
"Dengarkan aku baik-baik, nak. Darimana pun kau berasal atau siapapun kau, kau berada dalam bahaya" Suara Alphard yang menggema di dalam kepalaku terasa dingin.
"Tidak ada yang benar dalam hidup ini, begitu juga dengan dewa. Tapi, semenjak aku menumpang didalam tubuh kecilmu ini, aku dapat merasakan hal yang lebih buruk. Kau, Lucifer, siapa kau sebenarnya?" Lanjut Alphard tanpa aku mengerti maksudnya.
"Ah, menyebalkan. Berada terkurung dalam ingatan dan tubuh ini membuat gila, lupakan. Kita bisa membahasnya nanti. Yang terpenting, kau harus mendengarkan ceritaku yang lain."
Ah, gila. Apa-apaan dia? Kenapa dia seenaknya begitu? Memutus cerita saat hal itu membahas tentang diriku yang dalam bahaya. Dimana aku berada, dunia tetap saja pintar meledekku. Ya, terima kasih.
"Ey, kenapa kau merengek seperti anak kecil seperti itu? Hal itu bisa diurus nanti, aku sang Alphard juga akan membantumu, gratis. Jadi, dengarkan aku" lanjutnya terus mengoceh. "Kau harus mengikuti pria yang tidak sadarkan diri itu—" ungkapnya.
"Kenapa?" aku bertanya jengkel.
"Akh, kau memotongku. Dengarlah dulu. Dia adalah temanku dan kami sedang dalam misi penting. Kami akan mengubah sejarah. Dewa yang kami cintai, dia mencampakkan--, maksudku kami telah mencampakkannya duluan karena dia tidak peduli dan membuat kami yang sudah setia padanya dalam masalah besar. Kami juga harus balas dendam pada wanita gila itu. Juga melindungi makhluk lemah tidak bersalah."
"Jadi?"
"Aku butuh b-bantuanmu. Aku masuk ke tubuhmu, tapi ternyata aku malah masuk ke tubuh yang buruk. Bahkan kau yang datang entah darimana malah mengambil tempatku. Hey, bocah. Aku tahu kamu bukan dari tempat ini, Lucifer palsu. Lucifer yang asli sedang tertidur lelap didalam sini. Jadi, kau sebagai seorang beban harus patuh padaku. Aku sudah mencoba mengeluarkanmu tapi tidak bisa, karena itu aku tidak punya pilihan lain. Kita harus bekerja sama, setelah semuanya selesai aku akan pergi dan kau bisa bergerak bebas setelahnya" lanjutnya menjelaskan begitu panjang dan lebar.
Hahh, gila. Dia menjelaskan tapi juga mengatakan keuntungan yang didapatnya dan yang aku dapat hanyalah kerugiannya.
"E-ey, nak. Ingat tentang bahaya itu? Benar, aku kan juga sudah berjanji akan membantumu. Lalu, tentang ingatan asal duniamu aku akan menutup mulut tentang itu. A-aku juga bisa melindungi tubuh kecilmu ini. Jadi bagaimana? Bukankah itu cukup menguntungkan?"
Aku bisa membayangkan dirinya yang mengoceh seperti seorang penjual yang menawarkan barang dagangannya.
"Ahh, aku tidak tahu. Terserah saja. Aku tidak peduli" toh, tidak ada yang dapat aku lakukan di tempat ini. Aku hanya akan mencari tahu kenapa aku malah terjebak disini dan berharap jika tubuh fisikku tidak mati di duniaku. Benar, aku tidak mungkin sudah mati kan?
***
Aku duduk sambil meluruskan kaki, bersandar di salah satu sisi pohon tempat Almach tidur tidak sadarkan diri.
Aku mendongakkan kepalaku ke atas, melihat cahaya matahari yang remang-remang masuk menembus celah-celah dedaunan. Angin berhembus sepoi-sepoi membawa beberapa daun kering. Suara kicauan burung juga beberapa kali terdengar.
Ah, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Almach, dia hanya kelelahan dan tidak sadarkan diri, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Aphard, makhluk yang bergema di kepalaku juga sudah hening semenjak beberapa waktu lalu. Kepalaku rasanya mau meledak jika terus-terusan mendengar ocehannya.
Aku hampir melupakannya, tentang aku yang dalam bahaya. Bercanda atau tidak, tapi kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Apakah keberadaanku di tempat asing ini yang membuatku dalam bahaya? Atau pemilik tubuh kecil inilah yang sebenarnya berbahaya?
