
Seusai makan dari Mcd, mereka bertiga langsung pulang setelah perut terisi penuh dengan makanan. Awalnya Aileen dan Adiba ingin membeli beberapa buku dekat dengan Mcd. Tapi niat mereka di urungkan ketika wajah Adib memerah menahan amarah. Adiba ingin mengejek dan menambahkan amarah Adib di kala cowok itu menahannya tetapi ia urungkan karena Aileen tidak ingin melihat ke dua anak kembar itu berantem.
Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai rumah Lalisa. Hanya butuh waktu dua puluh lima menit. Tak heran jika cepat sampai, karena mereka juga memakai mobil untuk mempersingkat jarak. Tak ada yang spesial dalam perjalanan pulang. Hanya ada ke heningan yang menimpa mereka.
Sesampainya di rumah, Adiba langsung pamit dengan Aileen untuk menuju kamarnya terlebih dahulu dan meninggalkan Aileen dan Adib yang masih di teras depan.
"Lo mau pulang?." Tanya Adib langsung. Karena sebetulnya ia tahu kalau Aileen sudah mulai tak betah jika terus berada di dekatnya. Yang di tanya hanya diam. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Adib menghela napasnya gusar.
"Jujur aja, gue gak rela lo pulang. Tapi mau gimana lagi, lo udah gak betah kan berada di sini sampai tante Irene pulang?." Lanjutnya.
Aileen menunduk. Ia tak kuat mendapatkan tatapan mengintimindasi dari Adib. Begitu kuat auranya. Hingga ia seperti orang yang tersudut dan tertangkap basah seperti maling dan di introgasi oleh Polisi. Kemudian menghela napasnya perlahan begitu pun ketika membuangnya. "Sepenuhnya, iya. Tapi ada beberapa hal yang mesti gue tetap di sini."
"Salah satunya?." Tanya Adib penasaran.
"Gue gak mau sendirian di rumah. Lo tau sendiri, gue itu pengecut kalo udah berurusan sama makhluk mistis. Mereka itu serem. Ngelihat muka mereka di Google aja buat gue merinding. Boleh kan kalo gue nginep di sini sampai Mama dateng?." Jawab Aileen sedikit malu akibat pernyataan kalau ia amat-teramat takut pada hal-hal tak kasat mata.
Adib terkekeh mendengarnya, "Gue gak masalah selagi lo nyaman di sini. Gue, Mama dan Adiba free aja kalo lo di sini. By the way, Mama juga lagi keluar kota bareng Papa. Jadi puas-puasin lo nginepnya." Kata Adib seraya memasuki pintu rumah dan di ikuti oleh Aileen.
"Eh tapi gue tidur di mana dong? Gak mungkin kan--" Kata Aileen terpotong di kala Adib menyentil dahinya dan melotot tajam ke arahnya.
Adib menggeleng. Ia tak habis pikir dengan otak Aileen. Bagaimana cewek ada yang berpikiran seperti itu. Padahal di rumah Lalisa tak mungkin hanya ada tiga kamar saja. Ada beberapa kamar kosong di rumahnya. "Jangan aneh-aneh pikiran lo. Kemarin gue emang tidur satu kamar bareng lo tapi gue tidur di sofa." Tegas Adib. Setelah sampai kamar, Adib memilih untuk menidurkan dirinya di sofa dan Aileen di ranjang.
"Hehe, bagus deh. Eh tapi lo jangan suruh gue pindah kamar. Bukan tanpa alesan sebenernya, you know-lah. Gue kan takut hantu." Ujar Aileen dan mendapat anggukan dari Adib. Adib menyampingkan badannya dan menoleh ke arah Aileen.
Aileen menatap setiap inci dari kamar Adib. Ia merasa kagum dengan kamar Adib yang begitu bersih dan rapi. Tidak kebanyakan seperti cowok-cowok di luar sana yang kamarnya kacau balau seperti kapal pecah. Bahkan kamarnya saja tidak se-rapi kamar Adib. Jika bersih tentu saja ya. "Kamar lo bagus. Gak heran kalo lo di pilih sebagai ketua tim Futsal." Lanjutnya agak tidak nyambung dengan topik pertama ia ucapkan.
"Gak nyambung ****. Apa hubungannya kamar sama Futsal? Lo kira main bola di kamar? Aneh aja."
Aileen terkekeh. "Iya juga sih. Eh Dib, gimana kalo gue tidur sama Adiba aja? Gue rasa lo lebih nyaman kalo tidur di kamar sendirian. Bukan muhrim juga." Kata Aileen seraya menjentikkan jarinya di udara dan menatap Adib dengan tatapan berbinar.
Yang di tanya malah mendatarkan ekspresi dan menatap Aileen jengah. "Hmm. Gue mau tidur, jangan ganggu gue!." Titah Adib seraya membalikkan badan dan memejamkan matanya.
