MAHABARATA

MAHABARATA
EPISODE 15. KEMATIAN BAKASURA



DI kota Ekacakra, para Pandawa menyamar sebagai brahmana. Mereka meminta-minta di jalan-jalan. Mereka membawakan apa yang mereka peroleh untuk ibu mereka. Jika mereka terlambat pulang, Dewi Kunti menjadi cemas, takut jika mereka tertimpa malapetaka.


Kemudian, Dewi Kunti akan membagi makanan yang mereka peroleh menjadi dua. Satu bagian untuk Bima dan sebagian yang lain untuk keempat Pandawa yang lain dan sang ibu. Bima, putra Dewa Angin, mempunyai kekuatan yang luar biasa dan nafsu makan


yang sangat besar. Itulah sebabnya ia juga dijuluki Wrekudara, yang artinya "perut serigala". Serigala, seperti yang kita tahu, tampak selalu kelaparan, sebanyak apa pun yang mereka makan. Sepertinya perut mereka selalu lapar. Karena nafsu makan yang tidak pernahterpuaskan dan makanan yang mereka peroleh tidak pernah mencukupi, badan Bima menjadi kurus. Melihat hal itu, ibu dan


saudara-saudaranya menjadi cemas. Suatu hari, Bima berkenalan dengan seorang pembuat kendi. Bima menyukai orang itu. Ia suka membantu menggali dan mengangkut tanah liat. Sebagai balas budi, tukang kendi itu menghadiahkan Bima sebuah periuk besar. Gara-gara periuk itu, Bima menjadi bahan ejekan di jalan-jalan.


Suatu hari, ketika saudara-saudaranya pergi meminta-minta. Bima tinggal di rumah bersama ibunya. Tiba-tiba mereka mendengar ratapan pilu dari rumah pemilik rumah. Pasti sesuatu yang sangat menyedihkan menimpa keluarga itu. Dewi Kunti memberanikan diri untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Brahmana dan istrinya itu tidak dapat berkata apa-apa karena tangis mereka. Tetapi, akhirnya brahmana itu berkata kepada istrinya:


"Perempuan malang dan bodoh, aku berulang kali mengatakan bahwa sebaiknya kita pergi dari kota ini untuk selama-lamanya. Tetapi engkau tidak setuju. Kau selalu berkata bahwa engkau lahir dan dibesarkan di sini dan di sini pula--tempat orang tua dan sanak


saudaramu tinggal dan mati kau akan tinggal. Bagaimana mungkin aku dapat hidup tanpa dirimu, pasangan hidupku, ibu anak-anakku tercinta. Engkau adalah segala-galanya bagiku. Aku tidak dapat membiarkanmu pergi menjemput ajal, sementara aku diam saja di sini. Anak perempuan ini Tuhan berikan kepada kita sampai nanti waktunya kita serahkan pada seorang laki-laki yang pantas. Kita tidak boleh mengorbankan anak perempuan kita. Dia adalah anak yang Tuhan berikan supaya dapat melanjutkan keturunan kita. Kita juga tidak mungkin mengorbankan anak laki-laki kita.


Bagaimana kita dapat hidup setelah mengorbankan satu-satunya penghiburan dalam hidup dan harapan kita setelah kita mati? Siapa yang akan memberikan upacara persembahan untuk kita dan leluhur kita. Ya, Tuhan, engkau tidak mendengarkan kata-kataku dan inilah akibatnya. Jika aku mengorbankan diriku, kedua anak ini pasti akan


mati karena tidak ada yang akan melindungi. Apa yang harus aku lakukan? Sebaiknya kita semua mati saja." Setelah berkata demikian,


brahmana itu tidak dapat menahan tangisnya.


Jawab istrinya: "Aku telah menjadi istri yang baik untukmu dan telah melakukan tugasku dengan baik dengan melahirkan kedua anak ini. Aku tidak akan bisa melindungi mereka, tapi engkau pasti bisa, Ibarat sisa makanan yang dibuang dan disambar burung-burung yang serakah, demikian nasib seorang janda, mudah


dipermainkan laki-laki jahat. Anjing-anjing berkelahi memperebutkan kain basah yang berlumur mentega. Menariknya ke sana ke mari dengan tamak, merobek-robeknya mnenjadi kain rombeng. Karena itu, seorang janda hanya akan menjadi permainan orang-orang jahat. Aku tidak mungkin melindungi dua orang anak


yatim--mereka hanya akan mati mengenaskan, seperti ikan di kolam kering. Sebaiknya aku saja yang diserahkan kepada raksasa itu. Berbahagialah perempuan yang mati terlebih dulu daripada suaminya. Seperti yang kau tahu, begitulah yang tertulis dalam kitab-kitab sastra. Ucapkan selamat jalan kepadaku. Jagalah anak-anak kita. Aku bahagia hidup bersamamu. Aku sudah banyak melakukan kebaikan. Dengan pengabdianku yang setia kepadamu,


aku yakin akan diterima dengan baik di surga. Bagi seorang istri yang baik, kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Setelah aku mati, carilah istri lagi. Kuatkanlah hatiku dengan senyuman ikhlasmu. Restuilah aku dan antarkan aku kepada raksasa itu."


