Make It Right

Make It Right
Part 1 | Make It Right



Cuma lo ancaman gue!


***


AILEEN berjalan santai menuju gerbang sekolahnya. Sambil sesekali menyanyikan lirik lagu yang ia dengar dari earphone yang terpampang jelas ditelinganya.


Rambutnya yang tergerai bebas menari kesana kemari mengikuti temponya berjalan. Ia melihat was-was kearah gerbang, takutnya ada guru yang tengah berjaga.


Sebab, sekarang sudah pukul setengah tujuh lewat lima menit. Artinya, ia sudah telat lima menit lalu. Terlalu ekstrem bukan kata telat bagi cewek?


Tapi tidak bagi Aileen. Baginya, yang penting ia sudah ingin sekolah. Kata gurunya pun sewaktu ia Sekolah Dasar, Nggak apa apa telat, yang penting masuk sekolah.


Ia berlari kecil menuju kearah gerbang belakang sekolah. Sepi. Guru guru jarang melewati gerbang belakang. Dikarenakan keadaannya yang tidak memungkinkan untuk dilewati.


Tiba tiba ada tangan yang bertengger dipundaknya. Ia menegang seketika. Aileen menoleh kebelakang, takutnya rumor disekolahnya itu benar ada.


Ternyata dugaannya diluar ekspetasi. Dia seorang cowok, bukan makhluk makhluk aneh yang berada dipikirannya. "Kenapa lo telat?!." Sarkas cowok itu.


Aileen menyengir khas kudanya, lalu berkata, "Duh, mas ganteng. Dedek cantik mau lewat, mas ganteng jangan ganggu dedek yup."


Cowok itu justru menarik kerah belakang seragam Aileen dan menyeretnya keluar dari gerbang belakang.


Udahlah, mati gue. Aileen membatin.


***


"Sekali lagi Ibu tanya, kenapa kamu telat?!." Omel Bu Arum, guru yang terkenal killer karena cara mengajarnya yang tak biasa. Bayangkan saja, jika ada yang tidak menulis sepatah kata pun sewaktu ia mengajar akan diberikan hukuman berupa lari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali.


Belum lagi lapangannya yang luas bagai lapangan GOR. Keterlaluan memang. Kembali pada Aileen. "Duh Bu, kan saya tadi udah bilang kalo saya itu bangun kesiangan. Bukan karena gak mau sekolah. Ckck, Ibu pikun ah." Bela Aileen pada diri sendiri.


Lelaki tadi yang membawanya ke ruang guru terperangah ketika suara itu melancang perkataan kepada gurunya sendiri. "Heh! Yang sopan sama guru, cebol."


"Am i right? That I told you I was late because I was late. Ya kan? Gue bener, abisnya Bu Arum gak denger apa yang gue ucapin. Dia malah sibuk ngomel ngomel."


"Aileen!." Bentak Bu Arum dengan mata belo-nya yang hampir ingin keluar.


"Maaf Bu, ya udah bye semua." Ujar Aileen seakan tau apa hukuman yang pantas untuknya yang akan di berikan kepadanya dari Bu Arum.


"Tunggu, mau kemana kamu?!." Tanya Bu Arum masih dengan tangan yang bertengger di pinggangnya.


Aileen berbalik, "Kenapa Bu? Saya? Saya mau keliling lapangan GOR. Biar sekalian Ibu puas. Benarkan? Itu hukuman buat saya?."


"Pintar. Cepat sana."


Aileen pergi.


"Awasi ia." Suruh Bu Arum kepada Adib. Adib mengangguk setuju. Bagaimana pun cewek itu harus ia kasih pelajaran karena mengambil waktu jam pelajaran pertamanya hanya untuk mengawasi cewek gila itu.


***


Aileen berlari sambil di kelilingi peluh di keningnya. Sesekali ia menyeka peluh itu menggunakan tangannya yang bebas. Satu putaran lagi ia berhasil menyelesaikan hukumannya. Ternyata, ekspetasinya di luar dugaannya. Cowok tadi berdiri di tepi lapangan. Membuatnya berhenti berlari.


Apakah ia melakukan kesalahan lagi, sampai sampai cowok menyebalkan itu menjadi penguntitnya?