Aileen berjalan sedikit berjinjit, karena ia tahu Adib belum sepenuhnya tertidur. Hampir mendekati pintu tiba-tiba saja Adib berseru memanggilnya dengan mata dan posisi tidur semula. "Jangan..." lirih Adib di sela-sela tidurnya.
Dalam hati Aileen berpikir bahwa sebenarnya Adib itu sudah tertidur atau belum. Aileen membalikkan badannya dan melihat Adib yang masih memunggunginya. Aileen menghela napasnya. Ia tak tahu apakah ini jebakan Adib atau bukan. Pasalnya lelaki itu selalu saja menggagalkan rencananya yang ingin kabur dari jangkauan cowok itu.
Dengan berat hati ia menghampiri Adib yang entah sejak kapan cowok itu terisak. Apakah ia terisak karena bermimpi buruk? Atau semacamnya yang berhubungan hal-hal mistis? Atau mungkin juga itu hanyalah pemikiran seorang Aileen.
Aileen memegang pundak Adib dan mengelusnya. Ia hanya ingin menenangkan Adib. Walau pun cowok itu tak merasakan keberadaannya. "Sstt... Jangan nangis, gue di sini." Sahut Aileen di kala cowok itu bangun dan langsung memeluknya. Dengan senang hati ia membalas pelukan hangat tersebut.
Kini timbul banyak pertanyaan mengapa cowok di hadapannya ini terisak dan seakan-akan tidak mau jauh darinya. Adib menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aileen dan semakin pula mengeratkan pelukannya.
"Don't go," kata Adib lirih dan masih tetap dengan posisi yang sama.
"I need you, Girl." Sambungnya terdengar pilu di telinga Aileen. Begitu menyesakkan ketika seorang laki-laki menangis. Bukan karena cowok tak boleh menangis –pasti ada sesuatu hal yang menyebabkan dirinya menangis.
"Gue... Gue bakalan tetap ada di sisi lo. Gue di sini, di sisi lo, di hati lo. Gue gak akan pernah ninggalin lo seumur hidup gue. I promise." Jawab Aileen yakin.
Aileen melepaskan pelukannya. Dan menatap Adib dengan rasa iba dan sedikit.. aneh sebenarnya. Tapi ia mengesampingkan perasaan anehnya itu dan kembali menatap Adib. "Lo bisa cerita apa masalah lo ke gue. Gue bakalan setia denger cerita lo. Apapun masalahnya."
"Ileen..." panggil Adib dengan suara serak khas orang sehabis nangis.
"Hmm?."
"Happy prank, Ileen." Kejut Adib di kala Aileen mulai serius dengan topik awal –Adib terisak. Ia kira Adib memang betul-betul memimpikan sesuatu hal buruk yang terjadi di masa lalunya. Entah itu di tinggal seseorang atau... kalian tahu sendiri lah Aileen akan berpikir apa?-
Aileen menatap Adib jengah. Bisa-bisanya cowok itu menjahilinya ketika ia sedang serius-seriusnya.
"Ileen kuat, Ileen sabar dan tabah. Bisa-bisanya ya lo ngeprank gue di saat gue udah mulai serius!." Omel Aileen seraya menarik kedua telinga Adib dengan kencang. Yang di tarik mencoba melepaskan tangan Aileen dari jangkauan telinganya. Bisa jadi akan terlepas jika Aileen menariknya terlalu kuat dan kencang.
"Aww... lepas-akhh." Rintih Adib.
"Uh, sebel gue sama lo, Dib!."
"Yaudah, maaf. Lagian gue cuma mau cairin suasana aja. Lo yang baper gitu, kok." Gurau Adib beserta kekehannya. Matanya hampir saja menutup ketika ia tertawa, lalu diujung matanya terdapat garis yang membuatnya semakin tampan akan hal tersebut.
Aileen tertegun melihat pemandangan indah dihadapannya ini. Bagaimana ia terfokus oleh indahnya ketampanan yang dimiliki Adib. Seakan seluruh hasratnya hanya ingin memandangi wajahnya. Hidungnya yang macung bak perosotan permainan TK. Lalu mata elangnya yang tajam jika melirik, namun ada kata ramah didalamnya. Bibirnya yang sedikit tebal. Dan yang membuat Aileen tersihir oleh ketampanannya adalah tawanya. Begitu menyejukkan.
"Leen?" Panggil Adib yang berusaha membuyarkan lamunan Aileen. Sejak tadi Adib mengetahui bahwa Aileen manatapnya sangat dalam sampai seperti orang yang sedang dihipnotis.
"Eh, iya, kenapa?" Jawabnya sedikit gugup ketika dirinya tertangkap basah oleh Adib, cowok tampan bin menyebalkan yang ada dihadapannya ini.
••TBC••
Heyoo gaesss...
Gimana ceritanya?
Aileen tersihir ketampanannya Adib, mulai jatuh hati kah Aileen kepada Adib?
Sang cowok tampan bin menyebalkan bin perusuh bin apa lagi gaes?
Kiiw lanjut chapter berikutnya yakk
Vote now!!!
Maksa boleh kg sih? Wgwg