Lucid Dream: Wonderland

Lucid Dream: Wonderland
06-Serangan/Griffin



Sayap hitam bewarna hitam legam yang menyerupai sayap kelelawar terkembang dengan elegannya. Tubuh besar dan tinggi telah menggantikan tubuh kecil Lucifer.


Jari-jari beserta kuku-kukunya yang tak kalah hitam, mata dengan iris merah menyala adalah satu-satunya yang tampak dari bagian wajahnya yang tertutup topeng. Tubuhnya yang kekar dibungkus oleh zirah yang juga hitam tanpa helm tempur yang memperlihatkan rambut merah pendeknya.


Sepasang sayap itu mengepak, menekan angin ke bawah dan menyapu debu di tanah. Tubuh besar itu melesat cepat vertikal keatas dan menembus dedaunan dan ranting-ranting pohon. Bagai burung yang sudah terkurung di dalam sangkah, makhluk hitam itu melayang dan terbang dengan bebasnya.


Lupakan tentang Griffin, melihatnya terbang saja dapat membuat siapapun terpana dan menganga. Benar, dia terlihat indah dan elegan dengan warna hitam itu.


"Ahahahah, ini menyegarkan. Sudah lama rasanya aku tidak bebas seperti ini" Suara teriakan penuh kebebasan terdengar darinya yang masih melayang di langit. "Yah, aku sudah melakukannya sebelumnya, tapi saat itu keadaan sedang tidak bagus."


Pekikan Griffin terdengar memekakkan telinga. Dengan kepakan sayapnya yang lebar dan besar, dia bisa bergerak dan langsung mendekati Alphard yang berada dalam bentuk tubuhnya yang sebenarnya.


Griffin, makhluk berbadan singa dan berkepala juga bersayap elang, biasanya adalah makhluk yang diturunkan dewa untuk melindungi sesuatu tapi kali ini dewa memberikan tugas yang lain untuknya. Menghabisi pembangkang.


"Astaga, bukankah kau sangat bersemangat kawan? Tak kusangka kita akan menjadi musuh seperti ini" ujar Alphard lalu menjentikkan jarinya.


Suara jentikan jari terdengar bersamaan dengan muncul bola-bola api bewarna putih yang melayang disekitarnya. "Sepertinya aku sudah terlalu lama tidak menggunakan ini, hingga yang keluar api-api kecil."


Tidak perlu buang-buang waktu, Griffin yang terus mendekat padanya mulai dihujani bola-bola api putih yang datang dari berbagai arah. Kekuatan yang dimiliki Alphard adalah elemen Api. Bukan sihir, tapi api yang dikeluarkannya memang datang dari dirinya sendiri.


Demigod tidak membutuhkan mana sihir atau circle sihir apapun itu, karena mereka sendiri sejatinya adalah kekuatan itu. Mereka hanya butuh tenaga untuk bertarung dan terus bertahan, walau dalam keadaan sekarat pun kekuatan mereka tidak berkurang sedikit pun.


Griffin tetaplah makhluk ciptaan Dewa yang kuat dan hebat, dia tidak akan mudah kalah hanya dengan serangan beruntun seperti itu. Tubuhnya meliuk-liuk dan bermanuver dengan lincah menghindari setiap bola-bola api yang datang padanya. Mata elangnya menatap Alphard dengan tajam, terus memacu kecepatannya untuk mendeka.


"Oho, kau juga bisa menghindarinya. Yah, tidak masalah. Itu bukan masalah besar, kita bisa bermain-main sebentar. Almach sedang pingsan, jadi dia tidak akan memukulku asalkan aku membereskan dirimu."


Alphard yang melayang mengepakkan sayapnya, melesat dengan cepat mendekat ke arah Griffin.


Dia bergerak dengan sangat cepat hingga mata manusia biasa tidak akan bisa melihatnya. Kali ini bukan bola-bola api yang dibuatnya, dari tangannya keluar gelombang api yang berputar membuat pusaran yang besar.


Jarak Alphard dan Griffin itu sekarang tinggal 15 meter, lalu tidak sampai sedetik mereka berhadapan dan sebuah ledakan besar terjadi.


Asap mengepul diudara, menghalangi pengelihatan. Dari balik asap, lagi-lagi terdengar suara ledakan. Dua bayangan tampak keluar dari kepulan asap tak lama setelah itu, mereka saling mengejar. Tidak jelas siapa yang mengejar dan yang dikejar, hingga sebuah gelombang panjang api datang dari pihak pengejar. Alphard mengejar Griffin.


Dua gelombang panjang keluar dari kedua tangannya dan menghantam Griffin yang berada di depannya. Harusnya seperti itu, tapi Griffin itu tidak kalah pintar.


Lagi-lagi dia berhasil menghindari serangan besar itu. Griffin tiba-tiba membuat gerakan aneh, dia memutar tubuhnya keatas dan berbelok menyerang Alphard dari atas.


Cakar singa yang tajam dan besar datang ingin mengoyak Alphard, tapi Alphard tiba-tiba menghilang dari pandangan Griffin, membuatnya mencakar udara kosong.


"Oho, itu hampir saja kawan" Suara Alphard terdengar dari Atas, melayang santai dengan sebuah tombak api panjang ditangannya.


WUSHHH...


Tombak api panjang itu melesat cepat lalu tiba-tiba berduplikat membentuk beberapa tombak api lainnya. Melaju dengan cepat dan dalam formasi yang rapat.


