MARVELOUS

MARVELOUS
Chapter 04. Pertemuan



Naya POV


Aku tidak menyangka di hari Wisuda yang seharusnya bahagia aku malah sangat bersedih. Di hari kelulusan ini aku berharap orang tuaku bisa hadir mendampingiku. Menyaksikan aku dipanggil untuk maju ke depan sebagai mahasiswi terbaik.


Aku tidak boleh terus bersedih. Orang tuaku sudah bahagia di surga, aku tidak boleh membuat mereka bersedih karena aku di sini yang masih belum ikhlas.


Ketika namaku dipanggil, kurapikan riasanku lalu melangkah dengan percaya diri. Tepuk tangan dan semua mata tertuju padaku. Dari atas panggung aku melihat Om Ricko bersama pria tampan sedang mengobrol. Sepertinya sangat akrab.


Tio yang sudah berdiri untuk menyambutku dari bawah panggung dengan membawa bucket bunga yang besar.


“Selamat Nay, sekarang udah jadi sarjana ya”


“Akhirnya lo dateng juga,” Tio memberikan bucket bunga dan langsung memelukku.


“Mana mungkin gue engga datang saat adik gue sendiri wisuda.” ucapnya sambil menepuk-nepuk punggungku.


“Thanks Yo. Lo selalu ada di saat gue butuh lo”


“Bentar ya Nay gue mau ke toilet dulu, ada pangggilan alam," Tio melepaskan pelukannya, berlari mencari toilet.


Aku mengangguk menahan tawa kelakuan Tio yang selalu membuatku tak habis pikir.


Dari kejauhan Om Ricko berjalan beriringan bersama seorang pria yang sama dengan yang kulihat tadi.


“Selamat Naya, ponakan Om yang paling cantik sekarang sudah sarjana”


“Iya makasih Om”


“Ini kenalin calon suami kamu,” ucap Om Ricko yang mengenalkan pria di sampingnya.


“Hai calon istri. Aku Andrew. Calon suami kamu”


“Iya udah tau. Gue Naya,” jawabku tegas. Aku bilang sudah tahu karena baru saja Om Ricko memberitahu. Sebenarnya aku kaget Om Ricko mengajak dia ke acara Wisudaku.


Jadi dia yang akan menjadi suamiku nanti? Tidak bisa kupungkiri wajahnya sangat tampan . Tapi sepertinya dia tidak asing bagiku. Entahlah mungkin hanya firasatku.


“Dia baru pulang dari Amerika kemarin. Kalian minggu depan kan menikah.”


“Andrew, Om titip Naya ke kamu. Jaga dia dan bimbing agar dia mengerti bisnis perusahaan juga” Om Ricko berpesan pada Andrew.


“Iya pasti Om. Dulu juga kan begitu,” jawab Andrew terkekeh.


Kita kan belum menikah kenapa Om Ricko berbicara seperti itu pada Andrew. Tapi ya sudahlah aku diam saja mendengarkan Om Ricko.


Tapi tunggu, aku mendengar sesuatu. Dulu? Apa sebelumnya kita pernah saling mengenal? Aku tidak mengerti percakapan mereka. Tapi sepertinya ada sesuatu. Om Ricko berhutang penjelasan padaku. Akan kutanyakan setelah pulang nanti.


Dia juga membawa bucket bunga besar untukku.


Om Ricko menyuruhku berfoto dengan Andrew. Seperti biasa aku menuruti semua omongan Om Ricko.


Saat aku dan Andrew berfoto dia membisikan sesuatu ditelingaku.


“Kamu cantik.”


“Semua orang selalu berkata begitu,” ucapku tegas tanpa menoleh ke arah Andrew.


Andrew hanya tersenyum simpul mendengar ucapanku. Aku tidak akan kalah dengan rayuanmu wahai tuan muda Robert.


"Nay nanti kamu pulangnya diantar Andrew ya. Om harus balik ke kantor ada urusan yang harus diselesaikan sekarang juga," ucap Om Rico setelah mengecek hp dari kantongnya.


"Aku bisa pulang sendiri Om. Atau nanti minta anter sama Tio aja Om" pintaku ke Om Rico.


"Sama Andrew aja dia kan calon suami kamu."


"Baik-baik kamu sama Andrew ya?!" goda Om rico yang membuatku kesal.


Andrew tersenyum melihat kekesalanku pada Om satu-satunya yang aku punya ini.


Om Rico berbalik, meninggalkan aku dan Andrew.


"Tadi yang memberi bucket bunga itu siapa, pacar?" tanya Andrew.


"Siapa? Tio?"


"Kalo ditanya tuh jawab, bukan malah balik nanya. Mana aku tau dia namanya siapa"


"Bukan, dia itu teman, sahabat dan udah gue anggap, seperti kakak sendiri."


"Komplit banget." celetuknya.


"Eh iya umur Lo kan lebih tua dari Gue. Enaknya Gue manggilnya apa?"


"Andrew aja. Tapi kalau mau manggil sayang juga ngga papa,"


"Ogah banget."


"Haha.. Besok kamu sibuk ngga? kita fitting baju"


"Gue besok sibuk, lusa juga sibuk. Udah lo aja yang urus sendiri."


"Aku nikah sama kamu bukan nikah sama diri sendiri, makanya ngajak kamu"


"Tinggal suruh WO aja susah banget sih"


"Ya semuanya udah diurus WO, cuma buat tahu ukuran bajunya pas apa engga kan, kamunya harus ikut."


"Yaudah nanti gue kabarin deh. Gue mau kesana bentar, Lo disini aja trus nanti gue balik lagi baru kita pulang."


"Aku engga boleh ikut kesana?"


"Udah diem disini aja An"


"An?"


"Biar cepet" aku berbalik arah meninggalkan Andrew.