MAHABARATA

MAHABARATA
EPISODE 10. BIMA



KELIMA Putra Pandu dan keseratus putra Destarata tumbuh dalam keceriaan dan kegembiraan lingkungan istana Hastinapura. Dari antara mereka, Bimalah yang paling kuat badannya. la sering mengganggu Duryudana dan para Kurawa yang lain dengan memukuli dan menyeret rambut mereka. la juga sangat pandai berenang. la suka menyeret satu atau lebih Kurawa ke dasar kolam, sampai mereka kehabisan napas. Ketika mereka berada di atas


pohon, ia akan menanti di bawah dan mengguncang-guncang pohon itu hingga mereka berjatuhan seperti buah yang masak. Sering kali badan para Kurawa babak belur karena diganggu Bima. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika di kemudian hari mereka sangat membenci Bima karena bibit kebencian sudah tumbuh sejak kecil.


Ketika mereka tumbuh besar, Mahaguru Kripa mengajar mereka ilmu memanah dan menggunakan berbagai senjata perang serta ilmu-ilmu lain yang lazim dikuasai para putra raja. Kedengkian Duryudana terhadap Bima membuatnya banyak melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji.



Duryudana sangat khawatir. Karena ayahnya buta, tahta kerajaan diserahkan kepada Pandu. Setelah Pandu tiada, Yudhistira, sang putra sulung, pasti akan naik tahta, Karena ayahnya buta dan tidak bisa berbuat apa-apa, Duryudana mnerasa bahwa dirinya harus menghalangi Yudhistira naik tahta. Ia mulai menyusun rencana untuk membunuh Bima, la mulai mengatur siasat untuk mewujudkan rencan jahat itu, karena pikirnya jika Bima mati, kekuatan Pandawa akan berkurang drastis.



Duryudana dan adik-adiknya mengatur rencana untuk membuang Bima ke Sungai Gangga, menyeret Yudhistira dan Arjuna ke


penjara serta merebut tahta kerajaan. saudara-saudaranya dan Pandawa pergi berenang di Sungai Gangga. Setelah puas berenang, mereka tidur di tenda untuk melepas lelah Di antara mereka, Bimalah yang paling kelelahan, karena dialah yang berenang paling jauh dan paling lama. Dan karena makanan yang ia makan telah dibubuhi racun, ia merasa lemas dan berbaring di pinggir sungai. Melihat itu, Duryudana segera mengikat Bima dengan tanam an menjalar dan melemparkannya ke sungai. Sebelumnya Duryudana yang jahat telah menanam paku-paku besar di tempat itu. Mereka berharap Bima jatuh ke paku-paku itu dan mati tertusuk paku. Untunglah, Bima tidak jatuh di tempat di mana paku-paku itu ditanam. Tetapi, ular-ular yang berbisa segera memarukinya. Bisa akibat gigitan ular-ular itu justru menjadi penawar racun dalam makanan yang dimakan Bima. Nyawa Bima selamat dan arus sungai membawa Bima ke seberang sungai.


Duryudana mengira Bima mati terhanyut oleh arus sungai yang dihuni ular-ular berbisa dan tertusuk paku yang ia pasang bersama saudara-saudaranya. la kembali ke istana dengan penuh sukacita.



Ketika Yudhistira menanyakan Bima, Duryudana menjawab Bima pulang mendahului mereka. Yudhistira percaya kepada Duryudana dan setibanya di rumah, ia menanyakan kepada ibunya apakah Bima sudah pulang. Ternyata Bima belum pulang. Yudhistira


menjadi khawatir jika Bima mengalami celaka. Bersama dengan adik-adiknya, ia mencari Bima ke mana-mana. Tetapi mereka tidak bisa menemukan Bima. Akhirnya mereka pulang dengan hati diliputi kegundahan.



Diam-diam Dewi Kunti menceritakan masalabh ini kepadaWidura:



"Duryudana memang jahat dan kejam. la berusaha membunuh Bima karena ingin merebut tahta kerajaan. Aku menjadi cemas."



Jawab Widura: "Apa yang engkau khawatirkan memang benar. Tapi simpanlah permasalahan ini untuk dirimu sendiri saja. Jika kita menyalahkan Duryudana, kedengkian dan kebenciannya hanya akan semakin menjadi-jadi. Putra-putramu telah diberkahi dengan usia panjang. Karena itu, engkau tidak perlu khawatir."



Yudhistira juga mengingatkan Bima dan berkata: Jangan ceritakan kejadian ini kepada siapa pun. Mulai sekarang kita harus berhati-hati, bahu-membahu, dan saling menjaga."



Duryudana sangat terkejut ketika melihat Bima masih hidup. Kedengkian dan kebencian semakin menjadi-jadi. la amat kecewa dan segera melengos pergi.


BERSAMBUNG,...