Lucid Dream: Wonderland

Lucid Dream: Wonderland
03-Strange Man with Long Hair



Aku menghela napas panjang. Memutar tubuhku sekeliling, melirik kesana kemari dengan agresif, mencoba mencari sesuatu yang tidak pasti.


Astaga bagaimana bisa hal ini terjadi? Aku meremas rambutku dengan kedua tangan, berharap aku merasakan sakit dan terbangun seperti biasanya. Tapi, nihil, tidak terjadi apa-apa.


Lelah kakiku dan semangatku menurun, sebagai gantinya putus asa malah mengerubungiku. Benar, aku tidak terbangun dari mimpi buruk ini.


Beberapa saat yang lalu, aku terbangun dengan penuh semangat. Kamar yang berantakan dengan tiga layar komputer di hadapanku, bagaimana mungkin bisa berganti dengan lahan kosong yang dikelilingi pepohonan tinggi dan langit biru yang terbentang luas seperti ini?!


Tidak sampai disitu, laki-laki aneh dengan rambut panjang yang aku lihat semalam masih berada disini. Tidur dengan santainya, beralaskan sebuah tas pinggang kecil kumal.


Astaga, jangan bercanda. Siapa pun kau yang membawaku ke dunia fantasi antah berantah ini, sialan kau! Kembalikan aku ke tempat asalku. Kasihan batinku, dia sudah menderita sebanyak itu.


"Apa kau sudah selesai? Kita tidak punya banyak waktu" laki-laki itu bangkit dari tidurnya, mengambil tasnya lalu menepuk-nepuknya dari debu. Wo-woahh, dia tinggi juga. A-apa yang ingin dilakukannya?


"Ck, memangnya kau siapa, kenapa terus menempel padaku?" tanyaku dengan nada kesal, sambil sedikit berjinjit mencoba menyamai tinggi tubuhnya.


"Entahlah" jawabnya singkat dengan nada datar. Ah, aku dapat merasakan umurku berkurang 13 tahun 7 bulan 9 hari. Orang aneh.


"Ayo, sudah waktunya berangkat. Aku tak ingin bertemu makhluk-makhluk menjengkelkan itu" tukasnya mulai membicarakan hal aneh dan penuh omong kosong lainnya.


Kenapa dia bertindak sewenang-wenang begitu padaku? kami bahkan tidak saling kenal.


"Apa hak mu mengajakku pergi hah?" gerutuku setengah teriak.


"Toh, kenyataannya kau tidak punya pilihan untuk menolak. Kau pasti mengerti maksudku"  tuturnya seraya mengembalikan beberapa barang kecil kembali ke dalam tas hitam lusuhnya.


Aku memang tidak punya pilihan. Terjebak di sini atau mengikutinya. Jika nanti aku mendapatinya sebagai seorang penjahat, saat itu aku bisa mencari jalan untuk kabur.


Tapi lain lagi jika aku tetap tinggal disini. Di tempat yang tidak diketahui, penuh makhluk aneh. Melihat kondisi tempat ini, seharusnya banyak hewan liar yang berkumpul. Wah, aku benar-benar tidak punya pilihan.


"Bagaimana?" tanyanya setelah selesai membereskan barang miliknya .


"Ck, baiklah. Tapi saat kau ketahuan sebagai seorang penjahat, aku akan--" kalimat yang belum selesai mu ucapkan langsung di potongnya. Dasar tidak ada adab.


"Iya, terserah" potongnya dengan wajah datar tak bersalah.


***


Perjalanan yang canggung di mulai. Hanya suara kaki yang menapak di tanah yang dapat ku dengar.


Astaga, aku bosan sekali. Di sana pohon, di sini pohon. Kami terlihat seperti orang anak nakal yang mendapat hukuman berdiri di tengah lapangan sekolah. Sementara pohon-pohon yang mengelilingi tanah kosong ini, terlihat seperti para siswa yang bicara buruk tentang kami.


Tempat yang aneh, kenapa pohon-pohon di tempat ini terlihat begitu besar? Atau apakah hanya aku yang terlihat kecil disini.


BUKKK...


Karena berjalanan setengah menunduk, aku tidak tahu orang aneh ini berhenti berjalan.


Menyebalkan. Apa yang salah padanya?


