
Pada suatu sore yang hangat, setelah puas bermain di hutan, Dewayani dan putri-putri raja wrishaparwa, raja para raksasa, pergi mandi mandi di telaga di tepi hutan. Sebelum menceburkan diri, mereka menanggalkan pakaian dan menyimpannya di tepi telaga. Tiba-tiba angin kencang menerbangkan pakaian mereka menjadi satu tumpukan. Akibatnya, terjadilah kekeliruan ketika mereka selesai mandi dan berpakaian. Tanpa sengaja sarmista, putri wrishaparwa, mengenakan pakaian Dewayani. Melihat itu Dewayani menjadi kesal dan berkata dengan setengah bercanda tentang ketidakpantasan putri seorang murid mengenakan pakaian milik putri gurunya.
Meskipun kata-kata tersebut diungkapkan setengah bercanda, putri sarmishta sangat marah dan menanggapi dengan angkuh: "tidakkah engkau sadar bahwa setiap hari ayahmu tunduk menyembah takzim di depan ayahku yang seorang raja? Bukankah kau putri seorang pengemis yang hidup dengan belas kasih ayahku? Lupakah kau bahwa aku ini putri raja yang dengan murah hati memberi. Lupakah kau bahwa kau hanya anak seorang peminta-minta. Lancang benar kata-katamu kepadaku!" Sarmishta terbakar oleh kata-katanya sendiri hingga amarahnya meledak. Saking marahnya, tanpa sadar ia menampar pipi dan mendorong Dewayani hingga jatuh kedalam sebuah sumur kering. Mengira Dewayani sudah mati, putri raja raksasa itu segera kembali ke istana.
Ternyata Dewayani tidak mati. Ia sangat cemas dan sedih karena tidak bisa keluar dari dalam sumur yang dalam. Kebetulan Maharaja yayati, seorang keturunan Bharata, yang sedang berburu di hutan itu melewati tempat itu. Karena haus, ia mencari air. Ketika melihat kedalam sumur,ia melihat sesuatu yang berkilau di dalam sumur. Yayati memperhatikan dengan seksama dan terkejut ketika mendapati ternyata ada seorang putri jelita terbaring di dalam sumur.
Yayati pun berseru: "siapakah engkau, wahai putri jelita dengan anting-anting berkilau dan kuku bercat merah.? Siapakah ayahmu.? Keturunan siapakah engkau.? Bagaimana engkau bisa jatuh ke dalam sumur.?"
Yayati pun berseru: "Siapakah engkau, wahai putri jelita de-
ngan anting-anting berkilau dan kuku bercat merah? Siapakah
ayahmu? Keturunan siapakah engkau? Bagaimana engkau bisa jaruh
ke dalam sumur?"
Jawab Dewayani: "Hamba putri Resi Sukra. Ayahku tidak tahu aku jatuh ke dalam sumur ini. Tolonglah hamba agar bisa keluar
dari sumur ini!" Ia mengulurkan tangan. Yayati langsung menyambut uluran tangan itu dan membantu Dewayani keluar dari sumur.
Dewayani tidak ingin kembali ke ibu kota kerajaan para raksasa. la tidak lagi merasa aman tinggal di sana, apalagi jika
mengingat perbuatan Sarmishta kepadanya. Karena itu, katanya:
"Paduka telah memegang tangan kanan seorang putri. Karena itu,
Paduka harus menikahi hamba. Hamba yakin dalam segala hal
Paduka pantas menjadi suami hamba,"
Yayati menjawab:"Wahai putri jelita, aku ini seorang kesatria dan engkau putri seorang brahmana. Bagaimana mungkin putri Resi
Sukra, yang memiliki segala kepantasan untuk menjadi guru bagi seluruh dunia, menjadi istri seorang kesatria sepertiku? Putri jelita,
kembalilah pulang." Setelah berkata demikian, Yayati kembali ke
ibu kota kerajaannya.
Menurut tradisi kuno, putri seorang kesatria boleh menikah
dengan putra seorang brahmana. Tetapi putri seorang brahmana
tidak boleh menikah dengan putra seorang kesatria. Tradisi ini menjaga supaya kaum perempuan tidak diturunkan derajatnya ke status kasta yang lebih rendah. Dengan demikian, anuloma atau
praktik menikahi laki-laki dari kasta yang lebih tinggi dapat diterima
Aun praktik kebalikannya atau pratiloma (menikahi laki-laki dari kasta
eang lebih rendah) tidak dibenarkan oleh kitab-kitab Sastra.