Cowok itu menghampirinya. Lalu berkata, "Udah puas? Udah puas larinya, udah puas telat ke sekolahnya?."


Aileen beedecih dan berusaha mengabaikan cowok menyebalkan di hadapannya ini. Kemudian melanjutkan berlari marathon-nya. Setelah selesai ia justru tidak langsung masuk ke kelasnya dan malah duduk di pinggir lapangan. Membiarkan kakinya di luruskan.


"Buat lo." Ucap cowok tadi yang masih mengawasinya. Aileen mendongak, menatap cowok itu lekat lekat lalu berdecih.


"Udah ngomel ngomelnya? Udah sok perhatiannya? Udah gangguin gue-nya?." Balas Aileen meniru perkataan cowok itu. Dan Aileen tidak mengambil air mineral yang di berikan cowok itu dan justru mengambil botol air miliknya sendiri yang berada di dalam tas ranselnya.


Cowok itu tersenyum. Lalu menarik kembali tangannya dan duduk bersebelahan dengan Aileen. "Kenapa lo ngerasa kalau sekolah ini punya aturan bebas?." Ujarnya.


Aileen menatap instens ke arahnya. Ia menaruh botol airnya kembali dan memasukkannya ke dalam tas. "Karena itu bagian dari hidup gue. Kebebasan. Ya, hanya ada kebebasan di hidup gue. Puas?!." Sarkas Aileen lalu menyampirkan tasnya di pundak dan pergi begitu saja.


***


"Muka lo jelek banget sih Len kalo lagi marah. Mual gue lihatnya." Ejek Keanu dan berusaha menggoda Aileen. Seisi kelas tertawa melihat aksi konyol dari seorang Keanu Mahardika. Sedangkan Aileen berusaha menahan amarahnya.


"Eh corong bensin, diem lo!." Titah Aileen yang masih di landa kekesalan. Keanu hanya memasang wajah tak berdosanya dan menertawakan Aileen. Ia senang, lebih tepatnya bahagia ketika tengah menjahili Aileen. Selain bahagia, seluruh seisi kelas juga terhibur. Detik itu juga Aileen menarik kasar rambut Keanu yang katanya bak artis Korea. Prett.


"Arghh, kesel gue sama lo. Lo kalo hidup resek, gimana kalo mati?." Tawar Aileen kepada Keanu. Seisi kelas tertawa kembali setelah mendengar ucapan nyeleneh dari mulut cablak Aileen.


Keanu meringis kesakitan dan mencoba melepaskan genggaman tangan Aileen pada rambutnya. "Duh, iya maap maap. Lagian cepet tua lo kalo marah marah melulu." Gumam Keanu pelan, agar, Aileen tak mendengar ucapannya. Mata Aileen melotot lalu menarik rambut Keanu lebih kencang.


"Apa, hm?!. Udah ah bisa gila gue kalo lama lama deket sama lo, Nu. Arggh puyeng pala gue." Ucap Aileen menambah kemarahannya dan menarik rambut Keanu lebih kencang sampai sampai tubuhnya tertarik ke belakang. Aileen menyudahi kegiatan marah marahnya. Keanu mengelus rambutnya yang terasa panas.


"****** lo, Nu. Hahaha." Ejek Riyan teman sebangku Keanu. Keanu menatap sinis Riyan. Justru Riyan tertawa terbahak bahak. Aileen tidak peduli ejekan teman temannya untuk Keanu. Ia lebih memilih duduk di bangkunya semula.


"Gue rasa rambutnya Keanu rontok." Timpal Sekar. Seisi kelas kembali tertawa hingga terbahak bahak. Kemudian mereka menyudahi kegiatannya di karenakan Bu Neneng sudah memasuki kelas.


***


"Tuh," Unjuk Alena menggunakan dagunya yang mengarahkan kepada Aileen, yang berada tak jauh dari mereka. "Kenapa?". Lanjut Alena. Adiba mengangkat bahunya sebab tidak tahu mengapa Aileen ingin sendiri, lagi. Mereka berdua adalah sahabat Aileen. Orang yang paling mengerti segala moodboaster Aileen.