" Kenapa kau berhenti tiba-tiba?!" gerutuku memasang wajah kesal .


"Sialan" ujarnya singkat.


"Si-sialan? Siapa yang kau panggil sialan hah?" ujarku tak menerima di panggil seperti itu .


"lihat kedepan Cerewet" ujarnya lalu menggeser posisi kepalaku ke tempat yang ditunjuknya dengan kasar hingga tulangku mengeluarkan bunyi.


Aku menyipitkan mata untuk melihatnya dengan jelas, karena cahaya matahari membuat pantulan pada benda itu. Air? Kenapa begitu merah.


Ah, mengerikan. Aku baru saja menyadarinya. Sebuah genangan merah yang tidak lain adalah darah tersebar dibeberapa titik, tidak jauh dari sana aku melihat bangkai hewan yang masih segar dengan beberapa gagak rakus.


Tubuh yang terkoyak-koyak dan darah dimana-mana. Sudah tak jelas lagi yang mana kepala yang mana kakinya. Astaga, bagaimana bisa mereka bernasib seperti itu?!


"Aku akan memastikan sesuatu, tunggu di sini" ujar laki-laki itu lalu berjalan ke arah salah satu bangkai hewan yang berada tak jauh dari kami.


"Ada apa?" tanyaku setelah melihat raut wajah kesal yang di pasangnya setelah memeriksa salah satu bangkai tersebut .


"Kita harus pergi, mereka sudah datang" ungkapnya dengan geram .


"Siapa yang datang?!" tanyaku seraya menyusulnya yang mulai berlari ke arah hutan Redwood yang rapat pepohonan-nya.


"Kau akan tahu jika melihatnya secara langsung" teriaknya yang berada jauh di depan sana. Kenapa dia cepat sekali?


Belum sampai kami di daerah dengan pepohonan yang rapat, sebuah auman terdengar nyaring dan mengerikan. Astaga, suara apa itu?!


"Cepat cerewet. Jangan sampai dia menemukan kita" desaknya menatapku dengan kesal. Menyebalkan, cerewet? siapa yang dia panggil begitu?!


***


Kami sampai dan langsung bersembunyi di antara pepohonan besar itu. Aku mengatur napasku, berlari dengan kecepatan penuh seperti itu membuat dada tubuh kecil ini sesak.


Aku duduk bersandar pada sebuah pohon, kaki ini menggigil karena dipaksa melakukan hal yang tidak bisa dilakukannya. Hahh, aku tidak terbiasa dengan tubuh ini.


"Makhluk besar" jawabnya singkat.


"Apa yang kau perbuat sampai diikuti makhluk besar seperti itu?" tanyaku lagi.


"Memang apa yang bisa aku lakukan? Diamlah nanti mereka menemukan kita. Lalu, aku juga punya nama, berhentilah memanggilku seakan kita sudah kenal lama seperti itu. Panggil saja Almach" ujarnya sambil menatap keluar ke lahan kosong tempat kami datang tadi.


"Omong kosong. Kau sendiri juga memanggilku cerewet, oi, sialan.." ujarku tak terima.


"Lalu aku harus memanggil mu apa selain itu?" sungutnya memasang wajah kesal.


"Ck, Lucifer..mungkin" jawab ku ragu.


"Mungkin?!" ujarnya penuh selidik.


"Gosh, aku bahkan tidak tahu. Tempat aneh ini bukan tempat asalku, mana mungkin aku tinggal di tempat mengerikan seperti ini" ujarku lalu tak sengaja berteriak dengan kuat .


Orang an- bukan, Almach menatapku dengan geram, keningnya berkerut lalu dia tersenyum dengan psiko-nya. Apa-apaan wajah mengerikannya itu? Apakah aku salah?


"Kau baru saja memberitahu nya tempat kita bersembunyi" ujar Almach dengan nada dingin.


Aku menelan ludah, apa? sejak tadi kan tidak ada yang datang?!  Ingin ku berkata seperti itu, tapi suara dengkuran yang terdengar kentara membuat tubuhku bergetar hebat .


Ku arahkan pandanganku ke depan. Astaga, keringat dingin langsung mengucur hebat. Sial, kakiku tidak dapat digerakkan. Aku menggigit bibir bawahku, memilih untuk menundukkan kepala. Mengerikan saat harus berhadapan dengan makhluk berkepala tiga bertubuh raksasa itu.


