
KETIKA Dewi Kunti dan para Pandawa hidup menyamar di Ekacakra, mereka mendengar kabar tentang sayembara untuk memperebutkan Drupadi, putri mahkota Kerajaan Panchala. Para brahmana Ekacakra berencana pergi ke Panchala dengan harapan
mendapatkan sedekah yang berlimpah serta menyaksikan pesta raya dan arak-arakan pernikahan agung. Naluri keibuan Dewi Kuntí dapat mengetahui bahwa anak-anaknya ingin pergi ke Panchala untuk mengikuti sayembara itu. Agar mereka tidak malu mengutarakan
niat mereka, dengan halus ía berkata kepada Yudhistira: "Kita sudah lama tinggal di negeri ini. Sudah saatnya, kita pergi dan melihat-lihat negeri lain. Ibu sudah bosan melihat gunung, lembah, sungai, dan alam sekitar sini. Sedekah yang kita peroleh juga semakin sedikit. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Mari kita pergi ke Kerajaan Panchala yang konon subur dan makmur. Dewi Kunti yang bijaksana dan cerdas bisa membaca pikiran anak-anaknya dan bisa membuat anak-anaknya tidak perlu malu mengungkapkan keinginan mereka.
Maka, berangkatlah para brahmana ke Panchala dan para Pandawa ikut bersama mereka dengan menyamar sebagai brahmana.
Setelah menempuh perjalanan yang jauh, mereka akhirnya tiba di kota kerajaan yang indah. Para Pandawa menumpang di rumah
tukang kendi dengan tetap menyamar sebagai brahmana untuk menghindari perhatian. Meskipun dari luar Drupada dan Durna tampak tidak bermusuhan, Drupada masih belum dapat melupakan atau memaafkan penghinaan yang dilakukan oleh Durna. Salah satu doa permohonan Drupada adalah menikahkan putrinya dengan Arjuna. Durna sangat mencintai muridnya itu sehingga kecil
kemungkinan Durna akan melihat mertua muridaya sebagai musuh. Berkat Arjuna, jika terjadi perang, pihak Drupada akan menjadi
jauh lebih kuat. Awalnya Drupada sangat sedih ketika mendengar kabar kebakaran di istana Waranawata, Tapi kemudian, ia sedikit lega ketika mendengar kabar bahwa para Pandawa bisa meloloskan diri.
Panggung perkawinan telah dihias dengan sangat indah dan dikelilingi bangunan-bangunan peristirahatan untuk menampung para tamu dan peserta sayembara. Berbagai hiburan dan pesta meriah sudah disiapkan untuk memeriahkan pernikahan Drupadi. Rencananya pesta pernikahan akan dilangsungkan selama empat
belas hari.
Di tengah arena diletakkan sebuah busur besi raksasa yang sangat besar dan berat. Orang yang ingin menyunting putri Raja
Drupada harus bisa mengangkat busur itu dan membidik sasaran yang telah ditentukan dengan anak panah. Sasaran itu digantungkan di belakang roda cakra yang terus berputar tanpa henti. Dengan demikian, dibutuhkan kemampuan yang melebihi kemampuan
manusia biasa untuk bisa memenangkan sayembara ini. Drupada mengatakan bahwa siapa pun yang ingin mempersunting anaknya
harus bisa mengangkat busur itu dan mengenai sasaran yang telah ditentukan.
Banyak pangeran yang gagah berani dari berbagai kerajaan mengikuti sayembara. Putra-putra Destarata juga hadir, demikian
pula dengan Karna, Krishna, Sisupala, Jarasanda, dan Salya. Di samping para peserta sayembara, banyak sekali penonton dan tamu
ingin menyaksikan pesta besar itu. Sorak-sorai mereka seperti gemuruh ombak lautan. Ratusan alat gamelan ditabuh bertalu-talu.
Dari arah istana, keluar arak-arakan megah. Paling depan tampak Dristadyumna menunggang gajah dan kemudian disusul Drupadi yang duduk di atas singgasana di punggung gajah. Dengan wajah segar setelah mandi air kembang dan mengenakan pakaian sutra yang berkibar-kibar ditiup angin, masuk ke arena sayembara.
