
Seluruh pasang mata melihat mereka tak suka. Bahkan ada yang secara terang-terangan ngedumel di hadapan mereka. Aileen menyuruh untuk Adib berhenti berjalan dan menurunkannya. Aileen menghampiri cewek yang ngedumel itu. Dan berkata,
"Gak suka bilang!." Ucap Aileen to the point. Adib yang melihat pertengkaran antara Aileen dan adik kelasnya itu menghampiri mereka dan mencoba meleraikan.
"Udah Len. Jangan buat keributan, malu tau gak." Titah Adib dengan sabar. Aileen menatap nyalang ke arah adik kelas yang tengah menantangnya dengan mengangkat kepalanya sombong.
Murid-murid yang berada di sana menyaksikan kejadian itu bagai tontonan yang jarang mereka saksikan. Mereka tidak mau ikut campur di karenakan jika Aileen sudah marah besar maka semuanya akan menjadi runyam. Bagi mereka, Aileen itu sudah seperti Ratu Iblis jika marah. Dan kemarahannya bisa membuat lawannya ciut. Dan untuk adik kelas sombong itu, para murid hanya menggelengkan kepala. Sebab, ia sudah membangkitkan amarah seorang Aileen.
"Dia duluan yang cari masalah sama gue. Ngapain gue takut sama adik kelas yang gak punya harga diri, cih." Ujar Aileen menahan amarahnya. Ia sudah geram dengan sikap sembrono adik kelasnya itu. Kalau bukan di sekolah sudah ia pastikan jantung cewek itu sudah tak berdetak.
"Dia duluan Kak, gue cuma gak suka aja sama dia yang modus peluk-peluk lo."
Adib menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian membawa Aileen sedikit menjauh dari adik kelasnya. Awalnya Aileen menolak mentah-mentah, tapi karena situasi tak mendukung akhirnya ia menyetujuinya. "Udah, malu tau gak. Gue gak abis pikir sama jalan otak lo, Len. Adik kelas kayak mereka emang patutnya lo diemin." Jelas Adib
"Gak." Ucap Aileen singkat, padat, dan jelas. Cewek itu benar-benar jika sudah marah atau pun kesal. Pasti jawabannya irit. Mirip seseorang yang lagi di batasi berbicara. Aileen melipat kedua tangannya menyilang di depan dadanya seraya membuang muka dari tatapan memohon Adib.
"Ya udah." Ucapnya dan pergi dari hadapan Aileen kemudian menghampiri adik kelasnya yang masih menahan amarah sebab tiba-tiba Aileen melabraknya. Sadis memang, tapi itulah ciri khas dari seorang Aileen Alysa Megantara.
"Dek, gue saranin. Jangan ganggu pacar gue, ya. Aileen, sini!." Panggil Adib seraya melambai-lambaikan tangannya. Adik kelas itu tak menyangka dengan apa yang barusan di katakan Adib. Begitu pun dengan murid lainnya yang mendengar ucapan Adib. Aileen menoleh, lalu menghampiri mereka dengan tatapan benci, malas, atau sebangsanya. Mereka itu sudah membuat Aileen kesal hingga ke ubun-ubun.
Aileen diam. Ia melihat adik kelasnya dengan tatapan tajam. Seakan bisa membelah sesuatu. "Baikan!." Titah Adib sambil menjabatkan tangan mereka berdua. Memang sulit, yang satunya meleleh akibat di pegang Adib dan yang satunya menahan agar tak bersentuhan.
"Gak mau! Ogah banget gue sama cewek murahan ini!. Tujuh turunan, delapan belokan, sembilan tanjakan. OGAH." Teriak Aileen ketika mengucapkan kata 'ogah' dan sebelum berlalu pergi ia menyempatkan diri untuk menginjak sepatu berwarna yang di pakai adik kelasnya itu.
Adik kelas itu mengaduh kesakitan. Dan di tertawai oleh murid-murid lainnya. Adib mewakilkan Aileen untuk meminta maaf kepada cewek itu. Dan pergi dari sana untuk menyusul Aileen.
***
"Maaf Pak, saya cuma gak mau di rendahin sama murid kayak dia. Sekali lagi maaf ya, Pak." Ucap Aileen tunduk. Ia merasa geram dan bersalah.
