MARVELOUS

MARVELOUS
Chapter 01. Kecelakaan



Selamat datang Readers. Ini cerita pertamaku.


Aku akan menggunakan alur maju mundur di beberapa bagian.


Happy reading, Readers...


***


Naya mendekati ibunya di meja makan yang sedang sarapan pagi.


“Mah, sebulan lagi aku mau wisuda”


“Loh kok sudah mau wisuda saja sih, bukanya kamu baru semester enam ya?”


“Mamah kan tahu sendiri Nay kan anak pintar”


" Iya anak mamah kan yang paling pintar"


"Mah aku juga udah ngelamar kerja loh.”


“Kamu ngapain ngelamar kerja segala, kamu kan bisa kerja di perusahaan mamah”


“Aku mau kerja dari bawah, biar nanti kalau aku udah jadi pimpinan aku udah paham dengan kondisi orang-orang di bawah aku”


“Kamu ini ada-ada aja. Emang setelah lulus kamu engga mau langsung nikah aja?"


"Iih Mamah... aku tuh belum siap kalau harus menikah. Lagian pacar aku Rendy kan masih di luar negeri."


"Mamah engga suka kamu masih sama dia. Lagian emang sekarang dia udah ngasih kabar ke kamu setelah dia pergi ke luar negeri?"


"Ya belum sih. Mungkin dia masih sibuk sama temen-temennya karena kan masih semester awal."


"Sesibuk apapun kalau dia sayang sama kamu pasti akan ngabarin kamu walau cuma sebentar."


"Aku percaya sama dia Mah. Nanti juga pasti bakal ngasih kabar kok"


"Percaya sama mamah dia itu bukan cowok baik. Mana mungkin dia tega buat orang yang dia sayang nungguin sampai berbulan-bulan. Mamah engga tega liat kamu sedih terus."


"Engga kok Mah. Nay engga sedih. Nay udah selesai makannya mah. Nay berangkat dulu ya mah”


“Kamu masih ada kelas pagi?”


“Udah engga mah. Aku ada urusan di kampus”


“Yaudah hati-hati bawa mobilnya”


“Iya Mah."


**


Naya memasuki kampus kemudian langsung mengganti pakaiannya di ruang ganti. Naya menuju lapangan dan melihat Tio yang duduk di pinggir lapangan basket sendirian.


“Yo anak-anak udah pemanasan belom?” Naya bertanya kepada Tio yang masih duduk di pinggir lapangan.


"Belum, nih baru mau mulai”


“Oke biar Gue panggil mereka buat kumpul”


“Temen-temen kumpul kita mulai stretching”


Setelah selesai latihan basket, Naya kelelahan dan langsung duduk di tengah lapangan. Tio yang menyadari itu langsung mendekati Naya dengan membawa air mineral.


“Nih” Tio melempar ke arah Naya, reflex Naya langsung menangkapnya.


“Wihh baik banget nih, tau aja Gue lagi haus. Thanks Yo”


Kemudian Tio duduk di samping Naya.


“Lo yakin mau ikut turnamen?”


“Kenapa engga?”


“Bukanya bulan depan lo mau wisuda?”


“Setelah wisuda kan masih ada dua hari buat mempersiapkan turnamen, bisa lah,” Naya kemudian lanjut meminum air mineral.


Tio benar-benar menikmati pemandangan Naya yang sedang minum. Leher yang jenjang dengan keringat yang bercucuran membuat gadis itu terlihat sexy.


Gila ya Lo Nay lagi minum aja keliatan cantik. Batin Tio


“Ini yang buat Gue suka sama lo” Tio yang kemudian mengalungkan tangannya ke leher Naya dari belakang.


Naya sontak langsung menatap Tio dengan raut wajah bertanya meminta penjelasan.


Tio yang mengerti arti dari tatapan Naya langsung menjawab asal.


“Eh ngga maksudnya suka sama semangat Lo gini, iya itu. Lo kan udah Gue anggep kayak adik sendiri Nay,” jawab Tio asal sambil mengaruk-garuk kepala karena kebingungan.


Bisa-bisanya gue keceplosan ngmong gitu ke Naya dasar ****.  Tio yang memaki dirinya dalam hati.


Naya tidak puas mendengar penjelasan Tio, tapi dia mengiyakan saja agar situasi tidak semakin menjadi canggung.


Tring tring


Bunyi dering handphone Naya dari dalam tas yang ia taruh di pinggir lapangan memecahkan suasana canggung mereka. Naya berlari mengambil handphone, dilihat ternyata dari ibunya.


Naya: " Iya Mah?"


Polisi: “Halo, dengan saudari Naya, putri dari Nyonya Richard?”


Naya: “ Iya benar. Anda siapa? Kenapa handphone Mamah saya ada di Anda?"


Polisi: “saya dari pihak kepolisian ingin memberitahu bahwa telah terjadi kecelakaan, korban atas nama Nyonya Richard. Sekarang beliau sedang dibawa menuju Rumah sakit Citra.”


Naya: “Apa pak? Mamah saya ke...”


Belum sempat melanjutkan ucapannya, Naya spontan menjatuhkan handphonenya karena terkejut mendengar kabar kalau ibunya mengalami kecelakaan.


“Nay kenapa? Mamah Lo kenapa?” 


“Rumah sakit Citra Yo” ucap Naya dengan nada lemas.


“Ayo Gue anterin," Tio mengambil tas, bergegas mengantar Naya ke rumah sakit.