
Andrew pov
Aku tinggal di Amerika sejak aku berumur 13 tahun. Aku dan keluargaku harus pindah karena Ayah yang harus mengurus perusahaannya di sini.
Minggu lalu Mommy memberi tahu kalau aku harus pulang ke Indonesia untuk mempersiapkan pernikahanku.
Awalnya aku tidak menerima perjodohan dan pernikahan yang terbilang mendadak ini. Tapi Bunda memberi tahuku siapa calon istriku. Aku langsung setuju. Dia adalah cinta pertamaku.
Aku tahu dia anak dari teman orang tuaku.
Kami saling mengenal karena Daddy dan Om Richard berteman baik, begitupun Mommy dan ibunya. Tapi aku tidak tahu kalau selama ini mereka sudah berjanji untuk menjodohkan kita.
Jadwal penerbanganku sudah diurus oleh sekretarisku beberapa minggu yang lalu. Dan lusa adalah hari penerbanganku. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan dia lagi.
Setelah sekian lama akhirnya aku bisa dipertemukan dengan dia lagi yang kini akan menjadi istriku.
**
Aku sampai di bandara Soekarno Hatta sore hari. Supir yang ditugaskan untuk menjemputku sudah stand by di pintu kedatangan dengan membawa kertas yang bertuliskan Andrew Sam Robert yang dia pegang di atas kepalanya.
“Pak ayo,” ajakku kepada pak supir yang sedari tadi berdiri.
“Tuan Andrew?” dia menoleh, bertanya untuk memastikan dengan muka polosnya.
“Bukan, Aku Sam”
“Ooh” lalu dia memalingkan kepalanya dariku mengangkat kertas itu lagi.
“Andrew Sam Robert!” aku menaikan intonasi suara.
Kemudian dia melihat lagi kertas bertulisan yang ia bawa sedari tadi itu.
“Oh iya maaf Tuan”
“Apa bapak tidak dikasih foto saya?”
“Sudah dikasih Tuan, tapi kok beda sama yang difoto”
“Coba liat” kemudian Pak supir merogoh kantong mengambil foto.
“Ini Tuan”
“Hahaha siapa yang memberikan foto lamaku ini?”
“Sekretaris Tuan, Mis Renny”
Aku tersenyum membayangkan Renny pasti kebingungan mencari foto terbaruku.
Aku jarang sekali berfoto. Paling kalau ada acara kantor saja yang mengharuskan ada dokumentasi. Itu pun memakai pakaian formal. Sedangkan saat ini aku berpakaian sangat santai.
Namanya Mang yusup. Saat di perjalanan dia tidak bisa diam. Dia memperkenalkan dirinya dan menanyaiku banyak hal. Orangnya lucu. Sepanjang perjalanan aku terus ketawa dan geleng-geleng kepala. Dia supir baru dan baru pertama kali bertemu denganku.
Selama pindah ke Amerika aku tidak pernah pulang. Rumahku yang ada di sini diurus oleh asisten rumah tangga. Setiap pagi mereka membereskan rumah kemudian pulang sore hari. Karena itu aku tidak mempunyai supir.
Hari ini adalah hari pertama Mang Yusup bekerja, karena sekarang mungkin aku akan tinggal lebih lama dan membutuhkan supir.
***
Om Rico mengajakku menghadiri acara wisuda Naya. Aku melihat dia dari kejauhan. Dia sangat cantik dan juga pintar sama seperti dulu.
Saat dia turun dari panggung, dia memeluk seorang pria. Sepertinya mereka sangat dekat. Kemudian pria itu pergi dengan terburu-buru.
Apakah dia pacarnya? Batinku
Om Rico mengajakku untuk menghampiri Naya. Mukanya mengode Om Rico menanyakan siapa aku.
Sepertinya dia tidak mengenaliku. Atau lupa denganku. apa karena waktu itu dia masih terlalu kecil.
Baiklah sepertinya ini akan mengasyikan. Batinku.
“Hai calon istri. Aku Andrew. Calon suamimu,”
“udah tahu” jawabnya singkat.
Om Rico perpesan padaku untuk menjaga Naya. Sudah pasti aku akan menjaga gadisku ini.
Aku membawa bucket bunga sebagai ucapan selamat.
"Nih buat kamu. Selamat ya."
"Thanks," jawabnya masih cuek.
Om Rico menyuruhku untuk berfoto berdua dengannya. Saat berfoto, aku bisikan di telinganya.
“Kamu cantik”
“Semua orang selalu berkata begitu padaku,” jawabnya percaya diri.
Melihatnya seperti itu aku hanya tertawa simpul. Dia sudah besar. Tapi bagiku dia masih seperti anak kecil. Gadis kecil yang menarik.
Tiba-tiba Om Rico pamit. Katanya ada urusan kantor dan aku diminta untuk mengantar Naya pulang.
Kami mengobrol termasuk menanyakan laki-laki yang tadi memeluknya. Untunglah ternyata dia bukan pacarnya.
Dia masih gadis yang menyenangkan seperti dulu.