
Setelah ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu kemudian disusul Kakaknya, kini Naya hanya tinggal bersama ibunya.
Perusahaan ayahnya semua diserahkan kepada ibunya. Rey Richard, mendiang Ayah Naya adalah pebisnis yang sukses.
Richard Company mendapatkan omset ratusan milyar setiap tahunya. kini dikelola oleh seorang janda bernama Eun Na Kim Richard. Wanita asal Korea Selatan yang merupakan ibu dari Naya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama Tio, pikirannya bercampur aduk memikirkan bagaimana kondisi ibunya.
Naya takut kalu ibunya akan menyusul kepergian ayahnya. Naya belum siap jika harus hidup menjadi seorang yatim piatu.
Naya berusaha menghempas semua pikiran buruk yang berputar terus di kepalnya. Dia mencoba untuk tetap berpikir positif.
Setelah pikirannya sedikit tenang dia mencoba menelepon Pak Dani, Asisten pribadi ibunya agar menangani kasus yang telah terjadi pada pimpinan Richard Company itu pada pihak kepolisian.
Dengan kemampuan menyetir Tio bak pembalap, mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit. Naya langsung berlari menuju meja resepsionis yang diikuti oleh Tio dari belakang.
Ketika memasuki ruang rawat, Naya melihat ibunya yang terbaring di atas tempat tidur dengan beberapa selang yang menempel di tubuh ibunya. Perban yang melilit tubuh ibunya membuat dia semakin cemas.
Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa kecelakaan yang dialami Mamah sangat parah? Batin Naya.
Melihat ada Dokter yang memasuki ruang rawat ibunya, Naya langsung menanyakan kondisi ibunya.
“Dok bagaimana keadaan Mamah saya? Apa yang terjadi dengan Mamah saya dok?”
“Nyonya Richard tertabrak oleh truk saat di jalan. Itu yang saya tahu dari pihak polisi. Dan sekarang kondisi Mamah mbak cukup parah. Beliau kehilangan banyak darah. Saya sudah berusaha sebaik mungkin untuk menolong, sekarang kita pasrahkan kepada kehendak Tuhan,” jelas Dokter.
Mendengar penjelasan dokter Naya berusaha tenang. Dia berharap Tuhan masih mengizinkan ibunya untuk tetap hidup bersamanya.
Naya tidak henti-hentinya berdoa di samping sambil memegangi tangan ibunya.
Ibunya yang semula diam kini terlihat jari-jarinya mulai bergerak. Naya yang menyadari sontak berdiri dan melihat mamahnya yang sudah membuka matanya.
“Mamah jangan tinggalin Naya ya? Setelah kepergian Papah dan kak Genta, Naya engga mau kehilangan mamah juga. Naya mohon ya mah,” tambahnya pelan dengan air mata yang terus bercucuran membasahi pipi.
“Sayang, mamah baik-baik saja,” mencoba menenangkan Naya sambil mengelus rambut Naya.
“Kamu sayang sama mamah?” Tanya Nyonya Richard yang kemudian langsung di jawab dengan anggukan kepala Naya.
“Mamah mau kamu segera menikah,” tambah dengan nada yang semakin rendah.
“Kamu tahu tante Fiona kan? Mamah sudah janji sama tante Fiona buat jodohin kamu sama anaknya setelah kamu lulus kuliah. Dan ternyata anak mamah menyelesaikan kuliah lebih cepat dari perkiraan mamah” ucap ibunya, tersenyum menahan sakit
“Mamah sebenarnya belum rela kalau harus berpisah sama kamu, tapi mamah engga bisa melawan takdir,” air mata mamahnya sudah mengalir di pipi.
“Mamah jangan ngomong gitu. Mamah akan baik-baik aja kok. Mamah pasti sembuh. Dan kalaupun nanti Naya menikah mamah harus ada di samping Naya. Mamah engga boleh tinggalin Naya sendirian,” air mata terus menerus membasahi pipi Naya.
“Mamah udah ngomong sama Om Rico dia akan membantu semuanya,” ucapan Nyonya Richard yang semakin kehilangan suaranya.
Melihat ibunya yang suaranya semakin hilang dan kesulitan bernafas membuat Naya panik lalu memanggil dokter.
"Dok tolong selamatkan Mamah saya," Naya menangis, memohon kepada Dokter yang kemudian masuk ke ruang rawat ibunya.
Naya menunggu di luar bersama Tio yang terus di samping Naya, menenangkan gadis itu.
Beberapa saat kemudian Dokter keluar.
“Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi sepertinya Tuhan lebih mencintai beliau.”
Mendengar ucapan dokter, tubuh Naya lemas tidak sadarkan diri.
Tio yang melihat Naya pingsan, dia langsung mengangkat tubuh Naya.