Alena serta Adiba tengah mengintip diam diam dari pintu rooftop sekolah. Dan melihat segala interaksi Aileen dengan alam; Angin. Cewek itu tengah membentangkan tangannya dan menutup matanya rapat rapat untuk merilekskan dirinya.


Drrtt Drrtt


Tiba tiba saja ponsel Adiba berbunyi. Dan tertera nama kembarannya itu di layar ponsel.


"Apaan, Dib? Gue lagi sibuk nih ngurusin cewek gila." Ujar Adiba di sertai kekehan. Alena justru memperhatikan Aileen yang masih berdiri dan membentangkan tangannya dan mengabaikan sambungan telepon antara Adiba dengan Kakak cowoknya.


"Gue cuma mau bilang lo kenal Aileen, katanya dia sekelas sama lo, bener?." Tanya lelaki di sebrang sana. Adiba yang mendengarnya terkejut begitu pun dengan Alena yang diam diam menguping pembicaraan antara Adiba dengan lelaki tersebut.


"Eum, iya. Kenapa mang nya, dia lagi sibuk." Adiba mengelak. Sebab, kalau ia mengatakan kegiatan Aileen sekarang, cewek itu pasti mengamuk padanya karena jam kebebasannya di renggut.


"Dia di panggil Pak Kholid, katanya suruh nemuin beliau di ruangannya." Lanjutnya.


Kalau sudah seperti ini Adiba di lema. Antara memberitahu atau membohongi. Kalau memberitahukan, artinya sama saja ia mejuruskan diri ke lubang kemarahan Aileen. Jika, membohongi kembarannya atau pun Pak Kholid mereka akan kecewa dengannya.


"Gimana ya, Dib. Aileen tuh lagi di rooftop. Kalo gue ganggu dia, dia pasti ngamuk sama gue. Mending lo aja deh kesini." Tawar Adiba kepada kembarannya itu.


"Ya udah, gue ke sana. Pastiin cewek itu gak kemana mana, gue otw."


"Dib--"


Tutt...


"Kebiasaan lo!." Gerutu Adiba. Kemudian menaruh kembali ponselnya di saku rok. Dan kembali memperhatikan yang Aileen lakukan. Alena menoleh ke arah Adiba. Dan berkata, "Adib ngomong apaan sama lo, Dib?." Tanya Alena.


"Gak penting banget sih, yang penting sekarang kita cepet-cepet ke kantin aja. Soalnya, ada yang lebih asik di bandingkan godaan Keanu kepada Aileen."


Alena mengangguk lalu pergi bersama Adiba menuju kantin.


***


"Aileen." Panggil seseorang dari belakang Aileen. Cewek itu menoleh ke arah balakang dan terkejut dengan ke datangan cowok pagi tadi. Aileen mendengus kesal. Mengapa cowok itu menjadi hantu penguntitnya?


"Harus berapa kali sih gue bilang, jangan ganggu gue!. Gue tuh suka heran sama lo. Tiba-tiba muncul dan hilang bak setan. Persis banget, seratus persen tanpa hoax." Kesal Aileen namun bicaranya tak sesinis pagi tadi. Sebab, ia lelah. Bukan tanpa alasan. Karena ia ingin tidur dan berharap jika ia terbangun sudah esok hari.


Adib terkekeh merdengar pernyataan yang keluar dari mulut cablak Aileen. "Iya-iya, maaf deh kalo gitu. Gue cuma mau sampein pesan Pak Kholid nanyain lo. Kata beliau lo ke ruangannya sekarang."


Aileen mendesah pasrah. Lalu ia berjalan lemas dan menghampiri Adib. "Gendong gue dong. Capek tau gak. Please, ya-ya-ya. Btw, nama lo sapa sih?."


Adib berjongkok dan membalikkan tubuhnya. "Ayok naik." Titahnya. Aileen membulatkan matanya tak percaya. Padahal ia hanya bercanda saja tetapi cowok di hadapannya ini serius. "Ih serius? Makasih ya." Ujarnya dan langsung menaiki tubuh jangkung Adib.


Adib tersenyum ramah lalu mulai berdiri. "Nama gue Adib Alim Maulana. Inget itu."