Make It Right

Make It Right
Part 4 | Make It Right



Pagi menjelang. Mencerahkan sinar mentari yang takkan pernah redup hingga akhir. Menyilaukan seseorang yang masih bergelut dengan selimut serta bantal-bantalnya. Aileen masih teramat nyaman berada di ranjang tersebut. Tanpa mempedulikan sinar yang memyilaukannya.


Satu lenguhan keluar dari bibir plum nya. Ia membuka matanya perlahan. Dan mengamati setiap inci dari sudut kamar. Karena belum sadar sepenuhnya ia malah menguap lebar-lebar.


"Gue dimana ya..." Gumamnya.


Tiba-tiba ia teringat kejadian semalam sebelum dirinya terbawa oleh alam mimpi. Ketika ia bersama Adib mengelilingi wahana-wahana permainan. Dan tertidur pulas di dalam mobil cowok itu. Ia tersadar sepenuhnya sekarang.


"AILEEN! Nih gue bawain makanan." Sahut seseorang dari luar sana. Ia mengenali suara cempreng tersebut. Siapa lagi kalau bukan Adiba. Tapi, yang mengherankan adalah mengapa Adiba ada di sini begitu pun dengan dirinya. Aileen mencari satu titik untuk keluar. Pintu.


Ia berlari kecil menuju arah sana. Aneh. Pintunya justru terkunci. Tetapi, pintunya terkunci dari dalam. Lalu, siapa yang menguncinya?


Ia cepat-cepat membuka kunci pintu dan menarik knop pintu. Dan tampillah Adiba yang sudah memakai pakaian jogging. Adiba memasuki kamar tersebut dan menyodorkan senampan makanan lengkap dengan susu. Ia menyengir khas kudanya. Dan tertawa sedetik kemudian. Aileen menerimanya dengan kening yang mengkerut.


"Gue kira lo belom bangun, tau!. Di makan ya, abis itu kita jogging. Terus lo mandi dan untuk baju lo, ambil sendiri ya di lemari yang warna pink." Kata Adiba seraya menunjukkan letak lemari yang ia maksudkan. Kemudian Adiba pergi dan meninggalkan Aileen yang masih mematung seraya memegang nampan berisikan sarapan.


Ia kembali menutup pintu menggunakan kakinya dan berjalan menuju tempat tidur. Otaknya masih mencerna apa yang terjadi padanya saat ini. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, dan menampilkan seseorang yang mencoba mengeringkan rambutnya menggunakan handuk yang ia lilitkan di kepalanya.


Adib.


Satu nama yang membuat otaknya menimbulkan banyak pertanyaan. Membuat pertanyaan itu sendiri bagai hantu yang bergentayangan di otaknya. Kembali pada Aileen. Cewek itu tidak masalah dengan kehadiran Adib yang tiba-tiba dan tidak mengejutkan juga. Sebab, cowok itu sudah memakai pakaian lengkapnya. Berupa pakaian jogging.


Sekarang Aileen mulai menyimpulkan bahwa Adib dan Adiba adalah kembar. Sebelumnya, jika ia bermain atau pun menginap ke rumah Adiba, ia tak pernah melihat batang hidung seorang Adib Alim Maulana Parker.


"Adib!." Kata Aileen terkejut.


Adib tersenyum canggung. "Maaf ya, gue tadi malem terpaksa bawa lo ke rumah gue. Tante Irene pergi keluar kota bareng Om Jonathan. Tapi, santai aja, gue gak ngapa-ngapain lo kok. Gue masih tau batesan." Ujar Adib seakan tau apa yang ada di pikiran Aileen.


"Ya udah, lo makan dulu ya. Abis itu lo mandi dan kita jogging bareng." Ucapnya setelah selesai menata rambutnya seperkian rapi. Kemudian ia berjalan menuju pintu. Ia berhenti sekejap. Karena Aileen berseru memanggilnya.


"Ada yang mau gue sampein. Sini dulu lo-nya." Panggil Aileen seraya menepuk-nepukkan ranjang di dekatnya. Adib menurut dengan mudahnya dan menghampiri Aileen kemudian duduk mengikuti perintahnya.


