
••🧸••
"Iya, Tante. Udah Adib usahain biar dia gak keluyuran." Ucap Adib menjawab panggilan tersebut seraya menempelkan ponselnya di telinga. Adib mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Seakan-akan orang di sebrang sana melihatnya.
"Hah! Ya udah, Adib ke sana. Tante, Adib mohon cegat dia dulu sementara. Biar Adib sampe sana cepet. Thank's, Tan." Jawabnya terkejut. Dan bersiap-siap untuk mengambil kunci motornya.
Tiba-tiba Adiba menghampiri Adib. Dan berkata, "Mau kemana, Dib? Mama manggil lo tuh di dalem. Gue mau ke atas dulu ya." Ucap Adiba kembarannya dan meninggalkannya sendiri di luar rumah. Sebelum masuk ke dalam, Adib sempat menengadah ke langit. "Gue bahagia bisa kenal lo." Dan masuk ke dalam rumah untuk menghampiri sang Mama.
"Kenapa, Ma? Adib mau ke rumah Tante Irene." Tanya Adib menghampiri Mama nya yang tengah manatap layar televisi sebesar 41 inch. Lalisa menoleh ke arahnya dan tersenyum ramah.
"Beliin Mama es krim dong pulangnya. Mama ke pengin banget. Gak tau kenapa tiba-tiba Mama ngidam begituan. Hehe, beliin ya." Ujar Lalisa. Adib memasang wajah terkejut. Lalu tersenyum.
"Kirain apaan. Ya udah, Adib berangkat dulu ya." Ujar Adib seraya menyalami punggung tangan Lalisa dan mengecup pipi Lalisa.
"Hati-hati ya, sayang. Jangan ngebut pokoknya." Perintah Lalisa.
"Adib pergi."
••🧸••
"Gak ah, Ma. Ileen bosen di rumah, Ileen mau keluar sebentar doang. Ya, Ma, ya? Gak lama kok, palingan kalo gak ke rumah Adiba ke rumah Alena." Ujar Aileen seraya mengapitkan kedua tangannya di depan dada dan dengan tatapan memohon. Irene melihat adegan itu tak tega.
Tapi, bagaimana pun Aileen harus ia kasih didikan lebih keras. Seperti halnya Aidan. Ya, Kakak kandung Aileen yang sudah berkuliah di luar negeri. Di salah satu Universitas impiannya. "Ya udah, tapi jangan lama-lama. Seenggaknya kamu butuh tumpangan."
"Hah, tumpangan? Ileen kan bisa sendiri, emangnya Ileen anak TK." Bantah Aileen tak terima. Ia pasti tak bebas dan pulang sesuai perintah.
"Iya, sebentar ya. Mungkin, sepuluh menit lagi dia sampe. Tunggu aja." Balas Irene seraya melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Ileen gak mau!." Ucap Aileen keukeuh. Ia tetap ingin berjalan malam santai. Bukan seperti anak TK yang harus di pantau setiap menitnya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Dan betapa terkejutnya Aileen ketika ia sudah membuka pintu lebar-lebar.
"Adib!." Pekik Aileen.
Irene menoleh ke arah sumber suara dan menghampiri mereka. Tak lupa Adib yang memberi salam dan menyalami punggung tangan Irene. "Eh, udah dateng. Yuk, masuk dulu. Pasti kamu haus dan ke dinginan kan, tante buatkan kamu minum dulu ya." Tawa Irene. Sedangkan Aileen masih menganga terkejut. Banyak pertanyaan yang kini mulai bertengger di otaknya.
Irene sudah berjalan ke dapur sejak tadi. Menyisakan dua orang di sana. Dengan ekspresi berbeda-beda, yang satu terkejut dan ingin marah dan yang satu lagi tersenyum ramah walau pun pemilik rumah itu tak membalas senyumannya. "Lo, ngapain di sini? Tau alamat rumah gue dari mana? Kenapa akrab banget sama Mama gue?." Tanya Aileen bertubi-tubi. Seakan ia takkan memberi celah untuk Adib menjawab.