Mendengar jawaban istrinya, brahmana itu memneluk istrinya dengan lembut. Ia amat terharu dengan keberanian dan besarnya


rasa cinta istrinya. la menangis sesenggukan seperti anak kecil. Dengan susah payah, ia berkata: "Istriku tercinta dan termulia,


aku tidak sanggup hidup tanpamu. Tugas utama seorang laki-laki yang beristri adalalh melindungi istrinya. Aku akan jadi laki-laki


yang paling hina jika menyerahkanmu untuk dijadikan mangsa raksasa itu. Itu sama saja dengan aku mengorbankan cinta dan


menanggalkan kewajibanku."


Mendengar pembicaraan kedua orang tuanya, sambil menangis salah satu anaknya yang perempuan berbicara: "'Ayah dan Ibu, mohon dengarkan aku, meskipun aku hanyalah seorang anak kecil. Lakukanlah apa yang mesti dilakukan. Hanya aku yang pantas diberikan kepada raksasa itu. Dengan mengorbankanku, kalian bisa menyelamatkan keluarga kita. Biarkan aku menjadi perahu yang


menyelamatkan ayah dan ibu melewati malapetaka ini. Jika ayah dan ibu mati, aku dan adik bayi ini pasti akan mati juga karena tidak ada yang melindungi. Jika dengan pengorbananku keluargakita dapat selamat, aku pasti akan gembira. Bahkan, jika ayah dan


ibu mempertimbangkan kesejahteraanku saja, semestinya ayah dan ibu mengirimkan aku pada raksasa tersebut."


Mendengar kata-kata anaknya, brahmana dan istrinya memeluk anak perempuan mereka sambil menahan tangis. Anak laki-laki mereka yang masih bocah berkata kepada orang tuanya, dengan mata berbinar-binar:


"Ayah, jangan menangis. Ibu, jangan menangis. Kakak, jangan menangis," sambil menyusup dari satu pangkuan ke pangkuan yang lain. Setelah berkata demikian, ia bangkit mengambil sebatang kayu bakar. Dengan suara yang masih cadel ia mengacung-acungkan kayu dan berteriak: "Akan kubunuh lakcaca itu dengan tongkat ini." Tingkah laku anak itu membuat ayah, ibu, dan si kakak perempuan tersenyum sedih. Mata mereka berkaca-kaca. Dewi Kunti, yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka, merasa bahwa sudah saatnya ia menyela pembicaraan mereka. la mengetuk pintu dan bertanya apa penyebab kesedihan mereka. Ia bertanya apa yang dapat ia bantu.


Brahmana itu berkata: "Wahai lbu, kami tertimpa kemalangan yang sangat berat. Ibu tidak mungkin menolong kami. Di luar kota, terdapat sebuah gua. Di sana tinggal raksasa kejam bernama Bakasura. Sudah tiga belas tahun ia memperbudak kota dan kerajaan ini. Para kesatria penguasa negeri ini sudah melarikan diri ke Wetrakiya. Mereka tidak dapat membela dan melindungi kami. Dulu, setiap kali lapar, ia keluar dari gua dan memangsa orang-orang, tidak peduli laki-laki atau perempuan, orang dewasa atau anak-anak. Lalu, para penduduk memohon: "Jangan kau bunuh kami dengan sewenang-wenang. Seminggu sekli kami akan menyerahkan


makanan dan minuman yang cukup untukmu. Kami akan mengirimkannya dalam sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kerbau dan seorang manusia yang diambil dari setiap rumah yang ada. Engkau boleh menyantap semua itu, tapi tidak boleh membunuh dengan sewenang-wenang. Raksasa itu setuju dengan tawaran tersebut. Sejak saat itu, Bakasura melindungi kami dari musuh dari luar dan binatang-binatang buas yang mengancam kami. Perjanjian ini telah berlangsung selama bertahun-tahun.


uang untuk membeli pengganti nyawa kami. Kami tidak akan bisa hidup tenang jika mengirimkan salah satu dari kami. Karena itu,


kami putuskan akan pergi sekeluarga. Biar raksasa rakus itu puas dengan pengorbanan kami. Kami telah membuat ibu merasa sedih


dengan kisah kami, tapi ibu sendiri yang memintanya. Hanya Tuhanlah yang dapat membantu kami. Tetapi, sekarang kami sudah


kehilangan semua harapan."


Pelajaran politik yang terangkum dalam kisah Ekacakra ini patut dan menarik untuk diperhatikan.


Dewi Kunti membicarakan kisah sedih itu dengan Bima dan kemudian kembali kepada keluarga itu. Kata Kunti: "Wahai Brahmana budiman, jangan putus asa. Dewata Maha Agung dan Maha Besar. Aku memiliki lima anak. Salah satu dari mereka akan mengantarkan makanan untuk raksasa itu."