"Makasih ya, buat semalem. Gue seneng banget, jarang-jarang gue ke permainan gitu." Ujar Aileen dan Adib terkekeh mendengar ucapan Aileen yang begitu tulus. Jarang juga ia berkata tulus seperti itu dengan Adib.


Aileen berkata lagi, "Lo itu saudara kembarnya Adiba ya? Terus kenapa setiap gue nginep atau pun main di sini, lo kok gak ada?." Tanya Aileen bak hantu penasaran seraya menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Lalu menatap Adib lucu.


Adib yang di suguhi berbagai pertanyaan ia tersenyum maklum. "Iya, gue kembar sama Adiba. Waktu kapan sih lo nginep di sini?." Tanya balik Adib.


Cewek itu memiringkan kepalanya --mencoba berpikir kapan awal dan terakhirnya ia menginap bersama Adiba. "Eum, gak tau sih. Yang pasti udah lama. Hampir dua minggu lalu." Balas Aileen.


"Oh, itu. Gue lagi sama Papa ke luar kota. Jadi gak tau kalo lo nginep, lagi pula gue belom kenal lo waktu itu." Balas Adib seraya mengambil alih sendok yang berada di tangan Aileen dan mulai menyuapi Aileen sesendok demi sesendok. Anehnya, Aileen menerima suapan itu.


Entah karena apa. Darah Aileen tiba-tiba berdesir lebih cepat dan hatinya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan. Ah, Aileen tersipu malu.


"Sa... Satu lagi pertanyaan. Lo kan cowok, kenapa ada lemari warna pink di kamar lo, Dib?." Tanya Aileen masih pada mode hantu penasaran.


"Not for me, but for you."


••🧸••


Seperti yang di janjikan Adiba serta Adib. Mereka membawa Aileen berkeliling sekitar kompleks. Bukan hanya mereka bertiga yang berkeliling tetapi Lalisa juga mengikuti hal serupa. Namun, ia tiba-tiba di telepon oleh Andreas; Suami Lalisa dan Ayah dari anak-anaknya. Mereka bertiga memaklumi kepergian Lalisa.


Mereka tetap malanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda. Tiba-tiba saja ada bunyi yang sangat membuat mereka terkejut. Bahkan pemilik suaranya sekali pun. Siapa lagi kalau bukan suara perut Adiba.


Cewek itu menyengir khas kudanya dan meminta maaf kepada kedua insan yang tengah menatapnya horror. Bukan hanya Adib dan Aileen saja, orang yang berlalu lalang lainnya yang mendengar pun menatap Adiba kesal dan ada pula yang terkekeh.


"Duh, perut!. Lo kenapa sih bikin gue ilfeel aja." Gumam Adiba kesal. Namun, Aileen yang mendengarnya lantas berseru untuk mengejek cewek itu.


Adiba ngedumel dan merutuki Aileen sesadis mungkin dalam hati.


Adib menyenggol lengan Aileen. Bermaksud agar Aileen tidak terbahak dan harus menjaga image di depan semua orang. Dalam hati, Aileen sudah pasti merutuki cowok yang berada di sampingnya. Padahal mereka bukan di tempat pesta mewah, yang pastinya di kelilingi oleh orang-orang berdompet tebal.


"Mau makan dulu?." Tawar Adib kepada keduanya.


"Ihh mau!." Seru Adiba


"Gaskeun mas bro!." Sambung Aileen.


Kemudian Adib mengajak mereka berdua pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaian mereka masing-masing. Setelah semua bersiap untuk pergi, barulah Adib menyuruh Adiba dan Aileen memasuki mobilnya terlebih dahulu.


Lalu Adib kembali seraya menenteng ponselnya dan di letakkan di saku celananya. Adib mengerutkan keningnya, "Lo berdua di belakang semua? Satu gitu di depan." Sahut Adib ketika melihat Aileen yang bercanda dengan Adiba seraya melihat ponsel Aileen.


Aileen mau pun Adiba menghentikan aktivitas mereka mereka dan menatap Adib bingung. "Gak mau!." Bantah Aileen.


Adiba berpikir terlebih dahulu. Mungkin, dengan cara ini mereka berdua akan lebih dekat. "Len, lo di depan sana. Bareng Adib, gue mau selonjoran dulu. Pegel kaki gue habis jogging." Kata Adiba seraya mendorong bahu Aileen menjauh dari tempatnya. Aileen mendengus sebal lalu beranjak keluar dari kursi tengah mobil dan berpindah ke kursi samping pengemudi.