***


"Oii..." suara teriakan Almach terdengar dari seberang sana. Sejak kapan dia berada disana? Dia berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh dan dengan sebuah pedang perak yang teracung indah. Jangan bilang bahwa dia akan menantang makhluk ini.


Sebuah Auman terdengar memekakkan, dia menerima tantangan? bukankah begitu. Sialan, bagaimana mungkin aku menjadi pengecut di saat seperti ini? Berdiri mematung dan tidak memberi perlawanan.


Lihatlah air ludah yang keluar dari sela-sela giginya yang runcing itu, mengerikan. Rasanya deretan gigi-gigiku bisa langsung mengoyang isi kepalaku.


Cerberus, anjing besar berkepala tiga dengan napas api. Itu pun jika berlaku di sini, dia adalah hewan peliharaannya Dewa Hades. Astaga, dunia apapun ini, bagaimana mungkin hewan mengerikan seperti itu bisa hidup?


Tubuhku perlahan membaik, walau keringat dingin masih bercucuran. Dengan tubuh yang masih bergetar, aku berjalan perlahan, bersembunyi di antara pepohonan dan memperhatikan Almach yang menantang Cerberus itu.


***


"Oi, kau tidak membantunya" suara ini? suara yang terdengar di kepalaku hari itu. Lagi-lagi aku menelan ludah. Astaga, sepertinya aku benar-benar sudah tidak waras.


"Kau tidak gila" lanjut suara itu bagai tahu isi pikiranku.


"Si-siapa kau?" tanyaku tergagap.


"Aku ehmm..makhluk hitam yang kau sebut mengerikan itu. Padahal jika dilihat dari luar aku sangat tampan. Hey, aku tersinggung saat itu" jawabnya dengan kepercayaan diri tersendiri.


"Tubuh hitam itu milikmu?" tanya ku lagi malah teralihkan pada suara yang bergema di kepalaku.


"Ya, ngomong-ngomong aku minta izin untuk menumpang di tubuhmu" ungkapnya dengan nada datar. Oii, kau pikir ini masalah mudah yang dapat di selesaikan dengan ucapan 'ya' dariku begitu?!


"Walau terlambat, kau terpaksa harus menerimaku."


"Begitulah" jawabnya singkat. Kutebak, dia pasti bisa membaca pikiranku.


"Dasar bodoh, sejak awal aku memang sudah tahu. Ck, menyebalkan. Daripada itu, kau tidak membantunya?" celetuknya lalu mengganti topik.


Ah benar juga, ada masalah yang lebih penting. Walau dia berotot, aku tak yakin dia bisa menang. Manusia mana yang bisa melawan makhluk besar berkepala tiga seperti itu?


"Ayo lebih dekat lagi" desak suara itu.


"Untuk apa? aku tidak ingin celaka" ungkapku.


"Kau ingin dia mati?" lanjut suara itu.


"Ck, baiklah, diam! jangan berisik di kepalaku, rasanya tidak nyaman."


***


Perlahan dan dengan langkah yang pasti, aku mendekat ke tempat Almach berdiri, tepat di balik pohon barisan pertama menghadap lahan kosong.


Wah, sejak tadi dia hanya menghindari serangan, sudah kuduga Cerberus itu terlalu kuat untuk dilawannya.


Beberapa kali aku juga di buat kagum, pedang itu! pedang itu bisa membelokkan arah serangan api dari Cerberus itu ke arah lain.


Beberapa saat setelah itu, ketiga kepala Cerberus itu mengaum dengan mengerikan. Astaga, apa lagi ini?! Perasaanku tidak enak. Aku rasa mereka mulai jengkel.


Tubuh mereka membesar, taring-taring yang sepertinya dengan mudah dapat mengoyak tubuh ringkih manusia itu tumbuh semakin besar.


Suara raungan mereka yang terdengar mengerikan itu semakin mengerikan dan memberi aura intimidasi yang kuat. Sial, pemandangan buruk apa ini?!


Mataku tak berkutik melihat pertumbuhan monster itu. Lagi-lagi aku menelan ludah, keringat dinginku terus mengucur deras.