MAHABARATA

MAHABARATA
EPISODE 11. KARNA.



SEMULA putra-putra Pandawa dan Kurawa belajar olah senjata dari Resi Kripa dan baru kemudian dari Resi Durna. Suatu hari ditentukanlah hari bak untuk menguji kecakapan mereka mengolah senjata di hadapan keluarga kerajaan. Dan karena rakyat juga di undang untuk menyaksikan kemahiran para pangeran kesayangan mereka, di sekeliling arena berjubelan orang-orang mengelukan. Arjuna memperlihatkan keterampilan olah senjata yang melebilhi


kemampuan manusia normal. Para penonton dibuat terpukau dan dicekam rasa kagum. Melihat itu, wajah Duryudana menjadi keruh


karena rasa iri dan kebencian.


Menjelang senja hari, tiba-tiba terdengar suara gemuruh menderu-deru dari arah gerbang arena, seperti gemuruh halilintar. Suara itu adalah suara denting senjata yang menandakan tantangan kepada sang pemenang ujian laga hari itu. Semua mata tersedot ke arah suara itu. Mereka membuka jalan bagi seorang pemuda gagah perkasa yang wajahnya memancarkan cahaya. Ia melangkah maju dengan percaya diri, tanpa memberikan penghormatan kepada Mahaguru Kripa dan Durna. Para Pandawa sama sekali tidakmenyadari ironi yang amat pahit, dua saudara satu ibu berhadapan satu sama lain. Pemuda itu adalah Karna.


Dengan suara lantang dan bergema bagai guruh, Karna menantang Arjuna: "Arjuna, aku akan memperlihatkan kemahiran yang


lebih hebat daripada yang telah kau tunjukkan!"


Tiba-tiba Durna berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Sementara itu, Karna-yang suka berperang-memperlihatkan kemampuan olah senjata untuk menandingi apa yang telah ditunjukkan Arjuna. Melihat itu, Duryudana sangat gembira. la segera maju ke arena dan memeluk Karna erat-erat:


"Selamat datang, wahai Kesatria sejati. Kami sungguh beruntung Tuan berkenan datang kepada kami. Aku dan seluruh bangsa


Kuru mendukungmu."


Kata Karna:


"Aku, Karna, berterima kasih kepadamu, Pangeran. Aku hanya menginginkan dua hal: pertama cintamu. Kedua kesempatan untuk


bertarung melawan Parcha alias Arjuna."


Sekali lagi, Duryudana memeluk Karna erat-erat. Katanya: "Semua harta kekayaanku akan kuserahkan demi kebahagiaanmu,


Tuan."


Sementara hati Duryudana berbunga-bunga karena sukacita, Arjuna tersinggung hatinya dan dia marah besar. Dengan tajam, Arjuna menatap Karna yang berdiri tegak dengan angkuh sambil menerima salam dari para Kurawa.


"Hai Karna, akan kubunuh kau dan kukirim kau ke sudut neraka, tempat yang di peruntukkan untuk tamu tak diundang dan


orang bermulut besar sepertimu!"


Karna tertawa mengejek:


"Hai Arjuna, arena ini terbuka untuk siapa saja. Tidak hanya untukmu! Kekuatan adalah tanda kekuasaan dan siapa yang kuat


dialah yang menang. Apa gunanya banyak cakap? Omongan kosong hanyalah senjata mereka yang lemah. Ambil panahmu, jangan


banyak cakap lagi!"


Karena ditantang seperti itu dan dengan seizin Mahaguru Durna, Arjuna segera memeluk saudara-saudaranya dan menuju ke arena. Sementara itu, Karna meninggalkan para Kurawa yang menerimanya dengan hangat. la segera menyongsong Arjuna dengan senjata di tangan. Dan, sepertinya orang tua kedua pahlawan itu ingin memberikan dukungan kepada anak-anaknya dan menyaksikan pertarungan yang sangat menentukan itu. Batara Indra, Dewa Guruh, dan Batara Surya, Dewa Matahari, segera menampakkan diri di


kahyangan.


Ketika melihat Karna, Dewi Kunti tahu Karna adalah anak sulungnya. Ia langsung pingsan. Widura segera mnenyuruh seorang dayang untuk menjaganya, Tidak lama kemudian, Kunti sadar. Ia hanya dapat berdiri. la marah bercampur bingung akan apa yang mesti ia perbuat.


Ketika pertarungan hampir dimulai, Mahaguru Kripa yang paham seluk- beluk aturan perang tanding, maju ke depan dan


bertanya kepada Karna:


"Putra raja yang siap bertarung dengan Tuan ini adalah putra Pandu dan Pritha. Ia adalah anak keturunan wangsa Kuru. Wahai, Kesatria yang gagah perkasa, tunjukkan dahulu asal-usulmu. Hanya setelah engkau menunjukkan asal-usulmu, Partha boleh bertarung denganmu. Putra raja yang bergaris keturunan mulia tidak boleh bertarung dengan seorang petualang yang tidak jelas asal-usulnya."


Mendengar kata-kata itu, Karna serta merta tertunduk lunglai, seperti sekuntum bunga teratai yang disiram hujan.


Duryudana segera berdiri dan berkata: "Jika pertarungan ini tidak dapat dilangsungkan hanya karena Karna bukan seorang anak


raja, mudah saja. Aku nobatkan Karna menjadi Raja Angga." Setelah meminta persetujuan Bhisma dan Destarata, ia segera melakukan


semua persyaratan upacara penobatan dan menobatkan Karna menjadi Raja Angga, dengan memberinya mahkota, permata, dan


semua lambang kebesaran raja. Pertarungan kedua pahlawan itu sudah tidak terelakkan, ketika tiba-tiba tukang sais tua Adirata, ayah angkat Karna, maju ke arena. la membawa tongkat dan tangannya gemetaran karena takut.