Ini salahnya juga, untuk apa ia meminta gendong kepada Adib. Yang mencari gara-gara itu Aileen, bukan siswi tersebut. Adib yang berada di belakang Aileen hampir saja terkekeh kalau bukan Kepala Sekolah yang melototinya untuk tidak tertawa.
"Saya maafkan--"
"Bener Pak?." Potong Aileen.
"Jangan potong ucapan saya Aileen!." Ucap Kepala Sekolah. Aileen lagi-lagi menunduk. Antara takut di skors atau pun berlari keliling lapangan GOR alias lapangan sekolah SMA Taruna Bhakti.
"Saya maafkan kamu dengan satu syarat. Syaratnya ialah kamu harus belajar tambahan dengan Adib. Dari jam pulang sekolah hingga jam lima sore. Saya rasa itu cukup. Ingat, jika kamu tidak menuruti perintah saya maka siap-siap orang tua kamu saya panggil ke sekolah." Jelas Kepala Sekolah hingga memperinci penjelasannya.
Aileen kena masalah besar sekarang. Yang paling Aileen benci adalah belajar, hantu, dan dikekang. Hanya itu, tidak lebih mau pun kurang.
Dalam hati, Adib bersorak ria. Akhrinya ia bisa membalas Aileen. Cewek paling menyebalkan di seluruh penjuru dunia. Sampai ke laut-laut pun Aileen-lah makhluk yang harus ia waspadai.
Aileen tidak membantah. Ia mengangguk setuju. Walau bagaimana pun itu adalah kesalahnnya. Cewek yang selalu seenaknya ternyata masih takut kalau orang tuanya di panggil ke sekolah. Untung masih manusia!
Aileen keluar dari ruangan Kepala Sekolah tanpa pamit atau sekedar basa-basi lainnya. Tiba-tiba ia di kejutkan oleh dua insan yang entah sejak kapan menguping pembicaraan mereka di dalam. Siapa lagi kalau bukan Adiba dan Alena.
"Len, lo... Gak apa-apa kan? Gue khawatir banget. Soalnya tadi ada yang ngajak baku hantam sama lo, ya." Tanya Adiba kepo. Jiwa kepo Adiba mulai menggebu-gebu. Sedangkan Alena berusaha tidak tertawa yang sebenarnya bermaksud menyembunyikan sesuatu hal yang penting.
"Len..." Panggil Alena.
Aileen tak menggubris ucapan mereka.
"Dia harus gue kasih pelajaran. Sekarang juga!!." Ucapnya pada diri sendiri. Dan meninggalkan mereka berdua yang masih tak bergeming dengan ucapan Aileen barusan.
***
Aileen memasuki kelas yang bising itu tanpa permisi. Ia mendobraknya hingga terjadi benturan keras antara pintu dan dinding. Ia menghampiri cewek yang duduk di atas meja sambil tertawa haha-hihi dengan teman geng-nya. Ya, Aileen tahu kelasnya karena adik kelas itu adalah seorang pembully.
"Heh!! Cewek sok kecakepan. Gak usah sok berkuasa di sini. Ini sekolah bukan punya lo, bukan punya nenek moyang lo. Masih untung lo hidup, kalo tiba-tiba besok mati gimana?." Aileen bercerocos tak henti. Seluruh kelas memperhatikan gerak-gerik Kakak kelasnya itu yang disebut sebagai Ratu Iblis.
Adik kelas itu, sebut saja Dinda turun dari meja dan menghampiri Aileen. "Kenapa? Gak suka?." Ucapnya mengejek.
Tiba-tiba Alena datang ke kelas tersebut dan menarik Aileen. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak membiarkan Aileen lepas darinya. Namun, nihil. Tenaga Aileen lebih besar darinya.
Kelas tiba-tiba semakin menjadi mencekam. Tanpa aba-aba Aileen langsung menarik rambut Dinda yang tergerai bebas dengan warna merah di ujung rambutnya. Tangan Dinda ia kunci agar tidak menarik kembali rambutnya.
"Aww. Lo gila ya, akhh. Sakit woy!!." Omelnya. Dinda cs tidak berani ikut campur dalam urusannya. Mereka lebih memilih diam dan sesekali meringis melihat kedua manusia tersebut baku hantam.
