Make It Right

Make It Right
Part 6 | Make It Right



••🧸••


"Lo gapapa kan?"


"Eum, anu, gue gapapa kok. Hehe, gak perlu khawatir gitu napa sih. Amatiran banget gue kesurupan" jawabnya gugup. Aileen berusaha menyembunyikan ucapannya yang gugup dan memutuskan kontak mata dengan Adib. Memalingkan muka sebagai mana ia tersipu akan wajah tampan milik Adib.


"Ya gak perlu gugup juga kali" sarkas Adib yang justru semakin membuat jantung Aileen ingin melepas dari tempatnya sekarang juga.


Aileen yang sudah tidak tahan dengan sikap manis Adib ini pergi meninggalkannya begitu saja lalu membanting pintunya keras keras untuk melampiaskan semuanya yang ia rasakan saat ini. Betapa malunya ia di hadapan Adib, bukankah ia membenci cowok yang berada dikamarnya sendiri, lalu mengapa ia merasakan jantungnya hendak mencelos dari tempatnya?


Aileen pergi kedapur untuk mengambil beberapa camilan. Toh, ia menganggapnya seperti rumah sendiri karena Lalisa mengizinkannya untuk menganggap rumahnya ini sebagai rumah Aileen juga. Untuk apa ia malu. Urat malunya pun sudah putus. Lalu membawanya ke lantai atas. Jangan berharap untuk kembali kepada cowok yang menyebalkan itu. Ia sendiri ingin pergi kekamar Adiba.


"Tok tok tok, tuan putri datang. Bisakah buka pintunya, pegel nih" ucap Aileen ketika sudah sampai tepat di depan kamar Adiba. Cewek yang berada di dalam kamar lamban, membuatnya lelah menunggu seraya menggendong beberapa camilan di tangannya.


"Iya sebentar!" Jawab Adiba dalam kamarnya. Tak lama, knop pintu ditarik dan menandakan pemiliknya telah keluar dari kamarnya. Lalu menampakkan Adiba yang berpenampilan berantakan. Rambut yang kusut, lalu baju yang lecek. Dan mata yang sembab. Membuatnya semakin buruk dimata Aileen.


Apakah Adiba sehabis menangis?


"Eh, Diba! Lo kenapa? Abis diputusin bebeb ya? Lo kaya gembel yang minta minta makan, ****" tawa Aileen meledak seketika setelah mengucapkan berbagai pertanyaan dan juga ejekan.


"Enak aja! Gue abis nonton drama tauk, trus ketiduran." Jawabnya sedikit mengucek matanya. Lalu melebarkan pintunya agar Aileen lebih leluasa untuk masuk kedalam kamarnya itu.


Aileen melihat jelas layar plasma medium yang terletak diatas tempat tidur. Kasurnya pun sama berantakannya dengan selimut yang amburadul, lalu bantal bantal yang berserakan. Aileen menaruh camilan itu dinakas kecil samping tempat tidur, setidaknya ia bisa melepas pegal yang sedari tadi ia rasakan. Kemudian memungut bantal bantal dan menaruhnya ketempat asal. Cewek itu pun langsung menidurkan asal dirinya di kasur milik sahabatnya itu.


Adiba yang masih diambang pintu itu pun segera menutupnya rapat rapat. Dan mengikuti hal serupa yang dilakukan Aileen. Memejamkan matanya. Ia berusaha agar tidak kantuk.


"Lo ngapain kesini? Gue kira lo tidur, soalnya gak ada suara lagi dari kamar Adib" ujarnya memecahkan keheningan diantara mereka juga guna menahan kantuk sejak tadi.


"Iyalah, gak ada suara. Lo kan tidur, pinter," Sarkas Aileen lalu terdengar kekehan disampingnya. Adiba membuka matanya lebar. Kemudian mengganti posisinya menjadi tiarap. "Gue gak tidur tau, lagian males ah sama tidur bareng Adib. Ngeselin dia tuh" lanjutnya kesal.


Tak ada jawaban dari Adiba. Cewek disampingnya ini memilih bungkam dan diam. Seperti sedang menahan sesuatu yang tidak boleh ia ungkapkan kepada Aileen. Memang sejahat itu rahasia. Namun, di balik semua itu, ada rasa yang harus mereka tanamkan terlebih dahulu. Barulah diberi tahukan dikeduanya. Itulah yang dipikirkan Adiba sejauh ini.