"Pertama, gue ke sini karena mau jemput lo. Kedua, tau lah gue tentang alamat rumah lo. Ketiga, this is your screet. Udah kan?. Yuk ke dalem, Tante Irene pasti udah nungguin." Ajak Adib seraya melangkahkan kakinya menuju ke ruang keluarga.
Lho, kenapa dia yang masuk? Atau jangan-jangan dia peletin gue lagi, sampe tau rumah gue segala. Pikir Aileen.
"Adib!!." Pekik Aileen kencang. Dan menyusul Adib yang entah sejak kapan sudah berbincang-bincang dengan Irene. Aileen langsung duduk bersebrangan dengan Adib. Cowok itu seakan tak menyadari keberadaannya. "Ma, kok dia ke sini sih?." Omel Aileen sedikit berbisik dan menatap sinis Adib.
"Adib ke sini itu niatnya baik, sayang. Dia itu mau ngajak kamu jalan." Jawab Irene santai.
"Lho, bukannya Mama gak setuju kalo Ileen jalan sama cowok." Ucap Aileen tak percaya dengan apa yang barusan keluar dari mulut Irene.
Irene terkekeh. "Itu kalo Mama belom tau siapa orangnya. Kalo Adib, jelas Mama percaya sama dia. Selain ramah, Adib juga pinter, dia juga macco. Bisa ngurus masa depan."
"Hah! Apaan sih Ma, Ileen kan masih SMA. Udah ngomongin masa depan aja, sih." Ujar Aileen tak terima. Ia juga tak percaya Irene akan berkata seperti itu padanya. Dan Adib justru terkekeh melihat interaksi antara anak dan Ibu.
"Eh, eh. Adib jadi nungguin kamu tuh, ya udah sana berangkat. Dari pada malem minggunya rebahan mulu. Gih sana." Ucap Irene seraya mendorong tubuh anaknya menuju pintu keluar. Adib mengikuti mereka berdua.
"Tante, Adib sama Aileen mau jalan dulu ya," Adib berucap di sela-sela perdebatan Irene dan Aileen. "Takut kemaleman juga."
"Pulangnya sekalian aja malem, entar kamu nginep di rumah Adib ya, Ileen." Ujar Irene seraya mendorong anaknya semakin menjauh dari pagar dan juga tak lupa menutup pagar rapat rapat kemudian menguncinya.
"Eh, eh, Mama. Jangan kunciin Ileen. Ileen masih mau kok berubah, bukain Mama. Mama jangan kunciin Ileen, Ileen mau masuk. Huaaa tegaa bangeet" Teriak Aileen frustasi ketika Irene sudah memasuki rumah.
"Ternyata beda banget ya, yang Aileen di sekolah sama Aileen di rumah. Di sekolah sok cuek, di rumah manja. Hahaha." Ejek Adib. Aileen
"Yakin?, gue kan cuma takut lo--"
"Hah?! E-emang ada apaan, gak usah nakut-nakutin deh lo. Lo kan gitu tuh sama gue. Udah sana pulang, lagian gak baik cowok di depan rumah cewek."
"Tau gak, di ujung jalan situ--" Ucap Adib seraya menunjukkan rumah besar tak berpenghuni di ujung jalan kompleks rumah Aileen. Yang jaraknya tak lumayan jauh. Aileen langsung berpelukan pada lengan Adib dan melihat sekelilingnya.
"Ya-ya udah a-ayo."
"Gitu dong dari tadi."
••🧸••
"Ihh gilaa. Seru banget. Dari kamaren kek lo ngajak gue kayak gini. Kan biar gue kagak depresi di rumah terus." Kata Aileen seraya memegang es krim cone yang barusan ia beli di kedai. Adib tersenyum lalu mengacak-acak rambut Aileen.