Griffin yang terkejut berusaha menghindar tapi beberapa tombak melubangi sayapnya dan menggores tubuhnya. Griffin memekik kesal dan mulai bergerak dengan gegabah. Dia kembali mengepakkan sayapnya dan mengejar Alphard yang berada diatasnya.


"Apa? Kau tidak mau menyerah? Sedikit pun. Yah, terserahlah. Seranglah aku sebanyak yang kau mau. Aku tidak punya dendam padamu, tapi aku tidak akan membiarkan hadiah dari dewa meninggalkan tempat ini dengan mudah. Dewa, aku tidak mempermainkanmu. Aku hanya senang karena kau mengirimkan aku hadiah seperti ini. Aku akan memberimu sedikit harapan, bahwa aku bisa tergores sedikit olehnya."


Griffin datang dan ingin mencakar Alphard. Tapi, lagi-lagi pria itu hilang dan muncul dibawah Griffin sebagai gantinya. Tinjunya mengepal dengan api yang berkobar, lalu menghantam tubuh bagian bawah Griffin dengan kuat.


Griffin terlempar keatas, tidak sadar dengan yang terjadi padanya. Lagi-lagi Alphard menghilang dari tempatnya, kali ini dia muncul di atas dan kembali menghantam Griffin dengan tinjunya. Griffin terdorong dan melesat cepat hingga menabrak pepohonan.


Griffin yang memekik kesakitan terdengar mengerikan, suaranya menggema di dalam hutan.


"Benar, sudah seharusnya kita menghentikan ini. Kau tidak perlu diperbudak olehnya untuk hal yang tidak kau ketahui. Ini akan sakit sedikit. Aku akan mengirimmu kembali padanya dalam bentuk lain" ujar Alphard lalu mendarat dengan mulus di depan Griffin yang sudah tidak dapat bergerak.


Alphard mengelus lembut kepala Griffin itu lalu melahapnya dalam api putih yang menghabisinya dalam sekejap.


"Maafkan aku teman. Beristirahatlah dengan tenang."


***


"Hhah..hah..hah.." Aku terbangun dalam keadaan napas yang terengah-engah. Aku meraba dadaku dan rasa sakitnya sudah hilang. Aku mengedarkan pandanganku di tempat aku berada sekarang, gelap, aku tidak dapat melihat apapun.


Tempat apa ini?


"Oh. Kakak sudah bangun ternyata. Syukurlah, kupikir kakak sudah mati" sebuah suara mengejutkanku. Anak kecil?


"Di-dimana kau?" tanyaku ragu.


"Aku tepat di depanmu kak" seorang anak kecil muncul tiba-tiba di depanku. Tempat yang gelap ini membuatku tidak dapat melihatnya dengan jelas, tapi aku jelas melihatnya datang dengan senyuman yang lebar menampakkan jejeran giginya.


"Kau, Lucifer?!" teriakku setengah tidak percaya. Akhirnya aku dapat melihatnya dengan jelas setelah tempat gelap ini berangsur menjadi remang-remang lalu terang.


"Benar sekali kak. Aku Lucifer" ungkapnya sambil mengembangkan senyuman lebar yang terlihat mengerikan lalu duduk bersila di depanku sambil memangku dagunya.


"Ah benar juga. Aku harus berterima kasih pada kakak yang sudah membebaskanku dari ibu, walau begitu aku juga sedih ibu sudah meninggal" ungkapnya lalu tertunduk sedih. Apa-apaan anak ini? pola pikirnya ambigu sekali.


"Kakak tahu tidak? Namaku itu ibu yang memberikannya. Lucifer, ibu bilang artinya adalah iblis. Keren bukan? Padahal aku tidak membutuhkan nama setelah membuat ibu menderita" lanjutnya.


"Hei..apa maksudmu? Bukankah dia menyakiti dan membencimu selama ini? Kenapa kau malah menyalahkan dirimu sendiri" ujarku kesal setengah teriak. Menatapnya dengan tajam dan dingin.


"Ya, walau menyakitkan faktanya ibu tetap melahirkanku yang menjijikan ini kan kak. Itu saja aku sudah berterimakasih" lanjutnya.


Dia sungguh gila, siapa yang bisa menerima semua kenyataan pahit itu?!


"Hei..apa yang ingin kau katakan sebenarnya?" tanyaku geram.


"Kuingin kakak mengeluarkan semua kekuatanku. Ibu bilang, dia terus-terusan melihat iblis dariku. Ibu juga sering mengigau dalam mimpinya dan menyebut-nyebut iblis sambil memanggil namaku. Aku ingin kakak mengungkap diriku yang sebenarnya" ungkapnya sambil menatapku dengan serius.


"Iblis? Astaga, maafkan aku. Aku tidak ingin terlibat masalah lagi" ujarku mantap.


"Ehh? Padahal itu akan menyenangkan. Yah, itu bukanlah masalah saat ini. Aku harus mengeluarkan serangga dulu dari rumahku ini. Makhluk sialan, dia terus menatapku dan mengintimidasiku. Sialan, sialan, sialan. Aku akan menghancurkanya lebih dulu. Serangga penganggu" Lucifer bangkit dari duduknya, berbicara sendiri.


Mimik wajahnya berubah dalam sekejap, dirinya yang tadi tersenyum sekarang terlihat mengerikan.


Tatapan matanya yang dingin terlihat ingin menusuk dan mencabik-cabik sesuatu.


"Ah, aku pergi dulu. Nanti, aku akan menemuimu lagi"


Dia kembali tersenyum setelah menampakkan wajah itu. Aku merinding, bulu kudukku berdiri.


Apa-apaan anak itu?