Jika dibilang spesial, tentu saja iya. Karena apapun perjalanannya, apapun caranya, apapun rasanya mereka harus tetap bersatu dikemudian hari, lalu diberi bocoran sedikit mengenai semua ini. Entah suka atau tidak. Namun, rencana tetaplah rencana. Sebesar apapun mereka menolak, jodoh tak ada yang tahu bukan. Begitu kalau kata pepatah.


"Diba! Diba, yee ini orang kok malah tidur." Gerutu Aileen seraya menggoyangkan bahu Adiba. Ia tertidur begitu saja, dalam keadaan tiarap.


Emang gak nyesek apa tidur tiarap begitu


Tok tok tok....


Pintu kamar diketuk sebanyak tiga kali oleh tamu kamar Adiba. Sebagai sahabat yang baik dan tidak sombong, Aileen mewakili Adiba yang tengah tertidur pulas di sampingnya ini lalu pergi menuju kearah pintu. Dibukanya knop pintu dengan perlahan. Tampilah cowok tampan bin ngeselin yang ada didepannya ini. Tangannya bergerak naik ke samping pinggangnya, tentu saja ia bermaksud berkacak pinggang lalu mengangkat kepalanya sombong.


"Mau ngapain lo, hah?! Nyari gara-gara aja ini orang, ngajak gelud?" Emosi Aileen memuncak ketika mendapati Adib yang tengah berdiri santai sambil tersenyum kepadanya. Menurutnya, sedikit ngeselin dengan senyumannya juga terselip ketampanan yang  disembunyikan oleh jiwa ramahnya.


"Ngadi-ngadi aja sih gue ngajak gelud cewek gila. Gue kesini mau sampein kalo lo disuruh balik sama tante Irene. Ada sesuatu yang bikin lo seneng deh, gak gila kayak gini" bantah Adib jutek.


"Ekey di bilang gila, eww, incess waras yaw"


"Stres"


"Bercanda, Dib"


••🧸••


Setelah menempuh jarak dan dilanda kemacetan yang panjang. Alhasil keduanya sampai dirumah Aileen ba'da Maghrib tadi. Cukup melelahkan memang, tetapi tak melelahkan bibir Aileen untuk banyak berbicara.


"Dib, lo itu sejenis manusia apa sih, udah jelek, bau, gak tau diri, dan yap, mirip itu lho. Setan, hahaha" ejek Aileen menatap Adib dengan senyum sumringahnya.


"Enak aja, semua yang lo bilang itu seharusnya tertuju untuk lo tau!" Bantah Adib tak terima.


"Eh, Dib. Kalo ada cewek yang mirip gue nih ya, trus suka sama lo. Lo bakalan ngapain?"


"Ya sukain balik cewek itu, mungkin sebelum cewek itu menyukai gue, gue udah suka duluan sama cewek itu" jawab Adib enteng. Sebab ia sudah menyukai cewek modelan Aileen, apalagi cewek itu adalah Aileen sendiri. Mungkinkah ini sebuah kode keras dari Adib.


Aileen ber-oh seraya menganggukkan kepalanya paham. Bahkan ia sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat yang tertuju padanya adalah sebuah kode.


Aileen melihat jelas siapa yang berada diruang tamu. Seorang wanita paruh baya, lalu lelaki paruh baya dan... tunggu, siapa satu lagi. Apakah....


"Bang Iiidaaan!!!" Pekik Aileen seraya berlari kecil menuju orang ketiga yang berada diruang tamu. Aileen sangat mengetahui postur tubuh abangnya itu. Mulai dari rambut sampai kebawah kaki.


Cowok yang dipanggil Aidan itu menoleh dan mendapati adiknya yang tengah berlari kecil menuju kearahnya. Lalu ia berdiri untuk menghampirinya. Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, tak lama cewek yang berlari itu pun berhambur dipelukannya. Dalam dekapan yang jarang keduanya lakukan, dalam jarak yang cukup memisahkan keduanya, dan dalam doa yang selalu terkirim untuk keduanya.


Aileen mendusel kepalanya didepan dada Aidan. Tangisnya mengisi ruangan. Aidan mengelus puncak kepala adiknya dengan gemas. Sudah berapa tahun ia tidak pulang kemari untuk menyapa rindu dengan Bundanya, Papahnya, lalu kepada Aileen adik tersayangnya.


"Kangen, hmm?" Tanya Aidan.


Tentu saja. Seberapa kencang Aileen menangis saja sudah membuktikan bahwa cewek itu teramat merindukan abangnya yang berada dalam dekapannya. Mengabaikan semua orang yang tertuju untuk melihat aksi mengharukan dari kakak beradik ini.


