MARVELOUS

MARVELOUS
Chapter 03. Menerima Takdir



Naya Point Of View


Setelah pemakaman Mamah kemarin, aku tidak tahu bagaimana kehidupanku selanjutnya. Kehilangan Papah untuk selamanya telah meninggalkan luka yang masih aku rasakan. Dan sekarang mamah menyusul Papah dan Kak Genta, pergi untuk selama-lamanya yang meninggalkan aku sendirian.


Orang yang sangat aku sayangi satu per satu meninggalkan aku. Entah sebenarnya apa yang menjadi takdirku. Mengapa Tuhan selalu mencoba memberi cobaan dengan mengambil orang yang sangat aku sayangi di dunia.


Aku mengunci diri di kamar mencoba menenangkan diri. Kuluapkan semua tangisku di atas ranjang sembari memeluk guling. Aku sempat berpikir untuk menghilangkan nyawaku agar bisa menyusul mereka.


Namun aku ingat ucapan Papah kalau hidup kita sangat berharga.


Kita tidak boleh menyia-nyiakan nyawa yang sudah Tuhan berikan. Seberat apa pun cobaannya kita harus hadapi. Tuhan memberikan cobaan itu kepada kita karena Tuhan percaya kita sanggup menghadapinya.


Aku selalu mengingat nasihat Papah ketika aku sedang down.


Tidak lama kemudian aku mendengar pintu kamarku diketuk. Om Rico yang terus memanggilku membuatku menyerah.


Dengan mata yang masih sembab, aku bangun menuju ke arah pintu. Kuraih gagang pintu, membukakan pintu lalu Om Rico masuk ke kamar dan duduk di sofa.


“Maaf Nay mungkin ini terlalu cepat," Om Rico memulai pembicaraan.


"Om tahu kamu pasti masih sangat terpukul atas kepergian ibumu. Tapi kamu tidak boleh terus menerus seperti ini. Kamu harus kuat seperti ibumu. Kepergian ibumu membuat semua banyak orang di perusahaan berlomba-lomba untuk mengambil posisi itu. Karena mereka tahu kalau pewaris tunggalnya tidak mengerti soal bisnis perusahaan yang sudah dirintis ayahmu sejak dulu. Kalau saja Genta masih ada kamu pasti tidak akan kesulitan seperti sekarang.”


Aku mencoba menahan tangisku. Mencoba menerima takdir yang sudah ditetapkan untukku.


“Kamu sudah mendengar soal perjodohan itu?”


“Dia anak sulung Tante Fiona dan Om Wilson Robert. Namanya Andrew, usianya lima tahun lebih tua dari kamu. Saat kamu masih kecil mamahmu dan Tante Fiona sudah berjanji akan menikahkan kalian ketika sudah dewasa. Dia juga akan membantu kamu memimpin perusahaan Richard. Pernikahan akan dilaksanakan seminggu setelah kamu wisuda”


“Seminggu setelah wisuda? Apa tidak terlalu cepat? Aku tidak mengenal dia. Aku juga sudah punya pacar. Aku butuh waktu om”


“Om tidak bisa lama di sini, Om hanya ambil cuti sebulan Nay, lalu akan kembali ke Rusia mengurus perusahaan Om sendiri. Sementara kamu belum menikah, perusahaan biar Om yang handle. Kamu tidak ingin perusahaan Richard hancur gara-gara perebutan kekuasaan kan?”


“Baik om,” aku menurut.


"Ini semua buat kebaikan kamu Nay"


Aku tidak mau bisnis papahku hancur hanya karena aku egois. Aku tahu betapa papah sangat bekerja keras membangun bisnis itu.


Bisnis Papah dengan jurusan yang aku ambil sangat berbeda. Aku ingin menjadi seorang animator.


Menggambar kemudian menjadikannya sebuah film adalah cita-citaku dari kecil. Papah tidak pernah melarang keinginanku.


Sebelum kak Genta meninggal karena penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya, Papah berharap kalau suatu saat nanti dia yang akan menggantikan posisi Papah. Namun setahun setelah kepergian Papah penyakit Kak Genta semakin parah. Dan kemudian menyusul kepergian Papah.


Disisi lain aku memikirkan Rendy, yang masih berstatus pacarku.


Bagaimana jika nanti Rendy tahu kalau aku menikah dengan laki-laki lain. Bagaimana bisa pacarnya bersanding dengan laki-laki lain di pelaminan.