Kehadiran dan kecantikannya yang sempurna menyemarakkan suasana. Dengan tersipu dan karangan bunga di tangan, Drupadi memandang para pangeran yang gagah perkasa. Mereka hanya bisa diam karena terpukau dengan kecantikan Drupadi. Setelah itu, ia turun dari punggung gajah. Para brahmana mulai membaca mantra dan membakar persembahan yang telah disediakan. Ketika kidung-kidung suci dilantunkan, tetabuhan gamelan berhenti. Suasana menjadi tenang. Kemudian, Dristadyumna menuntun tangan Drupadi ke tengah arena. Kemudian ia berkata dengan lantang dan jelas:
"Mohon perhatian Yang Mulia sekalian. Di sini diletakkan busur Di sana sasarannya, dan ini anak panah yang akan digunakan. la yang dapat melepaskan lima anak panah secara berurutan melalui lubang roda cakra itu dan tepat mengenai sasaran, memenangkan
sayembara ini. Jika ia berasal dari keluarga baik-baik, ia boleh mempersunting adikku, Drupadi" Kemudian ia membacakan nama
dan riwayat peserta sayembara untuk adiknya.
Banyak pangeran yang termasyhur mencoba peruntungan mereka. Satu per satu maju ke arena. Tetapi busur itu terlalu berat,
demikian pula dengan anak panahnya. Dengan perasaan malu dan sesal, mereka kembali ke tempat duduk mereka. Sisupala, Jarasanda,
Salya, dan Duryudana juga gagal mengangkar busur itu.
Ketika Karna maju ke tengah arena, para penonton sudah mengira dialah yang akan memenangkan sayembara. Tapi, anak panahnya meleset seujung rambut. Selain itu, begitu anak panah dilepaskan, busurnya terpelanting lepas dari pegangan. Para penonton berteriak riuh. Ada yang berseru bahwa sayembara ini terlalu berat. Tidak mungkin ada yang sanggup memenangkannya.
Sayembara ini hanya dimaksudkan untuk mempermalukan para pangeran.
Tiba-tiba keributan itu terhenti. Di antara mereka muncul seorang brahmana muda. Dengan tenang ia melangkah menuju tempat di mana busur itu diletakkan.
Brahmana muda itu adalah Arjuna yang menyamar. Ketika ia berdiri, para penonton mulai ribut kembali. Golongan brahmana
sendiri terpecah menjadi dua. Mereka berdebat. Ada yang mengatakan bahwa sungguh baik ada yang mewakili golongan
sakti seperti Karna dan Salya saja gagal, apalagi seorang brahmana.
Dari antara hiruk pikuk itu. rerdengar suara lantang:" Tunggu dan lihatlah bentuk badan dan raut wajah brahmana muda itu, aku yakin ia akan nemenangkan sayembara ini. Dia terlihat begitu yakin dan jelas kalau dia tahu apa yang harus dilakukannya. Mungkin, secara fisik seorang brahmana memang lemah, tapi itu kan hanya kekuatan fisik. Bagaimana dengan kekuatan memusatkan pikiran? Mengapa tidak kita beri dia kesempatan?" Dan para penonton mengelu-elukannya, tanda memberikan dukungan.
Arjuna mendekati tempat busur itu diletakkan dan bertanya kepada Dristadyumna: "Bolehkah seorang brahmana mencoba busur ini?" Dristadyumna menjawab: "Brahmana muda, adikku akan menikahi siapa pun yang berhasil mengangkat busur ini dan mengenai sasaran. Apa yang telah diucapkan tidak akan dicabut."
Kemudian brahmana muda itu diam sejenak, mengheningkan cipta. la memohon restu pada Narayana, Hyang Widhi. la angkat busur itu dengan mudah. la memasang kelima anak panah pada tali busur dan melihat ke sekeliling sambil tersenyum. Para penonton terdiam. Mereka menunggu dengan hati berdebar-debar. Lalu, tanpa jeda atau keraguan ia lepaskan kelima anak panah itu secara berurutan meluncur masuk ke dalam roda cakra yang terus berputar dan tepat mengenai sasaran. Sasaran itu jatuh ke tanah! Para penonton bersorak-sorai dan gamelan segera ditabuh.