Alena lebih takut lagi jika Dinda kenapa-napa. Bukan tanpa alasan. Tahun lalu juga seperti ini, apalagi yang baku hantam dengan Aileen adalah Kakak kelasnya. Dan cewek itu juga menjadi segan untuk berhadapan dengan seorang Aileen Alysa Megantara.
Tiba-tiba saja Adib dan Adiba datang tepat waktu. Alena puji syukur sebab tidak terjadi apa-apa selain Aileen yang merontokkan rambut adik kelas tersebut. "CUKUP!!!." Ucap Adib sekali. Dan yang lainnya tak bergeming. Termaksuk Aileen yang terkesima dengan hentakan Adib.
Aileen melepaskan tangannya dari rambut adik kelasnya. Ia melihat tangannya, ternyata ada beberapa helaian rambut di tangannya. Rontok. Aileen menatap nyalang adik kelasnya. Kemudian Adib menariknya untuk berada di belakang cowok itu. "Gue minta maaf dengan apa yang berusan terjadi. Dan untuk lo-" Ucapnya terpotong dan seraya menunjuk muka adik kelasnya dengan dingin.
"Gue harap setelah ini lo gak akan berurusan lagi dengan Aileen. Semoga. Makasih juga untuk dengerin gue sedetik lalu." Ujar Adib sambil menggandeng tangan Aileen keluar dari kelas itu di ikuti juga oleh Adiba dan Alena.
***
"Gue gak berharap banyak sama lo, Len. Gue cuma mau lo berubah, menjadi cewek baik, anggun, sopan santun, punya tata krama. Hidup lo banyak drama banget sih, heran gue." Ujar Adib setelah membawa Aileen dari kelas terkutuk itu. Adib membawanya ke ruangan Osis.
"Gue--" Ucap Aileen terpotong tatkala Adib menariknya dalam pelukan. Untung ruangan ini sepi, dan tidak ada Adiba dan Alena.
"Gue mau lo berubah." Perintah Adib. Bagi Aileen, perintah itu saja sudah terdengar mutlak. Masalah apalagi yang harus ia jalani demi menjalankan hidup yang bebas tanpa hambatan?
Aileen terdiam. Dia lebih baik mencerna setiap ucapan Adib. Adib menganggap bahwa ini adalah sebuah takdir untuknya. Takdir untuk 'mendekati' cewek yang berada di pelukannya. Takdir untuk bersama di masa yang akan datang. Itulah yang Adib sebut, 'takdir'. Tidak berbelit-belit ucapannya, tetapi sederhana dan memberi artian banyak.
Adib melepaskan pelukannya. "Maaf, gue tadi udah marah-marah sama lo, Len. Gue jelas kesel, sebel karena lo di anggap rendah diri sama mereka."
"Dib-" Ucapnya lagi-lagi terpotong kala Adib melepaskan pelukannya.
"Gue mohon, lo berubah. Bukan karena gue, Adiba, Alena atau pun orang tua lo. Tapi, For your self." Ujar Adih sambil menatap dengan tatapan memohon.
"Santai aja kali, gue juga tau batasan." Jawab Aileen santai. Itulah mengapa ia malas untuk berbincang dengan Aileen. Terkadang jika sudah sangat serius, cewek itu justru cengengesan dan tidak menganggap ucapan lawannya serius. Untung saja Aileen itu manusia. Kalau bukan sudah ia buang jauh-jauh dari Bumi.
"Astaga, Aileen!." Ucap Adib kesal. Akui saja, sebenarnya Adib ingin pulang sekarang. Tapi, karena cewek ini ia rela tidak belajar jam ketiga dan ke empat, belum lagi pasti ia akan pulang terlambat. Ck, menyebalkan.
"Ya udah sana belajar. Lo kan pinter, ganteng, ngapain coba sama gue di sini berduaan. Yang ada papparazi lo ngedumel lagi sama gue. Right?."
"Udahlah, capek gue bicara sama lo. Percuma. Lo itu sejenis manusia apa sih, Len? Heran banget gue." Umpat Adib.
"Gue itu menusia bodoamat. Udah sana, ke perpustakaan terus baca sampe mata lo mirip panda. Bye, gue mau pulang. Dadah Adib." Ujarnya seraya melangkahkan kakinya menuju pintu. Adib langsung mencegahnya.
"Inget perjanjian yang udah lo buat dengan Kepsek?."
"Eum, iya sih. Tapi, bodoamat-lah. Gak peduli gue."