Dewayani tetap menolak pulang. la memilih tinggal dalam
kedukaan di bawah sebatang pohon.
Resi Sukra mencintai putrinya melebihi cinta pada dirinya sen-
diri. Setelah sia-sia menunggu kepulangan putrinya yang pergi
bermain bersama teman-temannya, ia menyuruh orang untuk men-
cari putri kesayangannya. Akhirnya, setelah mencari ke mana-man
utusan itu menemukan Dewayani yang duduk di bawah pohon dalam
duka. Matanya sembab karena duka dan amarah. Utusan itu
bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Jawab Dewayani: "Kembalilah kepada ayahku dan katakan
kepadanya. Aku tidak mau lagi menginjakkan kaki di ibu kota
Kerajaan Wrishaparwa."
Resi Sukra sangat sedih mendengar kisah putrinya. la segera
menemui putrinya.
Katanya, menghibur Dewayani: "Perbuatan kita sendirilab yang
membuat kita babagia atau menderita, bukan kebajikan atau keja-
hatan orang lain." Dengan kata-kata bijak, Resi Sukra berusaha
menghibur putrinya.
Tetapi Dewayani menjawab dengan sedih bercampur amarah:
"Ayah, biarkan hamba dengan kebaikan dan keburukan hamba
sendiri. Semua itu urusan hamba sendiri. Tetapi, jawablah perta-
nyaan hamba ini, benarkah ayah budak penyanyi yang pekerjaannya
hanya menyanjung-nyanjung tuannya? Katanya aku hanyalah anak
seorang perninta-mninta yang hidup berdasarkan belas kasih orang.
Tidak puas menghina, ia menampar dan mendorong hamba hingga
jatuh ke dalam sumur. Hamba tidak sudi lagi tinggal di tanah
kekuasaan ayahnya." Dewayani menangis tersedu-sedu.
Dengan tenang dan bermartabat, Mahaguru Sukra menjawab:
"Anakku, engkau bukan anak 'budak penyanyi' yang pekerjaannya
hanya menyanjung-nyanjung tuannya. Ayahmu tidak hidup dengan
resi vang dihormati oleh seluruh dunia. Batara Indra, raja para dewa,
Tahu betul itu. Wrishaparwa tidak
menutup mata pada utang
budinya pada ayahmu ini. Tidaklah pantas orang yang bijaksana
mengungkit-ungkit kebaikannya sendiri. Bangkitlah, wahai kemilau terindah di antara para perempuan. Kau akan membava kebae
hagiaan bagi keluargamu. Bersabarlah dan marilah pulang
Dalam konteks ini, Begawan Wiyasa rnemberikan nasihar lepa-
da umat manusia secara umum dengan kata-kata penghiburan Res
Sukra kepada putrinya:
"Orang yang dapat menaklukkan dunia adalah orang yarng sabar
menghadapi caci maki orang lain. Orang yang dapat mengendalikan
emosi ibarat seorang kusir yang dapat mnenaklukkan dan
mengendalikan kuda liar. Dia dapat mengambil jarak dari amarah-
nya seperti ular yang menanggalkan kulitnya. Hanya mereka yang
tidak gentar menghadapi siksaan akan berhasil mencapai apa yang
dicitakan. Seperti yang tertulis dalam kitab sucí, mercka yang tidak
pernah marah jauh lebih mulia daripada orang yang taat menjalankan
ibadah selama seratus tahun. Orang yang tidak mampu mengendalikan amarah akan ditinggalkan oleh para pelayan, teman
saudara, istri, anak, kebajikan, dan kebenaran. Orang yang bijaksana tidak akan memasukkan kata-kata anak muda yang penuh emosi
ke dalamn hatinya."
Mendengar nasihat ayahnya, Dewayani menyembah hormat,
"Ayah, hamba masih muda. Nasihat ayah masih sulit hamba cerna.
Tetapi, sungguh tidak pantaslah hidup bersama dengan orang tidak tahu sopan santun. Orang bijaksana tidak akan bersahabat
dengan orang yang menjelek-jelekkan keluarganya. Sekaya apa pun, jika jahat, ia adalah orang hina yang tidak pantas masuk kasta apapun. Tidak selayaknya orang yang taat beribadah bergaul bersama
mereka. Panas hatiku karena keangkuhan putri Wrishaparwa. Luka yang disebabkan pedang dapat sembuh dalam perjalanan waktu,
tetapi sakit hati karena kata-kata yang menusuk akan meninggalkan
goresan pedih selamanya,"
Gagal membujuk putrinya, Resi Sukra menghadap Raja Wrishaparwa.
