania menitihkan air mata, membayangkan Melodi jauh darinya saja ia tak mampu. Apalagi jika harus kehilangan Melodi untuk selamanya. Kania ingin Melodi selalu ada di sampingnya, putri kecil Mama. Bahkan dulu ketika Melodi kecil, Kania sempat berpikir untuk homeschooling. Tapi karena Adam membujuknya, Kania pun mengerti dan menyekolahkan Melodi di sekolah biasa.


"Ma, sudah jangan ganggu Melodi. Biarkan dia istirahat, kita olahraga saja yuk" bisik Adam ditelinga istrinya.


Kania meninju pelan perut Adam, ia mengangguk dan mengikuti Adam pergi keluar kamar Melodi. Perlahan mata Melodi terbuka, ia menatap langit kamar yang gelap. Senyum kecil terukir di bibirnya, ia merasa senang dengan pikiran nakal akan segera memiliki seorang adik.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Esok hari menjelang...


Melodi masih tertidur lelap di kamarnya. Suhu badan Melodi tiba-tiba naik, karena itulah ia masih tertidur padahal hari sudah siang. Kania tentu tak tega membangunkan sang putri, terlebih ketika princess nya masih sakit.


Di sekolah...


Dio diam termenung di depan tangga kelas Melodi. Seolah sedang menunggu seseorang disana, walau beberapa murid menegur nya, tapi fokus Dio tak ada disana. Ia tengah mengkhawatirkan gadis kecilnya. Gadis yang selalu berteriak riang gembira kala melihat Dio melintas di depan tangga.


"Kak Dio bucin banget sih Kak" ejek Lisa.


"Gak dengar Lis, kita tampar aja gimana?" Saran Karina.


"Gue denger kok, ada apa?" Celetuk Dio mengagetkan keduanya.


Lisa dan Karina saling pandang lalu tertawa. Mereka menunjukkan sebuah foto pada Dio, meminta pemuda itu melakukan seperti yang ada digambar itu. Tentu Dio awalnya tak yakin, tapi Lisa dan Karina bersikukuh akan membuat Dio dan Melodi semakin dekat. Pada akhirnya Dio pun mempertimbangkan saran kedua sahabat Melodi.


Dio berjalan menuju kantin, bergabung dengan temannya. Ia mengalihkan perhatiannya dengan membicarakan mengenai latihan mereka. Hari ini LP tidak memiliki jadwal manggung, mereka tengah berdiskusi untuk jalan-jalan sepulang sekolah. Terlebih esok hari adalah akhir pekan, pasti menyenangkan menikmati liburan sesaat.


"Melodi masih sakit?" Tanya Kenzi.


"Iya, tadi pagi demam tinggi" jawab Dio.


"Loe mau kerumah Melodi?"


"Iya, ntar gue nyusul kalian. Mau beliin dia sesuatu biar seneng"


"Aah, Kak Dio so sweet banget sih" goda Daffin menirukan Melodi.


Spontan Dio memukul Daffin, ia tak suka jika ada yang mencoba meniru kesayangannya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di rumah Melodi..


"Mel"


"Ada apa Ma?"


"Mama tidak akan melarang mu berpacaran. Tapi Mel, jaga dirimu baik-baik ya sayang. Seorang perempuan itu ibaratkan gelas kaca, sekalinya pecah tidak akan bisa kembali seperti dulu"


"Ada apa sih Ma? Mama aneh banget tau gak"


"Mama khawatir Mel, kamu tau gak anaknya Pak RT. Dia kan seumuran kamu, tapi lihat dia lagi hamil Mel. Sebagai seorang Ibu, Mama khawatir sayang"


"Aku juga mau punya anak dari Kak Dio"


"MELODI"


Melodi terdiam setelah mendengar Kania membentak dirinya. Ia menatap Kania dengan dahi yang berkerut keheranan. Sedangkan Kania mencoba mengatur emosinya. Inilah sebabnya mengapa Kania tak rela melepas anak gadisnya begitu saja. Melodi terlalu tenggelam dalam perasaan nya.


Kalaupun Dio mencoba menahan diri, tetapi jika Melodi lepas kendali. Bukan tidak mungkin Dio juga akan tergoda karenanya.


"Ma, aku hanya bercanda. Aku sudah besar Ma, tenang lah"


"Kau selalu membuat Mama tak bisa tenang"


"Aku akan selalu ingat pesan Mama, janji. Aku sayang Mama" ucap Melodi seraya memeluk Kania erat.


Kania mencoba mempercayai perkataan itu, ia mengelus rambut putrinya dan meminta Melodi untuk segera makan sebelum meminum obatnya.


Hari menjelang sore...


Kini para murid SMA Lila sudah berbondong-bondong keluar sekolah. Seolah ada sesuatu yang menarik mereka untuk pergi ke tempat yang sama. Ke sebuah pusat perbelanjaan yang menjual makanan viral. Makanan yang tengah di gandrungi banyak remaja ini, membuat salah satu outlet di pusat perbelanjaan menjadi lautan manusia.


"Lis, rame banget. Bisa sampai malam kita" ujar Karina seraya memandangi ramainya pengunjung dan nomor antrian mereka.


"237, gila ini mah bisa pulang besok pagi kita Kar" sambung Lisa.


Kedua gadis itu mengedarkan pandangan, ada banyak murid di sekolahnya juga yang ada disana. Tapi seseorang yang sangat familiar membuat mereka ingin mendatanginya.


"Kak Dio?" Sapa keduanya bersamaan.


Dio yang saat itu tengah duduk bermain ponsel pun fokusnya teralihkan. Padahal ia sudah memakai jaket, masker dan topi. Tapi tetap saja kehadirannya bisa di kenali. Beberapa orang yang sadar mulai mengambil ponsel mereka untuk memotret atau memfoto Dio.


"Kak Dio nomor 158? Sekarang udah nomor 150, Kak kita nitip dong Kak" pinta Lisa memelas.


"Iya Kak, boleh ya? Kita nomor 200 an nih, please" sahut Karina.


"Gak bisa"


"Yah, kenapa Kak? Udah ada yang nitip Kak Dio? Ayolah Kak, boleh ya"


"Gak bisa, gue cuma mau beli buat Melodi"


"Tapi kan Kak..."


"Udahlah Lis, biarin aja, kita pergi aja yuk. Banyak yang ngefoto tuh" bisik Karina seraya menarik tangan Lisa menjauh dari Dio.


Kedua gadis itu menggerutu kesal, mereka juga ingin membeli churros berbentuk hati yang tengah viral itu. Tapi hati Dio lebih dingin, ia hanya ingin membeli untuk kekasihnya saja. Manis sekali, tapi tetap saja hal itu membuat Lisa dan Karina merasa kesal pada Dio.