Sebelumnya Adib mengatakan ingin pergi kemana pada Aileen. Namun, cewek itu hanya mengatakan 'terserah'. Alhasil, Adib membawanya ke tempat hiburan. Awalnya Aileen menolak untuk pergi ke sana, tetapi Adib meyakinkan bahwa jika mereka ke sana pasti akan menyenangkan. Benar saja. "Dib, ke sana yuk. Kita naik rollercoaster." Seru Aileen.
Aileen menarik tangan Adib. Dan mengantre pada antrean permainan yang Aileen tunjuk.
Setelah selesai bermain, Aileen memilih untuk pulang. Cewek itu kelelahan setelah banyak bermain permainan. Adib mengiyakan saja ucapan Aileen, toh besok juga libur. Untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah. Sekarang, cewek itu sudah terlelap di dalam mobil.
Adib hendak menelpon seseorang namun terhenti ketika Aileen mengeluh dalam tidurnya. Kemudian Adib mengelus puncak kepala Aileen, anehnya cewek itu langsung diam dan kembali tertidur.
Adib melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi dan menghubungi seseorang.
"Halo, Tante." Sahut Adib ketika sambungannya terhubung.
"Ya, Dib? Gimana Ileen udah tidurkan?."
"Udah kok, Tan."
"Tante nitip Ileen sama kamu dulu, ya. Soalnya Tante mau pergi sama Jonathan. Tante mau keluar kota, buat ngurusin pekerjaan Jonathan. Kamu baik-baik ya, sayang sama Aileen. See you."
"Dengan senang hati, Tan. Oh ya, hati-hati ya, Tan. Salamin buat Om Jonathan. Semoga lancar," Kata Adib.
"See you to, Tan." Lanjut Adib.
Tutt ...
Adib langsung menaruh ponselnya di dasbor dan mulai melajukan mobilnya. Sebelum pulang ke rumah ia menyempatkan diri untuk membeli es krim pesanan Lalisa. Dan kembali menyatu dengan kendaraan lain di jalan raya.
Tak membutuhkan waktu yang lama. Mobil Adib sudah sampai pada gerbang komplek. Satpam yang berjaga segera membukakan palang gerbang. Adib membuka kaca mobil dan menegur satpam tersebut.
"Pak ..." Tegur Adib kepada satpam tersebut.
Satpam itu menunduk hormat dan menyapa Adib kembali. "Mas Adib, silahkan Mas."
Adib tersenyum tak lupa menundukan juga kepalanya untuk menghormati satpam yang jelas jauh lebih tua dari nya. "Mari Pak." Mobilnya kembali melaju dengan kecepatan lamban.
Adib sudah memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Ia menenteng es krim milik Lalisa dan juga menggendong Aileen. Cewek itu semakin terlelap di gendongannya. Mungkin merasa 'nyaman'. Ia di sambut oleh Lalisa sendiri di teras depan. Lalisa tersenyum dan mengambil alih es krim yang berada di tangan anaknya.
"Wah, Dib. Dia mau nginep di sini ya? Irene emangnya kemana?." Sahut Lalisa. Adib menatap Lalisa jengah. Lalu ia berhenti sebentar di hadapan Lalisa.
"Duh, Ma. Adib kan lagi gendong Aileen, pertanyaannya Mama simpen dulu aja ya. Berat nih." Omel Adib. Lalisa menyengir. Lalu mengangguk setuju akan ucapan Adib. Ia melihat dengan jelas Adib yang membawa Aileen tengah menahan berat. Bukan berarti berat badan Aileen lebih dari 70 kilogram.
Sesampainya Adib menidurkan Aileen di ranjangnya ia langsung di suguhi dengan berbagai pertanyaan dari Lalisa. "Gimana?, dia seneng kan? Dia mau nginep yah? Udah mulai suka gak sama kamu?." Tanya Lalisa penasaran.
"Dia seneng kok, Ma. Iya, Tante Irene mau ada urusan sama Om Jonathan di luar kota. Gak semuanya harus cepet, Ma. Hatinya masih keras, belom bisa Adib lelehin. Sabar ya, Ma." Sahut Adib sedih.