Para brahmana yang duduk di sekeliling arena bersorak-sorak kegirangan. Mereka melambai-lambaikan selendang kulit menjangan mereka. Seolah-olah merekalah yang berhasil memenangkan sayembara. Wajah Drupadi memancarkan kecantikan yang menyegarkan. Wajahaya bersinar-sinar bahagia, Dengan tatapan penuh sukacita, ia pandang lelaki muda yang memenangkan sayembara
tersebut. Ia melangkah maju mendekati Arjuna dan mengalungkan karangan bunga di lehernya. Dengan girang, Yadhistira, Nakula,
dan Sadewa berlari kembali ke rumah tukang kendi. Mereka ingin segera melaporkan kabar gembira ini kepada ibu mereka. Bima tetap
tinggal di sana untuk berjaga-jaga jika ada pangeran yang membahayakan adiknya karena tidak puas.
Seperti yang diperkirakan Bima, para pangeran mulai marah. Mereka berteriak-teriak: "Sayembara macam apakah ini? Bagaimana mungkin seorang brahmana diperbolehkan mengikuti sayembara? Jika Drupadi tidak mau dipersunting putra raja, ia harus tetap tinggal perawan sampai ia membakar diri. Mana boleh seorang brahmana menikahi seorang putri raja. Kami menentang perkawinan ini. Kami menuntut sayembara dibatalkan demi memnpertahankan tata aturan yang benar." Tampaknya keributan tak terhindarkan lagi. Bima segera mencabut sebatang pohon dan melucuti daun-daunnya. Ia berdiri di samping Arjuna menjaga segala kemungkinan yang terjadi. Drupadi tidak dapat berkata apa-apa.
la hanya memegangi jubah Arjuna yang terbuat dari kulit menjangan.
Krishna, Balarama, dan pangeran lain berusaha menenangkan para putra raja yang marah dan membuat keributan. Diam-diam
Arjuna mengundurkan diri dari arena, ditemani Drupadi. Ia kembali ke rumah tukang kendi.
Tanpa mereka ketahui, Dristadyumna membuntuti mereka. Ia memperhatikan secara cermat. Setelah tahu siapa sebenarnya kelima
brahmana itu, Dristadyumna merasa lega dan gembira. Ia segera memberi tahu ayahnya. Katanya: "Ayahanda, Ananda yakin,
brahmana yang memenangkan sayembara ini adalah para Pandawa. Drupadi bersama mereka, memegang erat jubah kulit menjangan
brahmana muda itu. la sama sekali tidak tampak canggung. Ananda melihat dengan mata kepala sendiri mereka berlima dan seorang wanita yang berwibawa agung. Ananda yakin wanita ítu pasti Dewi
Kunti."
Atas undangan Drupada, Dewi Kunti dan para Pandawa pergi ke istana. Di hadapan raja, mereka mengaku bahwa mereka adalah
para Pandawa. Ia juga menyampaikan keputusan mereka bahwa mereka berlima akan menikahi Drupadi. Mengetahui bahwa mereka
adalah para Pandawa membuat hati Drupada melambung tinggi. Ini berarti memadamkan semua kecemasan terkait dengan permusahan dengan Durna. Tetapi, ketika mendengar bahwa
mereka berlima akan menikahi Drupadi, ia sangat kaget dan kecewa.
Drupada menentang keputusan itu. Katanya: "Sungguh tidak pantas!" Bagaimana mungkin keputusan yang tidak bermoral dan bertentangan dengan tradisi ini terlintas di benak kalian?"
Yudhistira menjawab: "Daulat, Tuanku Raja, maafkan kami. Ketika hidup sengsara dan terlunta-lunta, kami bersumpah akan
membagi adil semua yang kami miliki. Kami tidak bisa melanggar sumpah itu. Ini adalah petuah ibu kami."
Pada akhirnya, Drupada bisa menerima keputusan itu dan pernikahan yang agung pun dilaksanakan.
BERSAMBUNG.....