Adiba tersenyum senang melihat berpindahnya Aileen. Lalu meluruskan kakinya di kursi sampingnya. Lain dengan Adib, ia menoleh ke arah Aileen dengan mulut yang berkomat-kamit tak jelas.


Adib mencondongkan diri untuk menyampirkan seatbelt Aileen. Aileen yang melihat perilaku Adib menahan napasnya. "Pake seatbelt-nya, Ileen. Entar kepala lo ke ke bentur." Perintah Adib setelah selesai memasangkan seatbelt pada Aileen.


Aileen yang melihat Adib sudah duduk di kursinya bernapas lega. Bukan karena Adib memanggilnya dengan sebutan Ileen. Tetapi karena perlakuannya. "Ma-makasih." Gugupnya. Adib melihat jelas ada semburat merah di pipi Aileen. Sedangkan Aileen memalingkan mukanya malu.


Adiba yang melihat adegan tersebut cekikikan sendiri dalam hati dan gemas sendiri melihat dua sejoli di hadapannya ini. Sebab dirinya jarang mendapat perlakuan seperti itu, bisa di bilang juga tak pernah. Karena dirinya ingin sendiri sampai kembarannya itu benar-benar menjalin hubungan dengan Aileen. Itulah prinsip jomblo Adiba.


Adib tersenyum ke arah Aileen lalu mengacak-acak rambut cewek itu gemas. "Siap?." Tanya Adib. Cewek itu justru tersenyun malu-malu dan mengangguk singkat.


"Always siap!." Sahut Adiba.


"Siap!." Ujar Aileen.


Barulah Adib menyalakan mesin mobil dan menjalankannya ke luar dari pekarangan rumahnya.


••🧸••


Beberapa menit berlalu sudah Adib tempuh menggunakan mobil dan kini mereka sudah sampai pada tujuan mereka. Tempat makan. Yang membuat perut ke tiganya berbunyi untuk di beri makanan. Tidak perlu untuk pergi ke restoran mahal dan tidak perlu juga untuk pergi ke kafe. Ke tiganya memilih untuk makan di Mcd.


Adiba memilih untuk memesan makanannya sedangkan Aileen dan Adib menunggu dengan keadaan yang canggung. Tak biasanya bagi Aileen untuk bersikap diam, biasanya ia akan berceloteh panjang lebar untuk mengasikkan dirinya sendiri. Beda kali ini, sepertinya ia juga harus menjaga image depan Adib.


"Gue... Gue mau ke..." Kata Aileen gugup.


"Stay in here. Jangan ke mana-mana, sampai Adiba dateng." Jawab Adib tegas. Jika ucapan Adib menusuk seperti ini, mungkin Aileen tak akan berkutik selama Adiba datang seraya membawa pesanan mereka. Adib memang tidak melakukan hal apapun, tetapi yang membuat Aileen risih adalah Adib yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Aileen.


Aileen menunduk. "Jangan lihat gue kayak gitu." Tutur Aileen. Akhirnya wajah Adib melunak walaupun tak melunturkan rahangnya yang tegas bak cowok dingin. Adib tahu kalau ia salah untuk menegaskan Aileen dengan cara dingin seperti itu.


Adib menjangkau dagu Aileen dan mengangkatnya. Jarak mereka hanya di batasi meja. Tetapi tak menghalangi Adib untuk menyentuh Aileen. "Oke, gue minta maaf udah dingin sama lo. Gue cuma gak mau lo ke mana-mana. Tetap di sini, Len." Ungkap Adib lembut. Aileen mengangguk pasrah.


"Gue... Gue cuma gak mau lo dingin sama gue. Nyeremin tau gak!." Kesal Aileen yang akhirnya menyuarakan isi pikirannya.


Adib menangkup ke dua pipi Aileen. "Iya, maaf. Lagian, gue cuma minta lo jangan kemana-mana. Salah ya? Gue cuma takut lo hilang. Itu aja, gak berlebihan kok." Adib merespons.


Untuk kesekian kalinya Aileen merasakan hatinya berdebar-debar oleh Adib.