"Kangen bangetlah. Tega banget sih gak jengukin Ileen, Ileen tuh kangen sama abang Idan. Bang Idan lupa ya sama Ileen?" Sahutnya dengan air mata yang sudah mengering akibat ia hapus menggunakan punggung tangannya. Matanya sembab, lalu hidungnya sedikit memerah akibat menangis. Dan jangan lupakan bahunya yang naik turun akibat terisak.


Aileen menatap Aidan dengan  puppy eyes nya. Yang ditanya justru tersenyum menanggapi ocehan Aileen. Ia rindu dengan cewek yang dihadapannya ini, rindu dengan segala kata-kata cablak yang keluar dari mulut pedas Aileen.


"Iya, gue lupa sama lo. Lagian lo tuh pantesan dilupain" Ujar Aidan seraya terkekeh.


Mata Aileen terbelak kejut. Percuma rasanya ia menanyakan hal tersebut pada Aidan yang ujung-ujungnya akan diledeki oleh cowok itu sendiri.


"Bohong, gue tau kok lo tuh kangen gue. Gak perlu munafik deh"


Lalu pandangannya berganti pada seseorang yang rapih dengan menggunakan jas biru dongker serta celana senada. Dan dasi hitam yang melingkar dilehernya. Siapa lagi kalau bukan Tuan rumah sendiri. Yang sudah berjuang dengan keringat untuk mendapati uang untuk kebutuhan keluarganya. Jonathan, papahnya yang selama ini ia tunggu dari tiga bulan lalu.


"Papah!!!" Panggil Aileen lalu berhambur pada pelukan laki-laki yang sudah berusia ini, namun tak melunturkan wajahnya yang masih awet muda dan seger untuk dilihat.


Laki-laki itu pun membalas pelukan putrinya dengan senyumnya yang takkan pernah ia hapus untuk keluarga kecilnya. Ia memejamkan matanya untuk menikmati pelukan hangat papahnya itu. Tak henti untuk berucap syukur pada tuhan karena sudah mempersatukan keluarga kecilnya kembali.


Jonathan melepaskan pelukan itu lalu melirik Adib yang tengah tersenyum kepadanya. Menyuruh Aileen untuk menghampiri cowok yang diambang kecanggungan. Mungkinkah dirinya mengganggu acara peluk rindu dari keluarga Aileen.


"Biarin aja" ketus Aileen.


Cowok yang di sebut diam. Lebih memilih untuk tidak mengatakan apapun, baik mempertanyakan keadaan Jonathan ataupun Aidan. Karena yang dikatakan Aileen memang benar, seharusnya Adib memang dibiarkan saja.


"Sini, Dib" perintah Irene membuat Aileen menciut akan usirannya untuk Adib meninggalkan rumahnya.


Adib berjalan mendekati mereka semua. Lalu menyalami punggung tangan Irene dan Jonathan disambung bertos ala anak remaja dengan Aidan. Aileen menatapnya dengan jengah, walau hatinya merasakan kebersalahan. Ia salah telah mengusir Adib dengan cara seperti ini, apalagi didepan keluarganya. Dimana attitude seorang Aileen.


"Kemana aja lo, Dib?" Tanya Aidan seraya menepuk pundak Adib. Cowok itu pun bersikap untuk biasa saja disaat ada mata yang memerintahnya untuk pergi. Disaat ada seseorang yang memerintahnya untuk pulang.


"Seharusnya pertanyaan itu tertuju sama lo, bro" jawab Adib lalu terkekeh.


"Santai, gue ke atas dulu. Bun, Pah, Idan keatas dulu ya, capek"


Kepergian Aidan membuat kedua orang tuanya pun mengikutinya. Jonathan yang beralasan sama dengan Aidan lalu diikuti dengan alasan Irene yang katanya ingin menemani suaminya tercinta. Lalu diruang tamu hanya tersisa Aileen dan Adib yang masih diam tak bergeming.


"Maaf,... karena udah ngusir lo" ucap Aileen melembut lalu menunduk. Terlalu takut untuk bertatap muka dengan lawan bicaranya kini. Entah apa yang membuatnya menciut di depan cowok ini. Padahal Adib sendiri mempunyai aura yang tidak semenyeramkan yang Aileen pikir.


"Gue gak bermaksud begitu. Cuma kan ya,.... gak ngertilah gue kenapa bisa sebenci itu pas liat lo. Seharusnya gak gitu" jelas Aileen memperinci kesalahannya. Ia semakin menunduk takut. Matanya begitu takut untuk melihat mata coklat Adib.


Hening.


Satu detik,


Dua detik,


Tiga detik,


Dan...


Hap!