"Ini melelahkan. Aku mau pulang" aku menghembuskan napas panjang, lalu menutup mataku. Mana tahu tidur siang dapat membawaku kembali.
"Ugh.." suara erangan dari Almach mengejutkanku, aku refleks membuka mata dan memeriksa keadaannya.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku lalu membantunya yang mencoba untuk duduk.
"Hhahh, sekarang kau mengkhawatirkan aku?" dia tersenyum meledekku.
"Suara?"
"Iya, namanya Alphard. Bukankah kau mengenalnya? Eh, tunggu apakah dia berbohong?"
Sejak awal dia suka bicara omong kosong, jadi kenapa aku terus menelan semua yang dikatakannya mentah-mentah?
"Alphard. Benar, aku mengenalnya. Aku datang untuk membawanya pergi. Jika sudah begitu, kau tidak punya pilihan lain lagi."
Lagi-lagi dia tersenyum. Apa-apaan dia? Kenapa dia tersenyum seperti itu kepada sesama pria? Sialan, aku pikir pria ini sudah tidak beres. Aku akan menjaga jarak dengannya.
"Ngomong-ngomong, aku tidak dapat bergerak dengan baik untuk beberapa waktu kedepan. Jadi, aku serahkan padaku tamu selanjutnya yang akan datang."
"Tamu? Apa maksudmu?"
"Oh, dia datang. Dia sudah mengejarku sejauh ini, jadi tolong layani dengan baik. Aku akan tidur kembali supaya cepat pulih. Jadi, aku serahkan padamu" Almach memperbaiki posisinya dan langsung tidur setelah itu.
***
Benar, aku melihat seorang tamu. Seorang tamu besar lainnya, terbang berputar-putar seperti elang yang sudah mengunci mangsanya dan tinggal menerkamnya. Haha, hahaha. Haruskah aku kabur dan meninggalkannya?
"Ohoho, sepertinya waktuku untuk bersinar sudah datang" lagi-lagi Alphard muncul tiba-tiba, berbicara layaknnya orang tua berjanggut dengan tongkat kayunya.
"Lihatlah dia, surainya mewah sekali, badannya juga kekar. Bagus, dia lawan yag cocok untuk pemanasanku."
Aku menyipitkan mataku sambil menghalangi cahaya berlebih masuk ke mataku. Hmm, awalnya aku pikir itu adalah seekor elang besar yang kekar.
Tapi, setelah aku perhatikan lebih baik lagi, aku sudah tahu sekarang. Griffin. Makhluk mitologi yang hanya muncul di film-film. Tidak perlu kaget, karena aku sudah terbiasa. Jadi, dia adalah tamu selanjutnya? Bolehlah. Hobi sekali ya, dunia bahkan tidak berhenti mengganggu.
"Aku akan kabur!!" aku berbisik dengan semangatnya sambil mengepal tinju dan mengangkatnya tinggi ke langit.
"Pengecut, berhenti kau!!" Teriak Alphard yang membuat otakku bergetar karena gemanya. "Siapa yang mengizinkanmu pergi dari sini?"
"Hahh?? Aku tidak butuh izinmu. Aku tidak ingin mati di tempat asing ini."
"Ey, kau tidak akan mati. Kau tidak boleh meremehkanku, nak. Aku ini sungguh kuat, Griffin hanya keroco untukku" aku yakin hidungnya memanjang saat ini. "Pinjamkan saja tubuhmu sebentar, juga tenagamu. Biar aku bagian tawurannya."
"Aku tidak mau" aku menolak. Tapi tiba-tiba, aku merasakan rasa yang menyakitkan dari dadaku. Dadaku rasanya mau meledak. Aku tidak dapat bernapas dengan baik, sungguh menyakitkan rasanya. Aku juga tidak bisa melihat apapun, gelap.
Ugh, sialan. Ini menyakitkan.
Tubuhku roboh menabrak akar pohon. Aku terbaring meringkuk menahan sakit di dadaku yang tidak tertahankan. Keringat dingin ikut mengucur, lama-lama aku tidak dapat merasakan organ tubuhku yang lainnya. Rasa sakitnya tidak kunjung hilang dan malah semakin parah.
"Sialan. Rasanya mau mati saja."
"Mohon tahan sedikit. Walaupun rasanya sakit, tapi begitulah pertukaran yang sesungguhnya. Kau yang bukan pemilik tubuh asli, jadi akan sangat terbebani. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin, jadi kau istirahat saja dulu."