Mendengar ucapan Kunti, brahmana itu terkejut dan melompat kegirangan. Tetapi kemudian, ia segera duduk kembali. la menggelengkan kepala. Ia menolak untuk digantikan. Kata Kunti:


"Brahmana, jangan takut. Anakku ini memiliki kekuatan melebihi kemampuan manusia biasa jika merapal mantra. la pastΓ­ dapat membunuh raksasa itu. Aku melihat sendiri ia membunuh para raksasa. Tapi, engkau harus merahasiakan hal ini. Jika tidak, kekuatannya tidak akan dapat keluar."


Sebenarnya Dewi Kunti takut jika kabar ini tersebar ke luar kerajaan. Jika itu terjadi, Duryudana akan tahu tentang sepak terjang para Pandawa dan dengan demikian akan tahu di mana mereka berada.


Bima amat senang dan tidak sabar untuk segera melaksanakan perintah ibunya. Ketika saudara-saudaranya pulang dari meminta-minta, mereka heran melihat wajah Bima yang berseri-seri. Yudhistira menanyakan kepada ibu apa yang membuat Bima berseri-seri dan penuh semangat. Kunti menceritakan semua yang terjadi.


Kata Yudhistira: "Bagaimana ini? Jangan gegabah dan tergesa-gesa. Apakah kita akan membiarkan dia bertarung melawan raksasa


itu, sementara kita tidur-tiduran dan melupakan bahaya dan kesusahan? Bukankah kita berharap merebut kembali tahta kerajaan dengan kekuatan dan keberanian Bima? Bukankah kita dapat lolos dari kebakaran istana karena kekuatan Bima? Mengapa Ibu membahayakan nyawa Bima yang adalah perlindungan dan harapan kita?


Ananda khawatir, rasa iba membuat ibu tidak berfikir jernih."


Dewi Kunti menjawab: "Anakku, cukup lama kita hidup aman di rumah brahmana ini. Kewajiban kita adalah membalas kebajikannya dengan perbuatan baik. Ibu tahu benar kekuatan Bima dan ibu sama sekali tidak cemas. Ingatkah kau siapa yang membawa


kita dari warawanata dan membunuh raksasa Hidimba. Kita wahib berbuat kebajikan kepada keluarga brahmana ini."


Penduduk mengumpulkan makanan dan minuman yang kemudian dimuat ke dalam kereta yang ditarik dua ekor kerbau. Setelah


siap, Bima mengendarai kereta itu menuju gua raksasa itu.


Kereta itu bergerak maju dengan iringan musik. Ketika sampai di tempat yang telah ditentukan, para penduduk kota kembali.


Mereka meninggalkan Bima sendirian dengan kereta itu. Di mulut gua, tulang-belulang, tengkorak manusia, dan sisa-sisa makanan


yang membusuk berserakan. Berbagai serangga mengerumuni sisa-sisa makanan, sementara burung bangkai melayang-layang di sisa-sisa mayat yang sudah membusuk. Bima menghentikan kereta itu dan mulai menghabiskan makanan yang sebenarnya akan diberikan untuk raksasa itu. Katanya pada dirinya sendiri; "Aku habiskan saja makanan ini. Sebelum berceceran karena perkelahianku dengan raksasa itu. Selain itu, jika aku berhasil membunuhnya, badanku pasti akan kotor terkena mayat-mayat dan aku tidak bisa menikmati makanan ini."


Si raksasa yang amarahnya sedang memuncak karena terpaksa menunggu lama, menjadi murka melihat apa yang dilakukan Bima. Bima juga melhat raksasa itu. la tantang raksasa itu untuk berkelahi. Raksasa yang berbadan sangat besar, kumis, jenggot, dan rambut merah serta bermulut sangat besar segera berlari menerjang Bima. Bimah hanya tersenyum tidak peduli. la menghindar dari terkaman raksasa itu. Berkali-kali raksasa itu meninju punggung Bima, tapi Bima terus melanjutkan makanannya tanpa mempedulikan raksasa itu. Kemudian, raksasa itu nenjebol pohon-pohon besar dan melemparkannya ke arah Birna. Bima tetap tidak mempedulikan raksasa itu, hanya tangan kirinya bergerak menangkis serangan itu. Ia tetap asyik dengan makanannya. Baru setelah selesai makan, sampai tandas, dan menyeka mulutnya, Bima bangkit berdiri dengan seringai puas dan menghadapi raksasa itu.


Maka, terjadilah perkelahian yang seru. Bima mempermainkan raksasa itu. Membanting ke tanah dan menantangnya untuk berdiri lagi. Dengan demikian, raksasa itu berulang kali dilempar-lemparkan seperti boneka mainan. Akhirnya, Bima membanting raksasa itu


keras-keras ke tanah. Dipukulnya raksasa itu dengan lututnya dan dipatahkan tulang-tulangnya. Raksasa itu meraung kesakitan, muntah darah, dan sebentar kemudian mati. Bima menyeret mayatnya ke pintu gerbang kota. Ia kembali ke rumah brahmana tempatnya menumpang, membersihkan diri, dan menceritakan apa yang ia lakukan pada ibunya.


BERSAMBUNG.....


bantu vote ya kak..πŸ™πŸ™πŸ™