Melihat itu semua, Bima tertawa terbahak-bahak. Katanya: "0, dia hanya anak seorang kusir kereta. Ambillah cemetimu dan


jadilah kusir seperti ayahmu. Engkau tidak pantas mati di tangan Arjuna. Kau juga tidak pantas menjadi Raja Angga.


Mendengar kata-kata Bima yang menghina, bibir Karna bergetar menahan amarah. Saking marahnya, ia tidak dapat berkata apa-apa. la hanya menatap matahari yang sedang tenggelam dan mengambil napas panjang.


Tetapi Duryudana berteriak memotong


Bima:


"Hai, Wrekudara, tidak pantaslah engkau berkata seperti itu. Hakikat seorang kesatria adalah keberaniannya, bukan asal-usul


keluarganya. Aku bisa menyebutkan ratusan orang besar yang berasal dari kalangan biasa. Aku tahu bagaimana rasanya ditanya tentang asal-usul keluarga. Lihatlah kesatria ini. Perawakan dan sikapnya. Senjata yang ia bawa serta anting-antingnya. Kemahirannya olah senjata. Pastilah ada sesuatu yang misterius di


belakangnya, karena tidaklah mungkin seekor macan terlahir dari rahim seekor kijang. Jika engkau mengatakan ia tidak pantas menjadi Raja Angga, aku katakan ia pantas menjadi raja seluruh dunia."


Setelah berkata demikian, ia segera menyambar Karna dan menariknya ke dalam keretanya. Ia pacu kereta secepat kilat


meninggalkan arena.


Matahari telah tenggelam. Para penonton bubar dengan ribut. Mereka pergi berkelompok-kelompok membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi. Ada yang memuji Arjuna, Karna, atau bahkan


Duryudana.


Batara Indra tahu bahwa pertarungan sengit antara putranya dan Karna memang tidak akan dapat dielakkan. Maka, ia menyamar menjadi brahmana dan mendatangi Karna, yang terkenal murah hati. Ia ingin meminta anting-anting dan senjatanya. Batara Surya sudah memperingat- kan Karna dalam mimpi bahwa Batara Indra


akan mencoba mencuri kesaktiannya. Tetapi, Karna tetap tidak dapat menolak permintaan yang ditujukan kepadanya. Akhirnya, Karna menotong anting-anting dan memberikan senjata yang telah ia bawa sejak lahir kepada brahmana itu.


Batara Indra, raja para dewa, sangat terkejut dan senang. Setelah menerima pemberian itu, ia memuji Karna karena telah melakukan


sesuatu yang sulit dilakukan oleh orang lain. Karena malu pada kebaikan hati Karna, Batara Indra menawarkan senjata sakti kepada


pemuda itu.


Karna menjawab: "Hamba ingin memiliki senjata sakti Paduka, agar hamba dapat mengalahkan semua lawan." Batara Indra


mengabulkan permintaan Karna, tapi dengan satu syarat. Katanya: "Engkau hanya bisa menggunakan senjata ini satu kali saja. Siapa


pun musuhmu, betapapun saktinya dia, dia akan menemui ajal. Tetapi ingat, begitu selesai kau gunakan, senjata ini akan kembali


kepadaku." Setelah berkata demikian, Batara Indra menghilang.


Karna pergi kepada Parasurama dan menjadi muridnya. Ia mengaku diri sebagai seorang brahmana. Dari Parasurama, ia belajar mantra yang digunakan untuk memanggil senjata yang paling hebat, Brahmastra. Suatu hari Parasurama tertidur di pangkuan Karna. Waktu itu, ulat tanah yang sengatannya sangat menyakitkan menyelinap di kaki Karna dan menggigit pahanya sampai berdarah-darah. Darah mulai mengalir dan sakitnya luar biasa.


Meskipun sangat sakit, Karna sama sekali tidak bergeming. Ia takut mengganggu tidur gurunya. Ketika bangun, Parasurama melihat darah mengalir dari paha Karna. Ia berkata: "Muridku terkasih, engkau pasti bukan brahmana. Hanya seorang kesatria yang dapat menahan penderitaan badan tanpa bergerak sedikit pun. Katakan kepadaku siapa sebenarnya dírimu."


Karna mengaku bahwa ia berdusta dengan mengaku diri sebagai brahmana. Sebenarnya, dirinya hanyalah anak sais kereta kuda. Mendengar pengakuan itu, Parasurama marah dan mengucapkan kutukan pada Karna: "Karena engkau lancang menipu gurumu,


Bramastra yang telah kau pelajari takkan bisa kau gunakan pada saat yang menentukan hidup matimu. Engkau tidak akan bisa


mengingat mantra pemanggil senjata itu pada saat engkau membutuhkannya."


Karena kutukan ini, ketika ia menghadapi saat-saat yang paling menentukan dalam pertarungannya dengan Arjuna kelak, Karna


tidak dapat mengingat mantra pemanggil Bramastra. Karna adalah sekutu setia Duryudana. la setia pada Duryudana sampai akhir hayatnya. Setelah kematian Bhisma dan Durna, Karna menjadi mahasenapati dan bertempur dengan gagah berani selama dua hari. Di akhir hidupnya, roda kereta kudanya terjebak dalam lumpur dan


ia tidak dapat melepaskannya. Ketika berusaha keras melepaskan diri dari lumpur, Arjuna membunuh Karna. Dewi Kunti sangat sedih


ketika mendengar kabar kematian Karna. Kesedihan itu semakin perih karena ia hanya menyimpannya dalam hati saja.


BERSAMBUNG....