
SETELAH mohon diri pada para tetua dan berpamitan kepada para sahabat, Pandawa berangkat ke Waranawata. Rakyat mengelu-elukan mereka di sepanjang jalan. Banyak yang enggan kembali ke kota. Widura membisikkan bahasa rahasia yang hanya bisa
dimengerti putra raja itu:
"Hanya mereka yang bisa menghindarkan diri dari musuh-musuh yang licik bisa lepas dari bahaya. Ada banyak senjata yang lebih tajam daripada senjata dari besi. Orang bijaksana yang dapat melepaskan dari kehancuran pasti tahu cara melindungi diri. Api
yang menghanguskan hutan belantara tidak akan dapat membakar tikus yang bersembunyi di dalam liang atau landak yang menggali
lubang di dalam tanah. Orang yang bijaksana pasti bisa membaca peruntungannya hanya dengan melihat bintang-bintang di langit."
Pesan tersebut memang ditujukan kepada Yudhistira dan hanya dialah yang bisa mengerti pesan tersebut. Pesan itu mengatakan rencana jahat Duryudana dan cara melepaskan diri dari jebakan perangkap itu. Yudhistira mengisyaratkan bahwa ia bisa mengerti
pesan Widura. Kemudian, ia memberi tahu ibunya Dewi Kunti. Perjalanan yang semula dimulai dengan suka cita dan kegembiraan
berubah menjadi menggelisahkan dan menyimpan kedukaan.
Rakyat Waranawata sangat gembira ketika mengetahui rencana kedatangan para Pandawa ke kota. Mereka mengelu-elukan kedatangan para Pandawa. Kemudian, mereka beristirahat sebentar, sementara istana peristirahatan dipersiapkan. Setelah istana peristirahatan yang diberi nama Siwamyang berarti kesejahteraan, nama yang ironis karena istana tersebut dimaksudkan sebagai perangkap maut-siap digunakan, Purochana mengantar mereka untuk beristirahat. Ingat pesan Widura, Yudhistira memeriksa setiap sudut istana dengan cermat. Segera ia tahu bahwa istana tersebut memang dibangun dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah
terbakar. Yudhistira berkata kepada Bima: "Meskipun kita tahu istana ini adalah jebakan maut, jangan sampai Purochana tahu kita
sudah mencium rencana jahat mereka. Kita harus bisa meloloskan diri pada saat yang tepat dan itu akan menjadi sulit jika mereka
menaruh kecurigaan pada kita."
Maka para Pandawa tinggal di istana itu dengan sikap yang dibuat sewajar mungkin. Sementara itu, Widura mengirimkan orang
yang mahir menggali terowongan. Orang tersebut menemui Yudhistira secara rahasia. Katanya: "Kata sandi yang diberikan
Widura adalah pesan rahasia yang ia sampaikan pada Tuanku. Saya dikirim ke sini untuk melindungi Tuanku."
Sejak saat itu, penggali terowongan itu bekerja siang malam secara rahasia. Tanpa diketahui oleh Purochana, ia membuat terowongan di bawah tembok yang mengelilingi istana dan terus menjauh menuju hutan belantara.
Purochana tinggal di pondok samping pintu gerbang. Setiap malam para Pandawa bergantian berjaga. Siang harinya, mereka pergi berburu dengan gembira, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sambil berburu, mereka mempelajari keadaan hutan agar ketika tiba waktunya untuk melarikan diri mereka tidak akan banyak mengalami kesulitan. Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, para Pandawa tidak memberi tahu siapa pun tentang rencana jahat Duryudana. Sementara itu, Purochana berusaha keras menghindarkan diri dari kecurigaan dan menunggu saat yang tepat supaya kebakaran yang terjadi tampak seperti kecelakaan. la menunggu selama setahun penuh untuk melaksanakan niatnya.
Akhirnya, Purochana merasa ia telah cukup lama menunggu. Yudhistira yang waspada dapat menangkap sikap Purochana yang mencurigakan. Ia segera memanggil saudara-saudaranya dan mengatakan bahwa saat untuk melarikan diri sudah tiba.
Hari itu, Dewi Kunti mengadakan pesta meriah untuk para penjaga. Maksudnya adalah untuk membuat mereka tertidur karena
kekenyangan.
Tengah malam, Bima membakar istana itu. Dewi Kunti dan para Pandawa telah meloloskan diri melalui terowongan rahasia.
Mereka meraba-raba jalan keluar dalam gelap. Sementara itu, api menjalar dengan cepat membakar seluruh istana. Penduduk terbangun dan berteriak-teriak dan berlarian kebingungan. Ada yang sia-sia berusaha membantu memadamkan api. Dengan sedih dan kesal mereka berteriak: "Ya Tuhan, ini pasti perbuatan Duryudana. Pasti dia yang memerintahkan pembunuhan atas para Pandawa yang tidak berdosa." Istana itu terbakar habis dan menjadi abu. Pondok Purochana juga terbakar habis berikut dengan penghuninya yang gagal menyelamatkan diri dari rencana jahatnya sendiri. Rakyat Waranawata segera mengirimkan kabar duka ke Hastinapura: Istana peristirahatan para Pandawa terbakar habis. Tidak ada yang selamat."
tapi juga dingin karena kesedihan yang mendalam."