Sambil menatap tajam ia berkata: "Walaupun orang tidak akan segera mendapatkan pembalasan atas dosanya, cepat atau lambat dosa itu akan menghancurkan
sumber kekayaannya. Kacha, putra Brihaspati, adalah seorang brahmacarin yang telah mengalahkan keinginan badan dan tidak
pernah berbuat dosa. Ia melayaniku dengan penuh kesungguhan dan tidak pernah menyimpang dari jalan kebenaran. Para pelayanmu berulang kali membunuhnya, tapi aku menghidupkannya kembali.
Aku masih dapat menerimanya. Sekarang, putriku yang memegang teguh susila dicaci maki oleh putrimu, Sarmishta. Bahkan, putriku
didorong sampai jatuh ke dalam sumur. la tidak tahan lagi tinggal di lingkungan kerajaanmu. Tanpanya aku tidak akan bisa hidup.
Maka, aku akan pergi meninggalkan kerajaanmu."
Mendengar itu, raja para raksasa merasa menghadapi masalah besar dan berkata: "Aku telah mengabaikan tuduhan-tuduhan yang
ditujukan kepadaku. Jika engkau pergi, aku akan terjun ke dalam api."
Jawab Resi Sukra: "Aku hanya menginginkan kebahagiaan putriku. Aku tidak peduli pada nasibmu dan para raksasa, rakyatmu. Satu-satunya yang kumiliki hanyalah Dewayani. Aku mencintainya melebihi cintaku pada diri sendiri. Jika engkau dapat membujuknya untuk tetap tinggal di kerajaanmu, aku tidak akan
pergi."
Maka, pergilah Wrishaparwa dengan diiringkan beberapa pengawal untuk menemui Dewayani. Di hadapan putrí itu, Wrishaparwa menyembah dan memohon supaya Dewayani tidak meninggalkan kerajaannya.
Dewayani bersikeras dan berkata: "Sarmishta yang mengataiku anak seorang peminta-minta harus menjadi dayang dan melayaniku di rumah yang diberikan ayah pada upacara pernikahanku."
Wrishaparwa menerima tuntutan itu dan memerintahkan para pengiringnya untuk menjemput Sarmishta.
Sarmishta mengakui kesalahannya dan menyembah sambil berkata: "Ya, aku bersedia menjadi dayang seperti yang dikehendaki
Dewayani. Aku tidak ingin ayahku kehilangan gurunya dan harus membayar mahal untuk kesalahan yang aku lakukan." Dewayani
menerima permintaan mnaaf Sarmishta dan ia kembali ke istana Wrishaparwa bersama ayahnya.
Pada suatu hari, Dewayani bertemu kembali dengan Yayati. Ia mengulangi permintaannya supaya Yayati memperistrinya karena Yayati pernah memegang erat tangannya. Sekali lagi, Yayati menolak. Katanya seorang kesatria tidak diperbolehkan menikahi putri seorang brahmana. Pada akhirnya, mereka pergi kepada Resi Sukra dan mendapatkan restu untuk menikah. Ini perkawinan pratiloma, yang didasarkan pada pertimbangan luar biasa, Memang, kitab-kitab suci sastra tidak membenarkan perkawinan semacam ini, tetapi
sekali perkawinan semacam ini terjadi tidak dapat dibatalkan kembali.
Mereka menguntai kebahagiaan selama bertahun-tahun. Sarmishta menepati janjinya menjadi dayang. Suatu hari, diam-diam
Sarmishta menemui Yayati dan memintanya untuk menikahinya.Yayati tidak kuasa menolak dan mereka menikah tanpa sepengetahuan Dewayani.
Akhirnya Dewayani mengetahui pernikahan itu. la marah besar dan mengadu kepada ayahnya.
Resi Sukra berang, lalu mengutuk
Yayati sehingga ia kehilangan kemudaannya.
Demikianlah, Yayati tiba-tiba menjadi orang tua ubanan di usia yang masih bergelora dengan kemudaan. Yayati mohon ampunan
kepada Resi Sukra. Mengingat kebaikannya dulu menolong putrinya yang terjatuh ke dalam sumur, Resi Sukra melunakkan kutukannya.
Katanya: "Wahai Tuanku Raja, engkau akan kehilangan kemegahan masa muda. Kutukanku tidak dapat dibatalkan, tapi jika Tuanku bisa membujuk orang supaya bersedia menukar kemudaannya dengan ketuaanmu, engkau akan mendapatkan kemudaanmu kembali." Kemudian, resi itu memberkati Yayatí dan pamít
pergi.
Bersambung....