Destarata dan putra-putranya menanggalkan pakaian kerajaan dan mengenakan pakaian berkabung untuk para Pandawa yang mereka kira ikut terbakar bersama istana itu. Mereka hanya mengenakan sehelai pakaian untuk menunjukkan kedukaan mereka yang mendalam dan pergi ke tepi sungai, Di sana, mereka mengadakan upacara pemakaman. Mereka semua memperlihatkan rasa duka yang mendalam.
Banyak orang melihat bahwa Widura tidak terlalu tenggelam ke dalam kesedihan seperti yang lain. Orang mengira hal itu karena
pengertian filsafat Widura yang mendalam. Tetapi, alasan yang sebenarnya adalah bahwa Widura tahu bahwa para Pandawa pasti
berhasil meloloskan diri dari maut. Widura justru mengkhawatirkan keadaan para Pandawa yang sekarang mengembara di hutan.
Melihat Bhisma tenggelam dalam kesedihan, Widura segera menghampirinya dan membisikkan apa yang sebenarnya terjadi.
Bima melihat ibu dan saudara-saudaranya kehabisan tenaga karena terus berjaga setiap malam dan rasa takut serta cemas. Kemudian, ia menggendong ibunya di punggung, ia rangkul Nakula dan Sadewa dengan lengannya, dan kedua tangannya menuntun Arjuna dan Yudhistira. Dengan beban yang seberat itu, Bima terus melangkah menembus hujan, seperti seekor gajah yang menerjang semak belukar dan pepohonan yang menghalangi jalan. Di tepi Sungai Gangga, mereka menemukan sampan dengan tukang perahunya yang telah diperintahkan Widura untuk menunggu mereka.
Setelah gelap, mereka menyeberangi sungai itu. Kemudian, sepanjang malam mereka berjalan masuk ke hutan belantara. Mereka
berjalan dalam kegelapan dan kesunyian. Tidak ada suara apa pun kecuali suara-suara binatang malam. Lewat tengah malam, karena
tidak ada lagi tenaga yang tersisa, mereka duduk beristirahat. Dewi Kunti berkata:
"Aku tidak sanggup lagi. Aku tidak peduli jika anak-anak Destarata datang menyergap kita. Aku ingin beristirahat sebentar." Setelah berkata demikian, ia merebahkan diri dan langsung tertidur. Dalam kegelapan Bima berusaha mencari air. Beberapa lama kemudian, ia menemukan sebuah telaga kecil. Ia segera membasuh tubuhnya dan membuat cangkir dari daun teratai. Dengan cangkir daun itu, ia bawakan air untuk ibu dan saudara-saudaranya yang kehausan. Sementara ibu dan saudara-saudaranya tertidur, melupakan musuh-musuh mereka, Bima tetap berjaga.
Pikirannya melayang-layang:
"Bukankah pepohonan dan tanaman yang ada di hutan ini saling membantu dan mereka hidup damai di hutan?" Pikir Bima: "Mengapa Paman Destarata dan Duryudana begitu tega memperlakukan kami seperti ini?
" Bima yang berhati mulia tidak dapat memahami mengapa ada perbuatan jahat. Sedih hatinya memikirkan perkara itu.
Demikianlah, para Pandawa terus berjalan menelusuri hutan. Mereka menempuh penderitaan dan berbagai macam mara bahaya.
Mereka bergantian menggendong ibu mereka agar perjalanan bisa lebih cepat. Kadang, saking lelahnya mereka berhenti dan beristirahat. Kadang ketika merasakan gelora semangat dan gairah anak muda, mereka berlomba untuk menjadi yang paling cepat.
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Begawan Wiyasa. Mereka semua memberi salam hormat kepada mahaguru itu. Begawan Wiyasa memberi nasihat dan dorongan yang membesarkan hati. Ketika Kunti menceritakan kemalangan yang menimpa mereka sekeluarga, Wiyasa memberikan penghiburan:
"Tidak ada orang bijak yang bisa terus-menerus melakukan kebajikan seumur hidupnya. Demikian pula, tidak ada orang jahat yang selamanya berkubang dalam dosa. Hidup ini ibarat jaring laba-laba. Tidak ada orang yang sama sekali belum pernah berbuat kebajikan dan tidak ada orang yang belum pernah berbuat jahat. Setiap orang harus memikul akibat dari perbuatannya sendiri. Jangan menyerah pada
kedukaan."
Kemudian, seperti yang disarankan oleh Begawan Wiyasa, mereka mengenakan pakaian brahmana. Mereka melanjutkan perjalanan ke kota Ekacakra. Sembari menunggu saat yang
tepat, mereka tinggal di rumah seorang brahmana.
BERSAMBUNG.....